Sunday, May 3, 2026

Puisi-Puisi Diana Rustam

Puisi Diana Rustam 




Epitaf


Di sini 

telah terbaring dengan gelisah

tubuh keadilan;

wajahnya babak belur

dihajar kepentingan

dan sumpah jabatan yang dilanggar.



Korupsi


Korupsi itu rajin olahraga:

setiap hari lompat pagar

dan lari dari tanggung jawab. 


Korupsi itu pandai sulap:

mengubah uang rakyat

jadi rumah megah

jadi mobil mewah.


Korupsi itu setia:

pejabat datang berganti-ganti

tapi ia tidak pernah beranjak pergi. 


Korupsi itu gemar selfie:

muncul di setiap berita

dengan pupur dan gincu

tapi tidak secuil pun membawa malu. 


Korupsi itu punya hobi unik:

mengoleksi tanda tangan rakyat

yang tak pernah merasa 

menandatangani apa-apa.



Narapidana


Pada suatu tengah malam 

sebuah buku diringkus

halaman-halamannya diborgol


Buku duduk di kursi pesakitan

dituduh meledakkan bom

di kepala seorang pemuda


Yang mulia hakim mengetuk palu:

“Buku ini berbisa,

karena mengajarkan cara berpikir

tanpa izin negara.”



Pemakaman Sejuta Followers


Ibumu wafat dengan tenang

dan kau sibuk memikirkan caption:

"Selamat jalan, Mamaku tercinta

yang kini trending di surga."


Ambulans menjelma studio berjalan

sirenenya cocok sekali untuk sound effect

para pelayat berebut layar ponsel

doa-doa diganti selfie 

yang asyik masyuk di samping nisan.


Penggali kubur tak sengaja masuk frame

langsung kautandai: #influencerkubur

bunga-bunga yang menutup liang

tak kalah harum dari notifikasi

yang datang bertubi-tubi.


Kini ibumu dalam perjalanan panjang

sementara kau sibuk begadang

menjawab komentar

menghitung like

dan menyiapkan konten baru:

"Tips bikin duka jadi peluang cuan."



Diseduh Notifikasi


Kaududuk di teras

mendengar derit waktu dari notifikasi ponsel

ada pesta di kota lain

ada tawa di kamar orang lain

ada bahagia yang tidak sempat kupinjam. 


Kau coba menulis puisi

tapi huruf-huruf tergesa

lari ke layar seberang

menjadi status orang asing

yang tampak lebih indah

dari nasibmu sendiri.


Sementara itu,

kopi di cangkirmu tetap hitam

direnangi lalat diam-diam

dan roti bakarmu, mendingin pelan-pelan.


Katamu hidup ini sederhana:

bernapas, makan, tidur, mencinta,

tapi kau selalu takut terlambat

seperti mengejar kereta yang

bahkan belum pernah kautumpangi.


Kausenyapkan notifikasi

kaupadamkan mata

lalu tiba-tiba, 

kau merasa paling sendirian

di tengah keramaian

yang bahkan tidak sempat

mengenalmu.


________

Penulis


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen. Beberapa  karyanya telah dimuat media daring. Saat ini penulis tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Instagram: dianarustam_


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com



Terimakasih telah berkomentar!