Cerpen Rifqi Maulana
Aku berangkat ke Anyer pada pukul 09.00 WIB dan tiba di sana pada pukul 11.00 WIB. Di Anyer aku biasa bermain bersama Hafiz dan juga beberapa teman yang lain, seperti Irza, Faris, Rasya, Gege, dan Ardian.
Berkunjung ke Anyer merupakan kegiatan rutin keluargaku karena selain bermain ke Pantai juga sekalian menjenguk kakek dan nenekku yang tinggal di sana. Beberapa tahun yang lalu kakekku memelihara jenis burung, di antaranya: Murai Batum Kenari, Beo, Perkutut, Jalak dan Love Bird. Dari beberapa burung tersebut, kakek mengembangbiakkan dua jenis burung, yaitu burung kenari dan burung murai batu.
Karena kakek seorang pencinta burung, maka sepertinya hobi tersebut menurun padaku dan juga pada saudara sepupuku yang bernama Hafiz.
Pada kunjunganku di hari minggu lalu, aku melihat saudaraku memiliki burung peliharaan berjenis burung Sagon, melihat saudaraku memiliki kegiatan yang positif dengan memelihara burung, maka terbesit di benakku ingin juga memelihara burung. Hal ini dikarenakan ketika saya mendengar bunyi kicauan burung suasana hatiku merasa menjadi tenang.
Karena alasan itulah akhirnya ketika aku dan orang tuaku kembali ke Serang, aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan seeokor burung, yaitu burung Kenari.
Aku menyampaikan permintaan untuk bisa merawat burung kepada ayahku, bahwa aku mampu merawat burung yang aku minta. Setelah ayahku mendengar permintaanku untuk dibelikan seekor burung kenari, ayahku tidak langsung membelikannya, namun aku ditanya beberapa pertanyaan, yaitu: (1) Kenapa ingin memelihara burung? (2) Apakah nanti bisa merawatnya? (3) Mengapa yang dipilih adalah burung kenari?
Setelah ayahku melemparkan tiga pertanyaan, akhirnya ayahku memberikan pendapat tentang jenis burung yang cocok untuk aku pelihara. Ayahku menyampaikan bahwa burung yang cocok untuk aku pelihara adalah burung Terucuk, alasan ayahku memilih burung Terucuk sebagai peliharaannku yaitu karena pemeliharaan burung Terucuk lebih mudah dibandingkan dengan burung Kenari. Mendengar penjelasan ayahku tentang hal tersebut akhirnya akupun mengikuti pendapat ayahku untuk memelihara burung Terucuk.
Pencarian burung Terucuk pun dimulai pada keesokan harinya, yaitu di Hari Senin, 12 Januari 2026.
Selepas pulang kerja ayah mengajakku untuk mengecek burung Terucuk yang akan dibeli. Rasanya
senang bercampur haru menyelimuti perasaanku pada saat itu.
Sore itu ayah memintaku untuk ikut bersamanya menaiki sepeda motor menuju sang pemilik burung Terucuk yang berlokasi di belakang RS Sari Asih, Kota Serang.
Setelah bertemu sang pemilik burung dan terjadi kesepakatan harga, maka sore itupun langsung ayahku membayarnnya dan burung Terucuk itupun menjadi milikku.
Kegiatanku tiap pagi setelah salat Subuh adalah membersihkan kandang burung Terucuk dari kotorannya, mengganti air minumnya, dan memastikan pakannya tersedia. Hanya dalam waktu seminggu burung Terucuk miliku yang semula masih belum berbunyi sekarang sudah berbunyi gacor. Setiap pagi dan sore burung Terucuk di rumahku selalu berbunyi.
______
Penulis
Rifqi Maulana, lahir di Serang, 5 Mei 2015. Saat ini ia duduk di kelas 5 SD Elfatih Kota Serang. Alamat rumah di Komp. Permata Banjar Asri Blok D5 No.18 Banjar Sari Cipocok Jaya Serang.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!