Sunday, May 31, 2026

Cerpen Andria Septy | Tato Geg

Cerpen Andria Septy

 

 

Pada hari suci Saraswati tahun lalu, perempuan itu bertekad meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Sependek ingatannya, ia paling benci mata pelajaran Bahasa Inggris. Seorang pemuda mengenalnya, sewaktu mengenyam pendidikan menengah pertama di Desa K. Bahkan, ia akui keahliannya dalam menyontek yang dipersiapkan semalam suntuk. Ia bangga dengan masa muda yang mendebarkan ketika mulai mendeteksi kata-kata busuk dari orang-orang busuk. Kenakalan remaja paling berani yang dilakukannya; merajah lengan mulus nan ranum ketika libur semesteran. Betul. Ia berpura-pura menjadi anak kuliahan. Kala itu, tidak begitu ketat pengawalan dalam dunia pertatoan. Telah terwakilkan dengan tinggi dan wajahnya yang amat matang. Mulanya, perempuan itu bertato demi sok gaul, tanpa benar-benar tahu makna. Perempuan Bali kelahiran Kalimantan itu kerap disapa Metha.

      

Beberapa kawan meledek dan merecoki pikiran Metha. Ia menjawab dengan tanpa bersikap dongkol, kenapa mesti cari makna? Toh, tato ini sebenarnya untuk meningkatkan rasa percaya diriku. Beberapa kawan cowoknya tak sanggup berkata apa.

 

Semuanya serba pertama, ketika Metha jatuh cinta dengan tato dan (kelak) menjadi amor (anak motor). Termasuk pengenalannya pada dunia maya yang fana. Dunia ketika ia getol menjadi sesosok berkepala batu. Lingkungan sekitar Maya membentuk tabiatnya menjadi liar.

 

Di hari ulang tahunnya, perempuan itu menambah tato serigala pada lengan kiri atas. Pemuda itu tahu betul, tato Casper di lengan kanan telah menemani masa-masa remaja. Ide soal tato serigala muncul, lantaran hewan itu dipercaya membawa keberuntungan. Ia berkontemplasi, ingin berhasil dalam perkuliahan, pekerjaan dan berpenghidupan. Itulah hari terakhir, ia menjadi agak filosofis. Lantas beralih identitas menjadi amor (anak motor-red).

 

***

      

Ini kejujuran hati si pemuda Desa K.

 

Si amor Metha kerap membuatnya gelisah dengan foto-foto diri bak supermodel. Si pemuda betah berjam-jam demi memantau Metha pamer paha, bahu mulus dan bibir merah jambu. Ia rajin mengunggah foto di Story Instagram per dua jam. Si pemuda merasakan perubahan dalam hidup gara-gara kecanduan dengan Meta dan Metha. Pertanyaan demi pertanyaan berdansa riang di kepala pemuda itu. Mengapa ia tak mencoba berkenalan ulang? Terkait respons dan segala macam urusan belakang. Hal terpenting keberanian, tukasnya dalam hati.

 

Si pemuda itu pun dilanda kecemasan menahun. Ia menyempatkan diri ke puncak bukit belakang rumah sepulang dari seremonial foto keluarga. Ia memperoleh gelar "Sarjana Pendidikan" dan wisuda siang tadi. Biasanya, ia bermenung di bukit kunang-kunang itu sambil membawa tumblr berisi kopi. Desir alamiah yang dinanti; sepoi angin menyapa ilalang. Gigitan nyamuk membuatnya tersadar, ia seperti pungguk merindukan bulan. Namun, lembayung senja membikin kecemasan pudar. Seharusnya, ia berkarya bikin konten yang tadinya sebagai pekerjaan sampingan.

 

Ah, otaknya buntusebuntu-buntunya. Ia gundah akan ketiadaan ide meracik karya mutakhir dan pikirannya tertuju selalu ke Si Geg.

 

Batu kerikil dan partikel debu membersamai si pemuda sewaktu bekerja paruh waktu sebagai pengemudi perjalanan. Ia mesti setangguh Si Geg yang tidak dapat berbahasa Bali itu. Ia terpana ketika Si Geg berucap gamblang di sosial media, duit-lah agamanya sekarang. Perempuan itu berangkat ke kota demi sesuap nasi. Tahu-tahu, menjadi pemaki tulen. Curhatan Metha di sosial media itu dicatat oleh si pemuda.

 

***

 

Hari ini, pemuda itu bertandang ke usaha lampau di pusat keramaian. Lebih tepatnya, menyengajakan diri melamar pekerjaan di kafe bekas milik Ayah Geg. Di sisi lain, semacam perasaan heroik teruntuk kata-kata pengangguran yang bakal hilang segera. Barista semacam cita-cita masa kecil yang semenyenangkan roti gandum dan teh manis hangat pagi hari. Setibanya di skena kafe ia mendadak loyo. Perempuan fotogenik itu terlihat sedang asyik bercakap mesra dengan sosok berkumis tipis. Si kemayu bersandar di lengan lelaki itu sewaktu di depan elevator. Sang pemuda tercekat seraya membatin, optimis saja, barangkali menemui pemilik kafe di lantai atas. Sungguh. Wangi lembut parfumnya itu, membuat kami para cowok menjadi kepayang. Ia tahu betul. Metha dikenal sebagai sosok bergaya elite, di tengah ekonomi sulit.

 

Tersiar kabar, ia siap disewa menemani pria-pria kesepian. Perempuan yang fasih berbahasa Banjar itu tak pernah menampik. Ia mengikuti saja arah kehidupan membawanya. Hingga berbulan-bulan, si pemuda mencari celah bertemu. Tetapi belum ada perubahan signifikan karena Metha sok ‘pura-pura tak kenal’. Pemuda itu Metha anggap hanya ‘Maya’.

 

Sependek ingatannya, Metha sejak dulu lumayan berkepribadian keras. Terutama soal suara-suara perempuan yang diacuhtakacuhkan. Metha berang bukan main, ketika pendapat para perempuan, apa pun latar belakangnya, disepelekan bahkan tak dianggap.

 

“Ah, perempuan itu cuma pemanis. Sudah jelas dari gestur tubuhnya, simpanan pejabat.”

 

Kala itu, kepalanya seperti akan meledak. Hidungnya kembang kempis ingin segera menimpali. Namun sangking kesalnya, ia hanya menangis. Si Geg berusaha santai di kafe terselubung yang menjual miras. Lagu Mirasantika-Rhoma Irama mengalun deras. Sederas cinta Geg pada kariernya yang penuh ketidakpastian.

 

***

 

Si pemuda memperoleh pekerjaan sebagai asisten barista. Gaji pertama telah ia belikan gaun merah jambu untuk Metha. Ia bermaksud mengirim gaun itu, ke kafe tempat Geg menjadi pramusaji. Sedihnya, si hitam manis itu dimutasi menjadi kasir. Tepatnya, kasir salah satu kafe rekanan dari kafe tempat si pemuda bekerja. Konon, si perempuan rantau ini membikin seorang pelanggan keracunan makanan. Bahkan, berhembus kabar, ia sudah menjadi isteri kedua pejabat birokrat. Jadi, semacam harus dalam pengawasan intensif. Kafe yang serupa restoran bintang lima itulah tempat cuci uang.

 

Kurang dari sepuluh menit, jam menunjukkan pukul tujuh belas. Jam di mana biasanya Metha berada di belakang meja kasir. Selama tiga bulan ini, si pemuda sudah cukup punya informasi terkait manungsa itu. Manungsa cantik yang pembawaannya elegan. Pengikut sosial media menjuluki ia Angsa Cantik. Seharusnya seekor angsa yang ia jadikan tato, bukan serigala atau Casper. Metha gemar mengenakan pakaian-pakaian minimalis. Si pemuda pastikan, perasaan yang ia miliki bukan semata instan. Apalagi berahi. Ia tahu sejak lama, Metha bekerja sebagai pemandu hiburan malam. Tadinya, Si Geg sosok yang polos dan lempeng. Bahkan si pemuda mengikuti tulisan-tulisannya terkait soal ekologis. Bagi Metha; sungai, laut, hutan, sawah dan gunung diibaratkan sesosok perempuan. Lelaki mana yang bisa hidup tanpa wanita? Bahkan jikalau terasing dan diasingkan, perempuan masih bisa bertahan. Namun, keberadaan perempuan terlampau diperlakukan tak semestinya. Tulis Metha dalam blog yang si pemuda ingat betul. Kata-kata itu beririsan dengan ucapan neneknya dulu sewaktu kecil.

 

Semasa kecil, si pemuda memimpikan diri menjadi seperti Don Quixote, atau Pangeran Cilik yang terasing di planet. Semua impiannya dirayapi seribu satu pertanyaan. ‘Kau ini apa’ bertebaran di ranting pohon bunga Jakaranda dan Tabebuya.

 

Si pemuda tak punya senjata apa-apa, selain keahlian menyeduh kopi dan menyetir mobil. Seduhannya pun termasuk kategori junior di kancah dunia perbaristaan. Sejak lulus sekolah, si pemuda mencari tahu, apa gerangan kekhawatiran dan kegemaran perempuan itu. Ia suka foto, kopi dan kafe. Ia benci belajar tata bahasa. Suka jatuh cinta sama orang yang membuat kopi enak. Pria idaman Metha, maksimal seperti Mikael Jasin, atau minimal kayak Ayahnya yang militan.

 

Makanya, pemuda itu nyemplung sebagai barista karena ingin menaklukkan Metha.

 

Perempuan pecinta rupiah dan dolar itu bersimbah darah di bawah pohon Tabebuya. Iblis mana yang melakukan ini! Si Geg terakhir kali terlihat bersama si pria berkumis tipis. Si pemuda yakin betul, si rakus gembul itulah pembunuhnya! Tinta di atas kertas itu masih basah dan bercampur darah segar. Semua kertas-kertas bertuliskan bahasa Prancis. Identitas barunya terkuak lewat kertas surat, yang barangkali seribu lembar. Si pemuda menyusunnya satu persatu dan ia kumpul dalam stopmap plastik. Betapa pohon itu pohon yang kami rawat bersama sosok yang ia yakini sebagai kembaran Metha. Ada nama si pemuda tertera di pohon yang penuh bercak darah. Bahkan masih sedikit basah disamping bau anyir yang menyerebak.

 

Asisten barista itu tak paham mengapa semacam diarahkan ke tempat kejadian perkara. Ia yakin perempuan ini hanya doppelganger Metha. Simpel. Mayat itu tak bertato Casper. Si pemuda gagal paham, mengapa semua mata elang mereka tertuju padanya. Mereka tak percaya kata-katanya satu pun. Ah, kesaksiannya hanya dianggap angin lalu. Padahal, si pemuda mengantongi beberapa bukti yang mengarah ke manusia bau tanah, suami siri sendiri.

 

Gn. Kelua, April 2026

  

______

 

Penulis

 

Andria Septy, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia adalah satu dari 7 Emerging Writers di Makassar International Writers Festival tahun 2022. Pada tahun 2024, residensi dan pameran ‘Youth of Today’ Jogja Fotografis Festival di Yogyakarta. Ia penulis puisi, novel dan tutor. Menerbitkan novel Calista’s Conflict (Stiletto Indie Book, 2016). Buku kumpulan puisinya Tata Laras Gema Rima (Basabasi, 2025).

 

Instagram: @senoritaandriasepty_

Facebook: Andria Septy

Blog Pribadi: www.theasenorita.blogspot.com

Tautan karya-karya saya: linktr.ee/karyaandriasepty

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

 

 

 

 

Terimakasih telah berkomentar!