Sunday, February 22, 2026

Cerpen Rosul Jaya Raya | Penangkaran Anak-Anak

Cerpen Rosul Jaya Raya



Tatkala hidupmu bebas menghidu aroma zaman, kamu perlu membaca kisah pilu Kamelia. Hidupnya dalam sekat; andai kata aku tak membawanya kabur, Kamelia tak akan menghidu kebebasan. Apa kamu pikir perbudakan sudah benar-benar terhapus di zaman yang menuhankan prinsip kemanusiaan ini?


Tatkala aku melempar tanya pada Kamelia soal hunian masa kecilnya, yang akan kamu dengar bukan rumah romantis; dimanja ayah dan ibu; disayang saudara dan kerabat; penuh canda dan tawa; atau hal lainnya yang menunjukkan keluarga cemara. Niscaya kamu akan nanap lalu terenyuh pada masa kecil Kamelia. Tapi, walau pilu, ini penting aku ceritakan padamu, agar kamu menolong kami untuk membebaskan kawan-kawannya yang masih terperangkap dalam perbudakan dan pencucian otak paling horor.


***


Di sepotong hari, keberadaan kami yang tengah bersembunyi di rumahku kepergok oleh Ronald dan istrinya, Maryam. Ada dua pengawal membersamai mereka. Tubuh dua pengawal itu tegap—otot-otot kekar mereka tersembunyi di balik pakaian. 


"Kamelia, ayo pulang! Jangan berteman orang asing. Bahaya. Kau akan dijahatinya," kata Ronald pada Kamelia. Ronald mencengkeram pergelangan tangannya. 


Tahukah kamu, yang aku harapkan kala itu tak terjadi. Kamelia masih jadi budak yang mematuhi tuannya. Kamelia tak berontak. Aku gelebah; tak membuncah tindakan apik untuk menyelamatkan Kamelia. Hanya bergeming. Andaikan aku berteriak meminta tolong warga, aku yang bisa-bisa dihajar karena dituduh menculik Kamelia—baru sehari Kamelia bersamaku lantas keesokan harinya Ronald dan Maryam datang menjemputnya. 


Beruntung saat itu, aku gegas memacu mobil. Mobilku berhasil membuntuti mobil Ronald dan Maryam sampai melalui jalan yang membelah hutan jati. Tanpa disadari oleh mereka bahwa aku membuntuti. Aku melihat mobil mereka berbelok ke arah hunian besar berpagar tinggi. Hunian itu nian megah. Anomali bukan? Karena berdiri di hutan jati, sementara rumah-rumah lainnya nun di luar hutan jati. 


Sepekan aku menginap di rumah kawan; yang dekat kawasan hutan jati itu. Karena sering bolak-balik ke hutan, aku beralasan hendak meneliti pokok-pokok jati. Aku kehabisan akal bagaimana cara menyelamatkan Kamelia. Mustahil. Tak ada celah senoktah pun. 


Aku pernah menyamar jadi kurir, dan sekadar berhasil masuk ke dalam hunian nian megah itu yang terdiri dari beberapa hunian mewah: 6 bangunan berjejer di sana; 3 rumah di sebelah barat dan 2 rumah ditambah sebuah gedung pelatihan di sebelah timur; sementara penangkaran binatang terletak di belakang kompleks hunian mewah itu. Tapi aku tak bersitatap dengan Kamelia. Belum lagi cara untuk membawanya kabur dari sana mustahil, karena hunian itu dijaga ketat oleh para satpam. 


Kamu tahu mengapa Ronald dan Maryam bisa demikian kaya hingga punya beberapa hunian itu? Kamu akan tahu jawabannya selepas nanti aku ceritakan. 


Di sana, aku menatap anak-anak bermuka lugu tengah bermain di halaman kompleks itu. Seorang bocah perempuan—kira-kira berumur delapan tahun—menghadapkan kepalanya ke pokok mangga; menangkupkan mata pada tangan; menghitung mundur dari angka sepuluh. Sementara bocah lainnya mencari tempat bersembunyi. Mereka tampak ceria. Padahal, tanpa mereka sadari, mereka sedang terkurung di kandang budak. Mereka seperti Kamelia kecil yang tengah menyongsong kesengsaraan di masa depan. 


Pokok mangga itu di sebelah barat; di sekitarnya adalah hamparan taman; di tengah taman itu ada kolam ikan hias yang dikelilingi patung. Sementara di sebelah timurnya adalah gedung pelatihan yang ukurannya lebih besar dari rumah-rumah di sana. Bocah-bocah itu sekejap lagi akan masuk ke gedung pelatihan, menyusul orang-orang dewasa yang tentu sudah di dalam. Kala itu, aku tak tahu banyak soal hunian horor di sana; tak tahu kalau Kamelia sedang terikat di gudang gelap: tangan dan kakinya dirantai, diancam dengan brutal, dipukuli balok, bahkan Kamelia menyantap makanannya seperti binatang. Aku tahu semuanya selepas Kamelia berkisah padaku. 


Tatkala hampir putus asa bagaimana cara menyelamatkan Kamelia, aku melihat postingan di media sosial bahwa Sirkus Garong akan pentas sebulan setengah lagi, di kota Z. Aku menambun rencana untuk membawa Kamelia kabur. Kami tak akan kabur ke rumahku yang dahulu—rumah itu akan aku sewakan sebagai kos. Aku akan memboyong Kamelia ke kampung halaman, tapi sebelum itu aku mesti cari tahu bagaimana caranya Ronald dan Maryam bisa melacak keberadaan Kamelia. 


Kemudian, aku memasuki tenda sirkus yang berdiri di lapangan; tenda-tenda kecil dan lapak-lapak para pedagang melingkunginya. Aku membayar tiket masuk 50 ribu. Aku nanap dan terenyuh ketika menatap para pemain sirkus itu berakrobat, atas apa yang dialami di belakang penampilan luar biasa itu: tatkala latihan di hunian horor. Dan untung saja Kamelia ikut tampil. Aku kira Kamelia masih dikerangkeng di gudang gelap. 


Kamelia menari dengan empat gadis lainnya—wajah mereka tak dihias jadi badut seperti para lelaki. Lalu Kamelia dan dua pemain lain bergelantung pada dua tali yang terangkat. Lalu dua tali itu berputar-putar dan Kamelia berakrobat. Lalu ketika dua tali itu terangkat lebih tinggi dan berayun-ayun, Kamelia melompat; jungkir balik hingga tangannya berhasil meraih tangkapan kawannya yang bergelantung pada dua tali lain. Jantungku berkedut-kedut menyaksikan tiga pemain yang saling melompat; jungkir balik, menangkap, berputar-putar, menari-nari, pada tali-tali itu. 


Pada waktu jam istirahat pentas Sirkus Garong itu, aku keluar dari tenda sirkus. Dari luar tenda, mataku tak henti-hentinya mengekor ke arah tenda, berharap Kamelia keluar. Tatkala Kamelia tak kunjung timbul, aku masuk ke dalam tenda; beralasan pada para penjaga kalau ada barangku tertinggal di dalam. Sayangnya, salah seorang penjaga membuntutiku yang tengah berpura-pura mencari barang. Aku tak bisa bergerak banyak kala itu, maka aku sekonyong keluar dengan hasil nihil—tak menatap sama sekali sosok Kamelia. Lantas, tatkala sekejap kemudian aku keluar dari tenda sirkus, Kamelia juga keluar menuju suatu tempat. Pada akhirnya kami berjumpa. 


"Percayalah, Kamelia. Kamu akan aman denganku."


"Kau bohong. Kau mau menjahati saya."


"Tidak Kamelia. Cepatlah, pliiisss. Aku berniat menolongmu. Waktu kita tak banyak." 


"Saya takut." 


Air mata Kamelia berlelehan, napasnya terpegat-pegat. "Hiks-hiks-hiks. Tuan Ronald akan kasih siksaan lebih kejam, hiks-hiks, kalau aku ketangkap lagi, hiks-hiks." Suaranya terpatah-patah. Jiwaku jadi tersayat-sayat. 


"Aku punya tempat aman. Kita akan bersembunyi. Tenang saja. Kamu tak akan disiksa dan ketemu Ronald lagi."


"Tidak mau, Gumilang. Hiks-hiks-hiks. Saya harus mengabdi pada Tuan dan Nyonya, hiks-hiks." 


"Itu bukan pengabdian, itu perbudakan Kamelia. Ayo waktu kita tak banyak. Sebelum ada orang suruhan Ronald melihat kita. Aku sudah siapkan ini," aku menyodorkan pakaian, kerudung, dan masker. "Tinggalkan bajumu. Gegas pakai ini. Kamu harus menyamar." 


Aku keluar dari toilet perempuan itu. Untung saja detik itu, tak ada orang lain di sana selain kami. Syukurlah, Tuhan mengulurkan tangan-Nya pada kami. 


***


Selepas kamu tahu siasat aku membebaskan Kamelia, akan aku ceritakan masa kecil pilu Kamelia yang sudah tercuci otaknya hingga demikian lugu. Aku harap kamu fokus membaca kisah ini. Lantas ketika selesai membacanya, aku minta tolong padamu untuk membantu kami menyelamatkan kawan-kawan Kamelia yang masih terperangkap dalam perbudakan dan pencucian otak paling horor. 


Dalam batok kepala Kamelia dan kawan-kawannya, sejak kecil hingga kini, hal biadab yang menjangkiti mereka adalah suatu kewajaran. Mereka terus berlatih semaksimal mungkin, agar tak beroleh hardikan dan siksa: cambukan, pukulan, tendangan, setruman, dan lainnya dari Ronald atau Maryam. 


Jikalau terjadi kecelakaan ketika latihan seperti yang pernah dialami salah seorang kawan Kamelia bernama Sekar, sampai bikin kaki Sekar lumpuh, maka masa depan Sekar seolah tanpa arti karena tak bisa lagi menyuguhkan penampilan terbaik pada Ronald dan Maryam. Sekar merutuki diri sendiri di sisa hayatnya sampai kelak berangkat ke surga. Betul Sekar terbebas dari bermacam hardikan dan siksaan—Sekar tak akan latihan dan tampil lagi—tapi kebebasan itu justru jadi hukuman paling pahit bagi Sekar. Entitasnya bagaikan telah fana; lebur.


Ketahuilah, Kamelia kecil dan kawan-kawannya tak bisa baca-tulis. Mereka tak pernah disekolahkan Ronald dan Maryam. Tentu saja, anak-anak yang terdidik adalah ancaman bagi suami-istri itu. Jikalau mereka mencerup pendidikan, tak menutup kemungkinan kelak saat dewasa mereka akan memberontak pada Ronald dan Maryam. Maka, suami-istri itu tak pernah mengajarkan ilmu apa pun pada mereka, kecuali doktrin-doktrin jahanam yang memenjarakan pikiran mereka. 


"Putriku yang cantik. Kau harus latihan lebih keras. Ingat ya, apabila penonton terhibur dengan penampilanmu, kau akan dapat pahala. Dan pahala itu yang akan bawa kamu ke surga: tempat paling indah yang didamba setiap manusia," kata Ronald suatu waktu pada Kamelia kecil. Perkataan serupa itu tentu saja disampaikan pada kawan-kawannya. 


Bagaimana bisa Kamelia kecil dan kawan-kawannya sekolah, sebab untuk keluar hunian saja mereka dilarang. Hidup mereka terisolasi dan tersekat. Mereka tak tahu bagaimana ihwal dunia luar. Ronald dan Maryam juga melenyapkan seantero akses ke dunia luar: televisi, radio, buku, koran, majalah, dan ponsel. Hari-hari mereka sekadar ditandaskan dengan latihan berleret-leret agar kelak jadi pemain sirkus andal ketika dewasa. Tak peduli rasa nyeri sekujur tubuh, karena memang tubuh mereka dipaksa gigih; tahan; lincah; dan lihai. 


Di sepenggal hari, Kamelia kecil dan kawan-kawannya mendapati Mas Hendrik hendak berangkat ke surga. Mobil ambulans membawa orang yang sudah berusia 38 tahun itu; yang telah pensiun sebagai pemain Sirkus Garong. Menurut keyakinan mereka: mobil ambulans adalah kendaraan ke surga—ini termasuk doktrin dari Ronald dan Maryam. Sejak itu mereka tak pernah melihat Mas Hendrik lagi. Mas Hendrik seorang yang sungguh berbelas asih pada anak-anak. Mereka nestapa dan Kamelia kecil merasa kehilangan bagian hidupnya—ibarat perasaan seseorang yang kewafatan salah satu keluarganya. Sampai kapan pun Kamelia terus merindukan Mas Hendrik yang selalu melontarkan lelucon-lelucon untuk menghiburnya di masa kecil. Tatkala suara sirine ambulans meraung-raung, mereka dan orang-orang dewasa akan mengeriap lalu memeluk orang yang sebentar kemudian dibawa mobil dari surga tersebut. 


"Anak-anakku, Mas Hendrik sudah senyum di surga. Ia sudah sedekah sangat besar untuk umat manusia. Ia mendonorkan ginjal, jantung, paru-paru, pankreas, dan hati. Suatu saat ketika pensiun, akan tiba giliran kalian. Gapailah surga anak-anakku," kata Maryam di hadapan mereka suatu waktu. 


Pada akhirnya, tak akan terpetik keinginan untuk kabur, karena sejak kecil Kamelia berpandangan begitulah cara manusia menjalani hidup. Kamelia seperti kawan-kawannya yang tak ingin mengecewakan Ronald dan Maryam. Dengan segenap cara meski bikin fisik dan psikis Kamelia menderita, Kamelia harus menyenangkan hati Ronald dan Maryam. Itulah tujuan hidupnya. Tak kepalang bungahnya apabila Kamelia berhasil menampilkan atraksi atau berlatih dengan benar, yang bikin Ronald dan Maryam mengulas senyum. Dan akan menerima segenap hardikan dan siksaan dengan tabah, jikalau Kamelia berbuat teledor ketika menampilkan atraksi atau tak berlatih dengan baik. 


Kamelia kecil dan kawan-kawannya tak tahu siapa ayah dan ibu mereka. Mulanya mereka bersyak wasangka Ronald dan Maryam yang melahirkan mereka. Sampai mereka sering kedatangan bayi-bayi baru yang jebrol dari para pemain sirkus dewasa. Bayi-bayi itu jebrol dari hubungan paksa para pemain sirkus dewasa, sebelum beberapa tahun kemudian mereka pensiun, lalu berangkat ke surga dengan ditransplantasikan organ-organ dalam mereka. Ronald dan Maryam mengiktikadkan: meski mereka tak lahir dari rahim Maryam, suami-istri itu akan menyayangi mereka selayaknya ayah dan ibu. Akhirnya mereka berkesimpulan kalau Ronald dan Maryam bukan ayah dan ibu mereka; mereka yakin ayah dan ibu mereka sedang menanti di surga. Kelak mereka juga akan tabah menerima paksaan (bersenggama) untuk memproduksi bayi-bayi, lalu jadi ayah dan ibu, lalu.... 


Aku yakin sekarang kamu tahu alasannya mengapa Ronald dan Maryam bisa punya kendali penuh pada Kamelia hingga mudah saja mereka membawa pulang Kamelia dari rumahku ke hunian horor itu. 


Kini, aku dan Kamelia sedang mengumpulkan bukti-bukti bersama lembaga-lembaga perlindungan anak dan perempuan dan hak asasi manusia soal Sirkus Garong dan hunian horor itu. Ya, selepas alat pelacak seukuran cip yang melekat di punggung Kamelia aku hancurkan hingga mereka tak akan mendeteksi keberadaan kami, aku resmi menikahi Kamelia agar dirinya sah secara hukum di bawah naunganku; tak kembali ke tangan Ronald dan Maryam lagi—meski sukar juga mengurus tetek bengek administrasi ke negara sebab Kamelia tak punya kartu keluarga dan akta kelahiran. 


Maukah kamu menolong kami? Aku mohon, kami perlu bantuan banyak pihak. Perbudakan ini terjadi di dekat kami; di sekitarmu; di negara ini. Dan ini bukan kisah fiksi. Sekurang-kurangnya, viralkan kisah ini di segenap akun media sosialmu. 


Surabaya, 20 Mei 2025


_______


Pemulis


Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers, and Readers Festival 2025. Beberapa kali memenangi lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!