Saturday, May 9, 2026

Resensi Kabut | Melancong dan Cerita

Oleh Kabut





Dolan ke Solo, pelancong bisa mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Mangkunegaran. Konon, dua tempat itu mengisahkan dan menjelaskan Jawa. Apakah para pelancong mendatanginya untuk mengerti sejarah dan Jawa? Yang pasti, ada gegeran belum selesai di keraton. Menteri yang berulang datang ingin menyelesaikan masalah justru menimbulkan polemik. Artinya, perselisihan di keraton berakibat buruk dalam imajinasi sejarah dan imajinasi pariwisata.

Siapa-siapa pernah mengunjungi Mangkunegaran? Nasib dan situasi berbeda dirasakan di Mangkunegaran. Di situ, ribuan orang berdatangan dengan beragam misi: piknik, ilmu, hiburan, dan lain-lain. Mangkunegaran tampak apik dan anggun. Cerita-cerita indah terus bermunculan. Yang gemar musik, konser-konser biasa diselenggarakan di lingkungan Mangkunegaran. Yang suka ilmu, diskusi-diskusi biasa digelar di sana.

Para turis masih di Solo. Mereka memiliki pilihan-pilihan tempat agar merasa terpuaskan dan mencipta kangen. Jadi, mereka kelak datang lagi ke Solo. Ada yang memilih mengunjungi Taman Balekambang. Tempat itu dekat Stadion Manahan. Apa yang diperoleh di sana. Pelancong bakal melihat kolam dan patung. Mereka kadang bisa mengikuti acar-acara kebudayaan.

Di ingatan publik, Taman Balekambang dibuat Mangkunegara VI untuk dua putrinya yang kembar: Partini dan Partinah. Pada masa lalu, tempat itu teringat dengan pentas ketoprak. Kini, Taman Balekambang mulai berdandan indah. Tempat itu masih menyisakan sejarah meski pengunjung hampir tidak mengetahuinya. Di situ, ada patung yang mengingatkan sastra. Di penerbitan buku, nama yang dicantumkan sebagai pengarang adalah Arti Purbani. Yang membaca buku-bukunya dan melacak biografinya bakal diarahkan ke Mangkunegaran. Arti Purbani itu nama samara dari putri yang berasal dari Mangkunegaran. Novelnya yang terkenal diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Yang ada di hadapan kita adalah buku yang diniatkan menjadi bacaan bagi anak dan remaja. Buku yang berjudul Hasta Tjerita diterbitkan PT Pembangunan. Buku yang tipis dan manis. Buku itu tidak bakal ditemukan orang-orang yang mengunjungi Taman Balekambang. Di beberapa perpustakaan di Solo, buku itu tidak menjadi koleksi. Jadi, yang belum berkunjung ke Solo (Mangkunegaran dan Taman Balekambang) mendingan menjadi pelancong dalam buku.

Pengarang memiliki bekal berupa warisan dongeng-dongeng silam. Ia pun akrab dengan masyarakat yang bergelimang cerita, dari masa ke masa. Maka, yang membaca cerita berjudul “Si Melati” tidak terlalu sulit dalam memahaminya. Anehnya, cerita silam yang dinikmati anak dan remaja lazim memasalahkan pernikahan. Tema yang terlalu besar dan belum tiba waktunya.

Diceritakan pedagang yang mau pergi ke kota. Ia meninggalkan tiga putrinya yang bernama Kenanga, Kantil, dan Melati. Tiga putri yang berbeda sifat dan peruntungan. Pedagang itu berharap dagangannya laku, yang nantinya dapat membeli hadiah yang diberikan kepada putri-putrinya.

Yang ditulis Arti Purbani: “Si Kenanga meminta sebuah gelang emas. Si Kantil mengharapkan sebuah kalung berlian jang bagus. Si Melati lain dari kakak-kakaknya. Ia meminta setangkai bunga tjengkeh jang djika dipetik tak dapat terpisah dengan pot tempat tumbuhnja. Djadi bung aitu tak dapat dipetik begitu sadja, melainkan harus dibawa bersama-sama potnja.”

Apa yang terjadi? Pedagang mendapatkan untung berhasil. Ia membelikan hadiah untuk Kenanga dan Kantil. Yang menyulitkan adalah memenuhi permintaan Melati. Kegigihan membuatnya sampai pada keterangan yang diperlukan dalam memenuhi permintaan putri bungsu. Yang memiliki tanaman itu berkata kepada pedagang: “Bungaku tak kudjual, tetapi djika anak bapak sendiri datang kesini, kembang ini akan saja berikan padanja.” Hari berganti hari. Putri itu datang. Keberuntungan diperolehnya saat memenuhi permintaan pemilik bunga cengkeh agar ia menjadi permaisuri. Cerita yang indah, yang tidak usah dituntut masuk akal. Melati yang tidak meminta perhiasan mahal malah mendapatkan kebahagiaan.

Apakah ceritanya selesai? Kenang dan Melati yang memiliki sifat-sifat buruk iri dengan kebahagiaan Melati. Maka, yang dilakukan adalah mencelakakan Melati. Para pembaca belum perlu tergesa merampungkan cerita. Pola itu sering terkandung dalam cerita-cerita di Nusantara dan dunia. Wajar saja jika Melati menderita akibat ulah Kenangan dan Kantil. Apakah ia akan terpuruk dan sengsara? Percayalah bahwa Melati masih beruntung dan bahagia. Cerita itu punya cara dan arah agar Melati tetap “menang”. Yang kalah dan tersingkir adalah Kenanga dan Kantil. Kita agak senewen menebak motif pemberian nama para tokoh, yang merujuk bunga-bunga.

Buku yang tipis memuat sembilan cerita. Arti Purbani punya misi mengajarkan kebijaksanaan atau nasihat melalui cerita-cerita. Namun, anak atau remaja yang membacanya pada masa sekarang mungkin “kesulitan”. Struktur cerita “lama” jarang membuat pembacanya terpesona. Cerita seolah tiada tantangan. Padahal, para pembaca masa sekarang biasa “dijerat” dalam kerumitan dan kejutan dalam cerita. 

Yang agak menyulitkan adalah upaya para pembaca dalam menikmati cerita-cerita sambil membayangkannya sebagai film. Cerita-cerita dari masa lalu sebenarnya mudah digarap menjadi komik atau film. Yang mesti dimengerti adalah warisan silam gampang disingkirkan oleh cerita-cerita baru yang bermunculan dan menyerbu dengan pola-pola “mutakhir”.

Buku yang dipersembahkan Arti Purbani tetap penting dalam arus cerita yang dicetak menjadi buku di Indonesia. Kita mengandaikan buku itu dibacakan saat para pelancong mengunjungi Mangkunegaran atau Taman Balekambang. Anehnya, orang-orang di Solo jarang mengetahui bahwa putri dari Mangkunegaran adalah pengarang. Buku-bukunya diterbitkan Balai Pustaka dan Pembangunan. Semestinya, buku-buku itu cetak ulang, yang bisa dijadikan cenderamata dalam kunjungan di Mangkunegaran atau Taman Balekambang. Yang bikin kita meragu, pihak-pihak yang berkepentingan dalam memajukan pariwisata di Solo kemungkinan kecil mengetahui buku-buku buatan putri dari Mangkunegaran.

_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Terimakasih telah berkomentar!