Cerpen Siti Fatmala
Kau berhenti, lalu memandangi sekeliling. Rumah baru itu tampak terlalu rapi dan sunyi. Tidak ada cucian piring, tumpukan baju, handuk yang tergeletak di atas kasur, dan suara berisik adikmu yang menggelegar ke seluruh ruangan.
Setelah mencoba beberapa kali, pintu itu menyerah sedikit demi sedikit. Tidak banyak bergeser, tetapi cukup untuk mempersilakan tubuhmu lewat. Kau buru-buru melangkahkan kakimu menuju taman. Kau yakin keluargamu sudah menunggu sejak tadi.
Benar saja, mereka sudah menunggu di taman. Ayah duduk di bangku panjang dengan memasang wajah datar seperti biasanya. Namun, kini tak ada kacamata dan koran yang menemaninya duduk. Ibu duduk di sampingnya, ia melihat dan meraba-raba telapak tangan yang tampak kasar karena beberapa waktu ini harus mencuci pakaian tanpa mesin. Tak jauh dari situ, adikmu yang berumur sepuluh tahun sedang membuat garis abstrak di tanah dengan kayu kecil secara sembarangan. Kemudian ia menghapusnya dengan menggosokkan tangannya ke tanah, berulang-ulang tanpa bosan. Di sekitar taman, beberapa orang berjalan sambil membawa bunga, sebagian berhenti sejenak sebelum kembali berjalan. Angin sesekali membawa aroma tanah yang lembap dan bau bunga segar.
“Kakak!” teriak adik ketika melihatmu. Suaranya begitu cempreng sampai kau ingin menyumpal mulutnya.
Kau buru-buru menoleh sekitar, khawatir suara adikmu mengganggu orang yang sedang berlalu-lalang. Namun, tidak ada yang bereaksi. Mereka terus berjalan dan bercakap-cakap, seolah tak ada suara yang barusan pecah di antara mereka.
Dengan napas sedikit terengah-engah, kau duduk di samping ibu. Beberapa saat tidak ada percakapan di antara kalian.
“Kak, kok lama banget? Ayah dan ibu juga. Tadi adik sampai taman duluan, untung nggak nyasar, loh.”
“Pintunya susah dibuka,” jawabmu cepat, malas memperpanjang.
“Maklum rumah baru. Nanti juga kamu terbiasa,” ucap ayah sambil menatap lurus ke depan.
Ibu menoleh ke arahmu, ia tersenyum kecil tanpa berkata apa-apa.
“Ayah, hari ini kita ke mana?” tanya adikmu antusias.
Ayah menarik napas sedikit dalam. “Kita di sini dulu.”
Wajah adikmu yang tadi begitu antusias seketika berubah murung. Bibir yang mulanya tertarik ke pipi kini maju sekitar lima sentimeter. Lalu ia mengambil batu kecil di dekat kakinya dan melemparkannya sembarangan. Kau sudah tak heran melihat suasana hatinya berubah-ubah secepat kilat.
Ia pernah menangis karena kau pergi jalan-jalan tanpa mengajaknya. Ia mengurung diri di kamar, menolak untuk berbicara, dan bahkan tidak mau melirikmu. Namun, semua itu hilang begitu saja saat kau memberinya boneka dan sebungkus permen.
Minggu pagi di rumah kalian selalu dimulai dari dapur. Ibu sudah berdiri di sana sejak awal, satu tangan mengaduk nasi goreng, tangan lain memindahkan telur ceplok ke piring, sementara suaranya memanggil kalian berulang kali, lebih keras dari alarm ponsel mahal sekali pun. Ibu bergerak dari kanan ke kiri, depan ke belakang, dan sebaliknya. Gemercik air, minyak mendesis, spatula beradu dengan wajan, piring dan sendok bernyanyi, dan bau harum masakan perlahan menyebar ke seluruh ruangan hingga ke rumah tetangga. Katanya, aroma masakan ibu mengalahkan parfum yang baru saja disemprotkan ke pakaian.
Sementara itu, ayah duduk di ruang tengah. Ia menyeruput kopi lalu membolak-balik koran. Sesekali ayah menggerutu dan geleng-geleng kepala membaca berita di koran, seolah-olah memang tidak ada berita yang membawa kabar baik.
Adikmu baru mau keluar kamar kalau ayah yang menjemputnya. Dengan wajah masih mengantuk, belek menempel di mata, dan rambut acak-acakan, ia langsung menyuap nasi goreng buatan ibu dengan lahap. Kau hanya bisa melihatnya sambil bergidik.
“Ayah, Ibu, Kakak…” suara adik menarikmu kembali ke taman. “Kalau waktu itu kita nggak maksa jalan-jalan, sekarang kita bisa ke kolam renang, mandi bola, jajan es krim, beli boneka, ya?” tanyanya pelan.
Kau mematung kaku mendengar pertanyaan adikmu. Angin lewat seolah membawamu pada kejadian hari itu. Alunan musik Kita dari Sheila on 7 menemani kalian di perjalanan. Semua tampak baik-baik saja meski dengan berbagai kesibukan. Ayah menyetir sambil bercakap-cakap dengan ibu. Kau sibuk membuka berbagai layar di tablet untuk memastikan pekerjaanmu selesai. Sementara adik, ia sibuk bermain gim Subway Surfers, sesekali berteriak kecil saat tokoh yang dimainkan menabrak kereta. Kemudian sesuatu datang dari belakang tanpa aba-aba. Tidak ada waktu untuk menoleh atau bertanya. Sesuatu bergerak sangat cepat hingga semua terasa bergeser dari tempat yang seharusnya.
Air matamu terjun begitu saja. Di sampingmu, ibu membungkuk, tubuhnya bergetar. Ayah memeluk kalian lebih erat dari biasanya, seolah tak ingin melepas pelukannya. Baru kali pertama kalian menangis dalam pelukan.
Langit sore berawan mendung menghampiri, seakan berbelasungkawa. Ayah melepas pelukan dengan enggan. Lalu ia bangkit dari kursi.
“Langit makin gelap. Sebelum hujan datang, mari kita pulang menuju rumah masing-masing.”
_______
Penulis
Siti Fatmala, lahir di Tangerang, 2 Mei 2004. Karyanya berupa puisi, esai, cerpen tersebar di Google Drive milik pribadi. Saat ini sibuk sebagai mahasiswa semester akhir yang tidak punya arah dalam menulis skripsi.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!