Oleh Kabut
Cerita anak menganjurkan kebaikan-kebaikan. Kita mudah bermufakat meski menganggap cara dan kadar pengajaran kebaikan dalam cerita tidak perlu “berlebihan”. Mengapa kita menuduh “berlebihan” bila khatam puluhan atau ratusan buku cerita anak di Indonesia? Yang kita urusi sebenarnya adalah para pengarang yang menulis cerita anak. Sejak awal abad XX, pengarang-pengarang memiliki patokan dalam menggubah cerita anak, yang mengandung pengajaran kebaikan-pengajaran kebaikan saat menggunakan latar rumah, kampung, sekolah, dan lain-lain. Di situ, pengarang menempatkan para tokoh, yang nanti menjadi contoh atau panutan bahwa kebaikan-kebaikan itu terwujud.
Pada masa setelah Perang Dunia II, industri buku cerita anak mirip “pesta kebaikan” yang digunakan memajukan Indonesia. Buku-buku yang dinikmati anak-anak diusahakan membuat mereka menjadi pribadi unggul: pintar, sopan, beriman, dan lain-lain. Jadi, terbitnya ribuan buku cerita anak di Indonesia memang dipastikan menyebarkan pesan-pesan baik, bukan mengajak para pembaca menjadi nakal, jahat, atau bodoh.
Yang kita maksud “berlebihan” adalah cerita-cerita yang dibuat para pengarang sering menjauh dari kenyataan. Cerita-cerita itu menampilkan para tokoh yang karakternya sudah dibakukan untuk memunculkan pertentangan agar pengajaran kebaikan yang lekas sampai kepada pembaca. Tokoh-tokoh yang memihak kebaikan dihadirkan dalam “drama”, yang kadang sulit “masuk akal” atau cocok dalam lakon hidup keseharian. Pokoknya, kebaikan adalah yang utama dan “menguasai” cerita.
Kita sudahi dulu masalah pengajaran kebaikan yang “keterlaluan” dalam sejarah dan perkembangan industri cerita anak di Indonesia. Di tangan kita, ada buku tipis yang berjudul Mengejar Bintang gubahan Darto Singo. Buku terbitan Sarana Jaya, 1979. Tampilan buku yang tidak memikat pembaca. Sampulnya tampak jelek. Gambar bocah mengenakan pakaian sebagai murid. Di sana, ada Monas yang berhiaskan bintang. Anehnya, kita melihat gambar tanaman warna-warni, yang membuat sampul itu makin tidak keruan.
Siapa yang masih ingat Anggun C Sasmi? Kita sengaja mengajukan nama artis asal Indonesia, yang sudah kondang di dunia. Yang dipikirkan sebenarnya bukan Anggun C Sasmi tapi pengarang cerita anak. Anggun C Sasmi itu punya bapak yang rajin menulis cerita anak. Bapaknya bernama Darto Singo. Kita ingatkan bahwa buku yang kita buka halaman-halamannya tidak ada kaitannya dengan Anggun C Sasmi.
Kita berurusan cerita saja. Pada suatu hari, tokoh bernama Anto sedih setelah dimarahi ibu. Penyebabnya adalah mandi di kali bersama teman-teman. Ibu tidak suka Anto mengotori tubuhnya di sungai dan mencari masalah saat bermain. Maka, Anto membuat perlawanan saat diajak bicara bapaknya: “Rasanya, ibu tidak menyayangiku, Yah! Setidaknya, kalah kalau dibandingkan induk ayam itu. Induk ayam amat menyayangi anaknya.” Mereka berada di sekitaran pohon nangka dan pisang. Di situ, ada ayam-ayam yang mencari makan.
Bapak kaget mendengar pernyataan Anto. Ia mengerti itu bukan kedurhakaan. Anto belum mengerti maksud ibu yang marah. Anto belum berhitung kesalahan dan akibat. Akhirnya, bapak memilih sabar sambil memberi penjelasan-penjelasan agar Anto paham hubungan ibu dan anak. Berhasil. Anto perlahan sadar. Pada peristiwa sederhana, Anto mendapat pengajaran yang baik dan santun dari bapaknya.
Pengajaran berlanjut saat malam. Keluarga dalam peristiwa makan. Anto mendapat sindiran adiknya mengenai mencuci piring setelah makan. Semula, Anto ingin menolak. Adiknya, yang bernama Anti, menjelaskan: bila Anto mau mencuci piring, ia akan melakukan tugas membereskan tempat tidur ibu. Anto malah berujar: “Rasanya lebih senang mencangkul di sawah daripada mencuci piring.” Kita mengerti itu sikap anak lelaki, yang membedakan jenis-jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin dan gengsi.
Bapak turut campur dengan berkata: “Mencuci piring itu bukan pekerjaan perempuan saja, To! Ayah pernah melihat di kota-kota besar, tukang cuci piring restoran justru laki-laki.” Anto belum mau terima dengan cara bapaknya agar ia tetap mencuci piring. Padahal, bapaknya memberikan penjelasan lanjutan: “Karena laki-laki lebih gesit, cepat, dan cekatan.” Malam itu Anto mendapat lagi pengajaran yang baik. Para pembaca ikut mengangguk sebagai tanda setuju bahwa anak memang memiliki tugas-tugas di rumah, selain wajib sopan dan patuh kepada ibu.
Beberapa halaman terbaca, kita menemukan pengajaran hal-hal yang baik melalui turutan orang dewasa sambil menunggu tanggapan dari anak-anak. Yang diinginkan adalah anak-anak menjadi baik melalui perkataan dan tindakan. Darto Singo berhasil dalam menjadikan cerita sebagai upaya membentuk pribadi-pribadi yang “baik dan benar”.
Di pergaulan, Anto bergabung dengan teman-teman yang menyenangkan tapi kadang “menyesatkan”. Pada suatu hari, mereka ingin mengadakan pesta makan. Namun, usaha mencari buah tidak semuanya berhasil. Yang bikin masalah adalah mendapatkan pepaya. Anak-anak itu berdebat. Anto tampil sebagai anak yang baik saat memberi peringatan: “Asal jangan mencuri. Mencuri itu dosa. Salah! Walaupun mencuri pepaya. Mula-mula memang pepaya yang kita curi. Lama-kelamaan kita akan mencuri kelapa, lalu mencuri ayam, lalu kambing, lalu kita dipenjara.”
Yang disampaikan Anto manjur. Perkumpulan anak belajar tentang kebaikan dan kejahatan. Mereka tidak mau menjadi jahat, yang nanti masuk penjara. Para tokoh dalam cerita dapat menjadi rujukan bagi para pembaca yang ingin menjadi baik. Artinya, buku cerita itu sumber belajar. Namun, pembaca mungkin merasakan keanehan. Banyak hal dimulai dari peristiwa dan dinilai dengan perkataan. Simpulan cepat dibuat, yang selalu memihak kebaikan.
Pada suatu hari, Anto dan teman-teman bersepakat belajar bemain musik dan menyanyi. Mereka senang tapi terjebak perdebatan. Darto Singo mengajak pembaca turut dalam perbedaan pendapat: “Mula-mula Parmin ragu-ragu. Memalukan, katanya. Karena ngamen dan mengemis itu sama saja. Tapi, Anto membantah pikirannya itu. Mereka akan memperoleh uang sedikit dengan ngamen, menyanyi keliling kota. Tapi itu tidak sama dengan hasil mengemis. Mengemis hanya menadahkan tangan pada siapa yang kasihan atau ikhlas memberi. Tapi, ngamen sama artinya menjual suara, menjual lagu dan musik untuk pemberian yang mereka terima.” Perdebatan itu membuat mereka berpikir serius sambil mencari pendapat yang benar dan kuat.
Di rumah dan bermain bersama teman-teman, pengajaran kebaikan selalu bermunculan. Di sekolah, Anto juga belajar kebaikan-kebaikan melalui pelbagai masalah. Sekolah justru menjadi tempat yang mengharuskan pemahaman atas kebaikan-kebaikan. Murid-murid dianjurkan belajar yang rajin agar pintas sekaligus membentuk pribadinya secara “sempurna”. Padahal, selama di sekolah, mereka pun merayakan kemalasan dan kenakalan. Namun, mereka memang mendapat kondisi yang mengharuskan belajar kebaikan-kebaikan selain kecerdasan.
Darto Singo melalui cerita berjudul Mengejar Bintang sudah punya patokan-patokan agar para pembaca lekas menerima pengajaran-pengajaran, sejak halaman pertama. Kita kadang meledek bahwa penulis cerita anak telah “memperalat” cerita untuk mengumbar pengajaran, yang risikonya cerita menjadi hambar. Cerita yang semestinya dinikmati dengan beragam sikap justru dijadikan “pengganti” atau “sekutu” dari buku-buku pelajaran dan kumpulan nasihat orangtua. Maka, anak-anak Indonesia yang menbaca cerita jarang yang mahir merenung dan berani kritis. Para pembaca telanjur dianggap penerima pengajaran-pengajaran tanpa perlu membantah. Artinya, anak yang mau membaca cerita diharapkan mewujudkan kebaikan-kebaikan.
______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!