Cerpen Deprian Ajopan
Jurus pertama yang ia lakukan untuk membangunkan putrinya Nadia, ia membuka jendela, sampai cahaya masuk menjilat wajah Nadia. Kalau tidak berhasil, ia menggunakan jurus kedua yang belum pernah gagal, memasukkan speaker besar ke dalam kamar, menghidupkan lagu-lagu agama sekuat-kuatnya. Putrinya yang merasa terganggu bangkit dengan sendirinya dari tempat tidur setelah mendengar musik berdentum-dentum menusuk-nusuk telinganya. Pelan-pelan ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, meninggalkan tempat tidur yang ia kencingi. Ia mengucek-ngucek mata, sambil menguap lebar. Dan ia melihat dunia yang terang ini masih remang. Lagian mau terlambat ia atau tidak ke sekolah, tidak akan ada guru yang menegurnya. Menurut mereka para guru di sekolah, lebih baik anak itu tidak datang. Ia tidak paham mata pelajaran apa pun yang sudah diterangkan guru berulang kali. Ketika ditanya apa sudah mengerti, ia jawab dengan menggeleng-gelengkan kepala tak peduli. Ketika ditanya guru apa cita-citanya, ia tak pernah menjawab seperti murid lain. Ia juga tidak tahu mapel yang ia sukai, dan tidak bisa menyebut siapa guru favorit yang ia sayangi. Baginya semua guru di situ sama saja, memandangnya sebelah mata, dan menganggapnya tak pernah ada. Kedatangannya hanya mengganggu konsentrasi murid lain ketika belajar.
Ketika guru sedang menerangkan pelajaran, ia sering mondar-mandir, kemudian menyelinap masuk ke bawah meja, duduk santai ia di situ. Ia sentuh kaki kawannya, lalu ia tersenyum-senyum sendiri. Dan tak jarang ia belari ke depan, seperti larinya anak kecil berumur dua tahun. Ia duduk di atas kursi guru, menyentuh bunga di ata meja, dan memegang benda lainnya seperti buku-buku sampai berantakan, membuat hati gurunya mendidih. Kalau disuruh guru duduk, baik cara lembut, atau pun bercampur emosi biar ia takut dan serius mendengar pelajaran, pasti berujung kisruh dan kacau. Ia akan teriak-teriak, mengambil sesuatu yang didapatnya lalu melemparkannya pada guru, kemudian mengambil tasnya berlari pulang sambil menangis tersedu-sedu mengadu pada ibunya.
* * *
Hari itu Bu Dewi, mamanya Nadia dipanggil wali kelas atas perintah kepala sekolah. Ia disuruh datang ke kantor. Ia masuk dengan tubuh terbungkuk-bungkuk menjulurkan tangan ke bawah melintas di depan guru-guru. Ia disuruh duduk di kursi sebelah kanan. Di sampingnya ada wali kelas dan kepala sekolah yang terbatuk-batuk kering, baru mematikan rokoknya. Kepala sekolah menyuruh wali kelas untuk memulai. Pelan-pelan wali kelas berbicara, dan mengawalinya dengan mukadimah singkat seperti seorang pemidato yang terburu-buru dengan hati bergetar. Dengan hati-hati, ia menyampaikan pesan orang-orang tua wali murid terkhusus kelas tiga SD yang satu kelas dengan Nadia. Mereka merasa keberatan atas kehadiran Nadia di sekolah yang mereka anggap perusuh. Wali kelas menyampaikan dengan bibir bergetar, agar secepatnya Nadia dipindahkan ke sekolah lain utuk kenyamanan bersama. Mereka juga bersedia turut membantu untuk memilih sekolah yang tepat buat Nadia yang siap menerima ia apa adanya. Bu Dewi sangat terpukul mendengar pernyataan itu. Selama ini ia tidak pernah komentar tentang kelakuan guru-guru yang agresif terhadap putrinya.
Mengenai putrinya yang selalu dapat ranking terakhir di sekolah, tak pernah sekalipun ia berkoar seperti yang pernah dilakukan wali murid, datang ke sekolah dengan jalan tergopoh-gopoh, marah-marah pada wali kelas seperti baru keserupan setan, karena nilai anaknya jauh menurun dari semester sebelumnya. Begitu juga, mengenai putrinya Nadia yang sering datang berlari-lari kecil sambil menangis mengadu pada ibunya karena telinganya dijewer keras oleh guru di sekolah. Ia tak pernah datang menuntut. Ia juga dapat informasi baru-baru ini, putrinya yang dianggap mengganggu di ruang kelas ternyata sering disuruh keluar, lalu gurunya menutup pintu. Putrinya yang sendirian di luar hanya bisa mengintip ke dalam kelas lewat jendela kaca. Ia sangat bersyukur putrinya bisa sekolah di situ walaupun guru-guru memandangnya sebelah mata. Biar saja putrinya dianggap anak bodoh, yang penting ia tetap mau sekolah. Bagaimana susahnya dulu ia membujuk Nadia supaya mau sekolah, tidak ada seorang pun yang tahu. Ia sendiri yang berjuang keras. Ia sadar tentang putrinya yang banyak sekali kekurangan, tidak seperti anak pintar lainnya, menyebabkan ia didiskriminasi oleh gurunya. Tapi ia tidak terima kalau putrinya dikeluarkan dari sekolah, dan belum tentu juga putrinya mau pindah ke sekolah lain. Apa pun yang terjadi ia harus melawan. Titik.
“Orang tua siapa yang merasa terganggu dengan adanya putriku sekolah di sini, secepatnya pertemukan aku dengan orang itu. Masa kalian tidak bisa mengurus masalah kecil seperti ini. Suruh saja Nadia keluar kalau mengganggu di kelas seperti yang sering kalian lakukan,” kepala sekolah dan wali kelas saling pandang.
“Mohon maaf Bu, ini untuk kebaikan kita bersama,” wali kelas mencoba menenangkan suasana yang hampir gaduh dengan kata-katanya yang tenang menyerupai bisikan.
“Tidak, ini kebaikan untuk kalian saja, tidak untukku, juga tidak untuk putriku Nadia,” muka Bu Dewi memerah. Ia yang siap melakukan perkelahian jika diperlukan tetap duduk tak tenang di kursinya. Ia menggoyang-goyang kedua kakinya yang kepanasan.
“Cobalah mengerti dengan kami Bu, sudah berapa banyak wali murid yang komplain, datang marah-marah, dan mengancam kami. Kalau putri Ibu masih sekolah di sini, anaknya bisa dipindahkan ke sekolah lain. Bagaimana nanti nasib sekolah kami kalau kekurangan murid?” Kali ini kepala sekolah yang berbicara lebih lembut lagi. Cara ia yang tenang, pertanda ia sangat berpengalaman menghadapi orang seperti Bu Dewi.
“Apa kau bilang, kau suruh aku mengerti dengan kalian, sementara kalian tidak memahami perasaanku yang terluka. Kalau ada wali murid komplain dan mengancam anaknya dipindahkan sekolah, seharusnya kalau kalian pendidik yang bijak tidak mau mengikuti permintaan konyol seperti itu, biarkan saja anaknya berhenti, bukan putriku yang kena sasaran dikeluarkan dari sekolah. Masa kalian mau diatur-atur wali murid. Mana kepribadian kalian sebagai seorang guru, juga sebagai seorang pendidik?” Suara Bu Dewi meninggi. Kepala sekolah tetap tenang, tapi tidak dengan wali kelas itu. Ia yang kelihatan gelisah, posisi duduknya berganti-ganti.
“Putriku kan bukan seorang maling, tidak juga melukai anak-anak lain. Tidak pernah merusak fasilitas sekolah. Jadi tidak ada alasan yang sah kalau putriku diberhentikan dari sekolah ini,” dadanya yang mendidih terguncang-guncang, napasnya mendengus-dengus, matanya semakin merah. Kepala sekolah memandang sesaat wali kelas, memberi kode agar jangan dilawan, lebih baik diam saja dulu. Wali kelas yang langsung mengerti bahasa isyarat itu mengikuti perintah atasannya.
“Kalau sampai putriku berhenti, awas kalian akan kulaporkan pada Bapak Presiden. Biar guru macam kalian dipecat,” Bu Dewi menunjuk dua orang itu, lalu bergegas pergi meninggalkan kantor setelah memperbaiki posisi jilbabnya yang bergeser. Ia pergi membawa hati yang perih.
* * *
Minggu pagi itu, Bu Dewi memanggil Nadia yang sedang bermain dengan teman-temannya di lapangan bola. Anak itu datang berlari-lari, langsung dipeluk ibunya yang berurai air mata.
“Aku tidak akan berhenti memberikan pendidikan yang terbaik untukmu, Nak. Walaupun ayahmu, lelaki keparat itu, sudah pergi meninggalkan kita gara-gara perempuan lain. Setelah besar kau harus membenci ayahmu, Nak. Apa pun alasannya, kau tidak boleh menyayanginya. Ini perintah wajib dari seorang Ibu,” Nadia yang masih berpenampilan kumuh, berbau amis, dan berkeringat meronta-ronta dalam pelukan ibunya yang semakin erat.
“Nanti sampai di rumah, kau langsung mandi Nak. Ibu juga bersiap-siap. Setelah itu kita berangkat,” perintah Ibu Nadia yang baru melepaskan pelukan. Nadia tak tahu, ibunya mengajaknya pergi ke mana. Ia mengikuti saja perintah sang Ibu. Mereka berjalan beriringan menuju rumah tua, tempat tinggal mereka berdua. Ibunya memegang erat-erat tangan putrinya.
“Hari ini kita ke Jakarta.”
“Ngapain ke Jakarta Bu?”
“Mau bertemu presiden.”
“Untuk apa?” Bu Dewi tak menjawab. Matanya yang menerawang sudah melihat ia bertemu presiden dalam bayangan.
______
Penulis
Depri Ajopan, lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 7 Desember 1989. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional serta di media daring. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!