Monday, March 30, 2026

Karya Guru | Kapan Bapak Jualan? | Cerpen Syabaharza

Cerpen Cerpen Syabaharza 



Sepeda ontel dan keranjang dagangan masih terparkir dengan rapi di halaman rumah. Ampas kelapa yang sudah mulai membusuk berserakan di sekitar sepeda. Sabut kelapa juga tidak kalah semerawut, menambah kesan tidak teratur halaman rumah itu. Tulisan “besok bayar, hari ini gratis” tampak jelas di keranjang. Susunan aksara yang kesannya biasa tetapi terkadang menjebak bagi yang tidak memahaminya. Beberapa butir kelapa tua yang belum dikupas bergelantungan di sebuah kayu yang sengaja diciptakan. Toples dengan bentuk dan rupa yang sama masih tersusun rapi dalam keranjang. Toples itu berisi air dengan warna random. Seolah seperti sahabat karib, keranjang dan toples itu selalu bersama.


Pak Darsim dan anaknya semenjak tadi memandang ke arah sepeda dan keranjang itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tatapan mencari jawaban dari sebuah permasalahan yang tidak diketahui kapan akan terjawab. Sepasang mata keduanya tidak berkedip memperhatikan segala pernak-pernik di sekitar sepeda dan keranjang itu. Dua pasang mata itu mewakili beberapa orang miskin yang tidak mampu berbuat banyak ketika diterjang oleh kesewenang-wenangan. Ketidakadilan seolah akrab dengan mereka. Sepeda dan keranjang itu turut menjadi saksi ketika fitnah itu dengan telak menghantam mata pencahariannya. Fitnah yang diluncurkan oleh segelintir orang berseragam. Fitnah begitu tajam bagai anak panah yang diluncurkan dengan kekuatan penuh.


Sudah hampir satu pekan sepeda ontel dan keranjang itu terparkir di halaman. Belum bisa dipastikan kapan sepeda itu beroperasi lagi. Traumatik psikis yang membuat Pak Darsim belum berani untuk berdagang kembali. Rasa sakitnya mengalahkan seperti ditusuk benda tajam yang sangat tajam. Pukulan dan tendangan yang dirasakan Pak Darsim waktu itu memang sakit, namun pukulan kepada psikisnya jauh lebih membekas. Bekas lebam yang masih terlihat di pipi dan tubuhnya masih bisa ditahan, tapi luka di hatinya terasa sangat perih. Walau demikian Pak Darsim tetap berusaha tegar di hadapan anak semata wayangnya. Hanya ia bingung harus kemana mengadu dan mencari nafkah untuk buah hatinya itu.


***


“Kapan Bapak jualan?”


Entah sudah berapa kali anaknya melontarkan pertanyaan seperti itu. Mungkin karena Pak Darsim tak kunjung memberikan jawaban.


Pak Darsim belum bisa menjawab. Ia hanya mengelus kepala anaknya itu dengan penuh cinta dan sayang. Dibelai rambut anaknya yang sudah memanjang sampai bahu itu. Kesedihan kembali menyeruak dari hati Pak Darsim.


“Bapak tidak apa-apa kan?”


Merasa pertanyaan pertama tidak digubris, sang anak melontarkan pertanyaan lagi. Kali ini pertanyaan yang mewakili kekhawatiran seorang anak terhadap keadaan orang tuanya.


“Tidak Nak, Bapak baik-baik saja.”


Seperti biasa Pak Darsim mampu menjawab pertanyaan selain “kapan bapak jualan?”. 


“Kalau begitu, kapan Bapak jualan lagi?”


Dan untuk kesekian kalinya Pak Darsim tidak bersuara ketika pertanyaan itu dilontarkan sang anak.


Fenomena diamnya Pak Darsim ketika diajukan pertanyaan tertentu membuat sang anak merasa bingung dan penasaran. Sang anak terus bertanya-tanya dalam hati, mengapa bapaknya selalu ada jawaban untuk pertanyaan lain, tetapi membisu seribu kata jika pertanyaan “kapan jualan” disampaikan.


Sang anak terus mencoba menebak terkait perilaku sang bapak. Sang anak berasumsi bapaknya mengalami amnesia khusus untuk pertanyaan itu saja. Tapi apakah ada penyakit seperti itu. Selama ia sekolah belum pernah mendengar adanya penyakit amnesia sebagian, sepengetahuannya jika orang amnesia maka akan lupa segalanya.


“Bapak mau makan?”


Sang anak mencoba mengubah pertanyaannya kembali. Pertanyaan yang sengaja ia bedakan dengan pertanyaan sebelumnya. Sang anak ingin tahu apakah pertanyaan versi terbaru ini akan dijawab bapaknya.


“Bapak belum lapar.”


Keheranan sang anak bertambah membuncah. Keheranannya sekarang sudah bercampur dengan amarah yang siap menyembur bagai lahar gunung berapi. 


Sang anak heran dengan bapaknya yang hanya bisa menjawab pertanyaan selain “kapan jualan.” Sang anak marah terhadap dirinya yang tidak mampu memahami apa yang menimpa bapaknya.


Sang anak diam tanpa bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menatap sang bapak yang masih terlihat seperti orang linglung. Rasa sedih menjelma dalam dirinya. Ia tidak pernah membayangkan bapaknya jadi seperti sekarang ini. Ia sudah hampir putus asa menunggu jawaban pertanyaan “kapan bapak jualan”.


***


Keadaan Pak Darsim yang tidak bisa menjawab pertanyaan “kapan bapak jualan” dengan cepat menyebar ke pelosok kampung. Sebagian besar penduduk menyangka bahwa Pak Darsim masih trauma dengan kejadian beberapa pekan yang lalu. Kejadian ketika Pak Darsim diperlakukan seperti pesakitan yang sangat berdosa. Dagangannya habis dilempar dan dihancurkan. Waktu itu Pak Darsim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyaksikan dengan matanya sendiri sumber penghidupannya diporak-porandakan.


Menurut cerita, waktu itu ada yang membeli dagangan Pak Darsim. Seperti biasa Pak Darsim melayani dengan ramah dan senyum. Sebagai pedagang tentu ia girang dagangannya dibeli. Satu per satu pembeli itu dilayani. Dan dalam sekejap dagangan es kelapanya hampir ludes. Kebahagian Pak Darsim semakin menjadi karena selain uang sudah terkumpul dan dagangannya habis. Ia juga bisa pulang cepat ke rumah. Pak Darsim pun duduk santai sambil merapikan uang yang sudah didapatnya.


Awal mula masalah mengampiri Pak Darsim ketika ada dua orang laki-laki berbadan besar mendatanginya. Tanpa bertanya dan tanpa berbicara kedua lelaki itu menendang keranjang es Pak Darsim sambil mengeluarkan kata-kata kasar.


“Kamu coba menipu ya?”


Lelaki berseragam cokelat dengan pangkat di bahunya melontarkan pertanyaan kepada Pak Darsim. Namun belum sempat Pak Darsim menjawab ia sudah menjulurkan tangan ke dalam keranjang dagangan Pak Darsim dan mengambil sebuah es kelapa yang masih dibungkus.


“Sekarang kamu yang makan!” lelaki itu menyodorkan es kelapa itu ke mulut Pak Darsim. 


Mendapat perlakuan seperti itu, Pak Darsim kaget. “Ada apa ini Pak?”


“Jangan banyak tanya, makan saja itu!” lelaki satunya yang memakai baju kaos oblong membentak Pak Darsim.


Karena ketakutan yang sangat luar biasa dan juga demi menjaga keselamatannya, dengan terpaksa Pak Darsim memakan es kelapa yang merupakan dagangannya itu.


Kedua lelaki itu memperhatikan dengan saksama ketika Pak Darsim memakan es kelapa itu. Mereka menunggu reaksi yang akan terjadi terhadap Pak Darsim. Namun sampai es kelapa itu habis, Pak Darsim tetap seperti biasa.


Kedua lelaki itu saling pandang. Mereka heran kenapa Pak Darsim tidak apa-apa. Padahal tadi ada laporan bahwa es kelapa Pak Darsim berbahaya karena diduga terbuat dari kelapa busuk. 


“Kami minta maaf ya, Pak,” dengan rasa malu dan bersalah kedua lelaki itu mengatupkan kedua tangan di dada menghadap Pak Darsim.


“Kami sudah sembrono.”


Pak Darsim bertambah bingung. Ia tidak bisa menjawab apa-apa. Tubuhnya masih gemetar. Tangannya tidak bisa bergerak. Peristiwa beberapa saat tadi sangat membuatnya terpukul. 


“Tolong jangan dilaporkan ya, Pak!” lelaki berseragam itu kembali memohon kepada Pak Darsim.


Pak Darsim masih diam. Wajahnya masih tampak pucat. Kerutan hitam di wajahnya bertambah jelas.


***


Sore itu Pak Darsim dan anaknya kembali duduk di teras. Mereka kembali memperhatikan sepeda ontel dan keranjang dagangan yang masih di posisinya.


“Kapan bapak jualan?”


Kembali sang anak bertanya kepada Pak Darsim. Tapi Pak Darsim tetap konsisten dengan kebisuannya ketika ada pertanyaan itu.


_______


Penulis


Syabaharza
adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di syamsulpemulutan81@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!