Oleh Kabut
Di sebaran sastra dunia, yang dibaca anak dan remaja, muncul nama para tokoh. Nama-nama yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Semua itu nama asing. Soalnya, kita membaca cerita anak yang memukau berasal dari negara-negera di Eropa dan Amerika Serikat. Sastra anak mereka mendunia cepat melalui pelbagai cara. Yang terpenting melalui kolonialisme. Artinya, Eropa yang datang ke Asia atau Indonesia turut “mengenalkan” sastra yang bertumbuh di Eropa selama ratusan tahun. Datanglah cerita-cerita anak di Nusantara, yang semula berbahasa asing. Beberapa diterjemahkan dalam bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain.
Nama-nama para tokoh terus teringat. Buku-buku cerita anak dari Eropa dan Amerika Serikat yang terpenting terbit dan laku, sampai sekarang. Bagaimana sastra anak yang bertumbuh di Indonesia? Kita saja tidak mampu membuat daftar 100 pengarang, yang meramaikan sastra anak di Indonesia. Usaha menyebut judul buku-buku pun sangat sulit. Lantas, nama para tokoh yang dibuat pengarang dalam bukunya gampang dilupakan. Nama-nama yang sulit tenar dan menjadi referensi bagi anak-anak. Pengecualian tentu terjadi.
Di majalah Bobo, 5 Agustus 1989, tersaji iklan yang mengembalikan ingatan kita kepada tokoh yang hidup dalam cerita. Tokoh yang sempat berkuasa pada masanya. Siapa? Yang hidup pada masa 1980-an dan 1990-an mengingat tokoh cerita itu bernama Lupus.
Yang ditulis dalam iklan: “Oom dan tante butuh teman buat si kecil? Dan, oom dan tante sebegitu sibuk sampai tak ada waktu mencarikan teman buat si kecil? Atau, tak sempat lagi mendongeng kala si kecil menjelang tidur?” Iklan yang berlagak pintar. Buktinya, pengajuan tiga pertanyaan, yang sudah disiapkan jawabannya. Jawaban yang benar, tidak mungkin salah. Iklan yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kita membaca kalimat jangan dianggap memerintah, boleh disebut jawaban: “Hadirkan ‘Lupus Kecil’ saat ini juga.” Iklan buku yang tidak lucu. Iklan untuk kaum dewasa, yang diminta beli buku untuk anak kecil. Pada babak sebelumnya, Lupus ditampilkan sebagai remaja. Lantas, dihidupkanlah Lupus yang masih kecil.
Apa keunggulan dari cerita yang dibuat oleh Hilman dan Boim? Iklan di majalah Bobo diupayakan mujarab. Penerbit ingin seri Lupus saat masih kecil laris seperti seri Lupus sebelumnya. Jadi, keterangan yang mengandung kebenaran dan kesejatian diberikan: “Lupus Kecil adalah cerita Lupus yang masih kelas satu SD. Berisikan pengalaman dan kejadian yang pasti dialami pula oleh putra-putri anda. Tentu si kecil senang berteman dengan lupus. Mereka tak berjarak. Mereka punya hobi yang sama, seperti nonton TV, main sepeda, makan siomai, atau sembunyi di kolong tempat tidur.” Ingatlah, yang diceritakan adalah bocah-bocah masa 1980-an atau berlatar Orde Baru. Jangan membayangkan bocah-bocah dalam cerita itu masih bisa ditemukan dalam abad XXI.
Kita buktikan dengan membuka buku berjudul Lupus Kecil: Pingsan Together. Hilman dan Boim Lebon belum kapok menghibur pembaca. Buku diterbitkan Gramedia, 2003. Namun, Lupus bukan lagi murid kelas satu SD. Ia menjadi tokoh yang bertumbuh. Yang harus diperhatikan: Lupus adalah murid kelas empat SD dan Lulu berada di kelas tiga.
Kita menikmati satu cerita yang mengakibatkan tawa selama belasan menit. Apa yang dipilih dalam buku berukuran kecil dan tipis, yang dihiasi ilustrasi apik? Kita memilih yang berjudul “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!” Judul yang sangat tidak menarik tapi dijamin lucunya.
Mami, Lupus, dan Lulu di rumah. Mereka mau mendefinisikan Minggu yang berbeda dari biasanya. Kebetulan, Papi tidak ada di rumah. Maka, rumah itu nasibnya ditentukan tiga orang. Minggu bukan untuk bermalas-malasan atau mencari hiburan sepuasnya. Apa yang terjadi? Kita membaca sambil capek tertawa.
Lupus dan Lulu protes, tidak ingin hari Minggu hancur maknanya sebagai hari libur. Namun, setiap protes mendapat jawaban paling benar dari Mami, yang sulit banget digugat meski mendatangkan seribu jin. Kita mengutip omongan Mami yang dahsyat: “Ingat, sekali Mami canangkan wajib belajar sembilan tahun, eh sori, jadi ngaco deh. Sekali Mami canangkan kerja hari ini, ya kalian harus kerja. Titik!” Aneh, Mami bilang titik tapi yang terlihat adalah tanda seru.
Mami yang tidak mungkin kejam tapi tidak berniat menjadi komedian. Yang dikatakan: “Kalo menolak, kalian akan dihukum cambuk! Bukan, kalian dihukum untuk bikin cambuk sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar!” Mami yang mahir berlogika dan berbahasa. Tujuannya ketertiban dan kepatuhan dalam rumah.
Mereka berhasil kerja bakti, membersihkan beberapa ruangan. Tugas paling penting adalah menyingkirkan dan membuang barang-barang yang menyesaki beberapa ruang. Barang-barang itu dianggap tidak berguna, tidak boleh menjadikan rumah terasa sempit. Membuang hukumnya wajib sesuai ketentuan yang dibuat Mami. Kita membayangkan tiga orang itu benar-benar merusak makna libur pada hari Minggu. Mereka malah menggerakkan tubuh, berdebat, dan pesta keringat. Apakah itu masih bisa terjadi pada masa sekarang?
Yang dikatakan Mami cocok dengan yang terjadi di banyak rumah. Mami menjelaskan secara tegas: “Tapi, kalian pernah nggak merasa, kadang kita susah mencari sesuatu, misalnya mencari martil, gunting kuku, silet, atau benda-benda kecil lainnya? Kenapa? Karena di tempat-tempat yang semestinya berisi barang-barang itu, kini sudah terisi benda-benda lain. Di dapur saja, yang mestinya cuma ada perabot dapur, sekarang juga diisi barang-barang bekas. Rantai sepeda, kursi patah, kaleng bekas oli. Nah, tujuan kita ini adalah mengenyahkan semua benda-benda yang tidak pada tempatnya, dan semua benda yang kita anggap tidak penting lagi bagi kita!” Pidato itu ditambahi janji bahwa Lupus dan Lulu bila berhasil dalam pengenyahan itu bakal mendapat ganjaran yang menarik.
Jam-jam berlalu. Beberapa ruang berhasil dibersihkan dari barang-barang. Yang tampak, ruang-ruang menjadi longgar, tidak sesak dan berantakan lagi. Namun, kerja belum selesai. Sore, Papi pulang bawa cerita. Mereka bakal mendapat rezeki asal Papi bisa mengambil sertifikat tanah. Pokoknya, Papi sedang berbisnis yang menguntungkan. Syaratnya harus ada sertifikat. Di rumah, ia berusaha mengambilnya. Suasana yang berubah di rumah membuatnya kagum sekaligus khawatir. Rumah dalam kondisi rapi, bersih, dan indah. Minggu yang unik.
Di kamar, Mami mengatakan bahwa tidak mungkin ada sertifikat. Papi menjawab enteng: “Memang karena Papi nggak menyimpannya di sana. Di kamar kita sudah penuh barang. Sempit. Baju di mana-mana. Bedak-bedak Mami bertebaran. Jadinya, surat-surat itu Papi simpan di rak dapur. Di sana kan kosong.” Omongan itu menimbulkan gegeran. Minggu menjadi panik.
Papi gagal menemukan. Yang terjadi: “Hei, ke mana surat-surat itu? Dan, ke mana barang-barang koleksi Papi lainnya? Setang sepeda tua, mesin tik tua, oh, itu semua barang-barang yang nanti bakalan mahal…. Bundel-bundel majalah pada ke mana? Rak sepatu peninggalan zaman revolusi. Itu kan kenang-kenangan dari seorang pahlawan yang tak dikenal?”
Panik. Mami segera memerintah Lupus dan Lulu bekerja lagi. Mereka dipaksa mengambil lagi barang-barang yang dibuang di bak sampah. Barang-barang itu punya Papi, koleksi untuk kelak dijual. Lupus dan Lulu yang lelah berani protes. Mami tidak bisa disalahkan dan dikalahkan. Iming-iming yang diberikan agar patuh: “Nanti hadiahnya dobel.” Keluarga yang bikin pembaca tertawa. Kalimat yang terindah sebagai penutup cerita: “Akhirnya, rumah Lupus kembali seperti sedia kala.”
Cerita yang mengesankan. Kita memang tidak memberi perhatian besar kepada Lupus dan Lulu gara-gara ocehan yang seru itu milik Mami dan Papi. Tetap saja cerita bisa dinikmati anak-anak yang membutuhkan tawa agar hari-harinya tidak menyiksa dan menjemukan.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!