Cerpen Angelina R. Wawo
Saya tidak lagi mendengar ombak sejelas dulu. Syukur-syukur jika desir angin mampir di telinga. Angin yang membawa bau asin dan sedikit kabut gosong dari sisi timur. Di sini, dari kursi roda yang macet-macet, saya memandangi langit jingga yang perlahan menjadi biru gelap. Di kejauhan sana, tampak samar, beberapa perahu nelayan melintas, seperti bayangan kecil yang menolak pulang.
“Ramai sekali orang-orang itu, Nene,” kata Ine, cucuku, seraya menutup jendela, “kabarnya, siang tadi ada orang yang bakar tempat ibadah.”
Teras rumah kami berhadapan langsung dengan pantai, cukup dekat, hingga mata rabun ini masih mampu melihat titik-titik hitam bertebaran di langit jingga sembur kebiruan. Tidak saya jawab Ine yang mengantar secangkir teh hangat, hanya kusambut gagang cangkirnya dengan jemari sedikit gemetar. Bukan saya tidak mau menjawab, hanya saja kabar itu buat saya sudah lebih dulu dibawa burung dan jatuh disapu angin laut yang bercampur kelabu.
Telinga saya begini-begini masih cukup bisa diandalkan, lolongan anjing, makian, perdebatan, dua logat yang kontras jadi satu, hingga sebutan Tuhan dan Allah yang saling sahut. Suara yang agaknya tak asing di telinga, suara yang membuat saya ingin memejamkan mata dan berpura-pura sudah mati saja.
“Dong bilang, jarak hanya dua puluh meter sa, su bagaya bangun tempat ibadah. Sedangkan kita, harus jalan kaki tiga kilo memang ke paroki di kampung seblah!” teriak salah seorang lelaki paruh baya.
Ine mulai mendorongku masuk, membelakangi pantai yang sudah sepenuhnya hitam dimakan gelap malam. Tangan rampingnya membilas kain dan mengusap pelan ke sekujur tubuhku. Ine yang manis, mimik dan cantiknya persis saya waktu itu. Waktu surga dan neraka jadi satu. Ketika amarah manusia tidak butuh logika yang rapi untuk terbakar. Bara yang tertumpuk di dada meledak beriringan bersama dendam.
***
Tiga puluh tahun lalu, saya masih kuat berdiri di balik meja panjang dengan botol-botol minuman berderet dan lampu disko yang berputar liar di langit-langit. Kulit cokelat dan rambut keriting yang kukuncir tinggi bergoyang mengikuti langkah yang sibuk menyeimbangkan nampan hitam besar dengan pinggiran sulur emas.
“Paulina, another beer, please!” kata pria tinggi yang kontras bagai bidak catur jika didudukannya dia dengan saya.
Dia salah satu pria yang tidak mengadopsi paham bahwa wanita lokal se-Kuta, Bali, rela membuka lebar kakinya dengan sekali siulan bule. Maka dari itu, bekerja dengannya tidak sama sekali membuat saya kepayahan. Oliver, kasir, dulunya traveler modal nekat yang kemudian jadi homeless, dan kini giat bekerja demi kembali ke negara asalnya USA.
Saya ingat betul, Saturday night, pertengahan Oktober tahun 2002, pelanggan ramai riuh, antrean padat merayap. Benar apa yang dikata orang-orang, Paddy’s Pub tak pernah hilang ketenarannya, kawan membawa kawanannya, yang saya tahu banyak bule negeri kangguru. Mereka menjejali setiap sudut dengan botol di tangan dan mata memerah, namun anehnya masih liuk, di bawah dentuman dan bau alkohol yang menusuk.
“Pau, handphone-mu bunyi terus!” kata kawanku, Wayan, pelayan pub, seperti saya.
Rumahnya masih di Legian, setiap berangkat, wanita Bali itu hanya modal kaki saja. Ia keluar dari pintu bertulis ONLY STAFF, berkata santai sedikit menekan, saya tahu bebannya banyak, Wayan punya lima saudara dan bapak yang lumpuh, sedangkan ibunya, wafat saat melahirkan si adik bungsu.
Sebagai wanita kampung dari Timur yang mengadu nasib, sebuah hal yang patut dibanggakan adalah saya punya telepon genggam. Keluarga di kampung tahunya saya anak pintar, mereka rela menjual kerbau di bawah harga pasar, semata-mata demi menitipkan saya di kota untuk pergi SMA.
Sayangnya kepintaran itu di Pulau Dewata, hanya menghantarkan saya di bawah kelipan lampu berwarna-warna. Dan sialnya lagi, orang tua di kampung tidak tahu akan hal itu. Intinya, nona jang lupa kirim uang bulanan.
Tapi, kini, yang saya terka-terka adalah siapakah yang menelepon itu. Sementara kontak saya hanya berisi lima, dan kelimanya ada di Paddy’s Pub bersama saya. Namun saya tak pernah lupa, menulis deretan angka pada surat yang saya terbangkan di pulau Marapu sana. Jangankan punya handphone, sinyal sa, kadang ada kadang tidak.
Saya isyaratkan tangan ke atas, meminta izin Oliver ke belakang, memuaskan rasa penasaran yang mengganjal. Kini pukul 21.00 Wita, suara getar menggema di lorong loker milik para pelayan, sesuai kata Wayan, itu adalah ponsel saya.
“Halo! Halo...!”
“Kaka Rambu?” tanyaku, mencoba mengenali suara itu, “Ih, su di Bali?”
Tak ada jawaban, agaknya si penelepon kebingungan musti menjawab apa.
“Ini pakai hape sapa? Kenapa tiba-tiba begini, Kaka? Baru anak bayi bemana?” pertanyaanku mencecarnya.
Sekali lagi tak ada jawaban. Beberapa detik setelahnya hanya ada tangis.
“Sa su bilang to Kaka, tir usah urus itu, Mama itu sakit. Jang terlalu percaya Rato Adat!”
“Baru kaka ada di mana? Su di Legian?”
***
Jantung Rambu bertalu-talu, keringat mengguyur sekujur tubuh. Kapal yang bersandar tadi subuh, menghantarkannya berjam-jam kelimpungan mencari saya. Seharian penuh perempuan yang baru melahirkan tiga bulan lalu itu berkelana di Denpasar, ditipu ojek, hingga dicopet. Setidaknya, dia menemukan satu warga Bali yang baik hati, yang meminjamkan handphone sekaligus pulsa untuk menelepon saya.
Saya juga musti berterima kasih kepada Wayan, sebab risih mendengar ringtone ponselku. Seandainya tidak, mungkin saja Rambu sudah di antah berantah atau paling sialnya bertemu pria mabuk di Legian.
“Mama minta ko pulang cepat,” katanya.
Tangan kasar Rambu menangkup kedua pipi saya, tangan yang bagi saya serbabisa, tangan yang mengurus segala peliknya rumah besar dan adatnya. Memang saya yang tugasnya bayar membayar, tapi dibandingkan Rambu, pekerjaan ini agaknya hanya seperlima lelahnya.
“Mama ada mimpi, di tengah laut ada yang terbakar,” katanya, “Rato Adat ju su marah besar, mari nona ikut Kaka ya, kita pulang,” sambungnya.
“Kita omong lagi ya, Kaka ikut sa pigi tempat kerja, nanti kita pulang sama-sama.”
“Nona masih kerja jam begini?” Ia keheranan.
Alis Rambu menukik tajam, khawatir jelas di wajah tirusnya, di surat-surat yang saya terbangkan, hanya saya sebut bekerja sebagai ‘bekerja’, saya ubah waktu pagi jadi malam hari, nyatanya yang terjadi adalah kelelahan di pagi buta.
“Aduh, panjang ceritanya, Kaka duduk-duduk dulu di sana ya, baru kita pulang nanti. Tidur dulu juga tidak apa-apa.”
Kami berjalan beriringan, meski sama-sama dilahirkan dari rahim yang sama, rupa Rambu jauh berbeda. Rambu wajahnya lonjong, rambut panjang bergelombang, dan kulitnya putih bersih. Banyak yang bilang Rambu justru mirip orang Sabu.
Sepanjang perjalanan tenggorokan saya seperti terselip kerikil. Telapak tangan kasar Rambu menggenggam jemari saya erat-erat. Matanya bergerak liar di sepanjang trotoar ramai yang kami lewati. Kini pukul 21.40 Wita, makin malam, Legian makin menyala. Tulisan Welcome to Paddy's Pub tidak bikin Rambu buka suara, meski saya yakin ada ribuan tanya di kepalanya. Namun Rambu adalah si penurut dari dulu.
***
Sudah kukantongi izin dari Oliver, bahwa malam ini, akan dihitung setengah hari kerja. Rambu masih di lorong loker Paddy’s Pub, mungkin saat ini sedang memakan nasi kotak, jatah makan para pelayan. Kini, kaki saya melangkah menjauhi Paddy's Pub dan kembali menyisir trotoar. Agen travel adalah tujuan saya.
Rambu harus pulang secepatnya. Legian bukan tempat Rambu, pun Mama yang kini terbaring sekarat dikelilingi keluarga yang lain, tidak saya biarkan kepala Mama terus dicuci hingga menguras kembali seluruh hewan ternak. Apalagi suami Rambu yang bodoh itu, tidak mungkin bisa menjaga anak mereka yang masih berumur tiga bulan. Sebab bagaimana pun mereka lebih percaya Rato Adat daripada dokter.
Saya akan membelikan Rambu sebuah tiket pesawat, esok kami akan jalan-jalan keliling Kuta hingga puas, membelikan banyak oleh-oleh untuk mama dan keponakan. Setelah itu, Rambu harus kembali pulang.
Pukul 22.30 Wita, saya melihat sebuah minibus di lampu merah. Tepat di depan kios agen travel yang kini sedang sibuk memasukan data dari fotokopi KK yang saya berikan. Warnanya putih, di bagian kemudi duduk tiga orang yang masing-masing tampak begitu serius, si pengendara mengucapkan kalimat panjang, kemudian mulut mereka seirama, sembari mengepalkan tangan ke atas. Pemuda di bagian kiri, yang paling jelas saya lihat, mengenakan sebuah rompi hitam, dia mengedip terlalu banyak, pun menghela napas terlalu dalam.
“Terima kasih ya, Bli,” kataku pada si penjaga agen travel.
Lampu merah berganti hijau, amplop putih bertuliskan nama Rambu sudah siap menghantarkan kakakku kembali ke Marapu. Sayangnya, kaki saya urung berjalan ke arah Legian, saya ingin berbelanja dahulu untuk Rambu, perlengkapan mandi dan tidur yang nyaman.
Hampir lima belas menit sudah saya mengelilingi rak-rak mini-market. Saya membayangkan betapa senangnya Rambu dengan lesung pipinya, mengatakan ih kamu ni repot-repot sa hingga berpuluh-puluh kali. Lima menit selanjutnya habis di antrean kasir. Sungguh, meski waktu bertulis 22.50 Wita, Bali, sedetik pun tak pernah sepi, kecuali saat nyepi.
Perjalanan kembali ke Paddy's Pub menghabiskan sekurangnya dua puluhan menit berjalan kaki. Tidak ada salahnya membeli dua botol kopi dingin yang akan menemani acara mengobrol kami. Kini, saya benar-benar kembali berjalan ke Legian. Menenteng dua kantung besar agaknya bikin jalan saya sedikit melambat. Padahal, di kampung sana, Rambu biasa membawa dua jeriken besar penuh air naik turun bukit. Sudah terlalu payah memang saya disebut sebagai Nona Sumba.
Sementara saya tersenyum geli mengingat-ingat masa lalu, di seberang suara dentuman besar dahsyat, orang-orang seketika melihat ke arah Paddy's Pub. Ledakan itu dari sana. Mata saya seolah melonjak ingin keluar. Satu-satunya yang ada di kepala saya hanya Rambu yang duduk di lorong loker pelayan.
Belum sempat menerka-nerka, kaki saya lebih dulu berlari, menyelip kegaduhan Legian yang ingin ditinggalkan. Orang-orang meneriakkan kata “teroris” berulang kali. Sementara itu Rambu masih di dalam, Rambu kakakku masih di lorong itu sendirian.
Beberapa belas detik setelahnya langit merah nyala, tubuh saya terlempar hawa panas, melayang sepersekian detik dan menghantam trotoar. Rupanya, Rato dan mimpi Mama memang benar adanya. Maafkan saya Rambu, kakakku sayang, saya tidak bisa memberimu alas tidur yang lebih nyaman.
***
Aroma hangus dan dentuman keras itu tidak pernah pergi, menempel di kulit, di rambut, di sekujur tubuh dan ingatan saya. Paddy’s Pub mungkin sudah kembali menjadi bar ramai dengan gemerlap warna-warni. Tapi tanah itu, bagi saya, masih menyimpan bara, menunggu sewaktu-waktu manusia lupa lagi, menunggu satu pericikan kecil menyala lagi.
Rambu tidak pernah ditemukan, setidaknya mimpinya ada yang jadi kenyataan, menyusul saya merantau ke kota. Keinginan mama juga jadi nyata, meski sebulan setelahnya, Mama terlalu merindukan Rambu. Lidya, bayi umur tiga bulan itu juga ditinggal bapa-nya saat genap berumur tiga tahun, membuat saya berganti nama menjadi Mama Lidya. Kemudian, Lidya melahirkan Ine, cucuku, pun ikut serta merindukan bapa dan mamanya.
Dan hingga hari ini, saat saya hanya mampu duduk di kursi roda ini, saya tetap tidak paham mengapa ada saja orang-orang yang dengan mudah menghilangkan nyawa dan nama orang lain hanya atas nama Tuhan masing-masing.
Keterangan:
Cerpen ini terinspirasi dari tragedi terorisme Bom Bali I (Oktober, 2002)
______
Penulis
Angelina R. Wawo, lahir 31 Januari 2003. Saat ini aktif berkesenian di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pernah terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Beberapa tulisannya dimuat di media. Dapat bertukar kabar melalui @angelwa.woo.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!