Cerpen Latatu Nandemar
Dengan wajah yang terbebani sebuah ingatan, Rusmana melipat pakaian dengan tangan gemetar, seolah setiap helai menyimpan ingatan yang tak ingin ia buka kembali. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Sangat tidak baik-baik saja.
Ingatan lelaki itu masih mengendap dalam kubangan memori belasan tahun yang lalu.
“Kau bisa memilikinya selama delapan belas tahun. Setelah waktunya tiba, aku akan kembali mengambilnya, dan kau tidak bisa memilih!” Seorang dukun tua dengan kulit legam kering berbicara kala itu. Bewok dan janggut lebatnya bergerak turun-naik mengikuti irama suaranya setiap ia melempar kata demi kata.
Rusmana seperti tak mau menyanggupi persyaratan dari dukun tua penuh mistik yang duduk bersila dengan tenang di hadapannya. “Setidaknya kau akan pernah merasakan memilikinya, dan delapan belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Itu adalah waktu yang sangat panjang.” Kembali dukun tua itu berucap dengan wajah tetap datar dan nada skeptis. Seakan sengaja menunjukkan dominasinya.
“Tapi, saya ingin memilikinya lebih dari belasan tahun, Ki. Saya ingin memilikinya lebih dari itu.” Rusmana meminta dengan setengah membungkuk dalam duduk.
“Kalau begitu, pergilah! Kau tak akan mendapatkan apa pun dengan memaksakan keinginanmu!” dukun tua itu seakan tak mau peduli dengan perasaan yang kini tengah menekan Rusmana.
“Baik, Ki.” Rusmana berucap dengan sangat terpaksa. Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisi uang dengan jumlah yang sangat besar dari tas hitamnya.
Dukun tua itu menerima dengan sebelah kiri tangannya. Sangat tidak sopan, memang, tetapi Rusmana adalah lelaki yang sedang memiliki satu keinginan besar, ia tak bisa apa-apa dengan penghinaan itu selain menerimanya.
Padahal, Rusmana adalah seorang kepala manajer di sebuah perusahaan alat berat, dengan wibawa serta jabatannya, tentunya dia adalah sosok yang sangat disegani juga dihormati. Tetapi di hadapan dukun tua itu, Rusmana seperti cacing di ujung sepatu, tak berharga dan layak untuk diinjak.
Wajah dukun tua itu tetap saja datar tanpa ekspresi, seolah uang itu bukan sesuatu yang berarti.
“Dua bulan lagi kau akan mendapatkan hasilnya,” Dukun tua itu mengulang kembali kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. “Istrimu akan segera mengandung anakmu. Ingat perjanjian ini, tepat delapan belas tahun usianya nanti, dia akan kuambil. Aku akan mengambilnya bisa di mana saja, bisa dengan cara apa saja! Semuanya tak akan pernah bisa kau duga!”
Rusmana sebenarnya masih ingin berbicara, masih belum puas dengan permintaan dan pertanyaan, tetapi nada bicara dukun tua itu seakan sudah mengakhiri pertemuan. Rusmana tak memiliki pilihan lain selain pamit.
Rusmana sudah menikah cukup lama, tetapi masih belum mendapatkan anak satu pun juga. Istrinya sudah mau menerima keadaan ini, tetapi tidak dengan dirinya. Harapannya tentang memiliki anak masih sama kuatnya dengan masa ketika masih awal-awal menikah dulu.
Dua pekan setelah menikah, dia banyak mengeluarkan uang untuk membeli perlengkapan bayi sebagai persiapan nanti, tetapi yang ditunggu tak kunjung datang, tak juga hadir. Yang terus-menerus hadir adalah siklus periodik bulanan istrinya yang menandakan bahwa tak ada pembuahan.
Tetapi dia masih tak menyerah. Gumpal-gumpal harapnya semakin memadat dan membesar. Dia ingin memiliki anak.
Segala informasi tentang pengobatan dia cari. Sebagai orang terdidik, nalar akalnya tetap memilih pengobatan yang menggunakan metode medis. Namun, lama-lama nalarnya sebagai manusia modern yang memiliki ijazah pendidikan tinggi, tergerus oleh rasa putus asanya.
Hingga akhirnya, sampailah dia pada dukun tua penuh mistik di sebuah kampung yang memang sangat minim sekali tersentuh cara hidup menggunakan teknologi. Dia menaruh harapan tinggi pada dukun tua itu.
Dua bulan penantian dengan penuh harap, sejak pertemuannya dengan dukun tua itu, akhirnya membuahkan hasil. Siklus periodik bulanan istrinya terputus. Lelaki itu senang bukan kepalang. Rasa senangnya semakin lengkap seiring dengan hasil tes kehamilan pada dokter spesialis kandungan menyatakan istrinya positif hamil.
Dan berbulan-bulan kemudian lahirlah bayi yang telah ia nantikan itu. Seorang bayi perempuan mungil dan lucu itu menghidupkan rumah tangganya. Bayi itu ia jaga dengan penuh cinta, dengan seluruh rasa yang ia punya. Dengan segala kematangan materi yang telah lebih dulu ia raih, Rusmana sama sekali tak kesulitan untuk mencukupi kebahagiaan keluarga kecil di rumah besarnya itu.
Tetapi, kebahagiaannya selalu memudar setiap tahun. Setiap kali ia merayakan ulang tahun putri satu-satunya itu, ia merasa seperti ada sebongkah batu yang bergelayut memberati perutnya. Setiap kali angka lilin perayaan ulang tahun anaknya bertambah, maka setiap itu pula kadar kebahagiaannya berkurang. Jantungnya seolah dihancurkan secara perlahan.
Hingga akhirnya ia sampai pada hari yang sangat ia takuti itu. Lilin di atas kue ulang tahun putrinya telah bertambah menjadi angka delapan belas, itu artinya perjanjian antara dia dengan dukun tua itu telah berakhir hari ini.
Istrinya yang tak tahu menahu tentang perjanjian antara Rusmana dengan dukun tua itu masih tetap tak mengetahui apa-apa. Rusmana memutuskan merahasiakannya karena Rusmana sudah tahu akan seperti apa reaksi sang istri nantinya.
Dia hanya mengatakan bahwa dia ingin mengajak putrinya keluar berdua saja dan akan memberikan sebuah kejutan sebagai hadiah ulang tahun yang teramat spesial. Istrinya tak menaruh curiga.
Rusmana ingin mempertahankan kebahagiaannya. Dia memutuskan membawa anaknya lari ke tempat yang menurutnya aman. Dan dia sedang mempersiapkannya.
“Kita akan ke mana, Ayah?” putrinya masih belum tahu apa-apa sama sekali tentang pelarian untuk menghindari perjanjiannya dengan sang dukun tua. “Kita akan pergi ke suatu tempat.” Rusmana menjawab dengan nada ceria yang berhasil menutupi getir perasaannya.
Hatinya hancur. Dia tak siap menyampaikan rahasia yang selama ini ia pendam. Dia tak siap memberi tahu istri dan putrinya itu bahwa dia lahir dan dibesarkan seolah hanya menunggu untuk disembelih.
Sore hampir pamit pergi. Langit mulai menuju malam. Rusmana telah mempersiapkan segalanya.
Dia memanggil anaknya. Kemudian pamit kepada istrinya yang sama sekali tak menaruh curiga apa pun. Dia bawa segala perbekalan yang tadi sudah disiapkan. Rusmana akan pergi ke vila miliknya yang berada di luar kota. Tempat yang sebenarnya dia sendiri ragu apakah aman atau tidak.
Begitu kendaraan mulai keluar gerbang rumah, barulah Rusmana kehilangan kendali ketenangan yang ketika di rumah tadi selalu ia jaga. Di dalam mobil mewah miliknya, dia terlihat sangat gelisah. Anaknya heran, tetapi memilih diam, khawatir mengganggu konsentrasi sang ayah yang sedang melajukan kendaraan dengan begitu tak biasa.
Rusmana seperti merasakan kehadiran dukun tua penuh mistik itu di mana-mana. Matanya seolah melihat wajahnya terus menerus. Rasa takut itu membuatnya semakin tak sadar dengan cara dia mengendarai mobilnya.
Tepat ketika pandangannya melihat angka 18 pada rambu patok kilometer di kiri jalan tol, angka yang sangat tak ingin dilihatnya, Rusmana kembali teringat pada keselamatan putrinya. Dia semakin khawatir dengan putrinya yang berusia 18 tahun dan tengah berada di akhir perjanjian dengan dukun tua itu.
Penampakan angka itu membuat Rusmana semakin kehilangan konsentrasi.
Dan, selang detik berikutnya... Sebuah teriakan panjang putrinya memenuhi setiap jengkal ruang kendaraan itu.
Selanjutnya kendaraan itu menghantam beton pemecah arus lalulintas jalan yang berjajar dengan kecepatan yang terlalu tinggi dan menghancurkan bagian kiri depan mobil Rusmana, di mana putri yang ingin ia selamatkan itu duduk. Mobil tersebut terguling dengan benturan cukup keras.
Rusmana masih memiliki sisa kesadaran ketika melihat kondisi putrinya yang luka-luka dibalut darah sudah diam tak bernyawa. Sebelum jatuh pingsan, Rusmana teringat pada ucapan dukun tua itu belasan tahun yang lalu.
“Aku akan mengambilnya bisa di mana saja, bisa dengan cara apa saja, semuanya tak akan pernah bisa kau duga!”
Selang beberapa detik setelah itu, Rusmana jatuh terkulai diam.
Angka itu tak lagi terlihat, tetapi janji yang coba ia ingkari itu telah lunas.
______
Penulis
Latatu Nandemar, pengajar di sebuah sekolah yang lebih suka mengolah kata daripada mengolah data.
Kirim naskah ke
redaksiingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!