Friday, May 24, 2024

Cerpen Aliurridha | Kuda Gila yang Kena Cambuk Punggungnya

Cerpen Aliurridha



Dia tidak menyangka jika apa yang paling ditunggu-tunggunya malah menjadi pedang yang melukainya sedemikian rupa. Dia benar-benar tidak menyangka dering telepon yang harusnya membahagiakan malah menjadi petaka. Dia berharap telepon itu tidak pernah datang. Dia berharap tidak pernah mengangkat telepon itu. Dia bahkan berharap Tuhan menghapus ingatannya karena dia tahu bahwa dia tidak akan mampu menahan derita ini. Dia benar-benar menyesal telah mengangkat telepon itu dan mendengar perempuan itu tanpa babibu meminta putus.


Ini bukan perkara cinta. Jika kamu berpikir tokoh kita hancur hanya karena patah hati, kamu salah. Tokoh kita tidaklah selemah itu. Dia pernah mengalami patah hati yang lebih parah. Tokoh kita hanya tidak terima karena kekasih hatinya, bahkan, tanpa merasa perlu menjelaskan, meminta putus darinya. Tokoh kita benar-benar tidak tahu apa yang salah pada dirinya. Kecuali apa yang dikatakan perempuan itu, tidak ada satu pun yang bisa dijadikan petunjuk. Tetapi apa yang mungkin disebut petunjuk pun masih terselubung dalam kabut tebal kejahatan semantik, perempuan hanya berkata: “Yang kamu lakukan itu jahat!” 


Agar cerita ini menjadi lebih logis, maka aku perlu memberitahumu perihal karakter tokoh kita ini. Tokoh kita adalah seorang lelaki kompulsif. Jika ada satu hal yang tak terjelaskan, dia tidak akan bisa mengistirahatkan pikirannya. Dia bisa tidak tidur berhari-hari karena pikirannya akan terus mengembara mencari jawaban. Pikirannya menjelma kuda gila yang kena cambuk punggungnya; ia akan terus berlari tanpa henti. Lalu ketika ia berhenti karena lelah, punggungnya kembali kena cambuk. 


Perlarian pertama kuda ini membawa tokoh kita pada peristiwa yang belum lama ini menimpanya. Apa yang dikatakan kekasihnya itu membuatnya merasa ditampar secara tiba-tiba, tanpa tahu salah apa. Dan dia memang pernah ditampar tiba-tiba tanpa tahu salah apa. Ketika itu tokoh kita berniat melakoni sparing sepak bola di lapangan yang terletak di kompleks rumah dinas tentara. Tiba di pintu gerbang perumahan itu, seseorang menghentikannya. 


“Hei… hei.. kamu mau ke mana?” tanya seorang lelaki berbadan tegap. Tangan lelaki itu menepuk pelan kepala motor tokoh kita. Tokoh kita menghentikan motornya dan menoleh ke arah si lelaki tegap. Dia tersenyum kepada lelaki itu, tetapi lelaki itu tidak membalas senyumnya. Meski begitu, tokoh kita tidak tersinggung. Dia tahu betul kalau orang-orang di tempat ini susah dibikin tersenyum. Dipandanginya wajah lelaki itu yang kelihatan masih muda. Mungkin usianya tidak beda jauh dari tokoh kita. Akan tetapi postur tubuh lelaki itu begitu jauh dari tokoh kita. Lelaki itu tinggi dan memiliki tubuh yang sangat atletis. Beda sekali dengan tokoh kita yang pendek dan cungkring. Jika dilihat sekilas, tokoh kita seperti anak kekurangan gizi. Beruntung dia punya wajah lumayan tampan.


“Angkat kaca helmmu!” perintah lelaki itu separuh membentak. Suaranya bahkan lebih tinggi daripada tubuhnya. Tetapi tokoh kita tidak mendengarnya. Dia hanya mengangguk-angguk, tanpa tahu apa yang dikatakan lelaki itu, sebab headset menyumpal telinganya. Meski tokoh kita tidak tahu apa yang dikatakan lelaki itu, dari wajahnya yang tidak enak dipandang, tokoh kita tahu suasana hati lelaki itu sedang tidak enak. Jadi tokoh kita memasang senyum paling manis yang dia miliki. Dia pernah mendengar dari ibunya bahwa senyum adalah cara terbaik untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Dan karena wajah lelaki yang menghentikannya terlihat lebih keras daripada kehidupan, tokoh kita berusaha keras untuk tersenyum. Sialnya, wajah lelaki itu malah semakin tidak mengenakkan. Tokoh kita lupa bahwa kaca helmnya berwarna hitam.


“Angkat kaca helmmu!” ulang lelaki itu. Suara lelaki itu, lagi-lagi, tidak sampai ke telinganya. Tetapi dari gerak bibirnya, tokoh kita bisa menduga apa yang dikatakan lelaki itu. Dia mengangguk-angguk dan mengangkat kaca helmnya. Lalu ketika dibuka, bibirnya refleks bersenandung mengikuti rima Mockingbird karya Eminem. Itu adalah lagu kesukaannya. Lalu ketika memasuki bagian chorus, mau tidak mau dia ikut bernyanyi. Dan ketika dia bernyanyi, sebuah tamparan menghantam bagian kanan helmnya. 


Merasa tidak terima ditampar begitu, tokoh kita melepas helm dari kepalanya. Matanya menatap geram. Lelaki itu menatap tidak kalah geramnya. Dan belum sepatah kata pun keluar dari bibir tokoh kita, sebuah tamparan lain menghantam pipi kanan sampai telinganya. Headset yang menyumpal telinga tokoh kita lepas. Tamparan itu bahkan lebih keras daripada tamparan yang mengenai helmnya. Pipi tokoh kita jadi panas. Lalu pada telinga kanannya, dia merasa ada sesuatu yang berdenging di sana. Seolah ada sekumpulan lalat sedang berpesta seks di lubang telinganya.


“Bangsat!” maki tokoh kita. Lalu tamparan yang lebih keras lagi mendarat pada pipi kirinya. Tamparan ini sampai membuatnya goyang dan hampir jatuh dari motor. Rasa sakit di pipi kirinya bahkan lebih sakit dari pipi kanannya. Pipinya panas bukan main. Tetapi hatinya jauh lebih panas. Tokoh kita sudah akan melompat dan membanting motornya jika beberapa orang tidak datang melerai mereka. Tokoh kita sudah siap untuk menantang lelaki itu berkelahi. Untung buat tokoh kita, banyak yang melihat kejadian itu dan memisahkan mereka. Tokoh kita tidak jadi menjadi bulan-bulanan lelaki yang sedang bosan.


Setelah diusir pulang oleh orang-orang dari asrama tentara, tokoh kita tidak mengingat lagi kejadian selanjutnya. Yang diingatnya hanya dia tidak jadi main bola, dan teman-teman satu klubnya, tidak satu pun membelanya. Itu membuat hatinya sakit. Dia merasa dikhianati, dan perasaan itu mengingatkannya pada rasa sakit ketika diputuskan kekasihnya. Bukan kekasihnya yang baru saja minta putus lewat telepon, melainkan kekasihnya yang lain, seorang perempuan yang bahkan lebih cantik dari kekasihnya yang sekarang, tetapi tidak kalah kejamnya. Cambuk kembali menghantam punggung kuda, dan kuda pun berlari kencang.


Maaf aku tidak bisa terus bersamamu. Kamu terlalu baik buat aku!


Tokoh kita tergagap membaca pesan singkat itu. Dia berusaha mencerna maksud dari perempuan itu, tetapi dia tetap tidak mengerti. Apakah perempuan ini baru saja belajar menulis dan sedang mempraktikkan cara menghadirkan ironi dalam sebaris kalimat? Tokoh kita tidak tahu dan merasa tidak ingin tahu. Lalu dia terpaku menatap pesan itu. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalasnya. Dia sempat menulis: “Aku bisa kok jadi buruk demi kamu.” Namun dia segera menghapusnya. Itu bukan cara yang tepat. Lalu dia menulis sebuah tanya: “Salahku apa?” Tapi segera juga dihapusnya. Dia takut kelihatan bodoh. Lalu dia menulis panjang lebar mempertanyakan maksud perempuan itu, dan lagi-lagi dihapusnya. Dia merasa dirinya seperti pengemis, karena itu dia hanya menulis: “Baiklah kalau itu maumu.” 


Setelah mengirim pesan itu, tokoh kita merasa sangat keren. Tokoh kita berpikir, perempuan yang suasana hatinya berubah lebih cepat daripada pasang surut air laut ini pasti akan mengemis meminta cintanya lagi. Ternyata dia salah. Dua hari setelah itu, ketika dia mendatangi rumah perempuan itu karena tidak mampu menahan rindu, dia menemukan perempuan itu sedang saling isap bibir dengan seorang lelaki di ruang tamu rumahnya. Tokoh kita tidak jadi masuk dan berlari sambil memaki-maki nama perempuan itu. Lalu dia mengirim pesan: “Aku mengerti maksudmu.” Lalu seketika itu juga pikiran tokoh kita kembali ke masa kini. Kuda itu berhenti berlari. 


Lalu ketika tokoh kita berpikir bisa beristirahat, tiba-tiba kuda itu kembali berlari kencang. Kuda itu tiba di sebidang tanah lapang. Pikirannya mendadak tenang. Lalu tokoh kita berteriak, “Aku tahu alasannya!” 


Tiga hari lalu, mantannya mengajak bertemu. Mereka bertemu di sebuah kafe di depan sekolah mereka dulu. Tempat yang penuh kenangan. Dulu dia sering mentraktir perempuan itu di sini. Kadang perempuan itu yang mentraktirnya. Itu adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidupnya. Rasanya peristiwa itu baru terjadi kemarin. 


“Kamu beda, ya, sekarang. Kamu lebih kalem dan jadi lebih dewasa,” kata perempuan itu.


“Ya, banyak yang bilang begitu,” kata tokoh kita.


Dia menatap wajah perempuan itu, dan wajah perempuan itu bersemu merah. Lalu perempuan menunduk dan menatap meja. Tokoh kita ikut menatap meja. Ada noda bekas minuman di sana. Ada gelas berisi cola yang sudah tandas. Ada noda saus dari sisa kentang goreng yang sudah habis mereka makan. Lalu tokoh kita kembali menatap wajah perempuan itu. Dia masih secantik dulu. Dia masih saja lebih cantik daripada kekasihnya. Tokoh kita tidak bisa membohongi hatinya bahwa dia masih menyayangi perempuan itu. Tetapi dia tidak pernah bisa lupa bagaimana perempuan di hadapannya ini saling isap bibir dengan lelaki yang wajahnya lebih buruk daripada lelaki yang menamparnya. 


“Kalau kamu dari dulu seperti ini, mungkin apa yang terjadi pada kita akan berbeda.”


“Maksudmu berkelakuan buruk?” 


“Sudah. Tidak usah dipikirkan,” kata perempuan itu. 


“Kamu masih saja berbicara sepotong-sepotong,” kata tokoh kita kesal. Perempuan itu tidak membalas dan menundukkan kepala. Saat itu tokoh kita yakin bahwa perempuan ini minta bertemu untuk memohon maaf dan meminta tokoh kita untuk kembali lagi ke pelukannya. Tetapi tokoh kita sudah punya jawaban. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakannya. Tetapi dia tidak jadi mengatakan itu dan malah saling isap bibir dengan perempuan itu. 


“Mungkinkah Cinta tahu?” kata tokoh kita tiba-tiba. Lalu dia mengambil ponsel, dan ketika dia hendak menelepon Cinta untuk menjelaskan bahwa semua itu hanya terjadi di kepalanya, seseorang merampas ponsel itu dari tangannya.


“Kamu ini dari tadi Mama perhatikan main HP terus. Disuruh belajar nggak mau dengar.” 


“Sebentar dulu, Ma. Rangga harus telepon Cinta. Ada yang mau Rangga jelaskan.”


Wanita itu memukul kepala anaknya. “Cinta-cinta terus di kepalamu. Disuruh belajar malah pacaran. Kamu ini, belum juga lulus SMP sudah cinta-cintaan. Mulai sekarang Mama yang pegang HP-mu.” (*)


_______

Penulis


Aliurridha, Pengajar di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Mataram.  Pada tahun 2023 terpilih sebagai emerging writers dan diundang menghadiri Makassar International Writers Festival. Bergiat di komunitas Akarpohon. Novel terbarunya berjudul Teori Pernikahan Bahagia (Falcon Publishing, 2024).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com