Sunday, March 29, 2026

Cerpen Bella Paring Gusti | Kabel dan Sarang-Sarang di Kepala

Cerpen Bella Paring Gusti



Mata ini terus terpancang pada cermin. Pasalnya kutemukan sosok yang amat gersang di sana, dengan kepala bersarang, mata milik orang lain, kulit pucat, juga dada yang berdetak tanpa inti, seperti jam tanpa jarum. Sejurus kemudian tangan-tanganku merengkuh tubuh yang menggigil, berusaha menepis kenangan-kenangan yang menggerogoti dari dalam.


Perlahan namun pasti, sepasang netra di bayangan cermin itu mulai menghitam dan cekung. Aku terkesiap, buru-buru bangkit. Tenggorokanku mendadak terkancing oleh sesuatu yang pelik. Kusaksikan ubin lantaiku meretak, dan pecahannya mulai merambat, dan berusaha menggapai-nggapai kakiku yang malang.


Tak kusangka tubuh ini mempunyai gerak refleks cepat untuk menarik tas besar setelah sebelumnya kuisi dengan barang-barang. Kini jantungku berguncang begitu keras seolah-olah ada di dekat telinga. Bagaimanapun aku harus cepat menyingkir dari sini, menemukan kenangan lain demi mendepak keluar kenangan hampa yang telah mengakar kuat.


Sebelumnya, telah kukabarkan keinginanku ini kepada adik, dan ia bersedia ikut serta. Kami melangkah hingga akhirnya tiba di sebuah pelataran luas di mana lantainya yang mengkilap tak berhenti memantulkan langkah-langkah orang sibuk di roda kepala masing-masing. Aku duduk di salah satu kursi dingin sambil menerawang jauh. Menatap ke arah burung-burung raksasa yang berbaris siap untuk ditumpangi.


Kelebatan langkah orang-orang seakan kilasan bayangan pada sebuah kamera lawas. Mataku menangkap sebagian besar orang mempunyai kepala bersarang seperti milikku. Apakah mereka juga hendak pergi demi mengganti kenangan itu dengan kenangan baru di tempat lain? Untuk sejenak sejumlah cuplikan gambar menyekap benak ini: tangan-tangan muda yang mencengkeram map portofolio kerja dicerabut paksa dan dijual ke luar negeri, sirene ambulans meraung ngilu mengangkut orang-orang yang patah semangat dan terkikis ekonomi, peluh menetes di tiap dahi para pejuang di susur jalan, air mata menitik jatuh meratapi negerinya dikungkung awan gelap panas, sementara sejumlah petinggi mereka bermandikan sampanye dan uang. Kakiku tegas menancap lantai, semakin yakin bahwa aku harus mencari kenangan lain di suatu tempat nun jauh.


Aku dan adikku mulai merayap di antara lautan kepala-kepala bersarang lain. Kami lantas melayang tinggi ke udara, di bawah kepak sayap burung raksasa untuk meninggalkan gugusan pulau hijau yang dilindungi oleh cakar seekor garuda perkasa. Negeri yang konon kabarnya kaya raya.


Tak berapa lama pandanganku karam pada awan-gemawan yang meriung dan meliuk-liuk lembut. Seharusnya aku senang bukan kepalang. Tapi kenyataannya aku tak dapat melupakan kenangan-kenangan tersebut. Tiap matahari menyiramkan terik, maka aku mengingatnya. Bertumpukan menjadi kenangan yang masam, sedih, dan kosong. Suara alunan musik dari langit sayup-sayup terdengar tragis.


Sungguh kenangan itu tergambar sepi di pelupuk mata dan benak, teramat menyiksa otak dan sanubariku. Kau pun tahu bahwa banyak kejadian lama menjadi hampa jika dikenang kembali. Menyemburat kelabu seperti video dokumenter. Lembap seperti kayu lapuk. Astaga! Benar, kan? Perasaan akan kenangan itu tetap mengendap seperti kabut yang turun pada kesunyian bukit-bukit!


Mataku panas dan akhirnya terisak pelan. Aku membenci kabut dan bukit-bukit.


Tanpa terasa detik jam yang selalu berputar mengantarkan kami pada tempat tujuan. Aku menghela napas panjang ketika mata ini langsung disuguhi oleh penampang negara eksentrik dengan langit berbeda, dengan matahari yang berbeda, tanah yang jelas berbeda, kelembapan udara berbeda, dan tentu saja kenangan yang berbeda pula nanti. Aku kemudian melangkah dibersamai oleh sepasang kaki adikku. Namun, anehnya kami sama-sama membisu, sama-sama berkutat pada pikiran masing-masing setelah bertemu warga sipil di sini.


Sebagian besar dari mereka memiliki mata seperti buah badam. Kulitnya bersih kepucatan, bahkan lebih pucat dari bayanganku sendiri di dalam cermin. Rahang penduduk asli ini tampak tegas sehingga menimbulkan kesan kaku, didukung oleh fitur wajah yang minim ekspresi. Belum lagi langkah tergesa-gesa yang mereka ambil. Aku jadi teringat robot buatan negeri seberang yang mengimitasi manusia.


Mendadak berembus angin dingin di sela sarang yang terbangun di kepala tatkala netraku memindai mereka lebih detail. Aku menyadari sesuatu yang lebih mencengangkan: di kepala-kepala mereka tak ada satu sarang pun yang mengendap dan berkembang biak layaknya milik kami, milik bangsa kami. Tetapi orang-orang berkulit pucat ini punya banyak saluran kabel di dalam kepalanya. Tak pelak aku menyaksikan timbul percikan listrik di dalam sana barang sekali dua kali.


Diam-diam aku mengerutkan kening, mencoba menyelami apa yang terjadi dengan negara ini. Orang-orang bahkan tak melirik kami sama sekali. Mereka terus melangkah tersental-sental lurus seolah tujuannya hanya di depan mata. Salah satu sosok yang tak sengaja berpapasan denganku membuatku terjingkat. Seorang wanita cantik dengan penampilan elegan ala metropolitan justru konslet kepalanya. Bunga api merecik, mulai melebar, lalu melahap sebagian besar kabel-kabel di dalam. Oh, betapa hebatnya ia tetap tak menunjukkan ekspresi apa pun.


Hal ganjil berikutnya yang kusadari dari perempuan itu adalah urat-urat di sekitar rahang dan pelipisnya yang membiru. Perhatianku jadi terlempar dan melompat-lompat dari satu orang ke orang lain. Sialnya aku baru memperhatikan bahwa mereka memang memiliki urat berdenyut kebiruan yang menjalar di bawah kulit. Amat biru bagai disengat es. Dada mereka pun tampak beku. Retakan mulai terjadi di mana-mana sejauh mata memandang.


Untuk sesaat mata ini malah saling bertumbukan dengan mata milik adikku. Aku menebak apa yang dipikirkannya sebab mukanya begitu pucat. Kemungkinan benak kami sama: di tempat ini ada hal yang lebih gawat dari negeri asal kami.


Terlepas dari warga sipil yang nyaris seperti mayat hidup, negeri ini sesungguhnya menyimpan sudut-sudut yang mengagumkan. Sejauh mata memandang, netra ini disuguhi oleh keindahan puri-puri modern, juga peletakan detail ornamen yang serba futuristik. Aku jadi merasa sedang terlempar ke seribu tahun mendatang.


Kami pun bertingkah sebagaimana burung pipit yang mengirap sayap. Beterbangan ke sana kemari, bertengger ke satu tempat ke tempat lain. Kami sibuk menyambangi toko kue enak, mampir di sejumlah gerai pakaian yang sudah menjelma menjadi pusat mode, serta menikmati minuman segar untuk memulai kenangan baik di tempat ini.


Memoriku mulai giat merekam apa saja yang tertangkap indra: segala sesuatu yang kiranya dapat menumpuk kenangan-kenangan lama. Aku bersyukur akan udara yang kami hirup, akan jalan yang kami pijak, berbagai burung di cakrawala yang melayang dan mempresentasikan jauhnya perbedaan di negeri kami. Tanpa terasa petualangan kami terus bergulir hingga malam menyergap. Bahkan netraku terpukau dengan bintang-gemintang; aku sempat berpikir bahwa kenangan-kenangan lama akan segera lenyap, lantas meruap menjadi debu waktu yang lekas tersapu tanpa jejak.


Namun, rupanya aku salah besar.


Ketika kami sedang berayun-ayun di kursi taman susur kota, lamunanku tetap saja menyelinap di berbagai kenangan yang terus mengusikku. Kenangan senyap tentang dirinya, tentang seseorang yang membayang lekat di balik pelupuk mata ini, tentang wajah-wajah merah berleler keringat, tentang mata yang kuyu pasrah tanpa gairah, tentang kisah negara yang karut-marut, tentang sistem kampung halaman yang mengharu biru, tentang masa depan, tentang mata buta para pemimpin terhadap rakyatnya sendiri. Oh, aku sungguh terkapar di antara bayang-bayang angan dan kenyataan. Dihantui pelbagai ingatan eidetik itu.


Tanpa sadar air mata menggelegak, mencair di antara ketidakberdayaan. Merindu pada rumah yang tak menganggap dan memberi kepastian kepada diri ini. Tatkala aku menikmati tetesan darah dari balik dada dan mengecup lukaku yang berdenyar, sejumlah pria garang mendadak menyambangi kami.


Aku tersentak. Salah seorang menghampiri, menarikku, dan menodongkan sebuah pisau tepat di pangkal leher, sementara tangan kecil adikku ditelikung tangan-tangan besar secara kasar.


“Tolong! Tolong!”


Aku memekik histeris agar menarik perhatian orang lain. Namun, tak ada yang membantu kami. Menoleh saja tidak. Untuk sekilas aku jadi mengerti kenapa penduduk di sini mempunyai kabel-kabel di dalam kepalanya.


Lalu, semuanya kusaksikan di depan mata kepalaku sendiri: bagaimana sekelompok pria begundal itu menyeret adikku, menanggalkan apa saja secara paksa, lantas hinggap satu per satu sampai tubuh adikku terbaring layu. Hatiku langsung terkoyak. Aku menggerung sekencang-kencangnya. Akulah kakak yang gagal sebab tak berdaya menolongnya.


Semuanya menjadi begitu lengang di luar. Pria-pria beringas tunjuk taring dan menghela napas puas. Aku berkelejatan di dekat tubuh hening adikku. Berikutnya mataku menyaksikan bagaimana debu-debu berkilauan yang lebih indah dari sayap kupu-kupu menguar dari jasadnya. Mereka menguap ke udara, terbang menuju semesta, luruh, kemudian buyar tak tersisa.


Aku menatap kosong ke arah tanah lapang tanpa wujud adikku. Semua berlalu secara buru-buru dan lenyap. Ketiadaan di depanku ini menghapus kenangan lama, lantas memunculkan kenangan baru yang nyatanya paling muram.


Pada akhirnya musnah juga kenangan lama yang membuatku berlari-lari tanpa arah. Aku masih menyalahkan dekadensi kampung halaman. Merutuki sisi serakah penguasa yang kemaruk merampok hak-hak hajat orang banyak.


______


Penulis


Bella Paring Gusti, lahir serta bertumbuh di Bumi Bung Karno, Blitar, Jawa Timur. Gemar meramu novel, cerpen, dan esai. Dalam beberapa karya menggunakan nama pena: Glory Bella. Penulis dapat dihubungi via email: yemimabella@gmail.com, juga Instagram: @byemima.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!