Sunday, May 31, 2026

Puisi-Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno


Besok


Langit sedang dirundung rindu,

rindu yang tak pernah dibalas waktu.

Sementara anak-anak sedang menghabiskan waktu,

aku tertidur pulas di dekapan hantu.

Itulah hantu masa lalu, hantu

perempuan yang mengejar-ngejarku.


Semasa hidupnya, ia tidak pernah berhenti berdandan,

bicara teori konspirasi bahwa bumi hanya percobaan.

Aku inginkan dia berhenti untuk takut pada masa depan.

“Besok kau harus menghilang dan tidak kelihatan.”


Keesokan harinya, segala ketakutan padam begitu saja.

Aku tidak lagi mendengar racau perempuan itu.

Tapi kadang kulihat dia di cermin, di kaca spionku, atau

ikut tertidur saat aku sedang memimpikan masa depan.


“Sudah tidur saja,” bisiknya.

Aku tidak gidik ngeri.

Tidak ada yang lebih ngeri dari

tubuh yang dirundung nyeri,

nyeri yang hinggap setiap hari.


“Besok aku akan membisikimu lagi.”

Aku peduli setan. Besok akan sama

dengan kemarin: hari-hari yang melelahkan,

hujan rindu yang dibawa pergi hantu

melewati langit yang masih malu menatapku.



Menjelma Tanah


Kubuka kitab suci dan kubaca agar mulia jiwaku

dan kutenggak gelas berisi malu 

agar tetap jujur pribadiku

dan kumakan sepotong bodoh dari balik jendela 

agar terarah jalanku

dan bermandikan rindu tubuhku

agar hati ini senantiasa mengingatmu

dan bersetubuh kata lidahku

agar ia tetap menggema di dalam pilu

dan terkubur batinku yang ringkih

lagi syahdu dalam lagu

dan kudekap air hujan di dalam pelukku

meski tertatih-tatih dalam ragu

agar nanti ketika aku menjelma tanah abadi

bunga yang harum bisa tumbuh dan mengabdi.



Dari Balik Jendela Maya


Dari balik jendela maya

kita saling memberi dukungan

meski tak tahu bunga siapa

atau burung siapa

sedang bertengger di sana.


Dari balik jendela maya

kita saling menipu dan meniru

untuk mendapatkan dukungan

meski tak tahu suara siapa

atau indra siapa yang kena.


Dari balik jendela maya,

dunia kita yang kedua,

kita merasa hidup seutuhnya.


______


Penulis

Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Karya-karyanya dapat dijumpai di berbagai media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Cerpennya yang berjudul “Tempat Kejadian Perkara” berhasil menjadi juara ketiga dalam Parmawijaya Dendasasmita Literary Awards 2025. “Ketika Kata Tiada” merupakan 10 Naskah Terpilih dalam Pitching Naskah Novel Bentang Pustaka x Suku Sastra 2025. Pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah lewat novelnya “Machine with a Heart”.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!