Oleh Kabut
Sejarah Indonesia itu proklamasi. Sejarah yang mula-mula berumah. Proklamasi dibacakan di serambi rumah, yang beralamat di Jakarta. Namun, rumah itu musnah. Yang menginginkan adalah Soekarno. Konon, kebijakan demi sejarah, bukan pengultusan. Jadi, kita yang ingin membaca sejarah dan rumah (17 Agustus 1945) dicukupkan oleh foto-foto lama saja. Kita tak lagi pernah bisa ke sana, mengunjungi rumah dan merasakan sejarah.
Pada 1946, Mohammad Hatta memasalahkan rumah. Ia berkeyakinan bahwa kemerdekaan itu berwujud perumahan atau permukiman yang membuat rakyat bahagia, sehat, dan betah. Yang dipikirkan Hatta adalah kesulitan-kesulitan yang menimpa Indonesia. Revolusi sedang kacau. Berpikiran rumah memang mendasarkan pada konstitusi tapi Indonesia tidak punya modal. Lakon permukiman di kota dan desa sedang amburadul.
Rumah sangat penting bagi wibawa penguasa. Kesanggupan memenuhi kebutuhan papan membuktikan penguasa yang memuliakan rakyat. Apakah itu mudah atau mustahil?
Soeharto yang puluhan tahun berkuasa memiliki kepentingan dalam mengelola kepercayaan rakyat. Yang menjadi murid pada masa Orde Baru pasti ingat nama-nama menteri yang mengurusi perumahan. Soeharto yang rumahnya berada di Jalan Cendana (Jakarta) serius memikirkan masalah papan. Ia mengaku berhasil dalam swasembada pangan (beras) pada masa 1980-an. Mengapa ia mengadakan menteri perumahan? Kita tebak saja agar terjadi keberhasilan dalam masalah pemenuhan kebutuhan papan di seantero Indonesia.
Pentingnya rumah atau perumahan masih berlaku sampai sekarang. Prabowo Subianto menunjuk tokoh yang diminta bertanggung jawab dalam perumahan. Kita jangan coba-coba bertanya mengenai perumahan memihak elite atau rakyat. Yang sulit dibantah, Indonesia sangat bermasalah dengan rumah. Abad XXI makin memberi seribu pertanyaan tentang rumah. Bagaimana rumah bakal menentukan mutu rezim Prabowo? Kita tidak perlu mengajukan pertanyaan sebelum ada jawaban-jawaban terang mengenai pangan yang setiap hari diributkan di media sosial.
Yang mengingat masa lalu atau Orde Baru bakal mengetahui beragam masalah dan perwujudan kebijakan penguasa disampaikan melalui ceirta-cerita anak, tidak melulu pidato-pidato Soeharto yang bikin tidur dan terjurumus khayalan. Maka, bagi yang ingin menilik Orde Baru janganlah selalu berdasarkan pidato-pidato. Cobalah membaca puluhan buku cerita anak. Di situ, kita akan menemukan kekuasaan yang menghampiri anak-anak dengan nasihat, perintah, bujukan, dan pengelabuan. Rumah pun menjadi tema yang sering bermunculan dalam ratusan buku cerita anak.
Kita memilih satu saja. Buku yang kita baca berjudul Menuju Rumah Idaman terbitan Balai Pustaka, 1990. Yang menulis adalah Bambang Sarwono. Di kulit muka, penulisannya dilengkapi gelar: Ir. Dulu, orang yang bergelar insinyur terhormat. Negara membutuhkan banyak insinyur dalam mewujudkan pembangunan nasional. Akibatnya, banyak kaum muda yang belajar di universitas meraih gelar insinyur. Di tontonan televisi, kita mengetahui Doel adalah insinyur. Kita mengikuti kisah asmaranya ketimbang dunia kerja untuk para insinyur. Buku cerita yang sedang kita baca tidak ada kaitannya dengan Rano Karno dan sinetron yang memikat ribuan orang sampai belasan tahun.
Buku disusun pengarang yang bergelar insinyur. Pembaca tidak usah menagih ceritanya wajib bermutu. Cerita dibuat demi kepentingan-kepentingan yang sesuai dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Pihak penerbit memberi penjelasan latar belakang penerbitan buku. Yang disasar adalah rakyat di desa, kondisinya yang selalu menimbulkan prihatin. “Mereka belum sadar akan perlunya suatu perumahan dan permukiman yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, keserasian, dan keindahan sehingga sering terjadi musibah yang tak dapat dielakkan,” tulis penerbit. Maka, yang dilakukan Balai Pustaka, penerbit milik pemerintah, melakukan penyuluhan atau penerangan. Cerita anak mementingkan penyuluhan. Yang membaca adalah anak-anak, yang sebenarnya ingin imajinasi yang bermutu, bukan penyuluhan.
Penulis pun memberi keterangan: “Bila kita hidup dalam perumahan dan lingkungan desa yang tidak layak, tidak sehat, dan tidak teratur maka kita tidak akan mungkin berkembang atau mendidik anak menjadi manusia sejahtera yang sehat secara jasmaniah maupun rohanian. Karena sering sakit maka kita sering tak dapat bekerja atau bersekolah. Karena tidak sehat kita menjadi tak bergairah dan menjadi manusia yang tidak produktif. Karena rumah, pekarangan, dan lingkungan desa kita jorok dan tidak teratur maka kita tidak betah tinggal di rumah atau di desa. Dengan kondisi desa seperti itu tidak akan mungkin timbul rasa harga diri dan rasa bangga terhadap desa yang kita cintai.” Bayangkanlah murid-murid SD membaca keterangan dari insiyur yang menulis cerita mengenai rumah. Para pembaca sedang berada dalam penyuluhan yang biasanya diatasnamakan kebijakan-kebijakan Soeharto.
Ceritanya tentang keluarga yang tinggal dalam rumah yang tidak sehat. Akibatnya, para penghuni mudah sakit. Yang dihadirkan dalam cerita adalah anak yang sakit. Desa itu sedang dilanda wabah muntaber. Anak yang sakit kondisinya menyedihkan. Bapak dan ibu bingung. Sakit yang membuat segalanya murung dan menimbulkan ketakutan.
Jawaban atas nasib keluarga itu dimulai dengan kunjungan teman ke rumah. Di sekolah, ia minta izin kepada guru untuk menjenguk agar mengetahui penyebab murid yang tidak masuk sekolah. Pengarang membuat kita mengetahui keadaan: “Sesampainya Amir di rumah Badu, dilihatnya anak itu sedang bersedih. Udin terbaring lemah di tempat tidur. Di sampingnya, Pak Surya sedang komat-kamit membaca mantra. Asap kemenyan yang dibakarnya membuat sesak napas. Bapak dan ibu si Badu tampak gelisah…”.
Keluarga yang masih percaya dukun. Mereka belum mengerti pelayanan puskesmas, belum percaya pengobatan modern. Anak yang muntaber diharapkan sembuh oleh kesaktian duku. Yang terjadi, berhari-hari anak itu tetap sakit. Keluarga yang miskin dan tinggal di rumah yang jelek dirunduk duka akibat muntaber. Mereka membutuhkan pertolongan agar sehat dan selamat.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!