Sunday, May 17, 2026

Cerpen Abror Y Prabowo | Boneka Hitam Corzo

Cerpen Abror Y Prabowo



Aku terjebak dalam kubangan darah. Bau amisnya begitu menusuk. Seolah menggenang tepat di lubang hidungku. Di atas meja kaca yang pecah, sebatang jarum suntik masih melekat di ujung nadi seorang lelaki. Matanya terbuka. Bibirnya menyeringai seperti senyuman bayi yang baru saja terlepas dari puting susu ibunya. Tapi dada itu sudah tak bergerak lagi. Tak ada napas. Tak ada sisa hidup.


Aku bergegas menyentuh bibirku. Lipstikku masih utuh. Seharusnya aku sudah mati sejak tadi. Tapi mungkin malaikat maut sedang malas mengangkut dua nyawa sekaligus, sehingga ia pilih meninggalkanku. Atau barangkali, ia sedang ingin bermain-main terlebih dahulu sebelum benar-benar mencabut selembar nyawaku.


Aku tersentak saat pintu tiba-tiba digedor. Suara sepatu-sepatu berat terseret di lantai. Sesosok tubuh besar seketika berdiri tepat di ambang pintu. Pandanganku masih belum sepenuhnya terbuka. Luka lebam bersarang tepat di bawah kelopak mataku. Tapi aku bisa dengan mudah memastikan. Dari caranya menghempaskan asap cerutu, aku tahu, ia adalah Corzo. Suami tercintaku. 


“Kau masih hidup rupanya?” suaranya terdengar lebih mirip tekanan ketimbang ungkapan kekhawatiran. Tapi aku tak menolak dengan apa pun yang ia katakan. Aku sudah terbiasa dengan perangainya. Aku tahu persis bagaimana caranya berkata-kata. Bahkan kalimat-kalimat yang jauh lebih buruk dari itu pun sudah terlampau sering kuterima.


Aku terdiam. Hanya ada dua pilihan sekarang. Berkata jujur dan mati di tangannya. Atau berbohong dan tetap mati di tangannya dengan cara lebih pelan. 


“Aku tidak tahu, Corzo.” 

Tak ada jawaban lain yang bisa kusampaikan kecuali mengatakannya demikian.  Kulihat ia mendengus sembari menyemburkan asap cerutu. Matanya menatap ke arah mayat Rozando Sobre yang tergeletak di atas meja dengan beberapa luka tusuk di dadanya. Dengan sekali jentikan jari, ia memberi isyarat kepada salah seorang anak buahnya untuk memeriksa mayat itu. Sementara ia sendiri tetap mengawasi dari tempatnya berdiri. Setelah beberapa saat, seorang anak buah itu lantas membalas dengan isyarat kedua tangan tersilang. Sebuah tanda bahwa nyawa di tubuh telah melayang. 


Ah, Rozando Sobre, seorang cecunguk yang paling dibanggakannya, sekaligus paling rakus. Setiap sentuhannya kurasakan bagai duri yang menancap. Dingin. Pedih, sekaligus memuakkan. Aku ingin tertawa, tapi dadaku terasa sesak. 


Di hadapanku, Corzo mendesah. Ia melangkah ke arahku dengan pandangan dingin dan menusuk. Dalam sekejap, tangannya yang kasar telah mencengkeram erat daguku. 


“Siapa yang membunuhnya?” 


Suaranya terdengar pelan tapi terasa sangat mengancam. Dengan posisi rahang yang masih berada di dalam cengkeramannya, aku menikamkan tatapan padanya. Sesaat pandangan kami beradu. Aku ingin berteriak, bahwa dunia inilah yang telah membunuhnya. Atau mungkin sedikit berpura-pura melengkingkan suara sembari meneteskan air mata lalu berkata dengan nada terbata-bata, bahwa lelaki itu telah membunuh dirinya sendiri. Namun aku tahu, semua alasanku tak akan pernah bisa diterima. 


“Aku tak tahu,” jawabku sambil menahan rasa takut yang merayap di jantungku.


Mendengar jawabanku, dengan segera ia melepaskan cengkeramannya dan mendorongku ke sofa. Lantas secepat kilat ia menarik pistol yang terselip di balik jasnya yang mengkilap. Aku menutup mata. Kurasakan sepucuk besi dingin itu melekat tepat di keningku. Aku tak ingin melihat. Aku tak ingin menyaksikan takdirku berakhir dengan begitu buruk. Kupejamkan mataku rapat-rapat. Namun suara tembakan tak juga meledak. Saat aku perlahan membuka mata, Corzo telah pergi. 


Tak lama, pintu sudah didobrak lagi. Kali ini tiga orang anak buahnya berperawakan tinggi besar datang. Tak sedikit pun dari mereka mengurai senyuman. Mereka mengangkat tubuh Rozando Sobre dari atas meja. Lalu memasukkannya ke dalam kantong hitam. Membawa pergi dengan sebuah troli seperti yang banyak dijumpai di supermarket. 


Mataku melata memandang ke langit-langit. Di luar jendela cahaya senja memucat. Dari ketinggian lantai tujuh belas apartemen, mobil-mobil yang merayap di jalanan kulihat seperti berjalan sangat lambat. Apakah sebaiknya aku melompat dari ketinggian ini dan mati mengenaskan? Entahlah. Di mataku, senja semakin tampak muram bagai selembar kain kelabu yang dibentangkan. Aku menghela napas dan membiarkan semua cahaya berlalu. 


***


Dunia tak pernah memberiku banyak pilihan, kecuali ketidakberdayaan dan kehampaan dalam jiwa yang terasa kian kerontang. Sejak kecil, sejak kedua orang tuaku tewas berpelukan di dalam kamar, aku sudah menuntun diriku sendiri menyusuri lorong-lorong gelap kota ini. Kubiarkan diriku bersekutu dengan sampah dan debu. Dan saat beranjak dewasa, entah berapa lelaki yang telah melumatku. Aku tak ingin mengingatnya lagi.


Keindahan yang kubayangkan dengan menerima pinangan Corzo justru membuatku meringkuk tak berdaya di dalam istananya. Lambat laun aku kehilangan diri sendiri dan merasa tak lebih sekadar boneka hitam baginya. Ia begitu meyakini bahwa cinta adalah kepemilikan mutlak. Kesetiaan tak ubahnya ketundukan tanpa syarat. 


Kulihat pintu apartemen masih tertutup rapat. Tapi aku tahu, tak lama lagi ia pasti kembali. Aku sangat paham bagaimana caranya berpikir. Ia tak akan pernah membiarkanku begitu saja hidup tanpa hukuman. Barangkali, di tepi jendela istananya, ia sedang menyusun rencana untuk menggelar upacara bagi kematianku. 


Aku bergegas meraih jaket kulit hitam yang tergantung di balik pintu. Tak lupa kuselipkan sebilah belati ke dalam saku. Aku tak tahu harus menuju ke mana. Namun satu hal yang pasti, aku tak boleh terlalu lama tinggal di sini. 


Aku melangkah keluar. Udara malam menyapu wajahku. Langit tampak seperti kanvas yang dipenuhi coretan arang berwarna hitam. Jalanan lengang. Hanya sesekali kendaraan melaju kencang meninggalkan jejak suara aneh di belakang. Lampu-lampu redup. Beberapa tak henti berkedip-kedip. 


Aku menyusuri lorong gelap dengan langkah cepat. Aroma kencing dan bau bacin menyeruak. Aku butuh tempat berlindung sementara. Atau mungkin sekadar ruang gelap untuk menampung cerita. Dan aku tahu, ada seseorang yang tinggal di pinggiran kota. Kuharap ia masih peduli padaku. 


“Kau merasa terbuang dari duniamu yang gemerlap, Sonya?” 


Aku tersenyum melihat lelaki tua itu masih ada. Sosoknya masih sama. Tubuhnya terlihat semakin renta dari sebelumnya tapi sama sekali tak mengurangi keramahannya kepada siapa saja. 


“Aku merindukanmu, Qreny. Kupikir kau sudah mati dimangsa anjing-anjing jalanan.” 

“Mendekatlah kemari.”


Ia melempar gelas-gelas kertas bekas kopi ke dalam kobaran api yang menyala di tong sampah. Setelahnya kulihat ia duduk mendekati api itu seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengusir hawa dingin yang mengendap.


“Sudah tidak ada anjing di sini. Mereka semua sudah habis kumakan,” katanya seraya terkekeh. Bayangan tubuhnya yang bungkuk berguncang-guncang dalam terpaan cahaya. Ia beringsut membuka sedikit ruang agar aku bisa duduk di sampingnya. Ia tampak masih asyik membolak-balik telapak tangan di atas tong sampah yang terbakar. Di tengah malam di kota ini, orang-orang di sepanjang jalan sering kali menggunakan cara ini untuk mengusir hawa dingin. Tanpa sadar aku pun mengikutinya. Kurasakan kehangatan perlahan mengalir. 


Di lorong inilah aku tumbuh. Bersahabat dengan tikus dan kecoa. Siang hari aku bekerja di sebuah restoran cepat saji. Dan setelah senja pergi aku bekerja menemani para lelaki menenggak whisky atau sekadar bir di klub-klub malam. Di sanalah aku bertemu Corzo yang lantas membawaku ke dalam kehidupannya. Kehidupan yang sesngguhnya tak lebih terang dari kehidupanku sebelumnya. 


Sebuah apartemen mewah dibelinya secara khusus untukku di pusat kota agar sewaktu-waktu bisa mengunjungiku. Ia memintaku untuk memanggilnya suami. Tapi celakanya tak sekali pun ia pernah menggauliku. Ia hanya memperlakukanku serupa boneka. Dihias. Disentuh. Tapi tak pernah benar-benar dimiliki. Setiap kali ia puas bermain-main, berikutnya ia akan memanggil orang lain untuk menggantikannya. Sementara ia sendiri duduk menonton dari atas sofa. Ah, sungguh di dalam dunianya yang pincang, aku hanyalah boneka mainan yang bisa diaturnya begitu rupa.


Sering aku justru merasa iba padanya. Tapi aku tak pernah berani mengatakannya. Aku hanya diam dan membayangkan, bahwa ia sendirilah yang telah menuntaskan segala percumbuan. Sampai akhirnya aku menjadi terbiasa dengan pergumulan yang ganjil. Mungkin karena itulah, ia memiliki banyak anak buah. Hampir semua dari lelaki yang menjadi pembantunya memiliki ciri dan bentuk tubuh yang sama. Berperawakan besar dan kekar. Selain membantu urusan bisnisnya, tentu juga demi membantunya dalam urusan lain. 


***


Hari ini adalah hari ketiga pelarianku. Terpaksa aku benar-benar harus meninggalkan kota keparat ini ketika kutemukan tubuh Qreny telah meringkuk di dalam bak sampah dengan tubuh bersimbah darah. Aku tak sempat menangis, kecuali segera menuju stasiun dan melompat ke dalam kereta. Aku hanya ingin segera pergi sejauh-jauhnya meninggalkan neraka. 


Sepanjang perjalanan aku merasa seolah semua mata menatapku. Aku merasa mereka seperti mengenaliku. Apakah mereka memang anak buah Corzo? Ah, tidak mungkin semua orang di kota ini adalah orang-orang bayaran Corzo, pikirku. 


Sesampai di kota terakhir, tepat setelah langit benar-benar gelap sempurna, aku melangkah keluar menuju deretan penginapan kumuh yang tak jauh dari stasiun. Resepsionisnya, seorang wanita tua dengan mata cekung dan bibir yang selalu mengapit sebatang rokok. Ia menyerahkan kunci kamar kepadaku dengan mimik wajah yang tampak keras dan kaku.


"Kamar nomor dua belas. Samping tangga." ucapnya singkat tanpa menatapku.


Di kamar sempit berdebu dengan bau toiletnya yang busuk, aku menyalakan lampu. Cahayanya yang redup menciptakan bayangan tubuhku serupa makhluk aneh di dinding. Sebuah cermin retak menempel di sudut ruangan. Aku berkaca. Wajahku masih tampak sama. Namun bekas luka lebam di bawah kelopak mata membuatku sedikit tampak berbeda. 


Sejenak aku terkenang kembali pada pertemuan pertamaku dengan Corzo. Sebelumnya aku tak pernah tertarik dengan lelaki. Aku hanya bekerja menemani mereka minum lantas menerima bayaran. Itu saja. Tapi rasanya, Corzo berbeda. Ia sama sekali tak pernah menyentuhku. Hanya berbincang, seraya menenggak berbotol-botol minuman. Berkali-kali aku harus lari ke toilet untuk menusuk rongga mulutku sendiri dengan telunjuk. Membiarkan segala cairan di dalam perut tumpah dan larut ke kloset. 


Sejak saat itu aku sering bertemu dengannya di tempat yang sama, pada jam-jam yang juga kurang lebih sama. Ada kerinduan merayap tatkala ia tak tampak bertandang. 

Membuatku kehilangan gairah untuk menemani lelaki lainnya. Ingin aku meneleponnya, tapi aku tak pernah tahu bagaimana cara menghubunginya. Ia selalu menolak saat aku meminta nomor telepon padanya. 


“Tidak perlu kau mencariku. Aku yang akan datang padamu,” ujarnya. 


Dan benar saja, ia selalu datang tanpa pernah memberi tahu. Aku menyambutnya seperti seorang kekasih yang telah begitu lama merindu. Selanjutnya seperti biasa, bersamanya aku tenggelam dalam botol-botol minuman yang terkadang memicu keliaranku. Aku ingin ia bergerak melumat bibirku, menggigit leherku, atau menyeretku ke dalam pelukan dan menggelepar dalam desahan. Tapi ia tak pernah melakukan.


“Kau mencintaiku?” tanyaku saat ia memintaku menjadi istri simpanan.


Ia tersenyum tipis. 


“Tak ada yang bisa memisahkan kita, kecuali kematian,” katanya.


Seketika aku merasa bagai terbang di langit. Melayang-layang. Mengambang bersama bintang-bintang yang bertebaran. Kata-katanya terasa membuaiku dalam bayangan keindahan. Menghantui hingga aku pura-pura mengangguk malu menerima permintaannya itu. Ia membawaku tenggelam dalam janji yang akhirnya terlambat kusadari. Rupanya aku tak pernah memiliki ataupun dimiliki. 


Lalu tiba-tiba saja Rozando Sobre mendobrak pintu apartemenku. Wajahnya begitu haus dan sungguh keparat. Sebelum aku sempat berteriak, hantaman tangannya yang besar lebih dulu mendarat di wajahku. Membuatku terpental dan kehilangan setengah kesadaran. Selanjutnya sebilah belati melekat di leherku. Kurasakan napasnya yang busuk mendengus-dengus serupa anjing. 


“Sekali kau berteriak, nyawamu melayang, Manis.”


Setelah selesai, ia segera duduk di atas meja. Mengikat salah satu lengannya dengan tali pinggang dan menyuntikkan cairan ke dalam nadinya. Di saat itulah aku menemukan peluang. Sebilah belati yang tergeletak kusambar dan segera kutancapkan berulang-ulang ke tubuhnya. Darah membuncah. Menggenang di lantai. Dan satu tikaman terakhir di dadanya berhasil membuatnya rebah. Jarum suntik masih melekat di lengannya. 


Mendadak ketukan keras di pintu mengguncang keheningan. Dadaku berdetak. Aku meraih belati dari dalam saku jaket. Aku harus bersiap dengan segala kemungkinan buruk. Begitu pintu kubuka, sebuah hentakan keras melemparkanku ke lantai.


“Kau pikir bisa lari dariku?” 


Belati terlempar cukup jauh. Corzo melangkah pelan seolah malaikat yang datang mengabarkan kematian. Tangannya begitu kuat mencengkeram. Membuatku kesulitan bernapas. 


“Aku tidak takut mati, Corzo. Aku bukan bonekamu lagi. Aku mau bebas!”


Dia mendekatkan wajahnya. Segaris senyum terasa sinis. Bengis. 


“Kau tidak akan pernah bebas.”


“Aku rela mati untuk kebebasanku sendiri.”


“Walau tubuhmu bernapas, tapi sebenarnya kau sudah mati.” 


Kudengar Corzo tertawa. Tawa yang terdengar sangat pahit. Tapi apa yang diucapkannya memang benar. Tak ada lagi jalan kebebasan untukku. Aku hanyalah mayat hidup yang berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dan pengap. Kemana pun aku pergi, aku akan selalu kembali padanya lagi. Berharap ia mencumbuku sembari membiarkannya menusukkan jarum suntik menembus kulitku. Membuatku melayang dengan sayap boneka berwarna hitam. Melenggang di langit. 


Saat aku kembali meringkuk di balik dinding apartemen lantai tujuh belas, sepasang mata malaikat berkilat. Mungkin ia tengah menunggu saat yang tepat untuk mencabut nyawaku yang sejatinya telah sekarat. 


Aku tersenyum. Bersiap menyambut kebebasanku.


Yogyakarta, 2024


______


Penulis 


Abror Y Prabowo, lahir di Gunung Kidul, 15 Desember 1978. Menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Terlibat aktif di Kelompok Sastra Pendapa Yogyakarta dan Teater Kita. Menginisiasi berdirinya komunitas Ketika Teater Indonesia pada 2025 di Yogyakarta dengan menulis naskah monolog “Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja”. Menulis karya sastra berupa puisi, cerpen dan naskah drama, juga artikel seni-budaya yang dimuat di Kompas, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Suara Merdeka, Majalah Gong, juga beberapa media online.  Beberapa karya cerpen terangkum dalam buku antologi bersama. Buku antologi tunggal karya naskah dramanya adalah “Karikatur dari Negeri Retak” terbitan Araska Publisher dengan kata pengantar Indra Tranggono (sastrawan Indonesia) dan Raudal Tanjung Banua (sastrawan Indonesia). Buku antologi naskah drama lainnya, “Lolong Gincu Sih” terbitan Akar Indonesia. Hingga sekarang penulis banyak terlibat aktif dalam proses kreatif teater, baik sebagai aktor, sutradara ataupun penulis naskah dan juga kegiatan sastra. Selain aktif di bidang seni dan budaya, saat ini juga bekerja sebagai wirausaha di Yogyakarta.


Kirim naskah ke

redaksiingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!