Oleh Kabut
Di kepala mereka, banyak pertanyaan dan ilmu-ilmu yang ingin dibuktikan saat memasuki hutan, menelusuri sungai, atau menikmati alam perdesaan. Tubuh mereka berbeda dengan bumiputra. Penampilan pun mengesankan mereka itu terhormat. Tubuh yang menjelajah di Nusantara. Mereka keringatan tapi mengaku takjub selama di Nusantara. Beberapa ilmuwan malah tidak mau kembali ke Eropa. Mereka menikah dengan bumiputra dan berharap dikuburkan di tanah yang indah, yang selama ratusan tahun menjadi rebutan negara-negara Eropa.
Yang menakjubkan adalah flora dan fauna. Maka, buku-buku mengenai flora dan fauna di Nusantara paling banyak ditulis ilmuwan-ilmuwan asal Eropa. Mereka meneliti di Nusantara, yang artikel dan bukunya terbit dalam beragam bahasa asing di Eropa. Kita yang ingin membacanya wajib belajar bahasa mereka atau menanti adanya edisi terjemahan bahasa Indonesia, yang pastinya telat dari terbitan awal. Yang memikat dalam penelitian mereka adalah burung. Bacalah buku-buku lawas mereka! Di situ, ada gambar burung-burung. Pembaca menemukan keterangan-keterangan ilmiah. Namun, yang ingin terus mengenali burung-burung di Nusantara boleh mengikutkan teks-teks fiksi yang digubah para pengarang Eropa. Di situ, ada imajinasi yang berlimpahan, membuat kita meyakini Nusantara yang agung.
Di Nusantara, burung-burung pun cerita, lukisan, dan tembang. Para seniman mengisahkan burung-burung yang ada di pelbagai pulau. Yang belum digarap secara serius adalah memasalahkan burung-burung secara keilmuan. Nusantara seperti ditakdirkan didatangi orang-orang asing, yang akhirnya (paling) paham tentang burung-burung, dari Sumatra sampai Papua. Mereka yang mengungkapkan kepada kita melalui ketekunan yang sulit ditandingi.
Pada masa berbeda, kita mulai memiliki para ilmuwan yang mengurusi burung-burung. Yang punya buku-buku terbitan LIPI mengenai burung akan mengenali para ilmuwan Indonesia tapi keberadaannya tetap di bawah bayang-bayang para ilmuwan Eropa.
Pada 1962, terbit buku berjudul Tjitjuwit Kutilangku gubahan Njonja H Abuhanifah. Yang terbit bukan buku pelajaran atau buku penelitian ilmiah. Kita disuguhi cerita. Semula, cerita hiburan dipersembahkan kepada murid-murid sekolah yang berumur 9-12 tahun. Cerita yang menghibur, bukan bermaksud menjadikan para pembacanya mengetahui ilmu yang bersumber Barat dalam mengamati dan menjelaskan burung-burung. Cerita itu mungkin melanjutkan pesona lagu mengeni kutilang yang dibuat oleh Ibu Sud. Lagu yang awet sampai sekarang.
Yang menjadi tokoh adalah remaja bernama Chalid. Ia hidup di desa, yang masih asri dengan beragam pohon. Artinya, burung-burung dan binatang-binatang lain mendapatkan tempat hidup. Di situ, ada makanan dan suasana yang menjadikan burung-burung merayakan cerita-cerita bersama makhluk-makhluk yang lain.
Cerita terjadi saat pagi hari. Chalid bangun dan mendengar suara burung. Di jendela, ia melihat burung kutilang dengan suaranya yang khas. Yang tampak, burung itu sedang makan pepaya. Pengarang menjelaskan bahwa Chalid yang menanam benih pepaya sampai bertumbuh besar dan berbuah. Chalid secara sadar melihat kutilang yang memakan pepaya, yang semestinya menjadi miliknya. Namun, kagum di pagi hari justru membuatnya terpesona dengan kutilang. Pagi yang merdu dan indah.
Chalid penasaran dengan segala tingkah kutilang. Akhirnya, ia mengetahui bahwa kutilang yang makan pepaya itu memiliki anak-anak dalam sarang, yang terdapat di pohon mangga. Chalid memanjatnya, melihat anak-anak kutilang yang tampak menantikan kedatangan makanan. Chalid dalam pandangan lugu ingin mengasihi burung-burung, belum berpikiran dengan ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah atau universitas. Pembaca harap mengingat lagi itu cerita hiburan, bukan penggalan dari buku pelajaran atau potongan dari artikel ilmiah.
Yang terbaca dalam buku mengenai pesan ibu kepada Chalid: “Ibu kutilang itu akan mentjium bau manusia jang melekat pada anaknja itu dan ibu kutilang tidak suka kepada bau manusia. Karena bau itu, akan kurang atjuh dia kepada anaknja dan anaknja akan ditinggalkannja. Akan terlantarlah mereka apabila ibunja tak mengurusinja. Chalid ingin benar mengambil burung ketjil dari sarangnja dan memegangnja sebentar dengan dua belah tangannja. Tetapi dia ingat akan larangan ibunja. Berdetak-detak napas anak-anak burung itu, bulu-bulunja turun naik, menandakan bahwa barang hidup dibawah gumpalan bulu jang lunak. Hampir tak tertahan nafsu Chalid hendak mengambil anak-anak kutilang dan menggenggamnja barang sebentar.”
Pada hari berbeda, anak-anak di desa memamerkan kenalan dengan melempari burung. Akibatnya, ibu kutilang terluka dan mati. Pada peristiwa sedih, pembaca belum diajak mengetahui kekhasan kutilang dan perlakuan manusia terhadapnya, dari abad ke abad. Yang jelas ada anak-anak nakal yang biasanya ingin menangkap burung. Anak-anak bisa bersenjata ketapel, tulup, atau melempar dengan batu.
Keinginan Chalid terwujud. Ia yang merawat anak-anak kutilang. Keluarga ikut membantunya dalam membuat kandang dan memberi makan. Pembaca mengetahui sikap baik Chalid. Burung-burung punya hak hidup dna bertumbuh. Burung-burung tinggal di rumah, tidak lagi di sarang yang berada di pohon mangga. Chalid perlahan belajar mengenai burung, yang disokong oleh kakaknnya. Pembaca tetap harus sadar sedang menikmati cerita hiburan, bukan cerita yang menyamar untuk penjelasan ilmu.
Chalid mengalami kegagalan. Ada satu anak kutilang yang dimakan oleh kucing. Rumah bukan tempat yang aman untuk kehidupan burung-burung. Chalid sedih dan berharap bisa melakukan perbuatan baik kepada burung-burung. Sangkar bukan jawaban terbaik. Burung-burung semestinya hidup di alam bersama sesama burung dan binatang-binatang yang lain.
Ibu tidak tega melihat Chalid yang sedih. Kita mengutip dalam cerita: “Sedjak empat hari, baru sekaranglah Chalid riang kembali. Sambil mendjindjing sangkar jang berisi sepasang merpati, diapun lari kembali masuk kedalam mendapatkan ibu. Tak tentu lagi apa jang hendak dikatakannja. Bagus betul merpati pilihan ibu. Dadanja dan punggungnja putih, sajap dan kepalanja hitam dan berdjambul pula. Jang betina lebih ketjil sedikit djambulnja daripada jang laki-laki.” Ibunya sengaja membelikan merpati. Chalid makin sah menjadi pemelihara burung-burung.
Buku dibaca anak-anak dan remaja pada masa 1960-an. Yakinlah bahwa buku itu sulit dituduh mengandung muatan-muatan ideologis, tidak ada kaitannya dengan Indonesia yang sedang memanas oleh sengketa yang memuncak pada 1965. Kita membayangkan saja para pembaca mengikuti keseharian tokoh bernama Chalid dan sedikit mengetahui burung-burung. Buku terbitan Gita Karya (Jakarta) itu menyadarkan kita atas hak-hak anak dalam ketersediaan bacaan, yang tidak wajib bergelimang ilmu atau ditumpangi kepentingan-kepentingan politik. Buku cerita yang menghibur kadang berpengaruh kepada para pembaca yang menyadari Nusantara adalah “surga burung-burung”. Namun, pengetahuan tentang burung-burung tetap berdatangan dari negara-negara asing.
________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!