Puisi Fileski Walidha Tanjung
Empat Peluru untuk Sebuah Pagi
Tragedi Trisakti terjadi pada tanggal 12
Mei 1998. Peristiwa penembakan mahasiswa ini berlangsung di depan kampus
Universitas Trisakti, Jakarta, saat aksi demonstrasi menuntut reformasi dan
turunnya Presiden Soeharto dari kekuasaan Orde
Pagi mengunyah trotoar seperti kitab yang
kehilangan huruf-huruf.
Empat peluru beterbangan dari mulut besi, seperti gagak mabuk meminum matahari.
Asap berdoa dengan lidah solar, sementara gedung-gedung menua dalam sekali
nafas.
Di jembatan, angin menggantung jas almamater seperti kulit domba yang disalib
pasar.
Ibu-ibu menjahit ketakutan pada kantong
beras yang bocor.
Radio memamah pidato, lalu muntah menjadi abu di selokan.
Langit Jakarta memelihara petir seperti singa kurus yang lapar suara.
Dan jalan raya—seekor ular tua—berganti kulit di bawah sepatu demonstran.
Di negeri ini, cermin belajar berdusta
dari istana.
Pohon-pohon menunduk seperti jamaah yang kehilangan kiblat hujan.
Darah menetes perlahan dari papan reklame, merah seperti mawar di mulut algojo.
Seseorang meniup peluit dari rongga malam, lalu kota berubah menjadi kitab
ratapan.
Empat tubuh rebah, tetapi tembok-tembok
mulai bermimpi.
Kuburan membuka jendela bagi burung-burung yang lama dibungkam.
Dan pagi itu, matahari tampak letih,
seperti malaikat yang semalaman mengangkut reruntuhan nurani.
(terinspirasi Tragedi Trisakti dan
runtuhnya Orde Baru)
Perempuan yang Menjahit Luka dengan Cahaya
Ia berjalan di lorong rumah sakit seperti
bulan yang tersesat di perut badai.
Lampu minyak gemetar di tangannya, kecil seperti doa yang disembunyikan para
pengungsi.
Kasur-kasur berkarat mengerang seperti kapal pecah di laut garam.
Tubuh manusia berbau alkohol, darah, dan mazmur yang lupa nada.
Perempuan itu menjahit luka dengan benang
cahaya.
Jarumnya seekor burung bangau yang mematuki nanah sejarah.
Di luar jendela, perang mengunyah rumput dan nama-nama bayi.
Namun matanya tetap teduh seperti sumur tua di tengah padang pasir.
Ia tahu: dunia sering memandikan senjata
dengan susu ibu.
Ia tahu: rumah-rumah ibadah kadang lebih dingin daripada kamar mayat.
Maka ia memeluk demam seperti memelihara rusa yang patah kaki.
Dan malam, seekor anjing hitam, tidur di bawah langkahnya.
Orang-orang menyebutnya penyembuh.
Padahal ia hanya perempuan yang memungut serpihan langit dari lantai rumah
sakit.
Sementara kota-kota sibuk membangun menara dari tulang dan statistik,
ia diam-diam mengajari cahaya agar tidak membenci manusia.
(terinspirasi Florence Nightingale)
Jakarta Terbakar dan Tuhan Menutup Mata
Api menjilat etalase seperti lidah
serigala yang lapar emas.
Jakarta berubah menjadi kitab hangus yang dibaca angin dengan suara gemetar.
Di jalan-jalan, ban-ban terbakar seperti matahari kecil yang dikutuk asap.
Dan langit menggantung rendah, hitam seperti paru-paru para buruh.
Perempuan-perempuan berlari membawa bayi
dan kenangan.
Kaca-kaca pecah seperti doa yang dilempar dari mulut kelaparan.
Di sudut kota, seorang lelaki mencium televisi rusak seperti mencium makam
ayahnya.
Sementara toko-toko roboh pelan, seperti gajah tua yang kehabisan hutan.
Jakarta menjadi hutan tanpa burung.
Gedung-gedung menari dengan tulang api di jendela mereka.
Orang-orang menjarah beras, mie instan, dan rasa takut.
Seolah perut lebih suci daripada kitab-kitab hukum.
Di atas semuanya, langit diam.
Terlalu banyak asap memasuki tenggorokan malaikat.
Dan Tuhan—barangkali—sedang memalingkan wajah-Nya sebentar,
agar manusia melihat sendiri rupa haus yang dipeliharanya berabad-abad.
(terinspirasi Kerusuhan Mei 1998)
Bizantium dan Laut yang Berdoa
Laut membuka mulut birunya seperti rahib
tua yang kehilangan lonceng.
Bizantium berganti nama, lalu burung-burung camar mabuk oleh gema menara.
Kota itu mengenakan mahkota baru dari garam dan pedang.
Sementara ombak mencatat sejarah dengan kuku-kuku air.
Di pelabuhan, rempah-rempah tidur bersama
bau darah dan dupa.
Kapal-kapal datang seperti ayat yang diterjemahkan badai.
Dan kubah-kubah menjulang, emas seperti mata singa di padang gurun kitabiah.
Namun lorong-lorong tetap menyimpan tikus, pelacur, dan roti basi.
Konstantinopel—nama itu seperti lonceng
dilempar ke dada samudra.
Anak-anak memungut kerang sambil mendengar perang tumbuh di kejauhan.
Para saudagar menimbang sutra seperti menimbang dosa sendiri.
Sedang laut, diam-diam, belajar mengeja doa dari reruntuhan kapal.
Sebab setiap imperium hanyalah pasir yang
diberi bendera.
Dan angin selalu lebih tua daripada singgasana.
Malam turun perlahan di atas menara-menara marmer,
seperti burung gagak yang membawa surat dari langit yang kelelahan.
(terinspirasi lahirnya Konstantinopel)
Reggae Terakhir di Nafas Bob Marley
Suara itu keluar dari paru-paru yang
penuh asap kolonial.
Reggae berputar seperti roda doa di gang-gang Jamaika.
Rambut gimbal menggantung bagai akar pohon yang menolak tunduk pada badai.
Dan gitar memerah seperti matahari yang dicelupkan ke sungai ganja.
Ia bernyanyi untuk tanah yang diperas
hotel dan peluru.
Untuk anak-anak hitam yang tidur di bawah poster wisata tropis.
Untuk laut Karibia yang mulai berbau solar dan kesepian.
Sementara hotel-hotel meminum pantai dengan sedotan kapitalisme.
Tubuhnya kurus seperti salib bambu di
ladang tebu.
Namun suaranya tetap tumbuh dari retakan trotoar dan penjara.
Burung-burung reggae beterbangan dari tenggorokannya, hijau seperti daun yang
memberontak.
Dan dunia menari, meski borgol masih bercahaya di pergelangan sejarah.
Ketika nafas terakhirnya jatuh ke bumi,
langit Jamaika mendadak terasa seperti drum pecah.
Angin meniupkan nyanyian ke rambut laut,
sementara bulan berjalan pincang membawa irama yang yatim.
(terinspirasi wafatnya Bob Marley)
Dia yang Mengajari Indonesia Bernyanyi
Ia memungut nada dari selokan, dari
becak, dari suara bambu dipukul hujan.
Lalu menyimpannya di dada seperti petani menyimpan benih pada musim paceklik.
Kota-kota kolonial berdiri pucat seperti roti basi di meja penjajah.
Namun lagu-lagunya tumbuh liar seperti ilalang di rel kereta.
Burung-burung gereja, azan subuh, peluit
kereta, dan suara ibu menanak nasi—
semuanya berubah menjadi sungai bunyi di tangannya.
Ia mengajari negeri ini bernyanyi tanpa harus menjadi istana.
Sebab musik paling jujur sering lahir dari dapur dan luka.
Di malam-malam perang, biola menangis
seperti pohon ditebang diam-diam.
Radio-radio tua memuntahkan mars dan rindu ke kamar-kamar sempit.
Dan jalan-jalan yang lapar tetap hafal bait-baitnya,
seperti pengemis hafal aroma roti dari rumah orang kaya.
Kini suaranya telah menjadi hujan di atas
kota-kota tua.
Anak-anak menyanyikannya tanpa tahu siapa yang pertama menanam nada itu.
Padahal ia hanya lelaki yang memelihara cahaya kecil di tenggorokan bangsanya,
ketika dunia sibuk menjual kebisingan sebagai kemajuan.
(terinspirasi kelahiran Ismail
Marzuki)
Madiun, pertengahan Mei 2026
Penulis
Fileski atau Walidha Tanjung Files, lahir di Madiun, 21 Februari 1988, adalah penulis, musikus, penyair, dan pendidik Seni Budaya. Karyanya berupa puisi, prosa, dan esai telah dimuat di berbagai media nasional. Beberapa penghargaan yang diraih, antara lain Anugerah Hescom eSastera Malaysia, Gempita Awards, Undagi Balai Bahasa Jawa Timur 2026 dan Guru Penulis dalam Peta Sastra Kebangsaan di Salihara, Jakarta, 2024. Aktif menulis dan penggerak literasi, ia juga founder Negeri Kertas serta tim devisi pengembang SDM di Forum TBM Jawa Timur.
Kirim naskah ke
redaksiingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!