Thursday, March 12, 2026

Esai Ummu Mafruhah | Fase Golden Age dan Tantangannya

Esai Ummu Mafruhah



Masa anak- anak usia 0-5 tahun sering disebut sebagai masa keemasan atau golden age. Otak, fisik, dan emosi anak berkembang dengan pesat dan membentuk fondasi bagi potensi masa depannya. Pada fase ini, otak anak sangat responsif terhadap stimulasi dan pengalaman. Menjadi krusial untuk memenuhi nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi yang tepat agar anak berkembang optimal. 


Mengingat pentingnya fase  tersebut, banyak orang tua yang memberikan stimulus terbaik untuk anaknya. Ada yang dengan hafalan Al-Qur'an, musik, olahraga dan masih banyak lagi. Namun di lain hal, di era saat ini, orang tua digempur dengan tantangan dari berbagai sisi, baik itu lingkungan keluarga, sosial maupun teknologi. Dan pada masa emas ini,  ketiga faktor tersebut sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.


Anak-anak yang lahir dari lingkungan keluarga dan sosial yang baik adalah impian setiap orang tua,  namun keadaan tersebut sangat jarang ditemui. Kenyataannya sering kali kita sulit menemukan lingkungan sosial yang baik untuk anak,sehingga stimulus positif yang kita berikan tidak optimal. 


Begitupun dengan apa yang saya alami. Karena kami punya banyak anak, rupanya menjadi sebuah magnet untuk anak-anak lain datang dan bermain ke rumah kami. Anak-anak kami pun senang karena punya banyak teman.


Awalnya terlihat biasa saja, namun tak lama muncul kata-kata tak pantas yang diucapkan oleh teman anak saya, seperti bahasa binatang (anjing) begitu ringannya terucap dari mulut anak tersebut. Sontak saya pun kaget mendengarnya. Saya berusaha mengingatkannya dengan bahasa yang baik.


Hampir setiap hari anak-anak bermain bersama--karena sulit juga bagi saya untuk melarang anak bermain bersama. Akhirnya, anak saya yang saat itu masih berusia di bawah lima tahun, meniru ucapan temannya. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, ia akan marah dan lantas mengucapkan kata "anjing". Sungguh hal itu membuat saya sedih. Saya berusaha memberikan penjelasan bahwa apa yang diucapkan itu tidak baik, tapi rupanya itu tidak berpengaruh.


Di tengah rasa sedih itu, saya berusaha mencari sumber dari buku-buku parenting yang saya miliki, membolak-balikkan lembar demi lembar kertasnya, mencari solusi bagaimana mengatasi permasalahan anak saya. Akhirnya, saya menemukan tulisan Ayah Edi dalam sebuah buku yang berjudul Ayah Edi Menjawab. Buku itu berisi seratus pertanyaan orang tua beserta solusinya. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa bisa jadi anak yang mengucapkan kata-kata kasar atau semacamnya, sebenarnya mereka tidak mengetahui arti dari ucapannya itu sehingga anak harus diberikan pemahaman terlebih dahulu tentang apa yang diucapkannya.


Saya merasa sedikit lega dan berusaha menerapkan kepada anak saya dengan memberikan penjelasan: "Anjing itu nama binatang. Kita boleh ngomong anjing kalau ada anjingnya, kalau kita (saya menyebutnya semua anggota keluarga) namanya manusia".  Berulang kali saya menjelaskan hal tersebut saat anak mengulangi kebiasaannya berkata "anjing". Namun, ternyata hal itu juga belum berpengaruh. Saya agak kesal kepada anak saya karena bingung harus bagaimana lagi.


Sayapun teringat saat dulu pernah mengikuti seminar parenting. Pemateri bercerita bahwa ada satu keluarga yang tinggal di lingkungan yang kurang baik, namun karena pondasi lingkungan keluarganya bagus, anak-anaknya tidak terpengaruh dengan paparan negatif di lingkungan bermainnya. Kemudian pemateri menyimpulkan bahwa ada satu kekuatan yang bisa membantu semua kesulitan orang tua, selain ikhtiar yang harus terus diusahakan untuk mendidik anak dengan baik, ada doa orang tua yang harus selalu dilangitkan.


Dengan perasaan sedih dan merasa gagal menjadi orang tua, di atas sajadah itu saya menangis sesenggukan, memohon ampunan atas kelalayan kami sebagai orang tua serta meminta pertolongan agar anak kami berhenti berkata kasar. Setelah hari itu, hati yang sebelumnya sesak perlahan menjadi lapang. Saat saya pulang dari sekolah, saya melihat seekor anjing di "matrial", dan terlintas di pikiran saya untuk mengajak anak saya ke tempat ini.


Dan benar saja, saat anak saya mengulangi ucapan "anjing", saya bilang saya akan membawanya ke "matrial", supaya anak saya tahu seperti apa anjing itu. Ia pun menolak, dan menangis, tapi saya tetap melakukannya. Berulang kali saya membawanya ke "matrial". Saya berhenti lama di seberang jalan, sambil bercerita tentang karakter hewan tersebut. Perlahan perubahan itu mulai terasa, alhamdulillah anak saya sudah tidak berkata "anjing" lagi, meskipun tantrumnya masih berlanjut, tapi setidaknya itu membuat kami bersyukur. 


Dalam hal ini sungguh kami menjadi banyak belajar bahwa pentingnya fase golden age ini, masa yang membutuhkan pendampingan ekstra dan penanaman nilai-nilai kebaikan. Meskipun kita juga tidak bisa 24 jam menjaganya dan kita tidak bisa membuat anak steril dari hal-hal negatif. Karena kalau kita terlalu steril pun, boleh jadi saat anak dewasa nanti ia akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.


Satu hal yang saya yakini masa golden age itu memang sangat berpengaruh untuk masa depannya, tapi bukan berarti ia tidak bisa berubah. Yang sudah bagus, bisa jadi menjadi anak yang semakin bagus, kalau perkembangannya sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan karena paksaan orang tuannya. Kita juga sempat dikagetkan dengan pemberitaan seorang anak berprestasi yang selalu mengikuti arahan orang tuanya, malah ia tega membunuh keluarganya. Ternyata motifnya karena anak merasa tertekan dan tidak diberikan ruang untuk berpendapat tentang kehidupannya.


Begitu juga dengan anak yang mungkin masa golden age-nya kurang optimal. Ia bisa saja tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik karena adanya dorongan motivasi dari dalam dirinya dan kesadaran dari orang tuanya untuk menata kembali setiap kesalahan masa lalunya.


Serang, 4 Maret 2026


__________


Penulis


Ummu Mafruhah, lahir di Serang, 19 Mei 1991. Sehari-hari menjadi ibu rumah tangga dari 6 anak yang setiap hari berjibaku dengan waktu untuk bisa mengondisikan pekerjaan rumah dan kegiatan sekolah. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!