Cerpen Ari AJ
Semerbak melati masih tercium di hidungnya, tanah itu masih basah, langkah pelayat sudah lebih dari tujuh kali, tetapi Ani masih tak juga berdiri. Lantunan doa tuntas dipanjatkan, tak kurang nasihat dari ustaz kampung yang renta, kerabat berbusa membujuknya pulang, tak ada guna menunggu penghuni pusara bangkit dari bentala, tetapi tetap, Ani tak ingin beranjak. Di bulan Juni ini, tangis perempuan hampir kepala empat itu pecah, ia mengingat dua puluh tahun lalu saat tidak merasakan sweet seventeen seperti teman-temannya akibat kabar mengejutkan tentang orang yang dicintainya, kini dua dekade setelahnya kenyataan pahit harus dialaminya lagi. Ani pun mempertanyakan mengapa kebahagiaan tak juga abadi di hidupnya.
***
Penjahat yang Licin
Jendela kamar Ani bergetar, begitu juga tubuh dan jemari lentiknya. Panasnya
kamar dan selimut yang membebat tubuh gagal menghantarkan kehangatan saat jarum
jam menunjukkan pukul satu dini hari. Lalu terdengar bisikan yang membuat
telinga Ani berdiri, ia tak mengenali satu pun suara dari seberang jendela. Sementara
itu, dua obeng secara paksa ditancapkan ke sisi kanan dan kiri jendela kamarnya,
obeng lain masuk melalui bagian bawahnya.
Yang terjadi setelahnya Ani harus
berkejaran dengan waktu agar tubuhnya tidak tertangkap gerombolan pria kekar
itu. Meski begitu, ia sempat melihat mereka mencongkel jendela lalu masuk ke
kamarnya, tetapi tidak berhasil membungkam Ani
yang bersembunyi di bawah meja meski kemudian terlihat tidak bisa ke mana-mana.
Sebuah pukulan mendarat di wajah hingga membuatnya ambruk sebelum pintu
kamarnya dibobol paksa seseorang.
Annie, are you OK?
Hanya itu yang diingat Ani saat tersadar
di ruang berlangit-langit putih dengan selang infus di lengan. Perempuan
berambut pirang di sampingnya terisak. Ia terkejut saat mendapati Ani sudah
siuman.
“Kamu jangan menangis, Sayang. Ayah
tidak apa-apa.”
Ani sulit mencerna ucapan ibunya.
Kepalanya masih terasa pusing, seteguk air membuatnya jauh lebih baik. Lalu
muncul pertanyaan yang membuat ibunya kembali berderai air mata.
“Kemana Ayah?”
“Ayah baik-baik saja, Nak. Ayah sudah
tenang, Ayah sudah selamat. Ani jadi anak yang pintar, ya. Sebentar lagi SMP.
Ani harus…,” ujar perempuan muda itu seraya tak kuat
meneruskan kalimatnya.
Tangis Ani pecah saat tahu ayahnya tewas
di tangan sekelompok penyamun yang menjarah rumahnya. Teriakan Ani membangunkan
ayahnya yang segera membuka paksa kamar yang terkunci. Mulut pria yang
menyayangi keluarga kecilnya itu pun terbungkam untuk selamanya. Yang membuat
Ani tidak bisa menahan tangis ialah kenangan manis yang sulit dilupakan. Pertanyaan
akan arti nama Ani membawanya pada perkenalan pada idola yang begitu dicintai mati-matian.
Annie, are you OK? Will you tell us that you’re OK?
Pengalaman merantau ayahnya ke Jakarta
tidak hanya membuatnya mahir menjahit, tetapi juga mengenalkan Ani seorang penyanyi
legendaris yang tape recorder-nya
menjadi oleh-oleh untuknya, sosok penyanyi itu terpatri dalam benaknya sejak
kecil. Cinta pada ayahnya melahirkan cinta pada idolanya.
***
Kau Buatku Merasa
(Jatuh Cinta)
Sebelum tragedi itu, mawar merah di genggaman masih segar. Janji manis itu
sudah terucap, sangat manis, tetapi masih kurang manis bagi Ani. Meriahnya
suasana sekolah kala itu tak cukup membantu memeriahkan hatinya. Lelaki kakak
kelasnya itu kini duduk di sisi sambil menggenggam tangan. Terasa dingin. Ani
yakin pria muda itu tengah gugup meski tampilan necis dan dasi kupu-kupunya tetap
memukau.
Aku suka rasa yang kauberi padaku, pegang tanganku, Sayang, aku akan
sangat bahagia
Sesekali genggaman tangan lelaki itu
dilepas karena ada satu dua anak yang kedapatan memergoki. Prosesi perpisahan
kelas XII saat itu sudah tuntas, remaja tanggung di sampingnya adalah salah
satu yang akan menjadi alumnus. Sebelum perpisahan di antara mereka benar-benar
terjadi, hanya satu yang diinginkan Ani: janji yang lebih manis lagi serupa lirik
yang ingin ia tunjukkan pada lelaki itu. Betapa kompleksnya perasaan Ani, untuk
jatuh cinta saja, ia mendambakan sesuatu yang sulit dimengerti.
Aku akan bekerja pagi sampai sore, untuk membelikanmu segalanya agar kau selalu
ada di sampingku
Akhirnya ikrar yang lebih manis itu
terucap meski hanya dalam bayangan Ani. Perasaannya meledak, tinggal sedikit
lagi rayuan itu akan lebih lengkap dengan bait selanjutnya dari lagu tersebut. Tak pernah aku jatuh cinta sebelumnya,
berjanjilah padaku, Sayang, kau akan mencintaiku untuk selamanya, aku bersumpah
akan membahagiakanmu karena kau tercipta untukku. Ani membiarkan dirinya bernyanyi
untuk melengkapi perasaannya, juga memecahkan keheningan karena mereka tak juga
bicara sejak mawar merah diserahkan lelaki itu. Teman-teman Ani iri mengapa ia
yang baru kelas XI justru mendapat bunga dari seseorang yang seharusnya
memperolehnya, sesuatu yang tak juga dimengerti Ani, tak pula berani ditanyakannya
pada sang lelaki.
“Habis ini, mau ke mana, Mas?”
Hanya pertanyaan klasik yang keluar dari
bibir Ani. Lelaki itu mencuri pandang untuk memastikan dari mana pertanyaan
itu.
“Jakarta.”
Pertanyaan bodoh, harusnya tak perlu
kutanyakan perkara yang sudah tersedia jawabannya, Ani membatin. Spanduk di
gerbang sekolah yang menampilkan deretan siswa yang sudah diterima di kampus
negeri kembali terbayang. Sesungguhnya isi kepalanya bertambah semrawut setelah
mendengar nama ibu kota itu, rasanya sudah lama tak mengunjungi pusara ayahnya meski
ia selalu hadir setiap Kamis sore maupun hari raya. Perhatian Ani teralihkan
saat seseorang memintanya membantu panitia lain membersihkan lokasi acara.
Meski begitu, tembang itu masih terngiang di pikirannya.
Kau buatku merasa (jatuh cinta), kau nyalakan gairahku, kau jatuhkan diriku,
hari-hari sepiku hilang
Perasaan gadis tersebut begitu riang siang
itu. Akan tetapi kebahagiaan mendapat bunga dan meriahnya acara harus dibayar
mahal, sesampainya di rumah, ia mendapati berita di televisi yang membuatnya terdiam.
Ani pun menghambur ke ibunya di dapur, menumpahkan tangisnya pada satu-satunya
orang tua usai sang ayah tiada. Suara sang pembawa acara masih terdengar walau tak
ada yang menyaksikan.
“Konser terakhir megabintang pop dunia,
Michael Jackson, dipastikan batal digelar usai sang artis berpulang di usia kelima
puluh tahun, meninggalkan tiga anak, harta miliaran dolar, Neverland, dan
kejayaan musiknya selama empat puluh tahun berkarya.”
Mimpi Ani musnah untuk bisa menyaksikan konser
di The O2 Arena, London yang sudah dibayangkannya sejak lama. Tragedi di bulan Juni
membuatnya lemas. Hanya ucapan ibunya yang membuat mata berbinar meski tak lama
kemudian duka kembali menyelimuti dengan beban yang lebih berat nan sulit
dimengerti. Kenyataan pahit lalu terjadi, sehari setelahnya, ibunya ikut berpulang
sebelum bisa menuntaskan janji di ulang tahun ketujuh belas Ani kala itu. Masih
teringat ikrar ibunya ketika Ani menangisi kepergian idolanya, sesuatu yang
sudah direncanakan menjadi hadiah ultah spesialnya.
“Ibu tahu, kamu pasti ingat Ayah. Untuk
menghibur kamu, bagaimana kalau besok Ibu ajak kamu berkenalan dengan orang-orang
yang juga memiliki idola seperti kamu. Mau?”
Ani hanya bisa meratapi, mempertanyakan nasib
tragis yang tak urung pergi.
***
Aku Tak Bisa Berhenti
Mencintaimu
Damainya air danau di utara Kota Jakarta tidak lantas membuat Ani tenang,
sesekali ia bertanya-tanya apakah tengah bermimpi. Matanya berkali-kali
memastikan jam bergambar sang idola di lengannya masih menunjukkan pukul delapan
malam dan kini sudah lebih dua puluh satu menit, terlelap pada saat seperti ini
adalah sesuatu yang tidak mungkin. Entah bagaimana keramaian itu tercipta setelah
ia hanya sendirian datang ke ibu kota dengan kereta api dari Yogyakarta, itu
pun untuk urusan lain.
Dua puluh empat jam lalu, Ani masih
beristirahat di hotel dekat danau tersebut. Sebuah pesan masuk ke telepon
pintarnya dari seseorang yang sudah lama menghilang. Ia tahu, pria muda yang
memberinya mawar merah tujuh tahun lalu itu memang tak ada kabar sejak terakhir
kali berbincang hampir empat tahun silam ketika ia mengungkap satu-satunya
permintaan. Kini perasaannya sudah berubah, tetapi tak ada salahnya mengiyakan ajakan
bertemu kawan lama, terlebih rangkaian kegiatan yang diikutinya tidak memiliki
agenda resmi malam ini. Lelaki itu mengajak bertemu di sisi danau dekat hotel
tempatnya menginap, danau yang hanya ramai oleh sedikit pedagang dan
pengunjung.
Di dekat danau itulah awalnya Ani tidak
mencurigai sekelompok pemusik yang terlihat siap beraksi seperti akan tampil di
kafe-kafe. Terlambatnya lelaki itu hampir membuat Ani mengurungkan niat bertemu,
tetapi kemudian sebuah irama dari pemusik itu mengejutkannya. Sebuah lagu cinta
dihiasi alunan piano, gitar, serta kahoon, dan yang membuat Ani berteriak kecil
yakni falseto sang penyanyi yang begitu sempurna, mirip dengan suara sang
idola.
Setiap kali angin bertiup, kudengar suaramu, jadi kupanggil namamu
Seketika suasana ramai, seorang lelaki
yang sudah lama tak dilihatnya muncul dari kerumunan, kembali membawa mawar
merah dalam genggaman. Ani tak tahan untuk ikut melantunkan lagu yang dirilis
tahun 1988 itu.
Kau tahu yang kurasakan, ini tak mungkin salah, aku bangga mengatakan aku
mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpamu
Embusan angin malam tak sekalipun
dirasakan Ani. Perhatiannya terpusat pada lelaki yang wajahnya tak banyak
berubah seperti tujuh tahun lalu, tetapi kini lebih dewasa, dengan air muka
cerah, dan sorot mata semringah. Untuk pertama kali, Ani bisa menyanyikan senandung
kesukaannya bahkan dengan berduet sebagaimana aslinya saat dinyanyikan sang
idola bersama Siedah Garrett. Suasana meriah semakin menghanyutkannya.
Saat malam ketika bintang bersinar, aku berdoa di dalam dirimu akan
kutemukan cinta yang sesungguhnya
Saat pagi membangunkanku, maukah kau datang dan menjemputku? Aku akan
menunggu
Ani tahu persis, lagu itu belum tuntas
dinyanyikan, tetapi tiba-tiba lelaki itu berlutut di hadapannya sembari menjulurkan
sesuatu dari telapak tangan. Lidahnya seketika kelu saat mendapati kotak cincin
berwarna merah terbuka di depan mata. Momen yang akan selalu dikenang itu
berakhir dengan perbincangan hangat hingga tengah malam bersama lelaki ketiga yang
dicintainya setelah sang ayah dan idolanya yang sudah tiada, juga ditemani
lantunan tembang cinta kesukaannya. Ani begitu gembira, setelah penantian
panjang, ikrar lelaki itu akhirnya ditunaikannya dan lagu-lagu kesayangan tidak
lagi hanya dalam imajinasinya.
Aku tak bisa berhenti mencintaimu, kalau aku berhenti, apa yang harus aku
lakukan? Karena aku tak bisa berhenti mencintaimu
Mengingat Waktu
Orang-orang yang datang melintasi pemakaman itu memandang aneh perempuan keras
kepala yang tak juga bangkit dari duduk setelah keluarga besarnya memutuskan meninggalkannya
sendirian.
“Perempuan aneh, tidak bisa menerima
kenyataan!”
“Kuat sekali perempuan itu, sepertinya sudah
dua jam berpanas-panasan.”
“Terlalu banyak mengkhayal, dunia tidak selebar
daun kelor.”
Sementara itu, derai air mata mengiringi
nyanyian yang dilantunkan Ani di depan pusara orang yang dicintainya. Ia
teringat permohonan satu-satunya dulu yang sudah ditunaikan lelaki yang kini telah
tiada tersebut lewat ikrar tiga belas tahun lalu, sebuah pengharapan agar lelaki
itu mau mengenal idolanya jika serius meminangnya. Kini lelaki idaman itu sudah
berbaring dengan tenang, harapan Ani hanyalah agar kelak lelaki yang
dicintainya bertemu idolanya sebagaimana janji sang Raja Pop Dunia tentang konser
terakhir ‘see you in July’ di The O2
Arena, London. Senyumnya terbit saat membayangkan sang suami mewakili dirinya
bertemu sang idola di alam sana.
Nyanyian itu masih terdengar dari bibir
tipisnya, sebuah lagu tentang waktu dan pertanyaan akan masa lalu. Dilantunkannya
senandung cinta yang dirilis tahun 1991 itu serupa janji apabila salah satu
dari mereka menghadap sang Maha Cinta, dan Ani tengah menunaikan ikrarnya diiringi
tangis haru dan suasana duka.
Ingatkah kau saat kita jatuh cinta? Kita masih muda dan polos, ingatkah
kau bagaimana kisah kita bermula? Rasanya seperti surga, tetapi mengapa semua
ini berakhir?
Ani kembali terisak.
Bandung, Februari 2026
Catatan:
Sebagian kecil cerita
di atas terinspirasi dari empat lagu Michael Jackson. Kelimanya menjadi sub
judul yakni Smooth Criminal (Penjahat yang Licin), The Way You Make Me Feel
(Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)), I Just Can’t Stop Loving You (Aku Tak Bisa
Berhenti Mencintaimu), dan Remember the Time (Mengingat Waktu). Kalimat yang
dimiringkan adalah terjemahan bebas dari penggalan liriknya.
_______
Ari AJ sehari-hari jualan ayam dan belajar beternak. Moto hidupnya: beternak-ternak dahulu, menulis kemudian. Karya cerpennya diterbitkan Tabloid Jurnalposmedia, NU Online, dan meraih Juara III Lomba Cerpen Rumah Rengganis 2022 serta masuk antologi. Penulis bisa dihubungi via Instagram @ari_aj33 dan e-mail ari.aj122833@gmail.com.
Kirim naskah ke
redaksingewiiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!