Sunday, February 22, 2026

Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

Puisi-puisi Sulaiman Djaya 




Bukit Kecil 


21 Agustus 2025 

hujan telah pulang 

ke haribaan kenangan 

ke lubuk keheningan

dan selagi senja berteduh, 


ku-dengarkan saja 

arus sungai bersenandung. 

Angin yang berlari 

adalah hatiku 

mencandai kepolosanmu. 

 

Mungkin cinta seperti cuaca 

membasah mata 

merebahkan tubuh rinduku 

di serimbun sudut tahun. 

Segala kenangan 


berpacu dan beradu

ke jantung sepiku. 

Dan selagi waktu 

belum menjadi maut 

kupahami nasib 


seumpama kota-kota 

yang berganti 

puing-puing sejarah. 

Perang, pertikaian 

kerakusan dan keserakahan 


yang menyamar 

sebagai bisnis 

dan perdagangan 

di bilik-bilik pemilihan suara 

para penipu berkedok konstitusi. 


(2025) 


Sungai Setapak


Jalan panjangmu 

setapak rimbun usiaku

ranting-ilalang 

ditinggalkan musim. 

Dari mana mesti kutulis 

kegembiraan manusia, 

jika bukan keindahan 

kejujuranmu 

menerjemahkan hidup 


yang memang bukan 

jadwal dunia mesin. 

Gerimis, serakan kamboja 

tiba-tiba kubaca 


sebagai serpihan kebetulan 

nasib yang bukan kuasaku 

menentu umur. 

Aku pun selalu rindu 

kata paling lugu, ketika bahasa 

hanya jadi senjata 

dan propaganda

penyembah benda-benda 

berkedok agama. 


(2025) 


Ketika Aku Mencintaimu 


Ketika aku mencintaimu 

bunga tumbuh 

dari susunan kalimatku 

cuaca berjatuhan 

di pepohonan senja. 


Ketika aku mencintaimu 

yang semula dilanda nestapa 

tiba-tiba tertawa 

dan bernyanyi gembira. 


Dan ketika aku mencintaimu 

engkau taka da 

dalam perumpamaan 

dan bahasa 

kehilangan kiasannya. 


(2024) 


Pantun 


Rinduku padamu 

tersusun dari roti keju 

cuaca berkabut 

segelas susu 

rimbun pagiku. 


Rinduku padamu 

adalah debur laut 

menabrak syahdu matamu 

bergejolak beruntun 

ke hatiku.  


(2024)


Apa Puisi Itu? 


Bahasa yang jadi seni 

jadi musik

kata-kata yang bernyanyi

harapan dan nasib

yang disyukuri. 


Penyair hidup

dari pengalaman

memahami, membaca, menyimak

semesta, alam, kebetulan

dan mengisahkannya


kepada kekasih 

yang jatuh cinta 

dan kau membacanya

seakan kenyataan

yang kau akrabi. 


(2023) 


______

Penulis


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, bacapetra.co, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, liputan9, simalaba, Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Wajah Deportan (Antologi Puisi Penulis Muda Lintas Provinsi 2009) Pusat Bahasa Jakarta 2009, Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, Yang Tampil Beda Setelah Chairil Anwar - Antologi Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016, dan lain-lain.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!