Sunday, May 17, 2026

Puisi-Puisi Dewis Pramanas

Puisi Dewis Pramanas 



Aku Belum Pernah Setakut Ini!


Suara pujian Tuhan menggema

Saat fajar membuka cahayanya 

Aku seperti air langit jatuh perlahan 

Terperangkap genangan 

Mengepung dari segala arah


Lidah kelu

Jantung berdetak kencang

Kedua kaki jatuh tertunduk 

Ketika layar terpampang 

Alur proses kepergian 


Tuhan

Jujur aku belum pernah setakut ini

Menjelang merebahkan tubuh

Gelisah menyerbu isi kepala

Perihal jadwal telah ditentukan 

Menunggu panggilan 


Tuhan 

Jujur aku belum pernah sepilu ini

Reka ulang pemberian kasih

Namun diri semakin menjauh

Jarang kening ini menyentuh bumi

Hanya berulang alpa 


Dunia membuatku silau

Akan semua titipan-Mu

Menjalar di kalbu menjadi candu 

Sehingga gelap merajam pikiran 

Tak bisa membendung 

Kemelut dosa menumpuk


Aku termenung bersama ribuan sesal

Sesungguhnya waktu ialah pengingat 

Seperti pagi berganti malam 

Awal pasti ada akhir

Kemana aku ‘kan berpijak?


Subang, 17 Februari 2026



Rindu di Fase Paling Lama


Menyeberangi rindu 

Kini sudah berbatas status

Tak bisa lagi menukar peristiwa

Sebab waktu memenggal rasa

Semua berbeda 


Deburan kasih 

Bermanuver di kalbu

Menyimpan dua kemungkinan 

Yang tak bisa diterka

Tetapi ikhlas akan temukan nasibnya 

Di penghujung masa


Perjalanan masih panjang  

Di sana kita terbaring sendiri 

Menepi di bawah tanah

Pada fase paling lama 

Sampai nanti 


Subang, 16 Februari 2026



Membaca Logika 


Dari ruang berbeda

Jiwa acap kali memilah 

Antara imajinasi dan realita 

Yang berseberangan logika 

Termenung adalah refleksi 

‘Tuk membaca denting waktu


Dari banyak peristiwa kemarin 

Dan membuka hari ini

Di sini aku diserbu senyuman

Jabat tangan oleh orang-orang 

Yang disatukan tradisi 

Namun hati mereka berupa tanda tanya


Pada cerita-cerita bahagia 

Dalam mihrab kebersamaan 

Layaknya gerombolan bunglon

Mereka asyik berbincang 

Bebas mengatur wajah


Subang, 22 Maret 2026



Menurunkan Nalar


Semburat cahaya pagi 

Menyala

Kabut mengepung belantara 

Burung-burung bergurau 

Menceritakan masa kecil 

Mereka lupa akan duka


Siang yang terik 

Menjadi sejarah kelam 

Gergaji menumbangkan pohon-pohon 

Asap membumbung ke udara

Gersang 


Kau berubah menjadi buas

Bahkan lebih buas dari raja hutan

Setelah diiming-imingi gaya hidup 

Gengsi telah gadaikan marwah 

Menurunkan nalar 


Subang, 22 Maret 2026



Perisai Berdebu


Ia perisai aksara

mulai kering terkuras kerumitan 

entah berapa lama bertahan?

menyirami harapan 

dari peliknya dunia 


Ia memiliki nurani 

namun seolah digoyahkan arus komersil 

sebab realita merongrong pikiran

wajahnya kusut diacak-acak tuntutan 


Sementara gerombolan benalu melekat 

berserakan di ruang risau 

sepatu kebanggaan telah lusuh 

berdebu 


Ia tetap bertahan 

dari deras perubahan 

terus menerangi  

tak lekang oleh zaman 


Subang, 13 Oktober 2025


______


Penulis


Dewis Pramanas, Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021). Sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.

Instagram: @dewispramanas 


Kirim naskah ke

redaksiingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!