Thursday, April 9, 2026

Esai Erni Febriyani | Dekonstruksi Karakter Tania dalam Film Ananta Prahadi: Antara Stigma Netizen dan Realitas Trauma Fatherless

Esai Erni Febriyani

 



Karakter Tania dalam film Ananta Prahadi karya Risa Saraswati merupakan salah satu anomali dalam dunia perfilman drama romansa Indonesia. Sejak kemunculannya, tokoh ini tidak pernah sepi dari polemik dan penghakiman moral oleh para penonton, terutama netizen di berbagai platform media sosial. Tania kerap dipandang sebagai representasi perempuan yang egois, keras kepala, temperamental, dan tidak tahu berterima kasih. Penilaian ini muncul dari kacamata sosiologis yang sangat kaku, di mana masyarakat cenderung menuntut tokoh perempuan dalam sebuah narasi cinta untuk bersikap lembut, penurut, dan menerima kasih sayang dengan tangan terbuka. Namun, benarkah Tania sesederhana itu? Ataukah ada kompleksitas psikologis dan latar belakang penciptaan yang sengaja luput dari pengamatan mata penonton yang hanya melihat permukaan?

Kritik ini hadir untuk mendekonstruksi pandangan arus utama tersebut. Jika netizen melihat Tania sebagai sosok yang “bermasalah”, penulis justru melihatnya sebagai sosok yang “terluka”. Perbedaan sudut pandang ini sangat krusial karena di situlah letak inti dari pesan yang ingin disampaikan oleh Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil merasa “asing” karena kemampuan indigonya, Risa menciptakan Tania bukan sebagai objek untuk dibenci, melainkan sebagai kembaran jiwanya yang antisosial dan kesulitan menyatu dengan dunia normal. Melalui narasi ini, kita akan membedah bagaimana standar moral netizen sering kali gagal menangkap rintihan batin seorang penyintas trauma yang sedang berjuang mempertahankan benteng kewarasannya.

Dalam narasi film ini, hubungan antara Tania dan Pierre menjadi medan tempur pertama bagi perbedaan persepsi antara penonton awam dan pembacaan kritis. Bagi netizen yang terbiasa dengan formula film romansa standar, Pierre adalah representasi dari “kesempatan emas” atau sosok penyelamat (savior) yang sempurna secara sosiologis: tampan, mapan, sabar, dan memiliki ketulusan yang tampak tanpa cela. Ketika Pierre secara jujur menyatakan perasaannya, netizen dengan cepat menghakimi reaksi Tania yang justru memilih untuk lari dan menjauh sebagai bentuk kesombongan yang tidak masuk akal. Penilaian netizen ini berangkat dari standar ganda gender yang kaku, di mana seorang perempuan dianggap “bermasalah” atau “egois” jika ia menolak cinta dari lelaki yang dianggap ideal oleh publik. Namun, jika kita menyelami batin Tania, tindakan melarikan diri tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap Pierre secara personal, melainkan sebuah manifestasi dari avoidant attachment style atau kecemasan akut akan kedekatan emosional. Bagi individu yang telah bertahun-tahun membangun benteng kesunyian demi melindungi harga dirinya yang hancur akibat stigma “gila”, pernyataan cinta Pierre bukan merupakan hadiah, melainkan ancaman bagi kestabilan batin yang telah ia susun dengan penuh penderitaan.

Lebih jauh lagi, keputusan Tania untuk meninggalkan Pierre dengan raut wajah yang penuh kesedihan—bukan kebencian—menunjukkan adanya konflik internal antara id yang haus akan kasih sayang dan ego yang terlampau trauma. Netizen sering kali gagal menangkap bahwa di balik sikap “jual mahal” tersebut terdapat sebuah self-loathing atau rasa benci pada diri sendiri yang sangat mendalam. Tania merasa bahwa dirinya adalah sosok yang terlalu sulit untuk dipahami, terlalu rusak untuk dicintai, dan terlalu “kotor” untuk bersanding dengan Pierre yang ia anggap terlalu bersih. Penolakannya adalah bentuk pengorbanan yang tragis. Ia lebih memilih untuk menyakiti Pierre dengan cara menjauh daripada membiarkan Pierre masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan amarah dan ketidakstabilan. Ia tidak percaya bahwa kebahagiaan bisa bertahan lama, sehingga ia memilih untuk mengakhiri segalanya sebelum kembali merasakan kehilangan yang menghancurkan. Ini bukanlah egoisme seperti yang dituduhkan netizen, melainkan prinsip pertahanan diri dari seseorang yang merasa bahwa kesepian adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak akan lagi dikecewakan oleh harapan.

Persepsi netizen yang melabeli Tania sebagai perempuan “keras kepala” dalam relasi ini sebenarnya mencerminkan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perempuan yang memiliki prinsip emosional yang otonom. Tania memberikan pesan yang sangat kuat bahwa ia tidak butuh “diselamatkan” oleh cinta yang bersifat heroik jika ia sendiri belum berdamai dengan lukanya. Ia menolak menjadi objek romantis yang pasif; ia memilih jujur pada ketakutannya sendiri daripada berpura-pura bahagia dalam relasi yang ia rasa akan meruntuhkan benteng keamanan psikisnya. Kritik terhadap Tania dalam hal ini seharusnya beralih menjadi kritik terhadap netizen yang terlalu mendewakan “kebahagiaan standar” dan mengabaikan proses penyembuhan trauma yang sangat personal dan tidak linear. Tania adalah bukti bahwa cinta tidak selalu menjadi obat bagi semua orang; bagi sebagian manusia yang retak, cinta terkadang justru menjadi cermin yang memperlihatkan betapa hancurnya pantulan diri mereka sendiri, dan pelarian Tania adalah upaya paling jujur untuk tetap menjaga kewarasannya di tengah ketakutan akan intimasi yang mencekam.

Memasuki analisis ketiga, pusat gravitasi emosional dalam narasi ini terletak pada relasi simbiotik antara Tania dan Ananta Prahadi yang sering kali disalahartikan oleh netizen sebagai bentuk eksploitasi emosional. Pandangan arus utama netizen cenderung memposisikan Ananta sebagai sosok “korban” yang suci, sabar, dan teraniaya oleh sikap temperamental Tania yang meledak-ledak. Netizen menghujat Tania karena dianggap memperlakukan Ananta layaknya asisten pribadi yang bisa disemprot kapan saja, tanpa melihat bahwa Ananta adalah satu-satunya manusia yang berhasil melakukan “rekonstruksi mental” pada Tania sejak masa SMA. Bagi Tania, Ananta bukan sekadar sahabat atau pelayan; ia adalah object transitional atau personifikasi dari ruang aman (safe haven) yang memungkinkannya tetap berfungsi sebagai manusia di tengah badai trauma. Sikap keras Tania kepada Ananta sebenarnya adalah bentuk kejujuran emosional yang brutal. Ia hanya berani menunjukkan sisi “monster”-nya kepada satu-satunya orang yang ia percaya tidak akan pernah meninggalkannya.

Puncak kritik netizen terhadap Tania muncul saat adegan “perjanjian darah” di atas kertas dan ledakan amarah Tania ketika mengetahui Ananta telah bertunangan dengan Sukma. Netizen melabeli reaksi Tania sebagai bentuk kecemburuan romantis yang egois dan tidak tahu diri, mengingat sejak awal hubungan mereka telah dibatasi oleh kesepakatan profesional sebagai bos dan karyawan. Namun, jika dibedah secara psikoanalisis, kemarahan Tania bukanlah manifestasi dari rasa ingin memiliki Ananta secara romantis, melainkan bentuk separation anxiety atau kecemasan akan perpisahan yang sangat akut. Perjanjian darah tersebut bagi Tania bukan sekadar kontrak kerja, melainkan sebuah “mantra pelindung” untuk mengikat keamanan mentalnya secara tertulis. Ketika Ananta memutuskan memiliki kehidupan baru dengan bertunangan, Tania merasa pusat gravitasinya hilang secara tiba-tiba. Ledakan emosi di paviliun—di mana ia memecahkan benda-benda di sekitarnya—adalah bentuk acting out dari jiwa yang merasa “rahim psikologis”-nya sedang dihancurkan secara paksa oleh realitas.

Kritik terhadap Tania dalam hubungan ini seharusnya beralih menjadi sebuah pemahaman tentang bagaimana individu dengan trauma panjang berkomunikasi. Tania tidak memiliki kemampuan linguistik yang sehat untuk mengungkapkan rasa takut akan kehilangan, sehingga emosi tersebut dialihkan dalam bentuk tindakan destruktif atau displacement. Ia merasa bahwa jika Ananta pergi, tidak akan ada lagi orang yang mampu merapikan “cat-cat tumpah” di dalam kepalanya. Pikirannya yang terkesan meremehkan dengan berkata bahwa semua orang harus kuat seperti dirinya sebenarnya adalah tameng untuk menutupi betapa rapuhnya ia tanpa kehadiran Ananta. Tania bukan perempuan galak yang menyia-nyiakan Ananta; ia adalah seorang penyintas yang sedang mengalami nervous breakdown karena merasa satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan kini mulai melepaskan ikatannya. Dengan demikian, apa yang dianggap netizen sebagai egoisme murni sesungguhnya adalah rintihan ketakutan dari seorang manusia yang merasa akan kembali dibuang ke dalam lubang keterasingan yang sunyi dan gelap.

Akar dari segala kekacauan emosional yang dialami Tania sebenarnya berhulu pada sebuah luka purba yang sering luput dari perbincangan netizen, yaitu kehilangan sosok ayah dalam fase kehidupannya. Dalam perspektif psikologi perkembangan, figur ayah adalah simbol perlindungan, stabilitas, dan cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Ketika figur ini hilang secara tiba-tiba, dunia Tania seolah runtuh dan menyisakan kekosongan otoritas emosional yang permanen. Kehilangan ini menciptakan trauma penolakan (rejection trauma) yang membuat Tania secara tidak sadar menarik kesimpulan bahwa semua orang yang ia cintai pada akhirnya akan pergi meninggalkannya. Hal inilah yang menjadi alasan fundamental mengapa Tania cenderung memilih untuk menyendiri dan membangun tembok tinggi di paviliunnya; ia sedang melakukan antisipasi agar rasa sakit karena kehilangan di masa lalu tidak terulang kembali. Baginya, tidak memiliki siapa-siapa jauh lebih aman daripada memiliki seseorang, namun harus hidup dalam ketakutan akan kehilangan yang mencekam setiap detiknya.

Netizen yang menghujat Tania karena ia menolak Pierre atau bersikap kasar kepada Ananta tidak memahami bahwa Tania sedang mengidap fear of abandonment atau ketakutan akan ditinggalkan yang sangat patologis. Penolakannya terhadap Pierre adalah bentuk mekanisme pertahanan diri agar ia tidak memberikan celah bagi cinta untuk masuk karena, baginya, cinta adalah “pintu gerbang” menuju rasa kehilangan. Ia merasa bahwa dengan tetap sendiri, ia memegang kendali penuh atas rasa sakitnya. Hubungannya yang sangat dependen kepada Ananta juga merupakan bentuk kompensasi atas hilangnya figur pelindung dalam hidupnya. Tania memproyeksikan kebutuhan akan sosok yang selalu ada, yang tidak pernah pergi, dan yang mampu meredam emosinya kepada Ananta. Maka, ketika Ananta tiba-tiba menghadirkan sosok Sukma dalam hidupnya, bagi Tania itu bukan sekadar urusan asmara, melainkan sebuah déjà vu traumatik tentang bagaimana seorang laki-laki yang sangat ia andalkan kembali “pergi” untuk memilih kehidupan lain.

Kritik sosiologis terhadap Tania dalam konteks ini seharusnya menyoroti betapa kerasnya masyarakat terhadap anak yang tumbuh dengan luka pengabaian. Alih-alih dipahami sebagai individu yang sedang berjuang dengan inner child yang terluka, Tania justru dipaksa untuk bersikap “manis” dan “normal”, seolah-olah luka masa lalunya tidak pernah ada. Amarahnya yang meledak-ledak di paviliun adalah cara Tania berteriak kepada dunia bahwa ia lelah terus-menerus ditinggalkan dan dipaksa untuk kuat sendirian. Kehilangan sosok ayah telah merusak konsep diri Tania, membuatnya merasa “tidak cukup baik” sehingga ia merasa pantas untuk diabaikan. Inilah alasan mengapa ia sangat defensif; ia merasa harus menjadi “monster” agar tidak ada lagi yang berani mendekat, hanya untuk kemudian meninggalkannya dalam kesunyian. Melalui latar belakang ini, kita bisa melihat bahwa temperamen Tania bukanlah bentuk kejahatan, melainkan strategi bertahan hidup dari seorang anak perempuan yang dunianya sudah kiamat berkali-kali sejak ia masih kecil.

Menganalisis karakter Tania tidak akan lengkap tanpa membedah sosok di balik layarnya, yaitu Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil harus hidup dengan kemampuan indigo, Risa sering kali merasa menjadi the outsider atau sosok asing di tengah dunia orang normal. Perasaan “nggak nyambung”, diasingkan, dan dianggap aneh oleh lingkungan sosialnya itulah yang ia proyeksikan sepenuhnya ke dalam diri Tania. Tania bukan sekadar tokoh fiksi; ia adalah “kembaran jiwa” Risa yang merepresentasikan sisi gelap, antisosial, dan kasar yang mungkin selama ini harus diredam oleh Risa dalam kehidupan nyata. Melalui Tania, Risa ingin mengirimkan pesan yang sangat personal bahwa orang-orang yang dianggap aneh atau bermasalah secara mental sebenarnya tidak membutuhkan diagnosis medis yang dingin atau ceramah moral yang menghakimi. Mereka hanya membutuhkan satu orang yang bersedia menerima “monster” di dalam diri mereka tanpa pernah bertanya “mengapa”.

Dalam konteks ini, tokoh Ananta Prahadi hadir bukan sebagai sosok manusia biasa, melainkan sebagai personifikasi dari imaginary friend atau sahabat gaib, serupa dengan Peter Cs yang setia menemani Risa dalam kesunyiannya. Ananta adalah sosok yang seolah-olah “nggak nyata” karena ketulusannya yang terlampau murni; ia tidak memiliki pretensi, tidak menuntut Tania untuk sembuh, dan bersedia menjadi sasaran amarah tanpa membalas. Risa sengaja menciptakan Ananta sebagai bentuk harapan bagi mereka yang sedang mengalami depresi akut atau keterasingan hebat. Ia ingin menunjukkan bahwa di dunia yang penuh penghakiman ini, masih ada ruang bagi penerimaan yang radikal. Ananta adalah “jangkar” bagi Tania, sebagaimana sahabat-sahabat tak kasat mata Risa menjadi jangkar bagi kewarasannya saat dunia nyata terasa terlalu menyesakkan untuk ditinggali.

Lebih jauh lagi, kegemaran Tania melukis dengan penuh amarah hingga merusak kanvas di paviliunnya merupakan bentuk katarsis lewat seni yang sangat nyata. Risa Saraswati, yang juga seorang musisi dan penulis, memahami betul bahwa emosi destruktif tidak seharusnya dipendam, melainkan harus dibuang melalui karya agar tidak membusuk di dalam jiwa. Adegan-adegan temperamental Tania di paviliun adalah simbol dari proses terapi diri (self-therapy) yang dilakukan oleh Risa. Melalui visualisasi tersebut, Risa ingin berbagi pesan kuat bahwa “hantu” yang paling mengerikan di semesta ini bukanlah kuntilanak atau entitas gaib lainnya, melainkan amarah, ego, dan trauma masa lalu yang terkunci rapat di dalam batin manusia. Seni, bagi Tania (dan juga bagi Risa), adalah satu-satunya bahasa jujur yang tersisa ketika kata-kata sudah tidak lagi mampu mewadahi rasa sakit yang teramat dalam.

Kritik terhadap karya ini seharusnya tidak berhenti pada perilaku buruk Tania, tetapi pada bagaimana seni menjadi alat bertahan hidup bagi mereka yang “retak”. Risa ingin menunjukkan bahwa menjadi “aneh” seperti Tania adalah sebuah kewajaran dalam proses menghadapi luka. Dengan menghadirkan Ananta sebagai penyeimbang, Risa sedang melakukan eksorsisme terhadap trauma-trauma pribadinya dan mengajak pembaca atau penonton untuk mulai “berjalan pelan membaca luka” orang lain. Keseluruhan narasi ini adalah sebuah surat cinta bagi para pencari suaka emosional; sebuah pengakuan bahwa meski kita merasa tidak normal dan penuh duri seperti Tania, kita tetap layak untuk mendapatkan satu orang yang mau berdiri di samping kita, merapikan cat-cat yang tumpah, dan memastikan bahwa kita tidak akan pernah benar-benar sendirian lagi di dalam paviliun kesunyian kita sendiri.

Sebagai konklusi dari seluruh rangkaian dekonstruksi karakter ini, melabeli Tania sebagai perempuan egois dan temperamental hanyalah sebuah bentuk kegagalan kolektif kita dalam membaca lapisan emosi manusia yang kompleks. Melalui sosok Tania, kita diajak untuk menyadari bahwa perilaku seseorang yang terlihat “buruk” di permukaan sering kali merupakan mekanisme pertahanan terakhir dari sebuah jiwa yang sudah terlalu sering dihancurkan oleh kehilangan. Tania bukan sedang mencoba menjadi jahat; ia hanya sedang berusaha untuk tetap utuh di tengah badai trauma fatherless dan keterasingan sosial yang mengepungnya sejak kecil. Jika netizen lebih memilih untuk memuja kesempurnaan Pierre atau kepolosan Ananta, maka esai ini justru memilih untuk memanusiakan keretakan Tania. Sebab, pada akhirnya, kejujuran emosional Tania yang meledak-ledak jauh lebih berharga daripada kepalsuan sosial yang menuntut setiap orang untuk selalu tampil “normal” dan bahagia.

Kritik sosiologis yang membenturkan pandangan netizen dengan realitas batin Tania memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya empati radikal. Kita harus berhenti menjadi hakim moral yang cepat memberikan vonis dan mulai menjadi pembaca yang mau berjalan pelan di lorong-lorong luka orang lain. Risa Saraswati melalui Ananta Prahadi telah berhasil melakukan eksorsisme terhadap trauma pribadinya sekaligus memberikan “surat cinta” bagi mereka yang merasa aneh, berbeda, dan tidak diinginkan oleh dunia. Ananta hadir sebagai pengingat bahwa setiap “monster” di dalam diri manusia berhak mendapatkan satu jangkar yang tulus, dan setiap paviliun kesunyian berhak mendapatkan cahaya yang tidak menghakimi. Tania mengajarkan kita bahwa menjadi retak bukan berarti tidak berharga; justru melalui retakan itulah kita bisa melihat siapa yang benar-benar bersedia bertahan untuk merapikan serpihannya.

Pada akhirnya, memahami Tania adalah perjalanan untuk memanusiakan sisi-sisi gelap dalam diri kita sendiri yang sering kali kita sembunyikan dengan rapi. Melalui analisis ini, diharapkan tidak ada lagi penghakiman dangkal yang dialamatkan kepada karakter-karakter “sulit” seperti Tania, baik dalam karya sastra maupun dalam kehidupan nyata. Karena di balik setiap teriakan amarah dan setiap kanvas yang rusak, selalu ada seorang anak perempuan yang hanya ingin diterima apa adanya tanpa perlu mengubah dirinya menjadi orang lain. Esai ini menjadi pembelaan bagi Tania, bagi Risa, dan bagi siapa pun yang pernah dianggap “gila” oleh dunia yang terlalu malas untuk memahami rasa sakit yang mendalam. Kesunyian memang pahit, namun dalam kesunyian Tania, kita menemukan kejujuran yang paling murni tentang apa artinya menjadi manusia yang terus berjuang untuk tidak kembali hancur.

 

______

Penulis


Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!