Puisi Nadia Mayasari
Risalah
Kita tak harus selalu bersama
Kita telah bersepakat bahagia
Jika aku sekarat setidaknya aku lebur di matamu
Yang kerap kali menyisakan puing-puing kerinduan
Sampai tiba ajal mendekat dan Izrail membawa pada kehidupan abadi
Sekali lagi aku berdoa
Tuhan akan mengirimku kembali ke dunia
Menjadi kekasihmu yang tak akan lebur
Meski Izrail memanggilku.
Tidak, aku akan kembali menjadi kopi
Yang kerap kali kau minum pagi hari
Lalu, mulutmu mencicip dan mencium aromaku—setiap hari.
Cipanas, 20 Maret 2026
Kopimu
Ke mana harus berlabuh?
Kapal yang ditunggangi tak bernakhoda
Terbentur
Terbentur
Terbentuk
Luka di badan membuat terombang-ambing di lautan
Meski sudah diperbaiki
Agaknya tak bisa kembali semula
Ke mana harus berlabuh?
Dermaga itu tak menerima kapal yang usang
Oh, Tuhan
Karang yang kokoh tak lebih kokoh dari keyakinan pada-Nya
Ombak yang kuat tak lebih kuat dari doa
Laut yang terbentang lebih luas dari dosa
Dan, Tuhan mengirimkan ikan paus
Lalu meloncat dari kapal yang usang itu
Kemudian, kegelapan seperti abadi
Serang, 15 April 2026
Rudatin
Andai kau mengerti kondisi sekarang
Ibu sudah tak bisa menangis
Sebab isak tercekat oleh menu MBG
Tiga ratus lima puluh ribu ibu terima
Dengan harapan dan ikhlas yang mengendap di amplop gaji
Kadang ingin bercerita, mengadu, dan berkeluh kesah
Namun, suar Ibu tak cukup kuat menembus telinga pemerintah
Ibu berpesan kepadaku
"Nak, jika besar nanti pergilah ke luar negeri dan belajar di sana"
Setidaknya kau tidak mendapat menu MBG sepotong tempe dan tiga butir lengkeng
Serang, 15 April 2026
______
Penulis
Nadia Mayasari, dunia mengizinkannya lahir pada 23 November 2004 di Lebak Banten, bagian timur perbatasan provinsi Jawa Barat dan Banten. Pernah mengikuti antologi puisi saat duduk di bangku SMP. Terkadang menulis puisi, lalu membacakannya di komunitas tercintanya: Belistra. Menjadi Juara 2 FLS2N saat duduk di bangku SMP melalui cabang baca puisi. Sejak saat itu mulai mencari jati diri pada puisi dan merambat ke penulisan lainnya, seperti esai. Saat ini sedang diamanahi belajar di perguruan tinggi negeri dan sedang bimbang karena banyak kebutuhan tapi minim pemasukan.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!