Esai Erni Febriyani
Kritik ini hadir
untuk mendekonstruksi pandangan arus utama tersebut. Jika netizen melihat Tania
sebagai sosok yang “bermasalah”, penulis justru melihatnya sebagai sosok yang
“terluka”. Perbedaan sudut pandang ini sangat krusial karena di situlah letak inti
dari pesan yang ingin disampaikan oleh Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis
yang sejak kecil merasa “asing” karena kemampuan indigonya, Risa menciptakan
Tania bukan sebagai objek untuk dibenci, melainkan sebagai kembaran jiwanya
yang antisosial dan kesulitan menyatu dengan dunia normal. Melalui narasi ini,
kita akan membedah bagaimana standar moral netizen sering kali gagal menangkap
rintihan batin seorang penyintas trauma yang sedang berjuang mempertahankan
benteng kewarasannya.
Dalam narasi film
ini, hubungan antara Tania dan Pierre menjadi medan tempur pertama bagi
perbedaan persepsi antara penonton awam dan pembacaan kritis. Bagi netizen yang
terbiasa dengan formula film romansa standar, Pierre adalah representasi dari
“kesempatan emas” atau sosok penyelamat (savior) yang sempurna secara
sosiologis: tampan, mapan, sabar, dan memiliki ketulusan yang tampak tanpa
cela. Ketika Pierre secara jujur menyatakan perasaannya, netizen dengan cepat
menghakimi reaksi Tania yang justru memilih untuk lari dan menjauh sebagai bentuk
kesombongan yang tidak masuk akal. Penilaian netizen ini berangkat dari standar
ganda gender yang kaku, di mana seorang perempuan dianggap “bermasalah” atau
“egois” jika ia menolak cinta dari lelaki yang dianggap ideal oleh publik.
Namun, jika kita menyelami batin Tania, tindakan melarikan diri tersebut
bukanlah bentuk penolakan terhadap Pierre secara personal, melainkan sebuah
manifestasi dari avoidant attachment style atau kecemasan akut akan
kedekatan emosional. Bagi individu yang telah bertahun-tahun membangun benteng
kesunyian demi melindungi harga dirinya yang hancur akibat stigma “gila”,
pernyataan cinta Pierre bukan merupakan hadiah, melainkan ancaman bagi kestabilan
batin yang telah ia susun dengan penuh penderitaan.
Lebih jauh lagi,
keputusan Tania untuk meninggalkan Pierre dengan raut wajah yang penuh
kesedihan—bukan kebencian—menunjukkan adanya konflik internal antara id
yang haus akan kasih sayang dan ego yang terlampau trauma. Netizen
sering kali gagal menangkap bahwa di balik sikap “jual mahal” tersebut terdapat
sebuah self-loathing atau rasa benci pada diri sendiri yang sangat
mendalam. Tania merasa bahwa dirinya adalah sosok yang terlalu sulit untuk
dipahami, terlalu rusak untuk dicintai, dan terlalu “kotor” untuk bersanding
dengan Pierre yang ia anggap terlalu bersih. Penolakannya adalah bentuk
pengorbanan yang tragis. Ia lebih memilih untuk menyakiti Pierre dengan cara
menjauh daripada membiarkan Pierre masuk ke dalam dunianya yang penuh dengan
amarah dan ketidakstabilan. Ia tidak percaya bahwa kebahagiaan bisa bertahan
lama, sehingga ia memilih untuk mengakhiri segalanya sebelum kembali merasakan
kehilangan yang menghancurkan. Ini bukanlah egoisme seperti yang dituduhkan
netizen, melainkan prinsip pertahanan diri dari seseorang yang merasa bahwa
kesepian adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak akan lagi dikecewakan oleh
harapan.
Persepsi netizen yang
melabeli Tania sebagai perempuan “keras kepala” dalam relasi ini sebenarnya
mencerminkan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perempuan yang memiliki
prinsip emosional yang otonom. Tania memberikan pesan yang sangat kuat bahwa ia
tidak butuh “diselamatkan” oleh cinta yang bersifat heroik jika ia sendiri
belum berdamai dengan lukanya. Ia menolak menjadi objek romantis yang pasif; ia
memilih jujur pada ketakutannya sendiri daripada berpura-pura bahagia dalam
relasi yang ia rasa akan meruntuhkan benteng keamanan psikisnya. Kritik
terhadap Tania dalam hal ini seharusnya beralih menjadi kritik terhadap netizen
yang terlalu mendewakan “kebahagiaan standar” dan mengabaikan proses
penyembuhan trauma yang sangat personal dan tidak linear. Tania adalah bukti
bahwa cinta tidak selalu menjadi obat bagi semua orang; bagi sebagian manusia
yang retak, cinta terkadang justru menjadi cermin yang memperlihatkan betapa
hancurnya pantulan diri mereka sendiri, dan pelarian Tania adalah upaya paling jujur
untuk tetap menjaga kewarasannya di tengah ketakutan akan intimasi yang
mencekam.
Memasuki analisis
ketiga, pusat gravitasi emosional dalam narasi ini terletak pada relasi
simbiotik antara Tania dan Ananta Prahadi yang sering kali disalahartikan oleh
netizen sebagai bentuk eksploitasi emosional. Pandangan arus utama netizen
cenderung memposisikan Ananta sebagai sosok “korban” yang suci, sabar, dan
teraniaya oleh sikap temperamental Tania yang meledak-ledak. Netizen menghujat
Tania karena dianggap memperlakukan Ananta layaknya asisten pribadi yang bisa
disemprot kapan saja, tanpa melihat bahwa Ananta adalah satu-satunya manusia
yang berhasil melakukan “rekonstruksi mental” pada Tania sejak masa SMA. Bagi
Tania, Ananta bukan sekadar sahabat atau pelayan; ia adalah object
transitional atau personifikasi dari ruang aman (safe haven) yang
memungkinkannya tetap berfungsi sebagai manusia di tengah badai trauma. Sikap
keras Tania kepada Ananta sebenarnya adalah bentuk kejujuran emosional yang
brutal. Ia hanya berani menunjukkan sisi “monster”-nya kepada satu-satunya
orang yang ia percaya tidak akan pernah meninggalkannya.
Puncak kritik
netizen terhadap Tania muncul saat adegan “perjanjian darah” di atas kertas dan
ledakan amarah Tania ketika mengetahui Ananta telah bertunangan dengan Sukma.
Netizen melabeli reaksi Tania sebagai bentuk kecemburuan romantis yang egois
dan tidak tahu diri, mengingat sejak awal hubungan mereka telah dibatasi oleh
kesepakatan profesional sebagai bos dan karyawan. Namun, jika dibedah secara
psikoanalisis, kemarahan Tania bukanlah manifestasi dari rasa ingin memiliki
Ananta secara romantis, melainkan bentuk separation anxiety atau
kecemasan akan perpisahan yang sangat akut. Perjanjian darah tersebut bagi
Tania bukan sekadar kontrak kerja, melainkan sebuah “mantra pelindung” untuk
mengikat keamanan mentalnya secara tertulis. Ketika Ananta memutuskan memiliki
kehidupan baru dengan bertunangan, Tania merasa pusat gravitasinya hilang
secara tiba-tiba. Ledakan emosi di paviliun—di mana ia memecahkan benda-benda
di sekitarnya—adalah bentuk acting out dari jiwa yang merasa “rahim
psikologis”-nya sedang dihancurkan secara paksa oleh realitas.
Kritik terhadap
Tania dalam hubungan ini seharusnya beralih menjadi sebuah pemahaman tentang
bagaimana individu dengan trauma panjang berkomunikasi. Tania tidak memiliki
kemampuan linguistik yang sehat untuk mengungkapkan rasa takut akan kehilangan,
sehingga emosi tersebut dialihkan dalam bentuk tindakan destruktif atau displacement.
Ia merasa bahwa jika Ananta pergi, tidak akan ada lagi orang yang mampu
merapikan “cat-cat tumpah” di dalam kepalanya. Pikirannya yang terkesan
meremehkan dengan berkata bahwa semua orang harus kuat seperti dirinya
sebenarnya adalah tameng untuk menutupi betapa rapuhnya ia tanpa kehadiran
Ananta. Tania bukan perempuan galak yang menyia-nyiakan Ananta; ia adalah
seorang penyintas yang sedang mengalami nervous breakdown karena merasa
satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan kini
mulai melepaskan ikatannya. Dengan demikian, apa yang dianggap netizen sebagai
egoisme murni sesungguhnya adalah rintihan ketakutan dari seorang manusia yang
merasa akan kembali dibuang ke dalam lubang keterasingan yang sunyi dan gelap.
Akar dari segala
kekacauan emosional yang dialami Tania sebenarnya berhulu pada sebuah luka
purba yang sering luput dari perbincangan netizen, yaitu kehilangan sosok ayah
dalam fase kehidupannya. Dalam perspektif psikologi perkembangan, figur ayah
adalah simbol perlindungan, stabilitas, dan cinta pertama bagi seorang anak
perempuan. Ketika figur ini hilang secara tiba-tiba, dunia Tania seolah runtuh
dan menyisakan kekosongan otoritas emosional yang permanen. Kehilangan ini
menciptakan trauma penolakan (rejection trauma) yang membuat Tania
secara tidak sadar menarik kesimpulan bahwa semua orang yang ia cintai pada
akhirnya akan pergi meninggalkannya. Hal inilah yang menjadi alasan fundamental
mengapa Tania cenderung memilih untuk menyendiri dan membangun tembok tinggi di
paviliunnya; ia sedang melakukan antisipasi agar rasa sakit karena kehilangan
di masa lalu tidak terulang kembali. Baginya, tidak memiliki siapa-siapa jauh
lebih aman daripada memiliki seseorang, namun harus hidup dalam ketakutan akan
kehilangan yang mencekam setiap detiknya.
Netizen yang
menghujat Tania karena ia menolak Pierre atau bersikap kasar kepada Ananta
tidak memahami bahwa Tania sedang mengidap fear of abandonment atau
ketakutan akan ditinggalkan yang sangat patologis. Penolakannya terhadap Pierre
adalah bentuk mekanisme pertahanan diri agar ia tidak memberikan celah bagi
cinta untuk masuk karena, baginya, cinta adalah “pintu gerbang” menuju rasa
kehilangan. Ia merasa bahwa dengan tetap sendiri, ia memegang kendali penuh
atas rasa sakitnya. Hubungannya yang sangat dependen kepada Ananta juga
merupakan bentuk kompensasi atas hilangnya figur pelindung dalam hidupnya.
Tania memproyeksikan kebutuhan akan sosok yang selalu ada, yang tidak pernah
pergi, dan yang mampu meredam emosinya kepada Ananta. Maka, ketika Ananta
tiba-tiba menghadirkan sosok Sukma dalam hidupnya, bagi Tania itu bukan sekadar
urusan asmara, melainkan sebuah déjà vu traumatik tentang bagaimana
seorang laki-laki yang sangat ia andalkan kembali “pergi” untuk memilih
kehidupan lain.
Kritik sosiologis
terhadap Tania dalam konteks ini seharusnya menyoroti betapa kerasnya
masyarakat terhadap anak yang tumbuh dengan luka pengabaian. Alih-alih dipahami
sebagai individu yang sedang berjuang dengan inner child yang terluka,
Tania justru dipaksa untuk bersikap “manis” dan “normal”, seolah-olah luka masa
lalunya tidak pernah ada. Amarahnya yang meledak-ledak di paviliun adalah cara
Tania berteriak kepada dunia bahwa ia lelah terus-menerus ditinggalkan dan
dipaksa untuk kuat sendirian. Kehilangan sosok ayah telah merusak konsep diri
Tania, membuatnya merasa “tidak cukup baik” sehingga ia merasa pantas untuk
diabaikan. Inilah alasan mengapa ia sangat defensif; ia merasa harus menjadi
“monster” agar tidak ada lagi yang berani mendekat, hanya untuk kemudian
meninggalkannya dalam kesunyian. Melalui latar belakang ini, kita bisa melihat
bahwa temperamen Tania bukanlah bentuk kejahatan, melainkan strategi bertahan
hidup dari seorang anak perempuan yang dunianya sudah kiamat berkali-kali sejak
ia masih kecil.
Menganalisis
karakter Tania tidak akan lengkap tanpa membedah sosok di balik layarnya, yaitu
Risa Saraswati. Sebagai seorang penulis yang sejak kecil harus hidup dengan
kemampuan indigo, Risa sering kali merasa menjadi the outsider atau
sosok asing di tengah dunia orang normal. Perasaan “nggak nyambung”,
diasingkan, dan dianggap aneh oleh lingkungan sosialnya itulah yang ia
proyeksikan sepenuhnya ke dalam diri Tania. Tania bukan sekadar tokoh fiksi; ia
adalah “kembaran jiwa” Risa yang merepresentasikan sisi gelap, antisosial, dan
kasar yang mungkin selama ini harus diredam oleh Risa dalam kehidupan nyata.
Melalui Tania, Risa ingin mengirimkan pesan yang sangat personal bahwa
orang-orang yang dianggap aneh atau bermasalah secara mental sebenarnya tidak
membutuhkan diagnosis medis yang dingin atau ceramah moral yang menghakimi.
Mereka hanya membutuhkan satu orang yang bersedia menerima “monster” di dalam
diri mereka tanpa pernah bertanya “mengapa”.
Dalam konteks
ini, tokoh Ananta Prahadi hadir bukan sebagai sosok manusia biasa, melainkan
sebagai personifikasi dari imaginary friend atau sahabat gaib, serupa
dengan Peter Cs yang setia menemani Risa dalam kesunyiannya. Ananta adalah
sosok yang seolah-olah “nggak nyata” karena ketulusannya yang terlampau murni;
ia tidak memiliki pretensi, tidak menuntut Tania untuk sembuh, dan bersedia
menjadi sasaran amarah tanpa membalas. Risa sengaja menciptakan Ananta sebagai
bentuk harapan bagi mereka yang sedang mengalami depresi akut atau keterasingan
hebat. Ia ingin menunjukkan bahwa di dunia yang penuh penghakiman ini, masih
ada ruang bagi penerimaan yang radikal. Ananta adalah “jangkar” bagi Tania,
sebagaimana sahabat-sahabat tak kasat mata Risa menjadi jangkar bagi
kewarasannya saat dunia nyata terasa terlalu menyesakkan untuk ditinggali.
Lebih jauh lagi,
kegemaran Tania melukis dengan penuh amarah hingga merusak kanvas di
paviliunnya merupakan bentuk katarsis lewat seni yang sangat nyata. Risa
Saraswati, yang juga seorang musisi dan penulis, memahami betul bahwa emosi
destruktif tidak seharusnya dipendam, melainkan harus dibuang melalui karya
agar tidak membusuk di dalam jiwa. Adegan-adegan
temperamental Tania di paviliun adalah simbol dari proses terapi diri (self-therapy)
yang dilakukan oleh Risa. Melalui visualisasi tersebut, Risa ingin berbagi
pesan kuat bahwa “hantu” yang paling mengerikan di semesta ini bukanlah
kuntilanak atau entitas gaib lainnya, melainkan amarah, ego, dan trauma masa
lalu yang terkunci rapat di dalam batin manusia. Seni, bagi Tania (dan juga bagi Risa), adalah
satu-satunya bahasa jujur yang tersisa ketika kata-kata sudah tidak lagi mampu
mewadahi rasa sakit yang teramat dalam.
Kritik terhadap
karya ini seharusnya tidak berhenti pada perilaku buruk Tania, tetapi pada
bagaimana seni menjadi alat bertahan hidup bagi mereka yang “retak”. Risa ingin
menunjukkan bahwa menjadi “aneh” seperti Tania adalah sebuah kewajaran dalam
proses menghadapi luka. Dengan menghadirkan Ananta sebagai penyeimbang, Risa
sedang melakukan eksorsisme terhadap trauma-trauma pribadinya dan mengajak
pembaca atau penonton untuk mulai “berjalan pelan membaca luka” orang lain.
Keseluruhan narasi ini adalah sebuah surat cinta bagi para pencari suaka
emosional; sebuah pengakuan bahwa meski kita merasa tidak normal dan penuh duri
seperti Tania, kita tetap layak untuk mendapatkan satu orang yang mau berdiri
di samping kita, merapikan cat-cat yang tumpah, dan memastikan bahwa kita tidak
akan pernah benar-benar sendirian lagi di dalam paviliun kesunyian kita
sendiri.
Sebagai konklusi
dari seluruh rangkaian dekonstruksi karakter ini, melabeli Tania sebagai
perempuan egois dan temperamental hanyalah sebuah bentuk kegagalan kolektif
kita dalam membaca lapisan emosi manusia yang kompleks. Melalui sosok Tania,
kita diajak untuk menyadari bahwa perilaku seseorang yang terlihat “buruk” di
permukaan sering kali merupakan mekanisme pertahanan terakhir dari sebuah jiwa
yang sudah terlalu sering dihancurkan oleh kehilangan. Tania bukan sedang
mencoba menjadi jahat; ia hanya sedang berusaha untuk tetap utuh di tengah
badai trauma fatherless dan keterasingan sosial yang mengepungnya sejak
kecil. Jika netizen lebih memilih untuk memuja kesempurnaan Pierre atau
kepolosan Ananta, maka esai ini justru memilih untuk memanusiakan keretakan
Tania. Sebab, pada akhirnya, kejujuran emosional Tania yang meledak-ledak jauh
lebih berharga daripada kepalsuan sosial yang menuntut setiap orang untuk
selalu tampil “normal” dan bahagia.
Kritik sosiologis
yang membenturkan pandangan netizen dengan realitas batin Tania memberikan kita
pelajaran berharga tentang pentingnya empati radikal. Kita harus berhenti
menjadi hakim moral yang cepat memberikan vonis dan mulai menjadi pembaca yang
mau berjalan pelan di lorong-lorong luka orang lain. Risa Saraswati melalui Ananta
Prahadi telah berhasil melakukan eksorsisme terhadap trauma pribadinya
sekaligus memberikan “surat cinta” bagi mereka yang merasa aneh, berbeda, dan
tidak diinginkan oleh dunia. Ananta hadir sebagai pengingat bahwa setiap
“monster” di dalam diri manusia berhak mendapatkan satu jangkar yang tulus, dan
setiap paviliun kesunyian berhak mendapatkan cahaya yang tidak menghakimi.
Tania mengajarkan kita bahwa menjadi retak bukan berarti tidak berharga; justru
melalui retakan itulah kita bisa melihat siapa yang benar-benar bersedia
bertahan untuk merapikan serpihannya.
Pada akhirnya,
memahami Tania adalah perjalanan untuk memanusiakan sisi-sisi gelap dalam diri
kita sendiri yang sering kali kita sembunyikan dengan rapi. Melalui analisis
ini, diharapkan tidak ada lagi penghakiman dangkal yang dialamatkan kepada
karakter-karakter “sulit” seperti Tania, baik dalam karya sastra maupun dalam
kehidupan nyata. Karena di balik setiap teriakan amarah dan setiap kanvas yang
rusak, selalu ada seorang anak perempuan yang hanya ingin diterima apa adanya
tanpa perlu mengubah dirinya menjadi orang lain. Esai ini menjadi pembelaan
bagi Tania, bagi Risa, dan bagi siapa pun yang pernah dianggap “gila” oleh
dunia yang terlalu malas untuk memahami rasa sakit yang mendalam. Kesunyian
memang pahit, namun dalam kesunyian Tania, kita menemukan kejujuran yang paling
murni tentang apa artinya menjadi manusia yang terus berjuang untuk tidak
kembali hancur.
Penulis
Erni Febriyani, lahir di Cilegon, 18 Februari 2007. Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia yang menaruh minat besar pada dunia kepenulisan, literasi, dan pengelolaan teks. Karyanya berupa puisi, cerpen, esai, serta artikel opini yang dipublikasikan di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Medium, dan Kumparan. Beberapa tulisannya juga terlibat dalam antologi nasional dan proyek buku dongeng anak. Aktif mengikuti kegiatan literasi, lomba menulis, serta pelatihan kepenulisan dan editorial. Pernah menjadi penulis terpilih dalam antologi nasional dan meraih beberapa prestasi di bidang menulis puisi, esai, serta resensi buku. Selain menulis kreatif, ia terbiasa mengolah naskah akademik, menyunting teks, dan memperhatikan tata bahasa serta ejaan bahasa Indonesia. Saat ini, kesehariannya diisi dengan kuliah, menulis, membaca, serta merancang karya-karya tulis yang kelak ingin ia bagikan lebih luas—baik melalui media digital maupun penerbitan mandiri.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!