Thursday, May 21, 2026

Esai Afrian Rahadyaning Pangestu | Marriage is Scary atau Kita yang Terlalu Naif dalam Memandang Pernikahan?

Esai Afrian Rahadyaning Pangestu


“Marriage is scary.” 


Kalimat ini terdengar seperti keluhan generasi yang setengah sadar, setengah menyangkal. Pernikahan diposisikan seperti jebakan: indah di undangan, melelahkan di kenyataan. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur—benarkah yang menakutkan itu pernikahannya, atau kita sendiri yang masuk tanpa bekal, tanpa arah, dan tanpa akal sehat?


Mari kita buka dengan sedikit kejujuran yang mungkin tidak nyaman: banyak orang menikah bukan karena siap, tapi karena tidak enak. Tidak enak sama orang tua yang terus bertanya, “kapan nyusul?”. Tidak enak sama pasangan karena sudah pacaran terlalu lama.  Tidak enak sama lingkungan karena dianggap “tidak laku.” Akhirnya, pernikahan dijadikan solusi sosial, bukan keputusan eksistensial.


Ada juga yang lebih kreatif, yaitu menikah karena ingin “move on” dengan cara paling mahal berupa resepsi. Ada yang menikah untuk membuktikan bahwa dirinya “baik-baik saja” setelah putus. Bahkan, ada yang menjadikan pernikahan sebagai panggung balas dendam yang sah secara hukum. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan kata-kata suci seperti “komitmen” dan “ibadah,” padahal di dalamnya penuh motif yang tidak pernah dibereskan.


Sebagian besar dari kita ini aneh. Untuk membeli ponsel saja kita harus riset berhari-hari, kita bandingkan spesifikasi, baca ulasan sana-sini. Tapi, untuk memilih pasangan hidup—yang akan kita hadapi setiap hari—kita cukup bermodal “nyaman” dan “nyambung.” Seolah dua kata itu cukup untuk menopang puluhan tahun konflik, perubahan, dan realitas hidup.


Lebih absurd lagi, banyak yang merasa siap menikah hanya karena sudah punya pekerjaan tetap. Seakan-akan slip gaji adalah bukti kedewasaan. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya, di mana finansial mungkin stabil, tapi emosional masih seperti anak kos yang panik saat air galon habis. Pernikahan akhirnya dipenuhi orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, tapi sudah sibuk menuntut orang lain untuk melengkapinya.


Tidak berhenti di situ. Setelah menikah, kita masih membawa “penyakit lama” yaitu penyakit ketergantungan. Banyak pasangan yang secara legal sudah mandiri, tapi secara psikologis masih bergantung pada orangtua. Setiap konflik kecil, maka langsung berubah menjadi sidang paripurna keluarga. Setiap keputusan harus melewati “persetujuan rida orangtua.” Pernikahan yang seharusnya menjadi ruang untuk dua orang, justru berubah menjadi forum kolektif yang destruktif. Dan di atas semua itu, ada satu tekanan modern yang diam-diam mematikan pernikahan, yaitu standar media sosial. 


Pasangan harus romantis seperti konten viral. Rumah tangga harus terlihat harmonis di feed. Hidup harus estetik, konflik harus disensor. Kita tidak lagi membangun pernikahan untuk dijalani, tapi untuk ditampilkan. Kita sibuk terlihat bahagia, sampai lupa bagaimana cara benar-benar bahagia.


Tidak heran jika kata “cerai” menjadi begitu ringan untuk diucapkan ketika berumah tangga. Ketika terdapat sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, malah langsung ingin keluar kata cerai. Padahal yang keliru bukan selalu pernikahannya, melainkan ekspektasi kita yang dibentuk oleh ilusi dan delusi media sosial. Jadi, kalau hari ini banyak yang bilang “marriage is scary,” mungkin itu bukan peringatan tentang pernikahan. Itu sebenarnya cermin bahwa kita belum cukup serius memahami apa yang sedang kita masuki.


Lantas apa yang bisa dilakukan, tanpa harus kita mengeluh dan menyalahkan keadaan?


Pertama, kita harus berhenti menjadikan pernikahan sebagai pelarian. Menikah tidak akan menyelesaikan luka lama, tidak akan otomatis mendewasakan, dan tidak akan mengisi kekosongan yang kita sendiri tidak pahami. Umpama pernikahan adalah mata air, kalau kita masuk dengan membawa ember bolong, yang terjadi bukan penuh, tapi bocor.


Kedua, perbaiki cara memilih. Jangan hanya jatuh cinta pada versi terbaik seseorang. Semua orang pasti tampak menarik saat belum diuji oleh masalah atau sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Yang perlu dilihat justru bagaimana dia marah, bagaimana dia kecewa, bagaimana dia mengambil keputusan saat tidak ada yang ideal, bagaimana dia menghadapi pasangan yang rewel dan bawel. Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang menyenangkan saat baik-baik saja, tapi yang tetap waras saat keadaan tidak baik-baik saja.


Ketiga, siapkan diri, bukan sibuk mempersiapkan acara yang mewah. Kebanyakan dari kita lebih serius mempersiapkan dekorasi dan acara resepsi dibanding mempersiapkan mental, fisik, dan ilmu. Lebih pusing memilih katering daripada belajar komunikasi. Padahal yang akan dijalani bukan pesta satu hari, tapi hidup bertahun-tahun.


Keempat, belajar mandiri setelah menikah. Hormat kepada orangtua itu penting, tapi membangun batas itu dewasa. Tidak semua hal perlu dibawa keluar dari rumah tangga. Ada hal-hal yang harus selesai di dalam, oleh dua orang yang memilih untuk bersama.


Kelima, turunkan ekspektasi, naikkan kapasitas. Jangan berharap pasangan selalu sesuai standar kita—apalagi standar yang kita ambil dari medsos. Lebih baik memperbesar kemampuan kita untuk memahami, beradaptasi, dan bertahan.


Pada akhirnya, mungkin pernikahan terkesan “menakutkan”, tapi hanya berlaku bagi mereka yang masuk tanpa persiapan dan tanpa kejujuran. Bagi yang datang dengan kesadaran, maka pernikahan bukan arena horor, melainkan ruang belajar paling intens tentang diri sendiri dan orang lain. Masalahnya, kita sering ingin hasilnya, tapi malas menjalani prosesnya. Dan kalau itu masih jadi kebiasaan, mungkin yang perlu kita takuti bukan pernikahan, melainkan kebiasaan kita sendiri yang gemar mengambil keputusan besar dengan cara yang sangat kecil.


______

Penulis


Afrian Rahadyaning Pangestu adalah guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA. 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!