Puisi Listio Wulan Nurmutaqin
SUARA SUARA DARI RANAH MINANG
Disuarakan angin,
Suara kampung halaman
Merayapi lipatan waktu.
Di jantungku, arwah leluhur bangkit
Membawa sesembahan padi.
Angin selatan berhembus sakal
Seperti takwil tanpa aksara,
Mengalirkan melankoli,
Menyalakan bara di dalam darah.
Aku hanyut di antara pulau dan samudra,
Ditenggelamkan malam.
Hanya sisa doa yang bisa kubaca
Dengan mata terpejam.
Namun suara suara itu terus berulang,
Bagai kilap sawah berundak,
Menyusuri lereng bukit,
Mengalir pelan ke nadi.
Tanah gambut berbisik,
Tempat lahir boleh rapuh,
Namun akar tetap teguh
Dalam ingatan yang tak mahu tercerabut.
Di antara bunyi ombak
Kulihat wajah mereka tersenyum,
Leluhur yang menjaga wasiat purba,
Meninggalkan sulur cahaya
Di tubuh yang senantiasa gelisah.
Kini aku mengerti,
Suara suara tanah yang menyulam ingatan
Adalah denyut yang tak selesai,
Bahkan saat sunyi menelan segala nama.
PERTANYAAN PERTANYAAN DI SAWAHLUNTO
Adakah suara rantai
Masih bergema di balik dinding batu,
Atau hanya gema bayangan
Yang terus berputar
Dalam paru paru.
Adakah keringat itu
Masih tersimpan di tanah hitam,
Menjadi sungai yang tak pernah
Sampai ke muara,
Atau sudah kering bersama doa
Yang lama tumbang.
Adakah nisan tanpa nama
Benar benar menyimpan sunyi,
Atau justru menyalakan bara
Yang tak bisa ditutup
Oleh harum kembang kamboja
Atau upacara yang singkat.
Adakah langit di atas kota ini
Pernah benar benar biru,
Atau sejak mula ditutup arang
Yang dijahit paksa
Ke setiap pandang mata.
Adakah sejarah
Selalu memilih pemenang,
Sementara tubuh tubuh berantai
Yang digali lalu ditinggalkan
Hanya terbaring dalam peta
Yang tak lagi dikenang.
Aku bertanya pada diri,
Pada batu, pada bau besi,
Siapa yang masih mengingat
Bahwa maut pernah ditambang
Bersama bara,
Dan hidup dikurung
Tanpa pintu keluar.
MELIHAT TARI GALOMBANG
Talempong berdenting,
Bansi melengking,
Gendang menuntun langkah penari,
Menyongsong bagai ombak laut
Mengusung sampan kecil ke pelaminan.
Ayunan tangan,
Hentakan kaki,
Mengalirkan desir di dada,
Gerak silat di sela tari
Bagai pagar gaib
Menjaga kasih dari runtuhnya waktu.
Dara-dara membawa carano berisi sirih,
Melintas dalam cahaya emas.
Di mata mereka tergambar warisan,
Gelombang yang berulang,
Pantai yang menanti,
Cinta yang dituntun arus tak henti.
Di bawah payung kuning,
Masa depan hadir sebagai perjamuan panjang,
Antara ingatan dan harapan,
Antara debar yang rapuh
Dan restu yang turun perlahan.
Ketika tari galombang membuka jalan ke pelaminan,
Tubuh larut bersama arus,
Tak tercerai dari gelombang,
Tak terpisah dari waktu.
ANAK-ANAK ILALANG
Kami berlari di pematang basah,
Matahari rebah di lekuk lembah.
Cahayanya menyusup ke daun padi
Yang bergetar ditiup angin tebing curam.
Ilalang condong mengikuti desir,
Menyapu lutut, menggelitik betis.
Capung merah hinggap sebentar,
Menjadi tanda di udara yang sunyi.
Kami menancapkan benang layang-layang
Ke tanah liat yang masih hangat.
Ia melesat setinggi dinding batu,
Menembus kabut,
Membawa kabar dari lereng seberang.
Asap dapur rumah gadang
Menggulungkan aroma ke angin senja.
Kami tak mengerti rahasia dunia,
Hanya mendengar desir ilalang
Sebagai bisikan leluhur
Yang menahan hujan di kantong awan.
Setiap desir adalah butir waktu
Yang ditabur langit di atas kepala.
Kami percaya mampu memanggil petir
Dengan peluit bambu,
Dan menanam matahari di sela akar ilalang
Agar kelak tumbuh menjadi cahaya.
SESUDAH DUA PULUH TAHUN
Jalan tanah ke kandang ayam
Masih membelah rumpun pisang
Di belakang rumah.
Bisik menempel di akar,
Seperti beringin tua
Menancap di tanah merah,
Menahan bara
Dan rindu yang mengeras.
Tiga puluh tahun kutinggalkan kampung.
Kusisir kota dan pasar jauh:
Bukittinggi, Payakumbuh,
Batusangkar, Sawahlunto,
Hingga Jakarta dan pesisir selatan.
Namun jejak tak pernah benar benar pergi,
Ia tinggal
Di ambang pintu ingatan.
Kini aku pulang,
Dari serambi ke dapur belakang,
Melewati tungku dan lesung batu.
Kubawa kampung yang mengendap di tubuh,
Tanah yang lama kupanggul sebagai rindu,
Kini
Kupeluk tanpa sisa gentar.
2025
SUBUH DI PADANG PANJANG
Hujan berwarna kelabu subuh
Menjatuhkan sisa sisa mimpi,
Jantung kata basah oleh riciknya,
Larut ke rimbun kabut
Sementara langit menunduk
Di sela surau tua yang suara azannya retak.
Waktu bersembunyi di lipatan ingatan,
Di antara kumbang dan ilalang.
Lenguh lembu meresap ke tanah,
Hening meneteskan lapis lapis kenang.
Usia hanya sehelai kain lembap
Dijemur di halaman Singgalang.
Gunung itu menegakkan dada pada udara,
Menembus bukit dan gelombang angin gadang
Yang mengantar bau tanah dan hujan.
Ada yang lindap ke haribaan subuh,
Seperti rindu yang telah matang,
Bercampur harum nasi di tungku pagi,
Menyelinap dari rumah rumah yang baru terjaga.
Kubiarkan menit menit mengalir
Di antara namamu,
Terpahat di batu sungai yang berkelok,
Membelah sawah,
Menemukan cintaku
Yang sejak lama belajar mencari muara.
2025
MENDENGAR DANAU SINGKARAK
Kudengar dari dasar danau
Mengendap suara pasang 1926,
Merayap ke tepian,
Menggulung mukim,
Ngaum Padang Panjang
Tercatat di tubuh bumi
Sebagai nyeri yang lebam.
Dua kali guncangan
Menyalin partitur gelap,
Teriakan yang meruam
Di telinga malam,
Seperti nada kehilangan.
Desa diperam angin asin,
Menyimpan demam panjang
Dari hari hari yang retak.
Sunyi menjelma getir
Di mulut anak anak kehausan.
Namun Singkarak tetap menampung
Segala yang karam,
Serupa surga kecil dipendam waktu.
Di permukaannya kulihat wajahmu,
Mabuk dalam riak asing
Yang pandai menyembunyikan duka.
Barangkali rindu adalah air itu,
Tak pernah surut,
Membawa kilau
Yang sekejap tampak,
Lalu lolos
Dari jeruji ingatan.
______
Penulis
Listio Wulan Nurmutaqin, penulis asal Brebes yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya telah dimuat di berbagai media lokal, nasional, dan luar negeri, antara lain Jawa Pos, Tempo, Kompas.id, Republika, Suara Merdeka, Majalah Kandaga, dan Suara Sarawak (Malaysia), serta media daring dan cetak lainnya. Ia terpilih dalam Payakumbuh Poetry Festival 2024 dan lolos kurasi Pertemuan Penyair Nusantara XIII tahun 2025. Buku puisi tunggalnya, Tokoh Utama, terbit pada 2023.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!