Cerpen Indri Anisa
Mengarungi samudera luas dari
Miami, Florida, ke Valparaiso, Chili, dan pemberhentian akhir ke Buenos Aires, Argentina.
Berlayar dengan kapal pesiar megah bernama Fortezza dibangun
pada tahun 2005 oleh galangan Italia. Disebut sebagai keajaiban dunia karena
rekam jejak pelayaran fantastis dengan rute-rute panjang dan berbahaya.
Salah satunya Tanjung Horn—rute mengerikan yang membuat banyak kapal berputar balik karena badai kematian—bahkan tumbang ke dasar karang, ditelan derasnya gelombang laut, atau juga kabut yang membutakan navigasi kapten hingga batu raksasa itu menghantam tubuh kapal. Banyak diantaranya tidak pernah kembali—abadi di Tanjung Horn yang memiliki keindahan bak surga dunia. Namun, Fortezza milik Cuore dell’Oceano tidak pernah gagal dalam pelayaran ... tidak sampai mereka melanggar sisi kemanusiaan.
***
“Paloma Dove,
kau berjanji dalam perjalanan kali ini akan mendapatkan inspirasi brilian. Jika
kau kembali tanpa membawa berita yang luar biasa maka saya pastikan ini menjadi
perjalanan terakhir dalam hidupmu.” Tuan Redaksi melempar boarding pass dan tiket ke dada Paloma kasar.
Paloma tak
bersuara selain mengangguk datar. Tungkai panjangnya melangkah sambil menggeret
koper menuju gangway dan masuk
melalui geladak utama. Ia disambut seorang kru kapal berwajah tampan dengan
lengkungan bibir hampir setengah wajah.
“Hallo, Tuan.
Selamat datang di kapal Fortezza milik Cuore dell’Oceano. Saya Luca akan
mengantar Anda, Sebelumnya boleh saya lihat tiketnya?” Luca mengulurkan tangan.
“Baik terima kasih. Anda berada di mid-decks
dengan fasilitas yang cukup baik dan nyaman,” Ia menjelaskan sepanjang langkah
dari mulai sejarah hingga fasilitas.
Paloma
sekadar mangangguk dan tersenyum kaku, sedangkan jarinya sibuk mencatat melalui
tabletnya setiap informasi yang diberikan.
***
Paloma sudah
menelusuri setiap geladak. Banyak tangga, ruangan, dan tatanan yang terbagi
sesuai harta. Atas, tengah, dan bawah menandakan struktur kerangka kapal megah
itu.
“Di atas Anda mendengar gemuruh angin segar, tawa elegan dan dentingan
gelas-gelas kaca. Di bawah Anda mendengar rintihan meraung panas, pengap maraup
udara segar, dan sesekali tangis balita yang pecah. Bagimana dengan yang di
tengah? Ouh itu hanya orang-orang yang tidak bisa merangkak ke atas sekuat
apa pun bekerja dan tidak pula menjadi bagian bawah karena cukup mampu membayar
pajak-pajak negara.”—catatan Paloma Dove.
Namun, malam itu berbeda. Angin darat yang biasanya dingin dan kering berubah drastis karena pusaran laut yang terbentuk. Angin berputar kencang disertai gerimis hingga kapal berguncang—terombang-ambing dan lepas kendali. Meninggalkan jalur navigasi yang biasa dilalui. Walau bulan purnama terang benderang dan bintang-bintang sedang berpedar, namun kabut tebal tetap membatasi pandangan. Hebatnya semua masih tenang karena bagi para kru kapal dan kapten ini tantangan baru dan pengalaman fantastis. Jalan cerita yang akan membuat mereka melambung tinggi dan kian dipercaya mengendalikan kapal megah itu. Kesombongan yang nyata. Sampai dentuman kasar, keras dan penuh amarah itu terlepas ke tubuh kapal bagian depan sebelah kiri.
Jerit
histeris, tangis yang pecah dan umpatan bersatu—bunyi melodi gelas-gelas kaca,
guci-guci cantik dan segala peralatan mahal lainnya pecah menjadi beling-beling
tak berharga. Di ambang kehancuran itu tidak ada yang peduli selain nyawa
masing-masing. Berlarian kocar-kacir menuju geladak teratas. Berharap tak ikut
tenggelam jika berada di puncak.
Ketika air
mulai merambak naik memasuki bagian kapal yang bocor akibat benturan, semua kru
berusaha mencari solusinya. Namun itu mustahil karena kerusakan lebih parah
dari apa yang mereka bayangkan, dari apa yang pernah mereka hadapi.
“Semuanya
dengarkan! kapal ini bisa saja tenggelam.“ Sang Kapten meraup wajah kasar kala
keributan terus pecah. “Namun kami sedang berusaha mencari celah yang
bermasalah itu untuk memperbaikinya secepat mungkin, kami juga sudah meminta
bala bantuan. Tapi, itu butuh waktu dan kami ingin setiap orang di kapal ini
membantu mengurangi beban pada kapal agar memperlambat tenggelamnya kapal ini.”
“Tidak usah
bertele-tele, Kapten. Apa yang bisa kami bantu, hah? kau tidak akan membiarkan
kami mati konyol di laut lepas dan menjadi santapan paus, kan?” ucap Necis,
seorang pria dengan penampilan apik, modis dan elegan khas konglomerat generasi
ketiga.
“Ya, tentu
tidak, Tuan Necis Walles. Jadi, kami menghimbau agar seluruh penumpang bisa
membuang barang-barangnya dan hanya menyisakan yang terpenting sepeti kartu
penduduk dan uang. Selebihnya buang ke dasar laut,” Kapten menjelaskan
hati-hati.
Mendengar hal
tersebut kumpulan orang-orang dengan gaya glamor itu saling pandang, alis
mereka berkerut tajam, mata sinis dan bibir yang mencibir.
“Kapten ...
kau tahu bukan nilai barang kami? jika seluruhnya dibuang ke dasar laut, maka
bagaimana kami akan membantu ‘berdonasi’ untuk kapal yang hampir tenggelam ini.
Barang kami begitu berharga. Jadi, lupakan untuk membuang barang kami,”
Maximilian berucap sinis. Dia salah satu penumpang VIP.
“Dengar Kapten! saya bahkan tidak sudi melemparkan jarum peninggalan nenek saya, Anda tahu kenapa, kan? benar, jarumnya terbuat dari emas. Saya juga tidak tega melempar boneka pinguin putri saya karena dia tidak akan bisa tidur tanpa itu. Jadi lupakan tentang membuang barang kami. Biarkan saja para orang dari geladak bawah yang melakukannya. Toh barang mereka tidak ada bedanya dengan tumpukan barang bekas.” Cassandra melengos menyisahkan aroma parfum mahal. Di sisi lain orang-orang dari geladak tengah dan bawah telah berbondong-bondong membuang barang mereka.
“Apa arti sebuah barang berharga? Apakah materialnya? Sejarahnya? Atau
pemiliknya? Ketika si jelata memilik emas 10 gram dengan kadar 24 karat dan si
kaya memiliki emas yang sama pula, namun milik si jelatalah yang harus
dikorbankan. Ketika si jelata memiliki sirkam turun temurun dari keluarganya,
dan si kaya memiliki sapu tangan yang ditanda tangani artis dunia, maka milik
si jelatalah yang harus dikorbankan. Bukankan ini tandanya tidak penting apa
bendanya, tapi siapa pemiliknya.”—catatan Paloma Dove.
“Apanya yang
kapal megah, kapal paling aman sedunia dan kapal yang disebut sebagai keajaiban
dunia. Pada akhirnya bolong dan akan tenggelam hanya karena benturan. Saya
mempercayai Anda akan mengatarkan kami dengan selamat, saya menghabiskan semua
tabungan hanya untuk bisa menyeberang ke Argentina untuk mempertemukan anak-anak
saya dengan ayahnya. Namun sekarang berharap selamat pun kami takut. Selamatkan
kami dan kembalikan uang saya!” wanita tua itu meraung. Kedua tangannya memeluk
kedua putra putrinya yang masih berusia tujuh atau delapan tahun. Rambutnya
berantakan dan tatapan putus asa.
“Mohon
tenang, Nyonya. Kami pasti akan menyelamatkan Anda dan memberikan kompensasi.
Jadi, harap tenang,” mohon Kapten tegas. Pria paruh bayah itu memandang geladak
atas yang penuh, padat dan sesak. Semua penumpang dialihkan ke atas karena
geladak bawah sudah terendam.
Luca yang
sudah basah kuyub datang berbisik dengan bibir yang bergetar pada Kapten.
Wajahnya risau, matanya memerah dan tangan yang pucat karena terlalu lama
memperbaiki kapal yang terendam air laut dengan suhu minus 1,4 derajat celcius.
Kapten
mengangguk paham, “Perhatikan semuanya! Keadaan kita tidak baik-baik saja. Air
telah mencapai geladak tengah, dan tinggal menunggu waktu geladak ini juga akan
terendam.”
“Sial! Kami
sudah mengorbankan harta benda, tetapi hal itu tidak banyak membantu. Bagaimana
dengan bala bantuan?” Pemuda bernama George bertanya dengan frustrasi.
“Tunggu dulu! Mengapa dari tadi hanya kami yang sibuk menyingkirkan barang-barang di kapal,
sedangkan mereka tidak?” Sofia menunjuk kumpulan orang geladak atas yang bahkan
tidak terpengaruh dengan situasi yang makin parah.
“Haruskah
kami seperti itu? yang membuat beban kapal ini berat adalah kalian. Jumlah
kalian seperti ... entahlah, seharunya kalian sadar diri,” Maximilian berdecak
malas.
“Kalimat yang baru saja diucapkan Maximilian mendapat protes dari
orang-orang geladak bawah, sedangkan lainnya justru terdiam merenung. Mereka
tidak menyanggah atau membela, tetapi keterdiaman itu menjadi tanda tanya
besar. Apakah mereka setuju dengan pernyataan pria VIP tersebut?” –catatan
Paloma Dove.
Sampai
deburan gelombang laut memercik menyapa kulit orang-orang di atas kapal.
Meninggalkan jejak merinding yang menusuk hingga tulang. Mereka menjerit ketika
badai menerjang dan volume air yang naik meningkat.
Tidak ada pilihan selain mengorbankan beberapanya untuk menyelamatkan beberapanya. Geladak bawah menjadi sasaran intimidasi. Satu demi satu hilang dari atas kapal. Tanpa bisa melawan, hanya pemaksaan sunyi yang mendorong mereka ke laut dilahap ganasnya dasar biru. Sampai tak tersisa, raungan yang ditelan gelombang pasang, tangisan yang terurai dalam asinnya lautan dan tujuan sampai yang hanya menjadi angan-angan. Mereka sirnah untuk orang-orang yang menganggap diri mereka layak selamat dan hidup sejahtera.
Beberapa saat
berikutnya perahu-perahu kecil datang sebagai penyelamat. Namun ironi. Bukan
anak-anak, wanita atau orang tua, melainkan geladak atas menjadi prioritas.
Menyisahkan geladak tengan yang harus menunggu di kapal yang terombang-ambing
dalam pusaran kematian. Di tengah dinginnya udara yang membekukan darah mereka.
Bibir membiru, mata memerah dan kulit yang hampir mati rasa. Mereka tak
mendapat pertolongan pertama, selain kata-kata ‘tunggu sejenak saja dan kami
segera kembali'.
“Tetapi itu bohong. Demi detik, menit, dan jam yang mereka lalui dalam
keputusasaan tak ada hilal perahu penyelamat. Sampai fajar menyingsing dan
menjadi hembusan napas terakhir orang-orang yang tersisa di bangkai
kapal.”—catatan Paloma Dove.
***
“Tuan
Redaksi, ini ditemukan ditubuh Paloma.” Seorang pegawainya menyerahkan botol
kaca yang berisi alat rekam.
“Ahh … tentu
saja, setidaknya perjalanan terakhirnya membuahkan hasil. Ini akan jadi berita
besar.”
_______
Penulis
Indri Anisa, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung. Menulis cerpen menjadi salah satu cara untuk healing karena menulis dan membaca selalu membuka kesempatan untuk menemukan pengalaman serta perspektif baru. Ketertarikan pada dunia sastra mendorongnya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan menulis. Beberapa karyanya yang pernah dimuat di media maupun diikutsertakan dalam perlombaan antara lain Mulut Besar Toro, Badai yang Mendorong Kapal, serta Anak Perempuan dan Pisang Goreng.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!