Sunday, March 29, 2026

Cerpen Ari AJ | Ani

Cerpen Ari AJ

 


Semerbak melati masih tercium di hidungnya, tanah itu masih basah, langkah pelayat sudah lebih dari tujuh kali, tetapi Ani masih tak juga berdiri. Lantunan doa tuntas dipanjatkan, tak kurang nasihat dari ustaz kampung yang renta, kerabat berbusa membujuknya pulang, tak ada guna menunggu penghuni pusara bangkit dari bentala, tetapi tetap, Ani tak ingin beranjak. Di bulan Juni ini, tangis perempuan hampir kepala empat itu pecah, ia mengingat dua puluh tahun lalu saat tidak merasakan sweet seventeen seperti teman-temannya akibat kabar mengejutkan tentang orang yang dicintainya, kini dua dekade setelahnya kenyataan pahit harus dialaminya lagi. Ani pun mempertanyakan mengapa kebahagiaan tak juga abadi di hidupnya.


***


Penjahat yang Licin


Jendela kamar Ani bergetar, begitu juga tubuh dan jemari lentiknya. Panasnya kamar dan selimut yang membebat tubuh gagal menghantarkan kehangatan saat jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Lalu terdengar bisikan yang membuat telinga Ani berdiri, ia tak mengenali satu pun suara dari seberang jendela. Sementara itu, dua obeng secara paksa ditancapkan ke sisi kanan dan kiri jendela kamarnya, obeng lain masuk melalui bagian bawahnya.


Yang terjadi setelahnya Ani harus berkejaran dengan waktu agar tubuhnya tidak tertangkap gerombolan pria kekar itu. Meski begitu, ia sempat melihat mereka mencongkel jendela lalu masuk ke kamarnya, tetapi tidak berhasil membungkam Ani yang bersembunyi di bawah meja meski kemudian terlihat tidak bisa ke mana-mana. Sebuah pukulan mendarat di wajah hingga membuatnya ambruk sebelum pintu kamarnya dibobol paksa seseorang.


Annie, are you OK?


Hanya itu yang diingat Ani saat tersadar di ruang berlangit-langit putih dengan selang infus di lengan. Perempuan berambut pirang di sampingnya terisak. Ia terkejut saat mendapati Ani sudah siuman.


“Kamu jangan menangis, Sayang. Ayah tidak apa-apa.”


Ani sulit mencerna ucapan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing, seteguk air membuatnya jauh lebih baik. Lalu muncul pertanyaan yang membuat ibunya kembali berderai air mata.


“Kemana Ayah?”


“Ayah baik-baik saja, Nak. Ayah sudah tenang, Ayah sudah selamat. Ani jadi anak yang pintar, ya. Sebentar lagi SMP. Ani harus…,
ujar perempuan muda itu seraya tak kuat meneruskan kalimatnya.


Tangis Ani pecah saat tahu ayahnya tewas di tangan sekelompok penyamun yang menjarah rumahnya. Teriakan Ani membangunkan ayahnya yang segera membuka paksa kamar yang terkunci. Mulut pria yang menyayangi keluarga kecilnya itu pun terbungkam untuk selamanya. Yang membuat Ani tidak bisa menahan tangis ialah kenangan manis yang sulit dilupakan. Pertanyaan akan arti nama Ani membawanya pada perkenalan pada idola yang begitu dicintai mati-matian.


Annie, are you OK? Will you tell us that you’re OK?


Pengalaman merantau ayahnya ke Jakarta tidak hanya membuatnya mahir menjahit, tetapi juga mengenalkan Ani seorang penyanyi legendaris yang tape recorder-nya menjadi oleh-oleh untuknya, sosok penyanyi itu terpatri dalam benaknya sejak kecil. Cinta pada ayahnya melahirkan cinta pada idolanya.


***


Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)


Sebelum tragedi itu, mawar merah di genggaman masih segar. Janji manis itu sudah terucap, sangat manis, tetapi masih kurang manis bagi Ani. Meriahnya suasana sekolah kala itu tak cukup membantu memeriahkan hatinya. Lelaki kakak kelasnya itu kini duduk di sisi sambil menggenggam tangan. Terasa dingin. Ani yakin pria muda itu tengah gugup meski tampilan necis dan dasi kupu-kupunya tetap memukau.


Aku suka rasa yang kauberi padaku, pegang tanganku, Sayang, aku akan sangat bahagia


Sesekali genggaman tangan lelaki itu dilepas karena ada satu dua anak yang kedapatan memergoki. Prosesi perpisahan kelas XII saat itu sudah tuntas, remaja tanggung di sampingnya adalah salah satu yang akan menjadi alumnus. Sebelum perpisahan di antara mereka benar-benar terjadi, hanya satu yang diinginkan Ani: janji yang lebih manis lagi serupa lirik yang ingin ia tunjukkan pada lelaki itu. Betapa kompleksnya perasaan Ani, untuk jatuh cinta saja, ia mendambakan sesuatu yang sulit dimengerti.


Aku akan bekerja pagi sampai sore, untuk membelikanmu segalanya agar kau selalu ada di sampingku


Akhirnya ikrar yang lebih manis itu terucap meski hanya dalam bayangan Ani. Perasaannya meledak, tinggal sedikit lagi rayuan itu akan lebih lengkap dengan bait selanjutnya dari lagu tersebut. Tak pernah aku jatuh cinta sebelumnya, berjanjilah padaku, Sayang, kau akan mencintaiku untuk selamanya, aku bersumpah akan membahagiakanmu karena kau tercipta untukku. Ani membiarkan dirinya bernyanyi untuk melengkapi perasaannya, juga memecahkan keheningan karena mereka tak juga bicara sejak mawar merah diserahkan lelaki itu. Teman-teman Ani iri mengapa ia yang baru kelas XI justru mendapat bunga dari seseorang yang seharusnya memperolehnya, sesuatu yang tak juga dimengerti Ani, tak pula berani ditanyakannya pada sang lelaki.


“Habis ini, mau ke mana, Mas?”


Hanya pertanyaan klasik yang keluar dari bibir Ani. Lelaki itu mencuri pandang untuk memastikan dari mana pertanyaan itu.


“Jakarta.”


Pertanyaan bodoh, harusnya tak perlu kutanyakan perkara yang sudah tersedia jawabannya, Ani membatin. Spanduk di gerbang sekolah yang menampilkan deretan siswa yang sudah diterima di kampus negeri kembali terbayang. Sesungguhnya isi kepalanya bertambah semrawut setelah mendengar nama ibu kota itu, rasanya sudah lama tak mengunjungi pusara ayahnya meski ia selalu hadir setiap Kamis sore maupun hari raya. Perhatian Ani teralihkan saat seseorang memintanya membantu panitia lain membersihkan lokasi acara. Meski begitu, tembang itu masih terngiang di pikirannya.


Kau buatku merasa (jatuh cinta), kau nyalakan gairahku, kau jatuhkan diriku, hari-hari sepiku hilang


Perasaan gadis tersebut begitu riang siang itu. Akan tetapi kebahagiaan mendapat bunga dan meriahnya acara harus dibayar mahal, sesampainya di rumah, ia mendapati berita di televisi yang membuatnya terdiam. Ani pun menghambur ke ibunya di dapur, menumpahkan tangisnya pada satu-satunya orang tua usai sang ayah tiada. Suara sang pembawa acara masih terdengar walau tak ada yang menyaksikan.


“Konser terakhir megabintang pop dunia, Michael Jackson, dipastikan batal digelar usai sang artis berpulang di usia kelima puluh tahun, meninggalkan tiga anak, harta miliaran dolar, Neverland, dan kejayaan musiknya selama empat puluh tahun berkarya.”


Mimpi Ani musnah untuk bisa menyaksikan konser di The O2 Arena, London yang sudah dibayangkannya sejak lama. Tragedi di bulan Juni membuatnya lemas. Hanya ucapan ibunya yang membuat mata berbinar meski tak lama kemudian duka kembali menyelimuti dengan beban yang lebih berat nan sulit dimengerti. Kenyataan pahit lalu terjadi, sehari setelahnya, ibunya ikut berpulang sebelum bisa menuntaskan janji di ulang tahun ketujuh belas Ani kala itu. Masih teringat ikrar ibunya ketika Ani menangisi kepergian idolanya, sesuatu yang sudah direncanakan menjadi hadiah ultah spesialnya.


“Ibu tahu, kamu pasti ingat Ayah. Untuk menghibur kamu, bagaimana kalau besok Ibu ajak kamu berkenalan dengan orang-orang yang juga memiliki idola seperti kamu. Mau?”


Ani hanya bisa meratapi, mempertanyakan nasib tragis yang tak urung pergi.


***


Aku Tak Bisa Berhenti Mencintaimu


Damainya air danau di utara Kota Jakarta tidak lantas membuat Ani tenang, sesekali ia bertanya-tanya apakah tengah bermimpi. Matanya berkali-kali memastikan jam bergambar sang idola di lengannya masih menunjukkan pukul delapan malam dan kini sudah lebih dua puluh satu menit, terlelap pada saat seperti ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Entah bagaimana keramaian itu tercipta setelah ia hanya sendirian datang ke ibu kota dengan kereta api dari Yogyakarta, itu pun untuk urusan lain.


Dua puluh empat jam lalu, Ani masih beristirahat di hotel dekat danau tersebut. Sebuah pesan masuk ke telepon pintarnya dari seseorang yang sudah lama menghilang. Ia tahu, pria muda yang memberinya mawar merah tujuh tahun lalu itu memang tak ada kabar sejak terakhir kali berbincang hampir empat tahun silam ketika ia mengungkap satu-satunya permintaan. Kini perasaannya sudah berubah, tetapi tak ada salahnya mengiyakan ajakan bertemu kawan lama, terlebih rangkaian kegiatan yang diikutinya tidak memiliki agenda resmi malam ini. Lelaki itu mengajak bertemu di sisi danau dekat hotel tempatnya menginap, danau yang hanya ramai oleh sedikit pedagang dan pengunjung.


Di dekat danau itulah awalnya Ani tidak mencurigai sekelompok pemusik yang terlihat siap beraksi seperti akan tampil di kafe-kafe. Terlambatnya lelaki itu hampir membuat Ani mengurungkan niat bertemu, tetapi kemudian sebuah irama dari pemusik itu mengejutkannya. Sebuah lagu cinta dihiasi alunan piano, gitar, serta kahoon, dan yang membuat Ani berteriak kecil yakni falseto sang penyanyi yang begitu sempurna, mirip dengan suara sang idola.


Setiap kali angin bertiup, kudengar suaramu, jadi kupanggil namamu


Seketika suasana ramai, seorang lelaki yang sudah lama tak dilihatnya muncul dari kerumunan, kembali membawa mawar merah dalam genggaman. Ani tak tahan untuk ikut melantunkan lagu yang dirilis tahun 1988 itu.


Kau tahu yang kurasakan, ini tak mungkin salah, aku bangga mengatakan aku mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpamu


Embusan angin malam tak sekalipun dirasakan Ani. Perhatiannya terpusat pada lelaki yang wajahnya tak banyak berubah seperti tujuh tahun lalu, tetapi kini lebih dewasa, dengan air muka cerah, dan sorot mata semringah. Untuk pertama kali, Ani bisa menyanyikan senandung kesukaannya bahkan dengan berduet sebagaimana aslinya saat dinyanyikan sang idola bersama Siedah Garrett. Suasana meriah semakin menghanyutkannya.


Saat malam ketika bintang bersinar, aku berdoa di dalam dirimu akan kutemukan cinta yang sesungguhnya


Saat pagi membangunkanku, maukah kau datang dan menjemputku? Aku akan menunggu


Ani tahu persis, lagu itu belum tuntas dinyanyikan, tetapi tiba-tiba lelaki itu berlutut di hadapannya sembari menjulurkan sesuatu dari telapak tangan. Lidahnya seketika kelu saat mendapati kotak cincin berwarna merah terbuka di depan mata. Momen yang akan selalu dikenang itu berakhir dengan perbincangan hangat hingga tengah malam bersama lelaki ketiga yang dicintainya setelah sang ayah dan idolanya yang sudah tiada, juga ditemani lantunan tembang cinta kesukaannya. Ani begitu gembira, setelah penantian panjang, ikrar lelaki itu akhirnya ditunaikannya dan lagu-lagu kesayangan tidak lagi hanya dalam imajinasinya.


Aku tak bisa berhenti mencintaimu, kalau aku berhenti, apa yang harus aku lakukan? Karena aku tak bisa berhenti mencintaimu


Mengingat Waktu


Orang-orang yang datang melintasi pemakaman itu memandang aneh perempuan keras kepala yang tak juga bangkit dari duduk setelah keluarga besarnya memutuskan meninggalkannya sendirian.


“Perempuan aneh, tidak bisa menerima kenyataan!”


“Kuat sekali perempuan itu, sepertinya sudah dua jam berpanas-panasan.”


“Terlalu banyak mengkhayal, dunia tidak selebar daun kelor.”


Sementara itu, derai air mata mengiringi nyanyian yang dilantunkan Ani di depan pusara orang yang dicintainya. Ia teringat permohonan satu-satunya dulu yang sudah ditunaikan lelaki yang kini telah tiada tersebut lewat ikrar tiga belas tahun lalu, sebuah pengharapan agar lelaki itu mau mengenal idolanya jika serius meminangnya. Kini lelaki idaman itu sudah berbaring dengan tenang, harapan Ani hanyalah agar kelak lelaki yang dicintainya bertemu idolanya sebagaimana janji sang Raja Pop Dunia tentang konser terakhir ‘see you in July’ di The O2 Arena, London. Senyumnya terbit saat membayangkan sang suami mewakili dirinya bertemu sang idola di alam sana.


Nyanyian itu masih terdengar dari bibir tipisnya, sebuah lagu tentang waktu dan pertanyaan akan masa lalu. Dilantunkannya senandung cinta yang dirilis tahun 1991 itu serupa janji apabila salah satu dari mereka menghadap sang Maha Cinta, dan Ani tengah menunaikan ikrarnya diiringi tangis haru dan suasana duka.


Ingatkah kau saat kita jatuh cinta? Kita masih muda dan polos, ingatkah kau bagaimana kisah kita bermula? Rasanya seperti surga, tetapi mengapa semua ini berakhir?


Ani kembali terisak.


Bandung, Februari 2026



Catatan:

Sebagian kecil cerita di atas terinspirasi dari empat lagu Michael Jackson. Kelimanya menjadi sub judul yakni Smooth Criminal (Penjahat yang Licin), The Way You Make Me Feel (Kau Buatku Merasa (Jatuh Cinta)), I Just Can’t Stop Loving You (Aku Tak Bisa Berhenti Mencintaimu), dan Remember the Time (Mengingat Waktu). Kalimat yang dimiringkan adalah terjemahan bebas dari penggalan liriknya.

 

_______

Penulis

Ari AJ sehari-hari jualan ayam dan belajar beternak. Moto hidupnya: beternak-ternak dahulu, menulis kemudian. Karya cerpennya diterbitkan Tabloid Jurnalposmedia, NU Online, dan meraih Juara III Lomba Cerpen Rumah Rengganis 2022 serta masuk antologi. Penulis bisa dihubungi via Instagram @ari_aj33 dan e-mail ari.aj122833@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!