Sunday, March 29, 2026

Puisi-Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin




SUARA SUARA DARI RANAH MINANG


Disuarakan angin,

Suara kampung halaman

Merayapi lipatan waktu.


Di jantungku, arwah leluhur bangkit

Membawa sesembahan padi.

Angin selatan berhembus sakal

Seperti takwil tanpa aksara,

Mengalirkan melankoli,

Menyalakan bara di dalam darah.


Aku hanyut di antara pulau dan samudra,

Ditenggelamkan malam.

Hanya sisa doa yang bisa kubaca

Dengan mata terpejam.

Namun suara suara itu terus berulang,

Bagai kilap sawah berundak,

Menyusuri lereng bukit,

Mengalir pelan ke nadi.


Tanah gambut berbisik,

Tempat lahir boleh rapuh,

Namun akar tetap teguh

Dalam ingatan yang tak mahu tercerabut.


Di antara bunyi ombak

Kulihat wajah mereka tersenyum,

Leluhur yang menjaga wasiat purba,

Meninggalkan sulur cahaya

Di tubuh yang senantiasa gelisah.


Kini aku mengerti,

Suara suara tanah yang menyulam ingatan

Adalah denyut yang tak selesai,

Bahkan saat sunyi menelan segala nama.



PERTANYAAN PERTANYAAN DI SAWAHLUNTO


Adakah suara rantai

Masih bergema di balik dinding batu,

Atau hanya gema bayangan

Yang terus berputar

Dalam paru paru.


Adakah keringat itu

Masih tersimpan di tanah hitam,

Menjadi sungai yang tak pernah

Sampai ke muara,

Atau sudah kering bersama doa

Yang lama tumbang.


Adakah nisan tanpa nama

Benar benar menyimpan sunyi,

Atau justru menyalakan bara

Yang tak bisa ditutup

Oleh harum kembang kamboja

Atau upacara yang singkat.


Adakah langit di atas kota ini

Pernah benar benar biru,

Atau sejak mula ditutup arang

Yang dijahit paksa

Ke setiap pandang mata.


Adakah sejarah

Selalu memilih pemenang,

Sementara tubuh tubuh berantai

Yang digali lalu ditinggalkan

Hanya terbaring dalam peta

Yang tak lagi dikenang.


Aku bertanya pada diri,

Pada batu, pada bau besi,

Siapa yang masih mengingat

Bahwa maut pernah ditambang

Bersama bara,

Dan hidup dikurung

Tanpa pintu keluar.



MELIHAT TARI GALOMBANG


Talempong berdenting,

Bansi melengking,

Gendang menuntun langkah penari,

Menyongsong bagai ombak laut

Mengusung sampan kecil ke pelaminan.


Ayunan tangan,

Hentakan kaki,

Mengalirkan desir di dada,

Gerak silat di sela tari

Bagai pagar gaib

Menjaga kasih dari runtuhnya waktu.


Dara-dara membawa carano berisi sirih,

Melintas dalam cahaya emas.

Di mata mereka tergambar warisan,

Gelombang yang berulang,

Pantai yang menanti,

Cinta yang dituntun arus tak henti.


Di bawah payung kuning,

Masa depan hadir sebagai perjamuan panjang,

Antara ingatan dan harapan,

Antara debar yang rapuh

Dan restu yang turun perlahan.


Ketika tari galombang membuka jalan ke pelaminan,

Tubuh larut bersama arus,

Tak tercerai dari gelombang,

Tak terpisah dari waktu.



ANAK-ANAK ILALANG


Kami berlari di pematang basah,

Matahari rebah di lekuk lembah.

Cahayanya menyusup ke daun padi

Yang bergetar ditiup angin tebing curam.


Ilalang condong mengikuti desir,

Menyapu lutut, menggelitik betis.

Capung merah hinggap sebentar,

Menjadi tanda di udara yang sunyi.


Kami menancapkan benang layang-layang

Ke tanah liat yang masih hangat.

Ia melesat setinggi dinding batu,

Menembus kabut,

Membawa kabar dari lereng seberang.


Asap dapur rumah gadang

Menggulungkan aroma ke angin senja.

Kami tak mengerti rahasia dunia,

Hanya mendengar desir ilalang

Sebagai bisikan leluhur

Yang menahan hujan di kantong awan.


Setiap desir adalah butir waktu

Yang ditabur langit di atas kepala.

Kami percaya mampu memanggil petir

Dengan peluit bambu,

Dan menanam matahari di sela akar ilalang

Agar kelak tumbuh menjadi cahaya.



SESUDAH DUA PULUH TAHUN


Jalan tanah ke kandang ayam

Masih membelah rumpun pisang

Di belakang rumah.

Bisik menempel di akar,

Seperti beringin tua

Menancap di tanah merah,

Menahan bara

Dan rindu yang mengeras.


Tiga puluh tahun kutinggalkan kampung.

Kusisir kota dan pasar jauh:

Bukittinggi, Payakumbuh,

Batusangkar, Sawahlunto,

Hingga Jakarta dan pesisir selatan.

Namun jejak tak pernah benar benar pergi,

Ia tinggal

Di ambang pintu ingatan.


Kini aku pulang,

Dari serambi ke dapur belakang,

Melewati tungku dan lesung batu.

Kubawa kampung yang mengendap di tubuh,

Tanah yang lama kupanggul sebagai rindu,

Kini

Kupeluk tanpa sisa gentar.


2025



SUBUH DI PADANG PANJANG


Hujan berwarna kelabu subuh

Menjatuhkan sisa sisa mimpi,

Jantung kata basah oleh riciknya,

Larut ke rimbun kabut

Sementara langit menunduk

Di sela surau tua yang suara azannya retak.


Waktu bersembunyi di lipatan ingatan,

Di antara kumbang dan ilalang.

Lenguh lembu meresap ke tanah,

Hening meneteskan lapis lapis kenang.


Usia hanya sehelai kain lembap

Dijemur di halaman Singgalang.

Gunung itu menegakkan dada pada udara,

Menembus bukit dan gelombang angin gadang

Yang mengantar bau tanah dan hujan.


Ada yang lindap ke haribaan subuh,

Seperti rindu yang telah matang,

Bercampur harum nasi di tungku pagi,

Menyelinap dari rumah rumah yang baru terjaga.


Kubiarkan menit menit mengalir

Di antara namamu,

Terpahat di batu sungai yang berkelok,

Membelah sawah,

Menemukan cintaku

Yang sejak lama belajar mencari muara.


2025



MENDENGAR DANAU SINGKARAK


Kudengar dari dasar danau

Mengendap suara pasang 1926,

Merayap ke tepian,

Menggulung mukim,

Ngaum Padang Panjang

Tercatat di tubuh bumi

Sebagai nyeri yang lebam.


Dua kali guncangan

Menyalin partitur gelap,

Teriakan yang meruam

Di telinga malam,

Seperti nada kehilangan.


Desa diperam angin asin,

Menyimpan demam panjang

Dari hari hari yang retak.

Sunyi menjelma getir

Di mulut anak anak kehausan.


Namun Singkarak tetap menampung

Segala yang karam,

Serupa surga kecil dipendam waktu.

Di permukaannya kulihat wajahmu,

Mabuk dalam riak asing

Yang pandai menyembunyikan duka.


Barangkali rindu adalah air itu,

Tak pernah surut,

Membawa kilau

Yang sekejap tampak,

Lalu lolos

Dari jeruji ingatan.


______


Penulis


Listio Wulan Nurmutaqin, penulis asal Brebes yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya telah dimuat di berbagai media lokal, nasional, dan luar negeri, antara lain Jawa Pos, Tempo, Kompas.id, Republika, Suara Merdeka, Majalah Kandaga, dan Suara Sarawak (Malaysia), serta media daring dan cetak lainnya. Ia terpilih dalam Payakumbuh Poetry Festival 2024 dan lolos kurasi Pertemuan Penyair Nusantara XIII tahun 2025. Buku puisi tunggalnya, Tokoh Utama, terbit pada 2023.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!