Puisi Diana Rustam
Epitaf
Di sini
telah terbaring dengan gelisah
tubuh keadilan;
wajahnya babak belur
dihajar kepentingan
dan sumpah jabatan yang dilanggar.
Korupsi
Korupsi itu rajin olahraga:
setiap hari lompat pagar
dan lari dari tanggung jawab.
Korupsi itu pandai sulap:
mengubah uang rakyat
jadi rumah megah
jadi mobil mewah.
Korupsi itu setia:
pejabat datang berganti-ganti
tapi ia tidak pernah beranjak pergi.
Korupsi itu gemar selfie:
muncul di setiap berita
dengan pupur dan gincu
tapi tidak secuil pun membawa malu.
Korupsi itu punya hobi unik:
mengoleksi tanda tangan rakyat
yang tak pernah merasa
menandatangani apa-apa.
Narapidana
Pada suatu tengah malam
sebuah buku diringkus
halaman-halamannya diborgol
Buku duduk di kursi pesakitan
dituduh meledakkan bom
di kepala seorang pemuda
Yang mulia hakim mengetuk palu:
“Buku ini berbisa,
karena mengajarkan cara berpikir
tanpa izin negara.”
Pemakaman Sejuta Followers
Ibumu wafat dengan tenang
dan kau sibuk memikirkan caption:
"Selamat jalan, Mamaku tercinta
yang kini trending di surga."
Ambulans menjelma studio berjalan
sirenenya cocok sekali untuk sound effect
para pelayat berebut layar ponsel
doa-doa diganti selfie
yang asyik masyuk di samping nisan.
Penggali kubur tak sengaja masuk frame
langsung kautandai: #influencerkubur
bunga-bunga yang menutup liang
tak kalah harum dari notifikasi
yang datang bertubi-tubi.
Kini ibumu dalam perjalanan panjang
sementara kau sibuk begadang
menjawab komentar
menghitung like
dan menyiapkan konten baru:
"Tips bikin duka jadi peluang cuan."
Diseduh Notifikasi
Kaududuk di teras
mendengar derit waktu dari notifikasi ponsel
ada pesta di kota lain
ada tawa di kamar orang lain
ada bahagia yang tidak sempat kupinjam.
Kau coba menulis puisi
tapi huruf-huruf tergesa
lari ke layar seberang
menjadi status orang asing
yang tampak lebih indah
dari nasibmu sendiri.
Sementara itu,
kopi di cangkirmu tetap hitam
direnangi lalat diam-diam
dan roti bakarmu, mendingin pelan-pelan.
Katamu hidup ini sederhana:
bernapas, makan, tidur, mencinta,
tapi kau selalu takut terlambat
seperti mengejar kereta yang
bahkan belum pernah kautumpangi.
Kausenyapkan notifikasi
kaupadamkan mata
lalu tiba-tiba,
kau merasa paling sendirian
di tengah keramaian
yang bahkan tidak sempat
mengenalmu.
________
Penulis
Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen. Beberapa karyanya telah dimuat media daring. Saat ini penulis tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Instagram: dianarustam_
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!