Cerpen Rosul Jaya Raya
Lelaki itu sadar bahwa dia tokoh di dunia apokaliptik ciptaanku. Aku, pengarang yang menciptakan lelaki itu, juga adalah tokoh dalam cerita pengarang lain. Pengarang lain yang menciptakanku, juga adalah tokoh dalam cerita pengarang lainnya. Sampai seterusnya dan seterusnya. Sampai pada pengarang tunggal yang (disebut Tuhan dan) jadi sumber segala penciptaan.
Mustahil kalau pola penciptaan itu bagai rantai makanan makhluk hidup: maksudnya, lelaki yang terjebak sebagai tokoh cerita di dunia apokaliptik ciptaanku itu adalah pencipta dari pengarang tunggal yang pertama kali menciptakan sesuatu. Seandainya begitu, maka pengarang tunggal ini bukan entitas awal yang menciptakan sesuatu. Adakah perkara yang tak ada permulaan?
Mustahil kalau pola penciptaan itu tanpa garis finis sebuah ujung: maksudnya, tak ada pengarang tunggal yang pertama kali menciptakan sesuatu karena saban pengarang terus sambung-menyambung diciptakan oleh pengarang lainnya. Bukankah tiap yang punya permulaan sudah tentu punya akhir? Adakah perkara yang tasalsul begini?
***
“Anjing! Keluarkan aku dari dunia ini.” Tentu tertebak bahwa lelaki itu mengumpatiku, pengarangnya sendiri. Meski pada dasarnya, Frankenstein ciptaanku itu punya kehendak bebas, sebenarnya tingkah-lakunya di bawah kendaliku. Tabir pengetahuannya yang terbuka bahwa dia adalah tokoh cerita yang aku ciptakan adalah takdir yang aku berikan padanya.
Aku juga tahu kedumelan yang terus berdenyaran di hatinya. Dia berharap hidup di masa ketika dunia tak kacau-balau. Padahal tak ada masa di mana dunia akan terus damai. Manusia akan terus membentuk kubu-kubu untuk saling berak-memberaki. Mereka akan menang ketika berhasil memampuskan saudaranya sendiri, lalu jongkok di atas mayat saudaranya lalu meloloskan tahi ke jasad itu. Secara tak langsung, manusia adalah kloset di mata manusia lainnya.
“Anjing tai! Enyahlah!” lelaki itu mengumpati orang gila yang melempari (dan tepat mengenai) bagian belakang kepalanya dengan botol kaleng bekas minuman 250 ml. Orang gila itu terpingkal-pingkal.
Alangkah asyik-masyuknya turut terpapar wabah gila seperti mereka, pikir lelaki itu. Dia merasa seperti dikelilingi zombi yang tak memangsa dirinya. Zombi-zombi gila itu, kendati tak membahayakan, tapi cukup menyebalkan. Dan lelaki itu justru ingin berubah jadi zombi seperti mereka. Dia yakin kalau orang-orang gila itu hidup bahagia di dunia halusinasinya di kepala masing-masing, kendati tampak dari luar bagai orang paling mengenaskan—lihatlah orang gila yang ke mana-mana dengan penis menantang dunia, alias dalam kondisi telanjang.
Mulanya, mendapati diri—sejauh yang lelaki itu temui selama ini—satu-satunya orang yang tak terinfeksi wabah gila itu, dia sangat sumringah. Merasa jadi pemimpin dunia karena punya kendali penuh atas orang-orang gila itu. Serasa hidup di Taman Eden, taman segala-puncak kenikmatan berada, karena bisa melakukan apapun sesukanya termasuk kencing atau merancap di tengah jalan.
Suatu pagi, lelaki itu terjaga di dunia yang tak pernah dibayangkan ketika matahari pagi menampar tubuhnya. Dia baru sadar kalau semalaman tidur di emper toko yang tutup. Tiga bulan kemudian dia akan sadar kalau dirinya subjek eksperimen seseorang: pengarang yang dia bayangkan sebagai lelaki yang punya muka selalu ngantuk dan hobi merancap dan bukan rekan yang cocok untuk diajak ngobrol berlama-lama karena pasti lelaki itu membosankan—anjing, dia meledekku.
“Anjing lapar, perutku bunyi.”
Dia beranjak dari sana, membawa badannya dengan malas untuk menatap dunia yang, pikirnya, pasti dikuasai kaum kapitalis pemilik modal yang lebih cocok ditendang ke alam baka. Mana mungkin kere sepertinya akan dimakmurkan oleh mereka? Sampai dia menatap keanehan-keanehan itu menumpuk di depan matanya. Dunia ini mampat seperti air comberan yang alirannya dipenuhi sampah-sampah, yang dimaksud sampah-sampah itu adalah orang-orang yang telah berubah jadi gila.
Lelaki itu menuju Indomaret. Tepat ketika dia sudah melewati pintu kaca, dia menatap pegawai perempuan Indomaret yang bertelanjang dada sedang tertawa-tawa sendiri. Sebenarnya dia ngeri, tapi pada saat yang sama timbul hasrat iblis ketika menatap payudara mengilat. Senoktah liur menetes dari bibirnya. Perutnya bunyi, dan sekonyong-konyong senyumnya mengembang sangat lebar seolah bisa merobek sudut bibirnya.
“Aku bebas mengganyang semua yang ada di sini, hahaha!” suaranya cukup nyaring.
Dia menyantap beberapa panganan di sana sampai kenyang: Sosis Yummy Choice, Dimsum, Onigiri, Nasi Goreng Hongkong, Bakpau, dan minum dua botol Coca-Cola. Lalu dia mendekati perempuan pegawai Indomaret itu.
“Apa? Mau apa kau? Hahaha.”
“Bolehkah aku menidurimu?”
“Hahaha.” Hanya tertawaan yang selanjutnya muncul dari sang perempuan. Bahkan ketika tubuhnya ditindih berkali-kali oleh lelaki itu. Tanpa sejumput pun mendedahkan perlawanan. Meski mulanya, lelaki itu ngeri terpapar jadi gila juga, tapi payudara dan leher dan wajah cantik perempuan itu demikian menggoda. Sebelum aku tak bisa merasakan kebahagiaan surgawi begini dalam kondisi sadar, barangkali esok atau satu jam ke depan aku sudah terinfeksi jadi gila lalu habis riwayatku, maka kesempatan tak boleh dianggurin, batin lelaki itu.
Nyatanya, esoknya dan keesokannya lagi, lelaki itu masih waras. Senyumnya terus mengembang sepanjang hari. Dua malam dia tidur di kasur empuk (yang fungsi pegasnya dia manfaatkan sebaik mungkin dengan cara melompat-lompatkan badan, termasuk dalam posisi tiduran), di dalam ruangan berpendingin di hotel bintang lima. Busana yang dikenakannya kaos dan celana seharga puluhan juta yang dia comot dari toko busana elite di mal (andaikan dunia baik-baik saja dan dia tetap seorang kere, mustahil penghasilannya seumur hidup yang sehari-harinya habis untuk urusan perut, bisa membeli pakaian itu). Tak lupa juga, sebelum mengatupkan matanya untuk pindah ke semesta mimpi, dia meniduri resepsionis dan tamu hotel yang montok.
“Apakah aku pernah punya idola?” tanyanya pada diri sendiri ketika dia sudah hidup selama sebulan lebih lima hari. Karena pemuda sinting di sisinya yang sedang menjilati bola sepak dan punya cita-cita menjadi Ronaldinho, tak akan mungkin menyahuti omongannya. Aneh sekali hidupku, aku tak tahu dari mana aku berasal, bagaimana masa laluku, dan tak ada seorang pun yang bisa aku ajak ngobrol, gerutunya. Kala itu, dia belum sadar bahwa dirinya terjebak di dunia apokaliptik ciptaanku.
Syahdan, dia ingat tiga hari yang lalu, matanya terpikat pada spanduk yang terentang di sisi jembatan layang penyeberangan orang, sebab menampilkan potret artis cantik yang memegang wadah bedak padat. Perempuan yang kulitnya seputih bubur sumsum dan bentukan wajahnya, dengan mata sipit, mirip-mirip wajah perempuan dari negeri Cina. Lantas, di bawah jembatan layang penyeberangan orang itu, dia membuka celananya lalu merancap dan mengerang senyaring-nyaringnya secara sengaja seperti erangan aktor dan aktris bokep.
“Aku akan meniduri artis itu, hahaha.”
Mata lelaki itu menembak motor Honda Scoopy yang terparkir di sisi lapangan. Ada mobil Toyota Avanza yang terparkir di sebelah motor itu. Andai aku bisa menyetir mobil, sudah pasti aku akan gonta-ganti memakai mobil ke mana-mana tiap harinya, celetuknya. Beberapa hari belakangan, dia telah mencoba mengendarai motor dan berhasil karena punya bekal bisa mengendarai sepeda. Lain kali dia berpikir hendak belajar mengendarai mobil.
Lelaki itu membuka iPhone Pro Max terbaru yang dia dapatkan dari rumah orang kaya sinting yang dua minggu lalu jadi tempatnya bermalam. Betapa terperanjatnya dia di sana, keesokan paginya, bangun tidur dengan kondisi basah kuyup sehabis disiram pemilik rumah yang selalu nyengir. Anjing kudis! Umpatnya. Dan ketika dia tengah berjalan menuju motornya, sekonyong-konyong wanita sinting yang diperkirakan sudah hidup separuh abad, terbirit-birit menujunya sambil berteriak-teriak: “Putraku! Putraku! Putraku!” lantas memeluk dia dari belakang. Anjing gila! Umpatnya.
“Lepaskan aku anjing gila! Aku bukan anakmu.” Dia mendorong wanita itu sampai terjengkang lalu sang wanita meraung-raung, “mengapa kau tega sekali pada Ibu! Putraku!” dia membiarkan wanita itu menangis histeris sendirian.
Selepas kelar berurusan dengan wanita itu, dia membuka Google Chrome lalu mengetik nama artis cantik, yang potretnya terpampang di spanduk jembatan penyeberangan jalan orang, pada laman pencarian. Tapi yang muncul justru kisah soal Ring of Gyges, Plato. Lelucon apa ini? Web Browser ini sudah eror? Muncul tanda tanya di atas kepalanya. Dia menyadari dirinya tak tolol-tolol amat. Buktinya dia bisa membaca dan mengoperasikan ponsel. Dia membayangkan: mungkin dulu aku pernah sekolah SD sampai SMP, lalu putus sekolah ketika SMA karena ayahku, yang seorang preman pasar, ditemukan mampus keracunan, lantas ibuku jadi pelacur untuk menyambung hidup lalu ibuku juga mampus di tangan seorang klien, yang adalah aparat negara, hingga sang pelaku dilindungi dari jerat hukum. Anjing tai!
Pada akhirnya dia membanting ponsel itu lalu menginjak-injaknya. Urung niat udiknya menuju kediaman sang artis untuk menidurinya. Dia ngeri membayangkan, mesin-mesin yang sudah tak dioperasikan oleh manusia (karena semua manusia sudah gila kecuali lelaki itu), mengevolusi dirinya sendiri lalu membasmi umat manusia karena sudah tak berguna. Atau umat manusia akan dijadikan budak untuk membangun peradaban baru: peradaban robotik, lantas beberapa manusia unik akan didepak ke kebun manusia—sebagai ganti dari kebun binatang—lantas para manusia ini juga bisa diperjualbelikan layaknya hewan peliharaan atau budak belian.
***
Selepas tiga bulan lamanya hidup begitu-begitu saja, sekonyong-konyong lelaki itu bagai nabi yang menerima wahyu dari malaikat. Dia dapat pencerahan dan menyadari, kalau dirinya hanyalah subjek eksperimen seseorang. Tak mungkin kiamat seperti ini. Kiamat wabah gila ini tak seperti kiamat yang dia ketahui dari ceramah guru ngaji yang pernah dia dengarkan ketika kecil. Sekonyong-konyong mencuat sekelumit ingatan masa kecilnya menginap di masjid dan tidur di dalam beduk agar menghindari salat subuh. Tapi kemudian dia mulai meragukan keyakinannya. Jangan-jangan guru ngajinya membual soal kiamat. Jangan-jangan guru ngajinya yang menerangkan kedetailan terjadinya kiamat diperoleh referensinya bukan dari kitab suci, tapi buku stensilan bergambar—seperti buku-buku siksa neraka dan nikmat surga.
“Hidup tanpa seorang pun sebagai teman, sebagai kekasih, sebagai keluarga, sebagai saudara, begini membosankan.”
Sekonyong-konyong dia teringat kisah yang pernah disampaikan guru ngajinya dulu, tentang manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Adalah Adam yang tampak murung selepas beberapa masa di Taman Eden, karena didera kesepian. Lantas Tuhan menciptakan Hawa sebagai teman sekaligus kekasih baginya. Tak ada bedanya denganku: manusia waras di samudera zombi-zombi gila, pikirnya.
Dia sering gabut mengajak ngobrol zombi-zombi gila itu. Menanyai mereka dengan ragam pertanyaan, dan sebagian besar, akan dijawab mereka dengan jawaban ngelantur tak nyambung. “Apa kau bahagia dengan hidupmu sekarang?”
“Bahagia sekali, hihihi. Sekarang aku akan bangun pagi bukan untuk pergi kerja, jaga hotel ini, jadi satpam, tapi bangun pagi untuk menaiki naga tiap hari keliling dunia, hihihi.” Jawab seorang satpam sinting di depan hotel.
Kali lain dia bertanya ke manusia gila lain. “Apa bagimu hidup ini membosankan?”
“Tidak tidak tidak. Selama pacarku ini masih menemaniku, hidupku akan baik-baik saja.” Dia melongo, karena pacar yang dimaksud pemuda sinting yang ditanyainya adalah seekor anjing peliharaan yang lehernya terikat tali tuntun hewan.
Dan seterusnya dan seterusnya. Lalu tabir pengetahuannya terbuka bahwa dia sekadar tokoh yang terjebak di cerita seorang pengarang—aku pengarang yang dimaksud. Maka muncullah perkataan sebagaimana di paragraf keempat: “Anjing! Keluarkan aku dari dunia ini.” Lalu muncul juga kedumelan-kedumelan sebagaimana di paragraf-paragraf selanjutnya—apalagi selepas mendapati kepalanya dilempar botol kaleng bekas 250 ml.
Syahdan, aku iba juga dengan kondisi Frankenstein yang aku ciptakan itu. Justru sekarang dia ingin turut menjadi gila seperti manusia-manusia lainnya. Pikirnya, menjadi gila artinya menjadi bahagia, karena manusia yang waras artinya menjadi hampa di samudera zombi-zombi gila. Dia ingin menjadi Gyges yang melepas cincinnya. Maka, pada akhirnya aku menemuinya serupa Tuhan menemui Musa di Gunung Sinai. Aku menghampirinya yang tengah jalan-jalan bosan di sebuah taman—lokasi yang sebentar lagi berakhir mengenaskan seperti tempat-tempat lainnya karena tak ada yang urus.
“Siapa kau?”
“Duhai ciptaanku, ketahuilah aku pengarang yang menciptakanmu.”
Anjing kocak, dari gelagatnya, dia menganggap aku juga orang gila. Dia menyangka, sebelum aku jadi gila begini, aku adalah sesosok penyair yang menulis puisi-puisi dan sama miskinnya dengannya. “Apa buktinya, hah?” dia menyeringai.
“Lihatlah ini.” Sekonyong-konyong di tangan kananku muncul roti. Lalu tangan kiriku bergerak di udara: mengendalikan orang gila di dekat kami agar menuju ke arahku. Orang gila itu lantas memakan roti di tanganku. Selepas roti itu tak bersisa, tangan kananku mengeluarkan cahaya lalu memukul perut sang orang gila. Cahaya yang lebih tajam dari pedang mana pun itu bikin perut sang orang gila bolong—cahaya itu menembus pinggang belakang. Ketika sang orang gila sudah berkalang tanah, aku mengusap-usap bagian bolong itu, sekonyong-konyong abrakadabra perutnya kembali seperti semula: tak ada bagian yang bolong. Lalu aku menghidupkan kembali orang gila yang sudah mampus itu.
“Mengapa matamu tak picek sebelah?”
Anjing kunyuk. Dia pikir aku Dajjal. “Hahaha, kurang ajar juga kau dengan pengarangmu sendiri.”
“Nah begini dong. Enak. Ngomong itu biasa saja, tak usah dibuat-buat sok puitis. Pokoknya aku masih belum percaya katamu barusan.”
“Aku bisa melakukan hal yang sama padamu. Bahkan aku bisa melenyapkan dunia ini.”
Sekonyong-konyong di atas kepalanya muncul lampu kuning terang. Dia menatapku seperti tengah bercermin diri. “Hahaha. Aku senang sekali. Akhirnya aku akan jadi gila seperti mereka.”
“Apa maksudmu?”
“Kau masih tak paham ya? Hahaha.”
Aku terheran-heran. Tak ada sahutan keluar dari lisanku. Lalu dia melanjutkan ucapannya.
“Kau tak nyata. Kau halusinasi di kepalaku. Kau adalah aku. Aku adalah kau. Bukan kau yang menciptakanku tapi aku yang menciptakanmu. Hahaha.”
Bagaimana mungkin omongan idiot itu benar? Tapi, apa iya kalau lelaki di depanku itu bukan Frankenstein yang aku ciptaan? Apa iya dunia apokaliptik ini, yang saban manusia di tiap penjurunya telah terpapar wabah gila, bukan dunia ciptaanku? Selepas aku renungkan dalam-dalam, satu-satunya alasan kalau omongannya boleh jadi benar karena aku pun tak tahu apa penyebab terjadinya wabah gila ini. Apa iya aku hanya halusinasi di kepala lelaki itu karena sekadar berkisah dari sudut pandangnya? Apa iya dunia ciptaanku bergeliat di luar kendaliku? Apa iya wabah gila ini awalnya proyek penghancur yang gagal, buatan Negara Adikuasa yang doyan perang dan hobi mengancam-ngancam negara lain supaya tunduk di bawah tiraninya?
Pada akhirnya aku dan lelaki itu sepakat menanti pengarang yang menciptakan kami. Barangkali dia akan datang sekejap lagi. Kami terus menanti sampai matahari tenggelam. Esok sampai keesokannya lagi. Terus sampai seterusnya. Sampai matahari benar-benar terbit di barat, pengarang itu tak datang. Mendapati fenomena mengerikan itu, kami bergidik mampus lalu terkencing-kencing di celana.
Surabaya, 04 Februari 2026
Persembahan untuk Mengenang Kurt Vonnegut
______
Penulis
Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!