Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno
Besok
Langit sedang dirundung rindu,
rindu yang tak pernah dibalas waktu.
Sementara anak-anak sedang menghabiskan waktu,
aku tertidur pulas di dekapan hantu.
Itulah hantu masa lalu, hantu
perempuan yang mengejar-ngejarku.
Semasa hidupnya, ia tidak pernah berhenti berdandan,
bicara teori konspirasi bahwa bumi hanya percobaan.
Aku inginkan dia berhenti untuk takut pada masa depan.
“Besok kau harus menghilang dan tidak kelihatan.”
Keesokan harinya, segala ketakutan padam begitu saja.
Aku tidak lagi mendengar racau perempuan itu.
Tapi kadang kulihat dia di cermin, di kaca spionku, atau
ikut tertidur saat aku sedang memimpikan masa depan.
“Sudah tidur saja,” bisiknya.
Aku tidak gidik ngeri.
Tidak ada yang lebih ngeri dari
tubuh yang dirundung nyeri,
nyeri yang hinggap setiap hari.
“Besok aku akan membisikimu lagi.”
Aku peduli setan. Besok akan sama
dengan kemarin: hari-hari yang melelahkan,
hujan rindu yang dibawa pergi hantu
melewati langit yang masih malu menatapku.
Menjelma Tanah
Kubuka kitab suci dan kubaca agar mulia jiwaku
dan kutenggak gelas berisi malu
agar tetap jujur pribadiku
dan kumakan sepotong bodoh dari balik jendela
agar terarah jalanku
dan bermandikan rindu tubuhku
agar hati ini senantiasa mengingatmu
dan bersetubuh kata lidahku
agar ia tetap menggema di dalam pilu
dan terkubur batinku yang ringkih
lagi syahdu dalam lagu
dan kudekap air hujan di dalam pelukku
meski tertatih-tatih dalam ragu
agar nanti ketika aku menjelma tanah abadi
bunga yang harum bisa tumbuh dan mengabdi.
Dari Balik Jendela Maya
Dari balik jendela maya
kita saling memberi dukungan
meski tak tahu bunga siapa
atau burung siapa
sedang bertengger di sana.
Dari balik jendela maya
kita saling menipu dan meniru
untuk mendapatkan dukungan
meski tak tahu suara siapa
atau indra siapa yang kena.
Dari balik jendela maya,
dunia kita yang kedua,
kita merasa hidup seutuhnya.
______
Penulis
Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Karya-karyanya dapat dijumpai di berbagai media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Cerpennya yang berjudul “Tempat Kejadian Perkara” berhasil menjadi juara ketiga dalam Parmawijaya Dendasasmita Literary Awards 2025. “Ketika Kata Tiada” merupakan 10 Naskah Terpilih dalam Pitching Naskah Novel Bentang Pustaka x Suku Sastra 2025. Pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah lewat novelnya “Machine with a Heart”.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!