Sunday, April 19, 2026

Puisi-Puisi Nadia Mayasari

Puisi Nadia Mayasari




Risalah


Kita tak harus selalu bersama

Kita telah bersepakat bahagia

Jika aku sekarat setidaknya aku lebur di matamu

Yang kerap kali menyisakan puing-puing kerinduan 

Sampai tiba ajal mendekat dan Izrail membawa pada kehidupan abadi 


Sekali lagi aku berdoa

Tuhan akan mengirimku kembali ke dunia

Menjadi kekasihmu yang tak akan lebur

Meski Izrail memanggilku. 


Tidak, aku akan kembali menjadi kopi

Yang kerap kali kau minum pagi hari

Lalu, mulutmu mencicip dan mencium aromaku—setiap hari.


Cipanas, 20 Maret 2026


Kopimu


Ke mana harus berlabuh?

Kapal yang ditunggangi tak bernakhoda

Terbentur

Terbentur

Terbentuk

Luka di badan membuat terombang-ambing di lautan

Meski sudah diperbaiki

Agaknya tak bisa kembali semula


Ke mana harus berlabuh?

Dermaga itu tak menerima kapal yang usang


Oh, Tuhan

Karang yang kokoh tak lebih kokoh dari keyakinan pada-Nya

Ombak yang kuat tak lebih kuat dari doa

Laut yang terbentang lebih luas dari dosa 


Dan, Tuhan mengirimkan ikan paus

Lalu meloncat dari kapal yang usang itu

Kemudian, kegelapan seperti abadi


Serang, 15 April 2026



Rudatin


Andai kau mengerti kondisi sekarang

Ibu sudah tak bisa menangis

Sebab isak tercekat oleh menu MBG

Tiga ratus lima puluh ribu ibu terima

Dengan harapan dan ikhlas yang mengendap di amplop gaji 


Kadang ingin bercerita, mengadu, dan berkeluh kesah

Namun, suar Ibu tak cukup kuat menembus telinga pemerintah

Ibu berpesan kepadaku

"Nak, jika besar nanti pergilah ke luar negeri dan belajar di sana"

Setidaknya kau tidak mendapat menu MBG sepotong tempe dan tiga butir lengkeng


Serang, 15 April 2026


______


Penulis


Nadia Mayasari, dunia mengizinkannya lahir pada 23 November 2004 di Lebak Banten, bagian timur perbatasan provinsi Jawa Barat dan Banten. Pernah mengikuti antologi puisi saat duduk di bangku SMP. Terkadang menulis puisi, lalu membacakannya di komunitas tercintanya: Belistra. Menjadi Juara 2 FLS2N saat duduk di bangku SMP melalui cabang baca puisi. Sejak saat itu mulai mencari jati diri pada puisi dan merambat ke penulisan lainnya, seperti esai. Saat ini sedang diamanahi belajar di perguruan tinggi negeri dan sedang bimbang karena banyak kebutuhan tapi minim pemasukan. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!