Cerpen Rafif Abbas Pradana
Ribuan ekskavator datang untuk merobohkan pohon-pohon. Suaranya menderu seperti raksasa lapar. Permukaan hutan diratakan untuk membangun lahan pertanian, karena negara sedang krisis pangan yang tidak bisa dihindarkan. Selain ribuan ekskavator, ada juga ribuan orang bersenjata lengkap beserta kendaraan lapis baja untuk menjaga berlangsungnya proyek di daerah tersebut. Seluruh warga yang berada di situ menolak keras-keras, namun apa daya. Di dalam diri mereka ada yang menjadi pengkhianat, sampai-sampai tega menjual hutan itu kepada pengusaha yang sudah diizinkan sebagai pemegang proyek strategis. Angin pagi yang biasanya membawa bau tanah basah kini hanya membawa debu dan asap mesin.
Naas, para warga hanya bisa berdemo dan mendorong barisan orang-orang bersenjata itu. Seluruh warga ditembaki tanpa ampun dengan dalih mereka dianggap teroris. Tidak bisa dipatahkan lagi, program nasional harus dijalankan. Di tengah kericuhan itu, ada seorang gadis yang kebingungan dengan keadaannya. Gadis itu bernama Anggrek. Anggrek berusia enam belas tahun, masih bersekolah. Biasanya pagi-pagi ia berjalan ke sekolah sambil membawa buku tulis lusuh dan memetik bunga liar di pinggir jalan. Kini buku itu entah di mana. Keadaannya yang kalut membuat ia tidak bisa memaksa apa-apa. Anggrek menyaksikan sendiri bapaknya terbunuh ketika mendorong para orang bersenjata itu. Di mata Anggrek sendiri. Peristiwa itu membuat tubuh Anggrek gemetar, lututnya lemas, dan dadanya terasa kosong.
"Ayah, kau mengapa meninggalkan aku secepat itu? Berengsek orang-orang itu, tega membunuh ayahku!" ujarnya penuh dengan amarah.
Suaranya pecah di ujung kalimat. Anggrek ingin menghampiri ayahnya yang tergeletak jatuh, namun ditahan oleh temannya yang bernama Bunga.
"Heh Anggrek, jangan ke situ, bahaya!"
Bunga mengatakan dengan suara bergetar. Matanya memerah menahan takut. Namun Anggrek berkeras untuk mendekati bapaknya. Bunga terpaksa menarik secara paksa sampai Anggrek terjatuh ke tanah berdebu karena tidak mendengarkan ucapan Bunga yang khawatir. Selanjutnya Bunga memeluk Anggrek yang sedang menangis kejer. Tangannya yang kecil mengusap-usap punggung Anggrek pelan. Kejadian itu membuat Anggrek merasa benci terhadap orang-orang yang telah membunuh. Benci yang tumbuh seperti akar di dalam dadanya.
Seluruh warga terpaksa mundur dan terusir, bahkan dijanjikan oleh pengusaha itu untuk dipindahkan ke wilayah kota. Ada apartemen yang bisa ditinggali. Apa daya warga yang tidak punya kuasa. Para warga sebagian besar pindah ke kota, sebagian kecil masih bertempur untuk menjaga tanah kelahiran mereka. Malam sebelum berangkat, Anggrek memandangi rumah kayunya yang akan ditinggal. Di dinding masih ada coretan pensil—garis tinggi badannya waktu umur sepuluh tahun. Ibunya menyuruh Anggrek untuk ikut karena sudah tidak aman lagi, sesuai arahan pengusaha itu. Pun Bunga ikut, terlebih kedua orang tuanya terbunuh sekaligus karena terlindas ekskavator yang tidak sengaja melindas rumah mereka saat masih di dalam. Bunga tidak sempat mengambil apa pun dari rumah itu, kecuali satu foto lama yang kini kusut di sakunya. Di suatu malam, Bunga dan Anggrek serta ibunya pergi ke kota sesuai apa yang sudah dijanjikan.
Para warga desa akhirnya naik bus menuju kota. Sepanjang perjalanan, tak ada yang bersuara. Hanya suara mesin bus dan sesekali isak tangis anak kecil.
***
Setiba di kota, mereka melihat keadaan seratus delapan puluh derajat berbeda dengan desa yang pernah mereka tinggali. Lalu-lalang kendaraan yang selalu bersuara bising, berbagai macam kemacetan di jalan. Udara terasa panas dan lengket, tidak seperti angin desa yang sejuk. Setibanya di permukiman yang dijanjikan, para warga kaget dengan kondisi yang kumuh. Dinding-dinding kos-kosan mengelupas, selokan berbau menyengat. Tidak sesuai apa yang sudah dijanjikan. Namun apa daya, mereka tidak bisa mengkritisi lagi. Para warga masuk ke dalam tempat yang sudah ditentukan. Bunga, Anggrek, dan ibunya masuk ke satu kamar kos berukuran sempit. Bunga dan Anggrek setiba di dalam kamar menangis kejer karena tidak bisa menahan kenyataan yang ada. Mereka duduk di atas kasur tipis beralas kardus. Mereka merasa semua yang sudah terjadi terasa tidak adil.
Anggrek mempertanyakan kepada ibunya sambil memandangi langit-langit kamar yang retak.
"Kita di sini mau kerja apa, Bu?"
Ibunya menjawab dengan bingung sambil meremas ujung bajunya.
"Mungkin kita bisa berjualan."
Anggrek membalas dengan pesimis, suaranya lirih.
"Uang dari mana, Bu? Kita saja tidak ada modal untuk berjualan."
Ibunya menjawab pelan.
"Kita berutang lebih dahulu saja."
Anggrek tidak yakin dengan jawaban itu, matanya menatap ibunya lekat.
"Bu, jika kita berutang dan tidak laku, kita akan menderita lagi, Bu?"
Ibunya pun terdiam. Hening. Hanya suara kendaraan dari jalan raya yang masuk lewat jendela tanpa kaca.
Bunga mendengar percakapan Anggrek dan ibunya. Ia sedang duduk memeluk lutut di sudut kamar.
"Kita... kita bisa minta-minta dulu di lampu merah. Untuk cari modal awal buat jualan."
Bunga menyarankan dengan suara ragu.
Anggrek sontak kaget karena selama ini tidak pernah diajarkan untuk meminta-minta.
"Mengapa kita perlu meminta-minta?" tanyanya dengan alis berkerut.
Bunga menunduk, jemarinya saling meremas.
"Sudah tidak ada pilihan lagi. Kalau bukan itu..."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
"Ya... pilihan lain juga ada sih, Grek. Tapi kamu pasti tahu maksudku. Perempuan kayak kita, di kota kayak gini, kadang cuma punya... dua jalan."
Ibunya Anggrek langsung menangkap maksud itu, matanya membelalak.
"Kau ini diajarkan adab tidak? Kau waras, Bunga?"
Suaranya bergetar antara marah dan takut.
Bunga menjawab dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, saya cuma... saya cuma bilang apa yang sering kejadian di sini. Saya tidak mau itu terjadi sama kita. Makanya saya bilang, lebih baik kita minta-minta dulu."
Bunga melanjutkan dengan suara lebih mantap.
"Kalau tidak mau yang begitu, kita mulai dari minta-minta. Pelan-pelan."
Ibunya mulai paham dengan keadaan Bunga. Ia memandangi dua anak gadis di depannya—satu anak kandungnya, satu lagi kini sudah seperti anaknya juga.
"Ya sudah. Kita meminta-minta. Itu pilihan kenyataan kita yang harus kita ambil," katanya akhirnya, suaranya berat.
Anggrek dan Bunga serta ibunya sepakat besoknya untuk meminta-minta di tengah jalan raya. Malam itu mereka tidur berimpitan di kasur sempit. Anggrek memandangi punggung Bunga yang sesekali bergerak gelisah.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Bunga, Anggrek, dan ibu Anggrek meminta-minta di pinggir jalan. Panas aspal mulai terasa memanggang telapak kaki. Mereka menjual empati dengan membawa sebotol minum yang dikasih beras, lalu bernyanyi dengan suara kedua anak dan Ibu Anggrek dan Bunga. Suara mereka pelan, kadang sumbang, tapi terus bernyanyi. Ibunya memegang sekantong plastik untuk menampung uang mereka. Awalnya berjalan lancar. Beberapa mobil membuka kaca dan memberi receh. Namun kejadian tidak menyenangkan buat mereka kemudian datang. Ada berbagai macam kelompok orang yang biasa meminta-minta dan mengamen di sana. Wajah-wajah keras dengan tatapan tidak ramah. Di sana sudah menjadi lahan mereka untuk mencari nafkah.
Salah satu orang menghampiri, badannya besar, rambutnya acak-acakan.
"Kau ngapain di sini? Di sini lahan kami!"
Ia mengatakan kepada Anggrek, Bunga, dan Ibu Anggrek dengan nada tinggi.
Mereka tidak bisa menjawab karena bingung dan takut. Tubuh Anggrek menegang.
"Saya di sini mau mencari nafkah karena kami digusur, dipindahkan ke kota ini."
Anggrek menjawab dengan suara kecil.
Orang itu sontak marah dan tidak peduli dengan alasan itu. Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah jalan lain.
"Pergilah kau dari lahan kami, cepat!"
Maka mereka bertiga pergi dari lahan itu dan mencari lampu merah lainnya. Kaki mereka melangkah gontai di trotoar yang asing. Mereka pun kembali ke permukiman kumuh itu dengan tangan kosong.
***
Di dalam kamar, Anggrek sudah tidak ada harapan lagi. Ia duduk di sudut, menatap dinding kosong.
"Mengapa hidupku sial seperti ini? Aku ingin hidup biasa saja tanpa seperti ini, yang membuat sesak dadaku ini."
Suara Anggrek pelan tapi menusuk. Bunga melihatnya sontak ikut menangis, dan ibunya juga tidak bisa menahan, mereka menangis ikutan sambil menenangkan Anggrek yang menangis itu. Pelukan Bunga dan ibunya yang membuat Anggrek merasa ada. Hangat tubuh mereka bertiga jadi satu-satunya hal yang masih nyata.
Kemudian malam hari itu tiba. Lampu kamar dimatikan. Semua tertidur pulas karena lelah menangis. Bunga mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk sampai ia tidak tenang karena teringat kejadian kematian kedua orang tuanya. Dalam mimpinya, ia melihat lagi rumahnya ambruk, mendengar lagi suara ibunya memanggil namanya sebelum tertimbun. Ia terbangun dengan keringat dingin, dadanya naik turun. Anggrek merasa hidupnya kosong. Bunga merasa hidupnya tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan. Ia menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Seolah-olah besok sudah akhir dari kehidupan itu. Karena Bunga sudah tidak kuat lagi. Dan dalam kata-katanya yang hanya terdengar di dalam kepalanya sendiri:
"Aku ingin mati agar diriku tenang di alam sana. Aku tidak tahu apakah aku akan disiksa terlebih dahulu untuk menuju surga. Dan surga yang kuharapkan mungkin kujalani ke dalam neraka. Aku lebih baik masuk neraka daripada aku terus-terus menderita. Mungkin di neraka aku hanya disiksa, terlebih aku sudah terbiasa disiksa, daripada aku membebani Anggrek dan ibunya yang sudah susah. Aku ingin menuliskan untuk Anggrek, karena Anggrek sahabatku."
Bunga menuliskan sepucuk surat terakhir sebelum mengakhiri dirinya. Ia merobek kertas dari buku tulis lusuh yang entah dari mana asalnya. Tangannya gemetar saat menulis, air matanya jatuh membasahi sebagian tulisan.
Kemudian Bunga menjatuhkan dirinya dari lantai lima belas. Angin malam menerpa tubuhnya sesaat. Nyawanya pun melayang.
***
Esok paginya, suara sirine dan kerumunan warga membangunkan Anggrek dan ibunya. Tanda polisi ada. Anggrek dan ibunya kaget melihat itu, terlebih ketika Anggrek membaca surat terakhir Bunga yang diselipkan di bawah bantalnya. Anggrek merasa dirinya ditinggal oleh sahabatnya sendiri. Tangannya memegang surat itu erat-erat sampai kertasnya kusut. Anggrek semakin marah terhadap takdir yang semakin meregutnya, dan Anggrek akan terus bertekat untuk memerangi apa yang sudah direnggut, termasuk sahabat sendiri. Dan Anggrek sadar yang membuat Bunga seperti ini adalah trauma atas kejadian kematian kedua orang tuanya.
"Dasar ekskavator iblis! Kau robohkan saja lava-lava di neraka!" dalam gumamnya.
Matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi di kejauhan.
Keesokan harinya setelah Bunga ditemukan, Anggrek tidak bisa berhenti menangis. Ibunya hanya bisa diam memeluknya dengan air mata yang tak henti-hentinya jatuh membasahi pipi keriputnya. Anggrek memegang erat surat Bunga yang kusut karena air matanya sendiri. Surat itu tertulis dengan tulisan tangan gemetar di atas kertas yang sudah lecek:
"Anggrek, maafkan aku. Aku sudah tidak kuat lagi. Jaga ibumu. Jangan jadi seperti aku. Kalau kau hidup terus, perjuangkanlah hidup itu walau neraka yang kau rasakan. Karena mungkin di neraka sekalipun masih ada secercah harapan yang tidak kita lihat. Aku sayang kamu, sahabatku."
Anggrek kemudian berdiri di depan jendela kosan yang sempit itu, menatap langit kota yang kelabu penuh polusi dan asap kendaraan. Dari balik kaca jendela yang berdebu, gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang seperti monster-monster beton.
"Bunga, kau tenang saja. Aku tidak akan menyusulmu sekarang. Aku akan hidup dulu. Aku akan lihat sampai mana kezaliman ini berjalan. Aku akan jadi saksi, dan suatu saat aku akan teriakkan semua ini," ucapnya lirih.
Tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ibunya hanya bisa mengusap punggung Anggrek pelan-pelan, tidak berkata apa-apa karena semua kata sudah habis untuk ratapan.
Mereka berdua kemudian memutuskan untuk tidak kembali meminta-minta di lampu merah. Ibunya mencari pekerjaan menjadi buruh cuci di rumah orang kaya, sementara Anggrek menjadi pemulung, memungut botol dan kardus bekas di pinggir jalan raya yang sama dulu mereka meminta-minta.
Suatu sore, di tumpukan sampah dekat lampu merah, Anggrek menemukan sesuatu—sebatang ranting kering dengan bunga plastik lusuh tersangkut di ujungnya. Entah kenapa, itu mengingatkannya pada pohon-pohon di desanya dulu. Ia memungutnya dan menyimpannya di saku. Di setiap langkah kakinya, Anggrek selalu menatap tajam ke arah gedung-gedung tinggi tempat para pengusaha itu bernaung, dan dalam hatinya ia berbisik sambil menggenggam ranting kering di sakunya:
"Suatu hari nanti, aku akan robohkan kalian seperti kalian merobohkan hutan kami, merobohkan ayahku, merobohkan Bunga."
Dan Anggrek pun terus berjalan di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah peduli. Ranting itu tetap ada di sakunya, menjadi saksi bisu dari tanah yang telah direnggut.
______
Penulis
Rafif Abbas Pradana, lahir di Bekasi pada 25 Oktober 2004. Ia merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) periode 2026.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!