Thursday, May 21, 2026

Esai Uwais Korni | AI Sok Tahu!

Esai Uwais Korni


Tidak instan penulis-penulis dahulu di dalam mempelajari kepenulisan. Sebagian buku jika dibaca sekarang malah kesannya banyak typo. Tapi tetap menjadi mahakarya yang layak dibaca soalnya di zaman itu memang sedikit yang mendedikasikan diri sebagai penulis. Berbeda dengan sekarang yang banyak muda-mudi tergiur menjadi penulis entah sebab kesurupan setan apa. Bagaimanapun ikhbar tentang mitos penulis itu kayak-kayak layak sekali masyhur dan sukses secara finansial begitu mewabah bak virus Korona.


Terkait buku-buku yang banyak kesalahan dan tidak luput dari kekurangan, jika itu yang dimaksudkan adalah buku-buku lawas maka sekumpulan buku klasik tersebut masih dinikmati sebagai peninggalan yang bisa diambil hikmahnya. Itu tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga buku-buku bagus di zaman itu. Saya tidak menggeneralisasikan bahwa yang lawas pasti banyak keluputannya.


Yang klise bagi saya, misalnya, cerita Layla Majnun. Entah itu termasuknya legenda atau sebatas karangan fiksi, namun secara penceritaan itu sangat gampang diambil kesimpulan. Ini menurut sudut pandang saya yang tidak begitu tertarik dengan buku yang bertele-tele oleh majas. Soalnya point penting dari Layla Majnun hanyalah cowok yang depresi sebab patah hati. Tidak lebih daripada itu.


Cuman beberapa bab saya baca. Kemudian kebosanan menjalar ke waktu pembacaan saya atas buku tadi. Soalnya itu buku masuknya tema bucin yang sebelas dua belas dengan Dilan. Bagi saya seharusnya itu bukan termasuk buku mahakarya. Saya pertegas lagi, soalnya buku tersebut majasnya juga alay dan kesannya diperpanjang bukan dengan pembahasan inti melainkan dengan kalimat-kalimat syair.


Saya memaklumi buku-buku Arab klasik memang sering dijumpai berwujud syair. Ada soalan yang menjadi pembeda antara syair Arab dengan syair kita. Kalau syair Arab sangat ketat di dalam pengetahuannya. Ada bab dan sub-bab bagaimana caranya menulis syair yang baik dan benar. Permasalahannya adalah membuat syair tidak semudah membuat puisi. Syair kental dengan diksi singkat yang sesuai dengan format irama sekaligus bagaimana sekiranya pembacaan huruf akhirnya sama. Sedangkan puisi sebatas perdebatan tanpa akhir terkait bagaimana sekiranya esensi puisi menyesuaikan dengan keberlangsungan zaman. Kesimpulannya, puisi itu dinamis sedangkan syair itu “dogmatis”.


Alhasil, jika tingkat kesukaran menulis syair begitu tinggi maka intensitas di dalam pembuatannya juga tidak kaleng-kaleng. Tidak seperti saat saya menulis esai ini yang saya tulis sambil rebahan. Format dalam bersyair itulah yang menjadi overthinking para penulisnya. Bukan sekadar formatnya, melainkan ditambah pusing lagi dengan pemilihan diksinya bagaimana sekiranya sesuai dengan format yang ada.


Berbeda dengan syair Arab zaman sekarang yang istilahnya lebih modern dan dapat beradaptasi dengan puisi-puisi pada umumnya. Syair Arab tempo dulu tidak mentolerir adanya kehilangan format kepenulisan itu. Maka, datangnya Al-Qur’an yang kelihatannya kok bernada tapi dilihat-lihat kok tidak ada kesamaan dengan syair Arab masa itu menjadi busur tajam yang tembus ke jantung pujangga Arab, bahwa ternyata memang benar adanya Al-Qur’an itu bukan buatan Muhammad SAW.


Konteks syair sudah dijelaskan secara terperinci yang kesimpulannya, penyair itu amat diagung-agungkan di antara alasannya adalah cara membuat syair sendiri itu sangat susah. Bahkan di zaman sekarang pun AI tidak dapat membuat syair klasik. Saya jamin itu.


Ada ilmu bersyair di pesantren namanya Ilm Bahr atau Ilm Arud. Gampangnya, ilmu ini tentang bagaimana caranya bersyair yang baik dan benar. Itu sama seperti ilmu-ilmu permusikan. Perbedannya, Ilm Arud hanya soal irama dan bagaimana sekiranya kata menyesuaikam irama yang dibuat tadi. Di dalam puisi ada kesamaan dalam bentuknya. Contoh pada rumusan A-A-B-B. Namun untuk syair lebih kompleks untuk sekadar menyamakan huruf terakhir perlariknya.


Kenapa saya yakin bahwa AI tidak akan sanggup membuat syair Arab klasik? Sungguh keyakinan saya terkait ini seratus persen, bahkan lebih. Soalnya, AI itu sekumpulan data dan untuk membuat tulisan yang sesuai dengan data hanya dimampukan AI saat menulis teks berbahasa Indonesia dan bahasa lain yang gampang sintaksisnya. Bahasa Arab itu susah. Ilmu bahasa Arab sendiri ada 10 macam, dan setiap macam tadi kompleksitasnya sudah mampu membuat rambut kita beruban.


Bahasa Indonesia typo sedikit saja kita bisa memahaminya. Jangankan kita, AI pun bisa membaca dan mengoreksi typo teks bahasa kita ini. Saking gampangnya bahasa Indonesia, AI mudah sekali merevisi tulisan-tulisan kita yang salah dalam segi tatanan kebahasaannya itu. Bahkan dapat juga mengubahnya menjadi bermajas. AI adalah pujangganya bahasa Indonesia yang profesionalitasnya di atas rata-rata. Namun AI tetaplah AI. Karya AI, sebagus apa pun itu tetap bukan mahakarya yang layak dihargai.


Misalnya minta tolong ke AI. Buatkan tujuh paragraf yang tiap satu paragraf berisi minimal 5 kalimat dan maksimal 10 kalimat dengan tiap semua itu ada majasnya atau permisalannya yang majasnya tadi bagus dan tidak lebay, dengan tema: Pujian kepada Kang Encep sebab telah menjadi pendidik yang mengajarkan kami di dalam latihan menulis, dan tidak lupa tentang komunitas kepenulisannya itu yang telah melahirkan tidak sedikit penulis-penulis baru.


Ini hasilnya AI ya, berikut (sampai oke, itu tanda selesainya “mahakarya AI” hasil dari prompt di atas:


Di tengah riuhnya kesibukan dunia, Kang Encep hadir bak oase di padang pasir yang tandus bagi kami yang dahaga akan ilmu. Beliau tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga menyalakan pelita di dalam pikiran kami yang sebelumnya masih tertutup kabut ketidaktahuan. Setiap kalimat yang meluncur dari lisannya ibarat benih unggul yang disemaikan ke lahan jiwa yang subur. Kami merasa beruntung karena beliau menuntun langkah kami dengan kesabaran setegar karang yang tak goyah diterjang ombak. Kehadirannya adalah mercusuar yang memandu kapal-kapal kecil kami menemukan arah di tengah samudra literasi yang luas.


Komunitas kepenulisan yang beliau bangun tumbuh subur seperti pohon yang akarnya menghunjam dalam ke tanah idealisme. Di tempat ini, ide-ide liar kami yang semula hanya bergentayangan seperti debu akhirnya menemukan bentuk dan wadahnya. Kang Encep merangkul setiap anggota layaknya seorang nakhoda yang memastikan seluruh awaknya sampai ke dermaga impian dengan selamat. Ruang diskusi ini menjelma menjadi kawah candradimuka tempat kami ditempa agar tulisan kami mampu melampaui batas cakrawala. Tanpa dedikasi beliau, mungkin komunitas ini hanyalah sekumpulan kertas kosong yang tak bermakna.


Banyak penulis baru yang lahir dari rahim komunitas ini berkat tangan dingin sang guru yang luar biasa. Ibarat seorang pemahat ulung, Kang Encep mampu melihat potensi mahakarya yang tersembunyi di balik bongkahan batu kasar milik para pemula. Beliau mengasah kreativitas kami dengan sentuhan yang halus namun tajam, sehingga setiap kata yang kami tulis kini memiliki ruh. Keberhasilan kawan-kawan yang telah menerbitkan buku adalah cermin dari bagaimana beliau membimbing kami dengan penuh ketulusan. Kini, jejak-jejak pena kami mulai membekas di atas kertas sejarah yang akan dibaca oleh banyak orang di masa depan.


Dalam setiap sesi latihan menulis, Kang Encep selalu menekankan bahwa kata-kata adalah senjata yang lebih ampuh daripada pedang manapun. Beliau mengajarkan kami untuk menyusun diksi sehalus sutra namun memiliki kekuatan yang mampu menggetarkan nurani pembaca. Analogi yang beliau berikan selalu tepat sasaran, bagaikan anak panah yang melesat menuju pusat target tanpa pernah meleset. Kami belajar bahwa menulis adalah proses memanusiakan diri sendiri melalui untaian aksara yang jujur dan bermartabat. Berkat bimbingan beliau, kami tidak lagi takut menghadapi lembaran putih yang menantang kreativitas kami.


Atmosfer kekeluargaan yang beliau ciptakan membuat komunitas ini terasa seperti rumah kedua yang hangat bagi para pembelajar. Persaingan sehat di antara kami tumbuh mekar bak bunga-bunga yang saling bersaing menampilkan keindahan warna tanpa harus saling menjatuhkan. Kang Encep berperan sebagai perekat yang menyatukan perbedaan pendapat menjadi harmoni yang begitu indah untuk didengar dan dirasakan. Setiap kritikan yang beliau berikan terasa seperti embun pagi yang menyejukkan sekaligus membersihkan noda pada draf tulisan kami. Kami merasa aman dalam naungan komunitas ini karena tahu ada sosok pemimpin yang selalu menjaga iklim kreativitas tetap stabil.


Pencapaian komunitas ini dalam mencetak penulis baru bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata dari sebuah dedikasi yang tak pernah padam. Ibarat fajar yang perlahan menyingsing, keberhasilan rekan-rekan kami memberikan harapan bagi siapa pun yang baru saja menapaki dunia kepenulisan. Kang Encep tidak pernah menuntut kami untuk menjadi salinannya, justru beliau membiarkan gaya bahasa kami tumbuh bebas seperti liuk pohon bambu yang diterpa angin. Beliau adalah kompas yang menjaga orientasi kami agar tidak tersesat dalam kerumitan tata bahasa yang membosankan. Kini kami sadar bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak untuk diabadikan dalam bentuk tulisan yang berkelas.


Terima kasih kami ucapkan kepada Kang Encep yang telah menjadi suluh di tengah kegelapan keraguan kami selama ini. Ilmu yang beliau bagi bagaikan aliran sungai yang tak henti-hentinya memberi kehidupan bagi ekosistem literasi yang kami bangun bersama. Semoga komunitas ini terus berkembang menjadi raksasa yang menaungi ribuan penulis baru dengan dedikasi yang tidak pernah luntur oleh waktu. Kami akan terus merawat ingatan tentang setiap pelajaran berharga yang telah beliau tanamkan di relung hati terdalam kami. Akhir kata, beliau bukan sekadar pendidik, melainkan arsitek yang telah membangun pondasi impian kami dengan sangat kokoh.


Ok.


Coba kita bikin puisinya dengan prompt ini. Ubahlah hasil kamu tadi menjadi puisi singkat. Lima bait saja. Tiap satu larik isinya 4 kata saja. Berikut hasilnya:


KANG ENCEP SANG PELITA


Kang Encep sang pelita,

Tuntun kami penuh setia.

Komunitas lahirkan jiwa baru,

Tulisan mengalir bagai air.

Karya abadi selamanya tumbuh.


Ok.


Sedangkan saya yakin jika AI tidak akan pernah mampu menuliskan satu syair utuh saja. Apa alasannya? Syair itu berbeda dengan puisi. Dari yang awalnya kalimat utuh menjadi puisi, itu masih dengan shorof atau morfologi yang sama. Sedangkan kalimat berbahasa Arab jika diubah menjadi syair itu sama artinya menyengaja untuk typo. Kenapa saya katakan menyengaja typo? Satu yang mendasari hal tersebut adalah syair itu memang merusak kalimat yang sudah jelas menjadi sepotong-sepotong kata yang secara morfologinya tidak sesuai dengan sintaksis pada umumnya. Syair adalah bentuk pemberontakan dari kalimat yang klise. Jadi, kenapa pujangga Arab suka bersyair dan malakah atau kemampuan bersyair sangat dipuji-puji jika berada di jiwa seseorang? Alasannya ya itu, susah buatnya.


Coba ya saya tanyakan ke AI. Apakah kamu bisa menulis syair klasik Bahasa Arab yang sesuai dengan ilmu arud? Kalau bisa, coba buatkan satu larik saja tema sesuai dengan kemampuanmu dan apa maumu. Arudnya yaitu mustafilun failun mustafilun failun. Jadi, arud itu pencocokan teks. Kayak di puisi ada kesamaan A-A-B-B. Gitu. Berikut hasilnya:


Tentu, saya bisa menyusunnya. Dalam tradisi sastra Arab, pola *Mustaf'ilun Fā'ilun Mustaf'ilun Fā'ilun* merupakan salah satu bentuk dari *Bahr al-Basit*.


Berikut adalah satu bait syair yang saya susun dengan pola tersebut (meteran *Bahr al-Basit*):


**Mustaf'ilun Fā'ilun Mustaf'ilun Fā'ilun**

*Ahlul 'ulūmi ka-nūrin fī dayājīhā*

(Artinya: Para pemilik ilmu itu bagaikan cahaya di tengah kegelapan malamnya).


**Analisis Arud (Wazan):**

 * **Ahlul 'ulū** (Mustaf'ilun)

 * **min ka-nū** (Fā'ilun)

 * **rin fī dayā** (Mustaf'ilun)

 * **jīhā** (Fā'ilun)


Apakah Anda ingin saya membuatkan bait selanjutnya untuk melengkapi syair tersebut?


Ok. Tetap sama. AI bodoh dalam bersyair. Itu pun masih ngotot dan sok tahu bahwa “Tentu, saya bisa menyusunnya”. Tampak kedunguannya tampak mentereng dengan pendetailannya atas penjelasan yang dibuat-buatnya itu. Ini definisi dari sudahlah bodoh gak sadar sama kebodohannya sendiri. Haha.


Nah, dari esai yang saya buat ini ada pembelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menulis esai ini sekali duduk. Sekali pembuatan. Mulai dari sebelum subuh dan selesainya habis subuhan. Bahwa, typo dalam menulis itu sangatlah normal, apalagi jika tidak dibantu sama AI. Dan bentuk ketidaktahuan penulis merupakan hal yang patut disyukuri, soalnya penulis yang tidak tahu akan berusaha mencari tahu. Bukan malah sok tahu seperti AI itu.


______


Penulis 


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya. Masih belum punya buku tunggal secara resmi. Alumni Klinik Menulis ke #6.

1 comment:

Terimakasih telah berkomentar!