Oleh Kabut
Yang pernah menjadi murid masa Orde Baru pasti ingat tugas yang diberikan para guru setelah ujian dan sebelum penerimaan rapor. Tugas yang menyenangkan bagi yang suka bercerita. Namun, tugas itu mengganggu bagi anak-anak yang ingin bermain dan liburan sepenuhnya tanpa kepikiran membuat tulisan.
Maka, karangan-karangan yang dibuat murid-murid SD masa lalu biasanya bertema liburan. Kita mengingat cerita-cerita yang hampir sampai. Yang terkenal adalah berlibur ke rumah nenek dan kakek. Artinya, anak meninggalkan rumahnya, berpisah dari bapak dan ibunya. Ia menuju desa atau kota, tempat tinggal kakek dan neneknya. Mereka liburan kadang ditemani bapak dan ibu. Keseruan bila mereka “terbebas” dari bapak dan ibu yang suka mengatur dan memerintah.
Apa yang menyenangkan dalam liburan? Kita membuka lagi halaman-halaman kenangan. Liburan dengan pergi ke kebun binatang itu biasa. Yang menuju pantai atau tempat wisata hanya terkesan sesaat. Mengapa liburan di desa biasanya lebih menakjubkan ketimbang di kota? Dua tempat itu punya misteri yang berbeda. Konon, misteri yang paling banyak terdapat di desa. Artinya, murid yang berlibur semula berada di kota. Ia menuju desa dengan anggapan-anggapan yang bakal menguak beragam perbedaan. Adanya perbedaan belum tentu mencipta keselarasan. Yang gagal menyesuaikan diri malah terlibat dalam konflik dan kekacauan.
Jadi, kita yang mau mengumpulkan hasil tulisan ribuan murid di seantero Indonesia terduga menemukan pola dan selera yang sama: liburan. Mereka bercerita secara urut. Banyak yang ingin dimasukkan dalam cerita agar menjadi panjang sesuai permintaan guru. Apakah ada hal-hal yang akan dinilai bermutu? Yang rajin membaca lekas menemukan kejenuhan. Pembaca berhadapan dengan klise-klise. Padahal, selama puluhan tahun, tugas mengarang melulu tentang liburan. Pada masa sekarang, keinginan menulis bertema liburan masih berlaku pada murid-murid di SD dan SMP.
Kita tidak bisa membuat larangan. Murid-murid mau membuat karangan saja sudah patut diberi penghargaan. Yang menyusun tugas itu memerlukan tenaga, ingatan, imajinasi, dan lain-lain. Ada beberapa murid yang memilih meniru saja tulisan temannya dengan sedikit perubahan. Yang membikin kita penasaran: guru-guru betah dan mampu menyelesaikan semua cerita yang dikumpulkan oleh murid-muridnya? Kita memiliki dugaan jelek bahwa guru asal-asalan memberi nilai. Guru punya banyak kesibukan, yang tidak mungkin menghabiskan jam-jamnya untuk membaca cerita buatan anak yang ditulis tangan. Bayangkan jika tulisan-tulisan tangan itu jelek dan amburadul. Maka, yang membaca akan tersiksa dan kelelahan.
Kenangan itu terbaca lagi saat kita membuka buku berjudul Berlibur di Kampung Halaman Kakek gubahan Umi Zubaedah. Buku diterbitkan oleh Effhar Coy, 1976. Dulu, buku masuk dalam koleksi perpustakaan Putera Harapan, SD Cakraningratan, Surakarta. Buku yang mendapat stempel perpustakaan, yang berarti boleh dibaca murid-murid. Apakah buku itu dibaca atau termasuk yang digemari murid-murid? Di bagian belakang, kita menemukan lembaran keterangan peminjaman. Ternyata, lembaran itu kosong. Buku belum pernah dipinjam secara resmi oleh murid. Kita menduga buku pernah dibaca di ruang perpustakaan tanpa dibawa pulang selama beberapa hari. Maklum saja nasib buku cerita anak di perpustakaan. Maksudnya, banyak buku yang tidak bermutu. Murid-murid tidak menyukainya itu wajar.
Pengarang bercerita Sutanto dan Sutanti. Mereka bersaudara, masih belajar di SD, beda kelas. Mereka bergembira dengan kabar kedatangan kakek. Yang mereka impikan adalah ikut pulang ke kampung halaman kakek. Keluarga tinggal di Semarang. Kampung halaman kakek di Kebumen. Jarak yang jauh sudah menimbulkan imajinasi kegembiraan dan petualangan. Mereka berlibur setelah penerimaan rapor, yang hasilnya bagus.
Yang diceritakan adalah tokoh-tokoh terbaik, yang inginnya ditiru para pembaca. Kita mendapat perkenalan tokoh: “Sutanti memang anak yang soleh, yang selalu ingat kepada Tuhan. Ia adalah salah seorang murid yang ingin mematuhi apa yang tertulis pada dinding rumah sekolahnya, yang berbunyi: bertakwa, belajar, dan bekerja. Semboyan yang selalu harus tertanam pada setiap pelajar dalam alam pembangunan. Sutanti adalah seorang murid teladan. Ia selalu ingat kepada Tuhan, ia selalu tekun belajar, ia selalu rajin berlatih dalam kepramukaan, dan ia selalu tak mengabaikan pekerjaan di rumah, membantu dan meringankan beban ibunya.” Anak-anak yang membacanya boleh “menyerah” sejak awal. Tokohnya sempurna. Pengarang semestinya sadar bila memberi tokoh yang sempurna itu membebani pembaca.
Perjalanan terjadi dengan naik bus. Dua anak itu kaget sekaligus gembira. Pengalaman naik bus dengan rute yang jauh memberi kejutan-kejutan. Kita mengingat bus yang mencipta memori publik. Pada masa lalu, naik bus itu tidak mudah. Di terminal, biasa berkeliaran para calo dan pencopet. Pengalaman berada di terminal itu menyibak bobroknya Indonesia. Yang berada dalam bus belum dijamin nyaman.
Pada saat melewati beberapa tempat, Kakek menyempatkan bercerita sejarah. Sutanto dan Sutanto sebagai cucu yang menghormati kakek, mendengar beragam cerita kepahlawanan, yang sangat diperlukan oleh rezim Orde Baru dalam menegakkan patriotisme. Kita percaya bahwa cerita itu makin membuat anak-anak jenuh. Membacanya malah mendapatkan nasihat-nasihat dan pengulangan tentang pelajaran sejarah, yang disampaikan secara menjemukan di sekolah. Apakah anak-anak harus selalu menjadi sasaran untuk mengawetkan dan membesarkan sejarah yang diperalat penguasa?
Kita mengutip yang terlihat selama perjalanan: “Di tapal batas kota Magelang, bus melewati kompleks AKABRI, yakni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.” Tempat yang sangat penting bagi Soeharto yang berkuasa oleh kekuatan Golkar dan tentara. Yang disampaikan kakek: “Tempat itu tak ubahnya dengan kawah condrodimuko bagi sang satria Gatotkaca. Tempat itu untuk penggemblengan para satria, calon-calon prajurit pengawal nusa dan bangsa Indonesia. AKABRI dapat juga disebut sebagai lambing kesatuan perjuangan para teruna angkatan bersenjata.” Apa yang menarik dari cerita yang dibuat Umi Zubaedah?
Yang wajib diketahui para pembaca, kakek adalah veteran, sosok yang mengetahui babak perjuangan di Indonesia. Veteran yang terus berusaha dalam hidup, tidak mau menjadi beban negara. Sosok kakek yang diceritakan: “Membuka usaha sendiri di rumahnya. Yakni, jual beli besi tua. Banyak para pandai besi menjadi langganan. Persediaan besi tua dengan segala macam bentuk dan ukuran, tertimbun di halaman depan dan samping.”
Sutanto dan Sutanti berhasil sampai kampung halaman kakek. Halaman-halaman untuk pengalaman mereka tersisa sedikit. Kita belum terlalu penting untuk menceritakan ulang. Yang sudah kita temukan dari buku cerita adalah hal-hal yang dipentingkan oleh pemerintah. Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerita menjadi juru bicara untuk mengajak anak-anak yang membacanya berpikiran berat dan besar tentang Indonesia. Yakinlah, cerita yang kurang menghibur! Temanya tentang liburan tapi membuat pembaca tidak memiliki ketertarikan.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!