Cerpen Santama
Beberapa hari
yang lalu, sepulang dari mengantar teman ke Disdukcapil Kab. Pandeglang, saya
menemukan sebuah buku lawas cetakan pertama, di satu lapak loakan (tadinya
saya, mahasiswa yang diharuskan mempelajari sastra di Untirta, ingin mencari
buku kumpulan sajak untuk objek kajian). Judulnya Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah. Agak bombastis pikir saya dan, dengan segera saya
duga, judul tersebut pastilah peniruan terhadap judul salah satu fiksi luar
biasa Danilo Kiš, penulis Serbia-Yugoslavia, yakni The Ensyclopedia of the
Dead[¹] (anggapan yang
gegabah, tentu saja, yang saya sadari secara terlambat, mengingat tahun
masuknya karya-karya Kiš ke Indonesia).
Dan hal
demikianlah yang, tanpa tahu terlebih dulu apa tema maupun genrenya (tapi saya
sempat meyakininya sebagai novel), membikin saya tertarik terhadap buku yang
kondisinya sudah mengenaskan itu. Ia kusam, penuh bercak dan coretan, hampir
buyar, pinggiran sedikit sobek-sobek, dan huruf-huruf dalam beberapa halaman
susah terbaca.
Tanpa ragu, saya
merogoh kocek untuk membawanya pulang, tapi sebelum itu saya berasumsi lagi
(setelah tahu buku ini merupakan nonfiksi) bahwa Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah mengetengahkan
para "bramacorah"[²] yang, mungkin sekali, punya suatu andil
signifikan namun termarjinalkan[³].
Saya kira
pastilah mereka, para "bramacorah", lebih dari layak untuk diabadikan
dalam sebuah karya tulis. Dan saya tak meleset: Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah memang mengetengahkan para "bramacorah"
yang kiprahnya bisa dibayangkan dalam suatu konteks sejarah, yakni revolusi,
wabilkhusus Revolusi Indonesia.
Penulis buku
tersebut adalah Hadna Rojim dan penerbitnya adalah Longit, yang menerbitkannya
tahun 1994. Sayangnya, setelah saya cari berjam-jam di internet, informasi
tentang penulis maupun penerbitnya sama sekali nihil, entah masih eksis atau
tidak (kenapa selalu demikian nasib penerbit-penerbit kecil, lokal,
pinggiran?). Saya sangat penasaran terhadap sang penulis, dan membaca pengantar
dari Dr. Ahmad Mustaqim berikut ini membikin saya membayangkan bagaimana
sosoknya, dan betapa pelik proses yang ia tempuh.
Hadna Rojim,
seraya terasa cermat-terampil memperlakukan sumber primer dan berusaha kritis
terhadap segala mistifikasi dalam sumber-sumber lisan, membentangkan riwayat
hidup sosok-sosok di buku ini sebelum, semasa, dan sesudah Revolusi Indonesia.
Mereka, seyogianya para antihero, dia tampilkan apa adanya, sebagai makhluk
profan di tengah sengkarut sosial-politik, sepak terjang mereka dikemukakan di
antara hasrat primordial, anekdot, dan mitos. (Hal. V)
Para antihero
yang dimaksud, dibandingkan dengan tokoh historis lain semisal Si Pitung (dalam
rentang zaman yang berlainan), saya pikir jarang dikenal, jika bukan tidak. Dan
salah satunya adalah ia yang berjuluk Bapuk.
Akan sedikit
(sekadar mengenalkan, sebagai ancang-ancang dari serial yang sedang saya garap)
saya sampaikan ulang biografi Bapuk di sini, tepatnya gerak-geriknya sebagai
saksi peristiwa historis, menjumput satu episode dalam hidupnya (di awal masa
Pendudukan Jepang). Dengan sentuhan fiksi akan disajikan dalam cara saya
sendiri yang saya pastikan tidak melenceng dari fakta-fakta dalam Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah.
Sisanya adalah
sastra[⁴].
___
[¹]Fiksi-fiksi
Danilo Kiš diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Slamat P. Sinambela, dan The
Ensyclopedia of the Dead yang diterjemahkan menjadi Ensiklopedia
Orang-Orang Mati dijadikan sebagai judul buku (diterbitkan oleh penerbit
Basabasi, 2019).
[²]Saya mengapit
istilah ini dengan tanda petik berdasarkan pertimbangan bahwa signifikasi
istilahnya bersifat khusus, terutama yang terjadi pada sebagian tokoh dalam
buku ini, yang dalam kasus tertentu istilah tersebut, saya pikir, politis dan
stereotipikal.
[³]Tentu saja
kehidupan, di luar prinsip-prinsip teks memoar konvensional, lebih dari apa
pun, sangat-sangat berharga, sehingga tanpa prasyarat linuhung atau
pertimbangan bobot pengaruh pun, bukankah tiap orang memang tak ada salahnya
dikenang?
[⁴]Dipinjam dari
Alejandro Zambra dalam Bonsai (terjemahan bahasa Indonesia oleh Gita
Nanda, diterbitkan Labirin Buku, 2022).
Kisah Sepasang Bramacorah dan Prajurit Jepang yang
Mengamuk di Gedongan Nyamuk
Dua tahun setelah
Hitler mengangkangi negeri Kincir Angin dan mengirim malam-malam insomnia
kepada Ratu Wilhelmina: di Hindia Belanda Bapuk terbangun, gara-gara dari atas
atap rumbia gubuknya terdengar suara mesin-mesin meraung. Membuatnya lekas
bangkit bagai zombie. Dengan gontai ia melangkah keluar. Kemudian dilihatnya
orang-orang tak beralas kaki ada tertegun di tanah jalan.
Perempuan-perempuan
berkemban berkebaya menggendong bakul menggendong bocah kerempeng,
lelaki-lelaki telanjang dada dengan tulang-tulang rusuk mencuat yang terbungkuk
membawa hasil bumi yang bukan kepunyaan mereka, yang memanggul kayu api
memanggul pacul, yang menenteng arit menenteng parang berkilauan; selengkapnya
tampak mendongak, dengan tangan bertelapak kasar memayungi mata menghalau
ganasnya cahaya surya.
Suara mesin-mesin
yang meraung itu adalah Curtiss P-40 Kittyhawk, Curtiss P-36 Hawk, dan Brewster
F2A Buffalo: pesawat-pesawat tempur kepunyaan ML-KNIL.
Dan sementara
para tentara kolonial saling menatap ngeri, gemetar di siang bolong, sekujur
terasa dingin di bawah cuaca gerah, dan muka-muka mereka berubah pucat mayat:
Bapuk dan yang lainnya di desanya belum mengerti apa yang sedang terjadi.
Setelah menguap
panjang dengan mulut menganga sempurna, Bapuk hanya kembali masuk. Meneruskan
kewajiban yang tak dapat diganggu gugat.
Siang baginya
adalah waktu molor dan malam adalah waktu melakoni peruntungan, menghadapi
centeng dan peronda dan polisi dalam merampok harta para pejabat jawatan
pemerintah, menggondol padi di lumbung bumiputra-bumiputra makmur dan menjagal
ternak mereka, mencopet di pasar-pasar dan stasiun-stasiun. Apa pun ia lakukan
demi bertahan hidup. Kecuali menjadi jongos orang-orang Belanda dan raja-raja
kecil. Ia tak ingin lagi.
Tergolek di
balai-balai, dan dibuai fantasi liar, demikianlah Bapuk kembali terlelap.
Mungkin kau berpikir hanya tank baja yang akan sanggup membangunkannya, tapi
tidak.
***
"Dengar, ada
datang serdadu-serdadu, memecundangi Belanda konon tak hanya di sini, tapi juga
di daerah-daerah seberang!" Sero membawa berita untuk Bapuk,
menyampaikannya dalam keriangan melimpah-limpah, seolah-olah lusa ia dilantik
jadi Residen. "Ini kesempatan kita!"
Bapuk dongkol
lantaran Sero, yang lama raib entah ke mana, tiba-tiba datang
mengguncang-guncang tubuhnya. Membetotnya dari mimpi basah yang sinambung.
"Kau
menemuiku hanya buat kasih cakap angin alih-alih candu barang setahi
kuku?" timpal Bapuk sekenanya dengan mulut seharum gorong-gorong Batavia.
"Kau mana
bisa tahu dengan mengorok di ini kandang!"
"Orang-orang
yang kauceritakan barang tentu setali tiga uang dengan Belanda. Untung
matamu!" Bapuk belum terkumpul sempurna nyawanya. "Bila saja yang
menggusah Belanda itu orang-orang kita sendiri, tentulah kesempatan boleh
dikata."
"Mereka
lebih digdaya, dan rakyat bertepuk girang ada menyambut konon Jenderal yang
kepalanya macam pentol korek, senyum-senyum laiknya orok mengantuk. Para
serdadunya tampak bertampang mes—"
"Kesempatan
kita yang bagaimana?"
***
Dalam pertempuran
sepekan saja Belanda takluk penuh tanpa syarat, setelah kehilangan Tarakan
sebagai mula. Hindia Belanda jatuh ke tangan besi Imamura.
Tentara, pejabat,
pemilik perusahaan partikelir, orang-orang sipil dan loyalis kolonial, yang
sebelumnya begitu tak tahu malu, congkak, bergembira di atas rakyat bumiputra
yang ditindas dan dihinakan berabad-abad sejak genosida Banda di bawah
kekejaman Jan Pieterszoon Coen yang dipertuan, kini digelandang Tentara ke-16
Jepang. Dijejalkan bagai ternak di kamp-kamp interniran.
Malam itu,
truk-truk dan pasukan-pasukan tentara Saudara Tua merayap di jalan raya.
Berpapasan dengan bramacorah sepasang, yang berkelit di antara bayang-bayang.
***
Apes, di kediaman
van Moek—atau yang Bapuk sembarang sebut Nyamuk, telah terparkir dua truk. Di
berandanya beberapa prajurit Jepang tampak sedang bersitegang dengan centeng
dan jongos. Di dalam terdengar ricuh.
"Nyamuk
pasti sudah berkemas," kata Bapuk agak putus harap, "di gedongan itu
hanya tahi yang disisakannya."
"Berharaplah
tahinya intan permata," sahut Sero.
Tak lama mereka
mendengar teriakan bini Nyamuk. Kemudian melengking tangisannya.
Dua prajurit
menyeret seorang sinyo—anak tunggal di keluarga Belanda totok itu.
Sinyo yang
terbungkus piama meringkuk bagai cacing, digasak di pekarangan, mengerang,
persis sang jongos yang pernah diperlakukan serupa oleh yang bersangkutan.
Sang jongos
berusaha tak kelihatan gembira.
Si centeng
dicegat. Batal berbuat.
Orang bilang itu
si centeng pernah kena kurung di Nusa Kambangan. Minggat dari sana, kian
menjadi-jadi kebolehannya. Sila Menir bawa selawe macan Sumatra, dapat diadu
dengan sahaya, konon demikian ia menawar diri kepada Nyamuk dahulu kala, dan
kemudian terus dipasang ketika banyak centeng telah tak bertuan.
Sang jongos
berpikir tentang itu orang: ia tentulah sengaja bergeming dalam gertak ancam
para tentara, tahu-menahu bahwasanya kalap berarti celakalah sudah. Pedang
panjang boleh sebatang lidi dan pelor boleh getah karet baginya, tapi tidak
sekali-kali bagi famili gedongan ini.
Tak
disangka-sangka Nyamuk memburu keluar, menengkar sedapatnya, tapi terkapar
sekali tepuk, salah satu prajurit nyaris menyabetkan samurai ketika komandannya
melerai, yang kemudian mencak-mencak, dalam bahasa yang belum diakrabi
anjing-anjing liar di Nusantara.
Bapuk dan Sero
tersentak mendengar letusan.
Satu betis
dilubangi malam itu.
Di tengah jerit
lakinya, bini Nyamuk menyongsong tergopoh. Ambruklah ia.
Dalam bahasa
leluhurnya ia memaki-maki sang Komandan galak beserta kolega, juga memaki-maki
lakinya sendiri.
Ia telah kasih
nasihat bahwa lebih baik lakinya mengalah secara kesatria, ini hanya sementara,
katanya, Ratu amat sayang negeri koloni—seperti balita yang direbut mainannya:
Yang Mulia pasti ingin merebutnya lagi, merengek-rengek ke paman sekutu.
Tapi lakinya
berkepala batu Kali Bekasi.
Demikianlah
anak-beranak itu akhirnya diangkut menggunakan truk, menjalani tamasya singkat,
dan berharap itu bukan awal nostalgia akan surga yang jauh dari ujung Terusan
Suez.
"Dari tanah
kembali ke tanah," gumam Bapuk sekenanya, "dari neraka kembali ke
neraka."
Dan Sero saat itu
belum bisa ia yakinkan bahwa makhluk-makhluk yang baru saja mendarat tidak
kalah bangsat.[]
Pandeglang, 2025
______
Penulis
Santama, Bisa disapa di
@san.ta.ma.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!