Cerpen Ahmad Farzan Ahza
Pada suatu hari, di sebuah kerajaan di Padang Mesir yang memiliki piramida besar berbentuk segitiga, hiduplah seorang raja yang sombong bernama Shadum. Raja Shadum memiliki tiga anggota keluarga yang kuat, yaitu Hudi, Shadam, dan Shadum. Mereka juga memiliki pasukan yang sangat banyak, sekitar seribu orang, serta makanan yang melimpah.
Di dekat kerajaan itu, hiduplah seorang anak yang baik dan saleh bernama Bilal. Suatu hari, Bilal berjalan-jalan di Padang Mesir. Ia melihat sebuah piramida besar. Bilal sangat penasaran dan ingin masuk ke dalam piramida itu. Namun, ia tidak diizinkan masuk. Akhirnya, Bilal pun pulang ke rumah.
Di rumah, Bilal bertemu dengan ibunya yang bernama Hudan dan ayahnya yang bernama Guni.
Bilal berkata,
“Bunda, Bilal lapar.”
Ibu berkata dengan lembut,
“Baik, Bilal. Ayo makan nasi dan daging.”
Ayah Bilal berkata,
“Ayo kita makan bersama.”
Bilal pun senang dan berkata,
“Yeay, makan bersama!”
Setelah makan, Bilal bertanya,
“Bunda, setelah makan kita ngapain?”
Ibu menjawab,
“Setelah makan, Bilal tidur ya.”
Bilal berkata,
“Baik, Bu. Bilal mau tidur.”
Ibunya tersenyum dan berkata,
“Ibu temani ya. Selamat tidur, Bilal.”
Bilal pun tertidur dengan nyenyak.
“Zzzzz…”
Namun, pada malam hari, sekitar jam tiga. Raja Shadum memerintahkan pasukannya.
“Pasukan! Bakar desa itu!” kata raja.
“Baik, Raja!” jawab pasukan.
Tak lama kemudian, rumah-rumah di desa mulai terbakar. Asap dan api terlihat di mana-mana.
Ibu Bilal mencium bau asap.
“Bilal, bangun! Ada kebakaran!” kata ibu.
Bilal pun dibangunkan. Ayahnya juga bangun.
“Apa yang terjadi?” tanya ayah.
“Ada bau asap! Kita harus pergi!” kata ibu.
Mereka segera keluar dari rumah dan berlari menyelamatkan diri. Warga desa juga membangunkan kepala desa.
“Ayo, Kepala Desa! Kita harus pergi! Rumah-rumah sudah terbakar!”
Semua orang berlari mencari tempat yang aman. Akhirnya, keluarga Bilal bertemu dengan kepala desa dan beberapa warga yang selamat.
Kepala desa berkata,
“Kita harus membuat rencana. Bagaimana kalau kita pergi ke desa lain?”
Warga desa menjawab,
“Baik, Kepala Desa. Tapi kita harus hati-hati.”
Mereka berjalan pelan-pelan agar tidak terlihat oleh pasukan raja. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah gua yang agak terang. Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam gua itu.
Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka melihat sebuah desa yang jaraknya sekitar sepuluh meter lagi.
Mereka bertemu dengan warga desa tersebut. Kepala desa lama memperkenalkan diri.
“Halo, saya kepala desa. Nama saya Hid.”
Kepala Desa dari desa itu menjawab,
“Salam kenal. Nama saya Mai.”
Mereka pun berbicara bersama. Kepala desa Hid berkata,
“Kami ingin menghentikan raja yang sombong itu.”
Bilal berkata,
“Aku tahu tempat piramida raja itu.”
Semua orang setuju untuk membuat rencana.
Pada malam hari, mereka pergi bersama-sama sambil membawa obor. Mereka menuju piramida tempat Raja Shadum tinggal.
Kemudian mereka menyalakan api dan membakar piramida itu. Piramida pun terbakar, dan Raja Shadum akhirnya terluka. Setelah itu, raja tidak lagi menyakiti orang-orang.
Akhirnya, semua desa hidup dengan damai. Warga desa kembali hidup dengan tenang dan bahagia.
______
Punulis
Ahmad Farzan Ahza, lahir di Serang, 21 September 2014. Saat ini ia duduk di kelas 5 SD Elfatih Kota Serang. Hobi main catur. Alamat rumah di Mayabon Village Blok F No. 4 Kelurahan Banjarsari Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang.
Kirim naskah ke
redaksningewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!