Monday, May 4, 2026

Karya Siswa | Cerpen Aufa Almer Dzaky Zahran | Matinya Ondel-ondel Terakhir

Cerpen Aufa Almer Dzaky Zahran


Pagi itu, Rojali tersentak melihat mata berukuran besar yang menatap tajam ke arahnya dari onggokan sampah yang sedang ia pungut.

“Rojak, lihatlah apa yang kutemukan!”

Rojak yang penasaran dengan temuan tersebut dengan sigap bergerak lincah melompati tumpukan sampah yang menggunung, menghampiri rekan pengepul sampahnya itu.

“Astaga, mengapa ada ondel-ondel di sini?”

Mereka terkejut bukan main ketika mengetahui bahwa boneka raksasa berkumis hitam yang tampak seperti busur panah dengan taring putih itu berada di tumpukan sampah.

“Boneka raksasa itu seperti menangis, Jak.”

“Hahaha. Bagaimana mungkin benda mati itu menangis?”

“Mungkin dia sedih karena sudah tidak dibutuhkan lagi.”

“Atau mungkin dia sedih sebab tidak ada lagi yang memainkannya?”

“Kau benar, Jal. Alangkah menyedihkannya jika warisan budaya leluhur ini tak ada lagi yang ingin melestarikannya.”

Sekejap mereka termenung dengan raut wajah iba. Tak lama, secarik harapan indah itu terpikirkan begitu saja oleh Rojali.

“Jak, bagaimana jika kita menjadi pengarak ondel-ondel? Kita tak perlu susah payah menjadi pengepul sampah. Kita bisa melestarikan budaya ini sekaligus mencari uang!”

Rojali tampak seperti orang miskin yang baru saja mendapatkan emas batangan dari tumpukan sampah.

“Kau benar, Jal. Sepertinya tidak akan bosan jika kita mengamen menjadi pengarak ondel-ondel, menyusuri perkampungan dan melihat wajah anak-anak kecil yang menangis ketakutan, dibanding kita harus melihat gunungan sampah dengan bau busuk yang khas dan membosankan ini.”

Senyum terukir penuh harapan pada wajah mereka berdua. Mereka pun sontak mengeluarkan boneka raksasa itu dari onggokan sampah dengan raut wajah semringah.

***

Suara desing mesin dari ular besi yang berlalu-lalang di sekitaran Kota Jakarta itu terdengar memekakkan telinga. Di balik deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang, tersembunyi perkampungan padat yang dikelilingi aliran air hitam dengan sampah-sampah yang berlalu-lalang terbawa arus.

“Bagaimana di dalam sana, Jak?”

“Sialan, lebih baik aku mengangkat tumpukan sampah dibanding menjelma menjadi boneka raksasa yang pengap dan berat ini.”

“Tenanglah, Rojak. Ini adalah pekerjaan baru kita sebagai pengarak ondel-ondel. Lambat laun pasti kau akan terbiasa.”

Rojali tertawa sambil mendorong gerobak yang berisi kotak uang dan pengeras suara dengan alunan irama musik gambang kromong dan tanjidor.

Nyok kita nonton ondel-ondel
Nyok kita ngarak ondel-ondel
Ondel-ondel ade anaknye
Anaknye nandak gel igelan

Mereka berjalan menyusuri perkampungan, bertemu dengan warga kampung yang tampak ketakutan dan terkejut dengan kehadiran mereka.

“Jak, mengapa mereka terlihat marah melihat kita?”

Mereka berdua tampak kebingungan. Hingga pada akhirnya mereka berhenti ketika mendengar seseorang berteriak,

“Lihatlah! Ada ondel-ondel berkeliaran! Berani-beraninya mereka memakai warisan budaya untuk mengemis!”

Ujar seorang pria bertubuh tinggi, kurus, dengan raut wajah yang tampak tak bersahabat. Suara itu berhasil mencuri perhatian warga sekitar.

“Bang, lihat noh di depan gang. Masa ondel-ondel dipakai ngamen. Kagak ada adabnya pisan!” ujar salah satu warga.

“Iya, Bang. Ane juga perhatiin dari tadi. Mana musiknya cuma pakai kaset kusut, gerakannya juga asal-asalan benar. Kagak ada seninya.”

Warga pun mulai tersulut emosi.

“Harus kita kasih pelajaran ini!” teriak warga lainnya.

Tak lama, suara derap kaki terdengar menghampiri mereka berdua. Seorang pria bertubuh tinggi kurus, pemicu keributan itu, tetap pada posisinya, diam tak ikut menghampiri. Namun, tatapan setajam pisau itu menusuk ke arah mereka berdua.

“Astaga, Jak, mereka mengejar kita!”

“Lari, bodoh!”

Seketika suasana berubah mencekam. Mereka berdua berlari kencang.

“Tangkap mereka!”

Teriakan itu terdengar lantang, mengerikan, bak raungan seribu hewan buas yang marah. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka berdua terus berlari dengan lincah, melewati kerumunan pasar, meliuk-liuk, menjatuhkan beberapa dagangan warga yang menghalang.

“Bujug buset, sialan lu!” umpat pedagang yang dagangannya baru saja disenggol hingga sayur-mayur berserakan di jalanan.

Sayur-mayur itu hancur lebur terinjak-injak kerumunan warga yang masih buas mengejar mereka. Pedagang itu merasa kesal dan ikut mengejar.

Mereka terus berlari tanpa arah pasti dengan gerobak dan boneka raksasa itu.

“Astaga, Jal! Ada turunan curam menuju tempat pembuangan akhir!”

“Masuk ke dalam gerobak, Jak!”

“Bagaimana bisa, bodoh!”

“Masuk saja, Jak!”

Dengan pikiran dan degup jantung yang tak terkendali, Rojak melompat tergesa-gesa ke dalam gerobak dengan ondel-ondel yang masih ia kenakan. Rojali mendorong gerobak dengan kencang menuju jalanan curam itu, lalu menyusul masuk ke dalam gerobak yang ukurannya tak seberapa.

Gerobak itu meluncur cepat tak terkendali, bagai ikan marlin hitam yang berusaha membebaskan diri dari mata pancing yang tersangkut di langit-langit mulutnya.

“Rojak, hentikan!”

“Bagaimana caranya?”

Tak lama, gerobak itu menabrak gunungan sampah. Gerobak itu menghancurkan tumpukan sampah di depannya. Mereka berdua terpental keluar dari gerobak dan masuk ke dalam gunungan sampah yang berbau busuk.

“Rojak, keluarlah dari boneka kayu ini! Kita harus segera sembunyi sekarang juga!”

Sontak mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan gerobak serta ondel-ondel itu. Mereka menemukan dan menaiki gunungan sampah lain, lalu bersembunyi di baliknya. Sesekali mereka mengintip ke arah orang-orang murka itu.

“Itu mereka, tangkap mereka!”

Kerumunan warga kini terlihat bertambah banyak dengan membawa balok dan barang-barang lain yang mereka temukan di jalan.

“Apakah ini hari terakhir kita, Jak?”

“Maafkan aku telah membawamu dalam situasi bahaya seperti ini.”

“Tidak masalah, Jak. Aku sudah pasrah jika nasib kita harus berakhir di tumpukan sampah ini. Setidaknya kita pernah merasakan menjadi pengarak ondel-ondel dan pernah ikut melestarikan warisan budaya.”

Di bawah sana, amarah warga masih belum mereda.

“Ondel-ondel itu kosong! Mereka berhasil kabur!”

Kerumunan warga yang kecewa dan tidak terima itu semakin beringas.

“Mereka bakar saja ondel-ondel itu! Tidak ada seorang pun yang dapat mengotori warisan leluhur kita!”

Kerumunan warga yang lain berteriak setuju dengan umpatan itu.

“Kita harus cari pengarak ondel-ondel itu! Mereka harus menerima akibatnya!”

“Ya, setuju!”

Sebagian warga langsung bergerak berlari dengan buas mencari keberadaan para pengarak ondel-ondel itu. Rojak dan Rojali semakin ketakutan setelah mendengar ucapan bernada tinggi tersebut.

“Jak, bagaimana ini?” Jali berbisik.

“Tenang saja, Jal. Mereka tidak akan bisa menemukan kita.”

Seketika Rojak terpaku. Tatapan matanya kosong. Ia hanya mematung.

“Jak, lu kenapa, Jak?”

Rojali memastikan bahwa ia baik-baik saja.

“Lihatlah, Jal, pria bertubuh kurus tinggi itu. Dia melihat kita!”

“Astaga! Lu benar, Jak!”

“Kita kudu ngapain sekarang, Jal?”

Mereka berdua tercengang hingga akhirnya salah satu warga terlihat membanjiri boneka raksasa itu dengan bensin. Korek api dinyalakan. Sekejap kobaran api merambat ke seluruh badan boneka raksasa itu.

Setelah ondel-ondel itu terbakar, sayup-sayup terdengar suara anak kecil yang menangis.

“Ibu, aku takut.”

Amukan warga itu hilang sejenak. Suara anak kecil yang ketakutan sambil ditimang oleh ibunya itu berhasil mengambil alih perhatian kerumunan warga.

Terdengar suara ringkikan tawa berat seorang pria dari belakang kerumunan itu.

“Astaga, Jak, apa kamu lihat pria bertubuh tinggi besar itu? Ia memiliki sayap hitam?”

“Jal, aku tidak yakin itu manusia.”

Sontak mereka berdua tersentak dari tempat persembunyian. Kerumunan warga itu mendadak chaos. Semua warga lari kocar-kacir ketakutan melihat penampakan manusia yang menyerupai burung gagak.

Terdengar suara eraman yang begitu mencengkam, membuat kerumunan warga porak-poranda. Mereka sadar, kampung itu dalam kondisi tidak baik-baik saja.

_______

Penulis


Aufa Almer Dzaky Zahran
, pelajar di SMA Pesantren Unggul Al Bayan Anyer. Ia merupakan pemenang Juara 2 FLS3N 2026 Kabupaten Serang yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional. 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!