Esai Uwais Qorni
Saya sering overthinking sama bahan tulisan. Coret-coretannya ada. Penataan bahasannya juga ada. Tapi yang menyebabkan saya kepikiran adalah rasa tidak puas terhadap tulisan sendiri dan keinginan mempunyai tulisan yang sempurna. Baru nulis satu paragraf malah diedit. Begitu selesai diedit tapi editannya masih jelek malah saya hapus semuanya itu. Bagi saya ini merupakan kebiasaan buruk yang gak buruk-buruk amat. Tidak buruknya adalah fokus tulisan saya tertata. Namun sisi buruknya adalah tekanan mental.
Saya baca kembali draf dari tulisan ini beneran amburadul. Antarparagraf gak nyambung. Semakin banyak paragrafnya malah ngelantur. Sebagai penulisnya sendiri, saya gregetan dan gigit bibir sebab ketidakjelasan yang saya tuliskan itu benar-benar membuat pembacanya tidak nyaman. Jauh lebih tidak nyaman dibandingkan saat sedang menuliskannya.
Saya mau mengatur ketidaknyamanan ini dan merangkai beberapa ilmu kepenulisan tersebut biar nyaman dan tidak nyamannya itu imbang. Soalnya saya menulis draf itu dengan cara ilmu anggaplah dari Si Polan yang mengatakan biar nyaman kepenulisannya dan tidak tersendat-sendat di tengah jalan maka nulis aja dulu senyaman mungkin meskipun tanpa aturan, meskipun jelek banget. Masalahnya adalah kalau menulisnya seperti itu sebaiknya buat diary saja, dan bukan untuk dipublikasikan. Jika tulisan hanya dipahami seorang maka buat apa disebarluaskan?
Sebab ini muncullah ide untuk mempertemukan dan memadukan antara “nulis nyaman tapi jelek banget” dengan “nulis bagus tapi kena mental”. Yaitu saya sekarang nyoret-nyoretnya singkat-singkat saja. Jelek banget gak masalah. Soalnya habis itu saya edit menjadi satu paragraf yang sempurna. Dieditnya itu per paragraf, bukan per satu tulisan tuntas. Jadi dibaca tiap paragrafnya itu saling bersambung. Urusan tak nyaman batin sudah tidak terlalu lagi soalnya dilampiaskan pada kertas yang diisi coretan tangan yang jelek itu.
Sehabis itu masih ada lagi overthinking-nya saya terhadap kepenulisan, yaitu masalah mood atau perasaan. Dipikir-pikir penulis gak bakal nulis kalau niatnya saja belum ada atau dia sedang gak ada ketertarikan untuk menulis, atau malas nulis. Ibaratnya, kegiatan menulis itu seperti ngobrol sama teman. Kalau temannya gak asik, ngobrolnya gak asik. Nah, kalau mood-nya gak mendukung, tergerak menulisnya pun mustahil muncul. Jadi perlu tahu perasaan diri sendiri apakah sudah nyaman untuk menulis atau belum. Dan itu tidak perlu dipaksakan. Menulis tidak perlu dipaksakan. Sama seperti orang yang sedih tidak perlu dipaksa untuk bercerita.
Seharusnya ini berlaku pada ketentuan jumlah paragraf. Misalnya tulisan tuntas di paragraf ke-5, maka harusnya itu sudah cukup. Yang saya jelaskan di paragraf sebelumnya yaitu gak usah dipaksa orang sedih dipaksa bercerita. Sesenggukan jadinya. Tapi bagaimana lagi. Standar media biasanya menuntut kurang lebihnya 15 paragraf. Seperti itu yang disampaikan Kang Encep Abdullah. Alhasil esai ini yang jumlah awalnya cuman 7 paragraf saya paksakan untuk berjumlah sekitar 15 paragraf. Semoga saja dimasukkan ke NGEWIYAK.
Sekalian saya menceritakan singkat apa-apa yang berada di draf ini sebelum saya merevisinya seperti sekarang, kenapa draf itu singkat, dan apa yang mendorong saya untuk cepat-cepat mencatatnya? Sebenarnya bahasannya cuma tiga, yaitu yang pertama seperti yang saya tuliskan tadi. Yang pertama adalah menulis senyaman mungkin tapi jelek atau menulis sebagus mungkin tapi tak nyaman. Yang kedua adalah fokus merupakan pecut yang menyetir tulisan kita sampai ke finish. Yang terakhir adalah berimajinasi. Bertahap dan santai saja saya akan bahas satu-satu.
Lanjut bahasan kedua yaitu tentang fokus. Bisa dibilang ini adalah perdananya saya latihan fokus. Saya orangnya suka memikirkan bagaimana hasilnya tulisan padahal nulisnya saja masih kaku. Belum juga memulai menulis tapi pikirannya sudah ke mana-mana. Akhirnya bukan enak menulisnya melainkan merasa bersalah jika menyaksikan hasil tulisan yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Menuntaskan tulisan mentah merupakan seni yang perlu saya latih. Saat menulis memang penulisnya itu banyak pikiran. Yang dituangkan ke dalam tulisan adalah ide, gagasan, bahkan sesekali perasaan. Menulis itu bukan sekadar naruh garis atau bulat-bulatan di kertas. Menulis adalah buah dari pemikiran dan perasaan. Maka tidak salah jika menjadi satu kenyamanan saat overthinking yaitu membuang semua unek-unek di kepala ke dalam kertas, meskipun isinya itu sampah atau bahkan makian. Alasannya sesimpel pengibaratan sedang mules dan mustahil kita menunda-nunda untuk buang taek. Otak juga kadang sakit perut, dan di antara bentuk penyembuhan adalah dengan menulis seenaknya.
Syukur saya bertambah saat pengetahuan menulis dan pelajaran lain menjadi algoritma tontonan saya. Saya catat semua itu dan saya terapkan di dalam kepenulisan ini. Sia-sia jika saya dapat ilmu gratis tapi saya membiarkannya hilang diterjang kelupaan. Alhamdulillah yang awalnya saya kurang fokus menulis jadinya fokus menulis lagi. Fokus nulisnya nyicil-nyicil tak masalah. Asalkan niat untuk diselesaikan. Sudah berapa hari sejak draf mentah saya share di grup tapi belum juga tuntas di hari ini? Itu bukanlah kesalahan. Ibaratnya berhutang, saat pegang uang tidaklah diharuskan bayar sekarang. Dicicil-cicil juga tak ada urusan. Asalkan mau bayar.
Enak rasanya mencuri ilmu lewat buku, lewat YouTube, lewat koran-koran atau pemberitaan di sosial media. Jangan hanya dibaca, eloknya digunakan di dalam dunia nyata. Apa yang saya dapatkan kemarin itu saya simpan di dalam coretan singkat. Kemudian jadi draf panjang. Lepas itu pengamalan pelan-pelan yaitu dengan cara menargetkan “tak nyaman batin tak apa-apa asalkan tulisannya diedit per paragraf pakai gaya penyampaian yang baru” dan gak banyak-banyak drama kepenulisan lagi. Kalau gak nyaman menulis, berhenti. Kalau nyaman menulis, mulai lagi. Maka fokus menulis saya di sini sudah mulai membaik dibandingkan bertahun-tahun yang lalu.
Tapi ada yang belum saya fokuskan betul-betul. Sebagian cita-cita gampang direalisasikan dan cepat waktunya. Yang lain gak datang dengan instan. Pantas jika ada perencanaan jangka pendek dan perencanaan jangka panjang. Sekarang alhamdulillah fokus saya tumbuh itu di perencanaan jangka pendeknya. Yaitu nyaman menulis seperti ini merupakan tujuan jangka pendek saya. Dan untuk saya pribadi hal semacam ini dapat dijadikan kebanggaan tersendiri. Lebih daripada cukupnya adalah saya menulis biar gak stres. Kemudian yang perlu saya bikin strateginya yaitu perencanaan jangka panjang kepenulisan saya ini demi apa, genre tulisannya dominan ke apa, dan kepada siapa?
Bukan artinya saya merasa lebih pintar dari siapapun, tapi untuk mencari teman diskusi masalah buku di kampung halaman saya itu susah betul. Jalan desa penanganannya lambat. Untuk mendapatkan uang lebih harus ke luar kota dulu, atau setidaknya kerjanya di luar desa. Dibilang pelosok memang betul. Tapi gak terlalu desa juga sebab masih dijumpai wifi di sana. Ini hanya pemikiran saya, bahwa gak ada protes di satu kawasan terhadap kebobrokan sistem perdanya itu tanda bobroknya pengetahuan. Kalau memang pintar berani ngomong. Kritik dan bukan diam saja. Diam saja sangat dimungkinkan disibukkan dengan pekerjaannya atau disebabkan menerima saja sama kenyataan pahit itu.
Dulu sekali fokus saya menulis puisi yang isinya kritik dan kekecewaan saya sama kebodohan terstruktur ini. Saya menulisnya pakai bahasa kiasan yang tidak mudah dipahami orang awam. Saya perhitungkan lagi langkah saya tersebut, sudah tepat atau salahkah yang saya perbuat itu? Apa itu akan menyinggung orang-orang dan membuatnya membenci saya atau malah bisa menggiring orang-orang yang dulunya gak tertarik sama perbukuan sekarang jadi suka sama buku? Dipikir-pikir mendalam memang paling berpengaruh itu langsung tindakan bukan sekadar bacotan lewat tulisan.
Coba pikir, apa pengaruhnya buku yang gak dibaca? Apa pengaruhnya nasihat yang gak dipahami? Itu semua omong kosong. Dengan begitu tergerak keinginan untuk menyederhanakan bahasa. Saya ingin menyampaikan kepada pembaca sekalian lewat esai yang semoga saja mudah dipahami. Tidak berbelit-belit lagi oleh majas yang gak jelas maknanya apa. Tapi, apa saya benar-benar ingin fokus menjadi penulis buku yang isinya sekumpulan esai daging? Ah, saya dibuat overthinking sebab ini.
Artinya saya perlu berbenah. Saya harus mencari tahu fokus kepenulisan saya genre apa. Jalan tengahnya bagaimana kalau seperti ini. Jika saya ingin menulis satu esai, maka selesaikan esai itu. Jika saya ingin menulis satu puisi, maka selesaikan puisi itu. Hidup jangan dibikin ruwet, apalagi cuma masalah kepenulisan. Jadi WNI saja ruwetnya bukan main. Kalau sebatas nulis, dibikin santai aja.
Bahasan ketiga dan ini yang terakhir yaitu berimajinasilah saat menulis. Jangan takut berkhayal saat sedang nulis. Ngomong sendiri juga gak apa-apa. Itu jadi nilai plus buat kepenulisanmu.
Dulu saya malu nengok catatan saya di kertas. Tulisan tangan saya buruk. Gak bisa dibaca siapapun. Bahkan saya sendiri sering lupa atas apa yang saya tuliskan itu. Jadinya saya nulis catatan itu sebagai pemicu untuk menulis draf di HP.
Waktu itu kegagalan menulis saya banyak disebabkan oleh alasan “gak bagus tulisan tangannya sama dengan gak bagus isi tulisannya”. Tiap kali nulis dihambat oleh perasaan kecewa sama tulisan tangan sendiri. Kok jelek gitu, pikir saya. Akhirnya baru juga mulai langsung terhenti oleh perasaan malu. Untuk sekarang alhamdulillah tidak lagi. Dengan berimajinasi, saya gampang nulisnya. Sejelek apa pun tulisan tangan saya, saya coba untuk ngebayangin dokter lagi nulis resep obat di kertas. Tulisannya jelek. Tulisannya dokter memang jelek. Dan siapa yang gak tahu itu?
Dengan berimajinasi, saya gampang nulis drafnya. Saya bayangin perbincangan di hati itu berpindah derojatan dari yang awalnya tidak ada menjadi ada. Seperti berbicara dengan diri sendiri, menulis seharusnya senyaman itu. Saya tidak perlu memusingkan apa pun. Saya ingin bercerita lewat menulis, dan tak ada yang mengganggu waktu menulis saya kecuali pikiran sendiri. Jika saya mampu berpikiran buruk yang menyebabkan saya gak bisa nulis nyaman, lantas kenapa saya gak mampu berpikiran baik sehingga nulisnya saya bisa nyaman? Gitu.
_________
Penulis,
Uwais Qorni, penulis yang gemar menulis puisi dan alumnus Klinik Menulis #5.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
