Puisi Dewis Pramanas
Aku Belum Pernah Setakut Ini!
Suara pujian Tuhan menggema
Saat fajar membuka cahayanya
Aku seperti air langit jatuh perlahan
Terperangkap genangan
Mengepung dari segala arah
Lidah kelu
Jantung berdetak kencang
Kedua kaki jatuh tertunduk
Ketika layar terpampang
Alur proses kepergian
Tuhan
Jujur aku belum pernah setakut ini
Menjelang merebahkan tubuh
Gelisah menyerbu isi kepala
Perihal jadwal telah ditentukan
Menunggu panggilan
Tuhan
Jujur aku belum pernah sepilu ini
Reka ulang pemberian kasih
Namun diri semakin menjauh
Jarang kening ini menyentuh bumi
Hanya berulang alpa
Dunia membuatku silau
Akan semua titipan-Mu
Menjalar di kalbu menjadi candu
Sehingga gelap merajam pikiran
Tak bisa membendung
Kemelut dosa menumpuk
Aku termenung bersama ribuan sesal
Sesungguhnya waktu ialah pengingat
Seperti pagi berganti malam
Awal pasti ada akhir
Kemana aku ‘kan berpijak?
Subang, 17 Februari 2026
Rindu di Fase Paling Lama
Menyeberangi rindu
Kini sudah berbatas status
Tak bisa lagi menukar peristiwa
Sebab waktu memenggal rasa
Semua berbeda
Deburan kasih
Bermanuver di kalbu
Menyimpan dua kemungkinan
Yang tak bisa diterka
Tetapi ikhlas akan temukan nasibnya
Di penghujung masa
Perjalanan masih panjang
Di sana kita terbaring sendiri
Menepi di bawah tanah
Pada fase paling lama
Sampai nanti
Subang, 16 Februari 2026
Membaca Logika
Dari ruang berbeda
Jiwa acap kali memilah
Antara imajinasi dan realita
Yang berseberangan logika
Termenung adalah refleksi
‘Tuk membaca denting waktu
Dari banyak peristiwa kemarin
Dan membuka hari ini
Di sini aku diserbu senyuman
Jabat tangan oleh orang-orang
Yang disatukan tradisi
Namun hati mereka berupa tanda tanya
Pada cerita-cerita bahagia
Dalam mihrab kebersamaan
Layaknya gerombolan bunglon
Mereka asyik berbincang
Bebas mengatur wajah
Subang, 22 Maret 2026
Menurunkan Nalar
Semburat cahaya pagi
Menyala
Kabut mengepung belantara
Burung-burung bergurau
Menceritakan masa kecil
Mereka lupa akan duka
Siang yang terik
Menjadi sejarah kelam
Gergaji menumbangkan pohon-pohon
Asap membumbung ke udara
Gersang
Kau berubah menjadi buas
Bahkan lebih buas dari raja hutan
Setelah diiming-imingi gaya hidup
Gengsi telah gadaikan marwah
Menurunkan nalar
Subang, 22 Maret 2026
Perisai Berdebu
Ia perisai aksara
mulai kering terkuras kerumitan
entah berapa lama bertahan?
menyirami harapan
dari peliknya dunia
Ia memiliki nurani
namun seolah digoyahkan arus komersil
sebab realita merongrong pikiran
wajahnya kusut diacak-acak tuntutan
Sementara gerombolan benalu melekat
berserakan di ruang risau
sepatu kebanggaan telah lusuh
berdebu
Ia tetap bertahan
dari deras perubahan
terus menerangi
tak lekang oleh zaman
Subang, 13 Oktober 2025
______
Penulis
Dewis Pramanas, Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021). Sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.
Instagram: @dewispramanas
Kirim naskah ke
redaksiingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!