Sunday, June 14, 2026

Cerpen Santama | Bapuk (Sebuah Fiksionalisasi)

Cerpen Santama




Beberapa hari yang lalu, sepulang dari mengantar teman ke Disdukcapil Kab. Pandeglang, saya menemukan sebuah buku lawas cetakan pertama, di satu lapak loakan (tadinya saya, mahasiswa yang diharuskan mempelajari sastra di Untirta, ingin mencari buku kumpulan sajak untuk objek kajian). Judulnya Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah. Agak bombastis pikir saya dan, dengan segera saya duga, judul tersebut pastilah peniruan terhadap judul salah satu fiksi luar biasa Danilo Kiš, penulis Serbia-Yugoslavia, yakni The Ensyclopedia of the Dead[¹] (anggapan yang gegabah, tentu saja, yang saya sadari secara terlambat, mengingat tahun masuknya karya-karya Kiš ke Indonesia).

 

Dan hal demikianlah yang, tanpa tahu terlebih dulu apa tema maupun genrenya (tapi saya sempat meyakininya sebagai novel), membikin saya tertarik terhadap buku yang kondisinya sudah mengenaskan itu. Ia kusam, penuh bercak dan coretan, hampir buyar, pinggiran sedikit sobek-sobek, dan huruf-huruf dalam beberapa halaman susah terbaca.

 

Tanpa ragu, saya merogoh kocek untuk membawanya pulang, tapi sebelum itu saya berasumsi lagi (setelah tahu buku ini merupakan nonfiksi) bahwa Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah  mengetengahkan para "bramacorah"[²] yang, mungkin sekali, punya suatu andil signifikan namun termarjinalkan[³].

 

Saya kira pastilah mereka, para "bramacorah", lebih dari layak untuk diabadikan dalam sebuah karya tulis. Dan saya tak meleset: Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah memang mengetengahkan para "bramacorah" yang kiprahnya bisa dibayangkan dalam suatu konteks sejarah, yakni revolusi, wabilkhusus Revolusi Indonesia.

 

Penulis buku tersebut adalah Hadna Rojim dan penerbitnya adalah Longit, yang menerbitkannya tahun 1994. Sayangnya, setelah saya cari berjam-jam di internet, informasi tentang penulis maupun penerbitnya sama sekali nihil, entah masih eksis atau tidak (kenapa selalu demikian nasib penerbit-penerbit kecil, lokal, pinggiran?). Saya sangat penasaran terhadap sang penulis, dan membaca pengantar dari Dr. Ahmad Mustaqim berikut ini membikin saya membayangkan bagaimana sosoknya, dan betapa pelik proses yang ia tempuh.

 

Hadna Rojim, seraya terasa cermat-terampil memperlakukan sumber primer dan berusaha kritis terhadap segala mistifikasi dalam sumber-sumber lisan, membentangkan riwayat hidup sosok-sosok di buku ini sebelum, semasa, dan sesudah Revolusi Indonesia. Mereka, seyogianya para antihero, dia tampilkan apa adanya, sebagai makhluk profan di tengah sengkarut sosial-politik, sepak terjang mereka dikemukakan di antara hasrat primordial, anekdot, dan mitos. (Hal. V)

 

Para antihero yang dimaksud, dibandingkan dengan tokoh historis lain semisal Si Pitung (dalam rentang zaman yang berlainan), saya pikir jarang dikenal, jika bukan tidak. Dan salah satunya adalah ia yang berjuluk Bapuk.

 

Akan sedikit (sekadar mengenalkan, sebagai ancang-ancang dari serial yang sedang saya garap) saya sampaikan ulang biografi Bapuk di sini, tepatnya gerak-geriknya sebagai saksi peristiwa historis, menjumput satu episode dalam hidupnya (di awal masa Pendudukan Jepang). Dengan sentuhan fiksi akan disajikan dalam cara saya sendiri yang saya pastikan tidak melenceng dari fakta-fakta dalam Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah.

 

Sisanya adalah sastra[⁴].

___

 

[¹]Fiksi-fiksi Danilo Kiš diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Slamat P. Sinambela, dan The Ensyclopedia of the Dead yang diterjemahkan menjadi Ensiklopedia Orang-Orang Mati dijadikan sebagai judul buku (diterbitkan oleh penerbit Basabasi, 2019).

 

[²]Saya mengapit istilah ini dengan tanda petik berdasarkan pertimbangan bahwa signifikasi istilahnya bersifat khusus, terutama yang terjadi pada sebagian tokoh dalam buku ini, yang dalam kasus tertentu istilah tersebut, saya pikir, politis dan stereotipikal.

 

[³]Tentu saja kehidupan, di luar prinsip-prinsip teks memoar konvensional, lebih dari apa pun, sangat-sangat berharga, sehingga tanpa prasyarat linuhung atau pertimbangan bobot pengaruh pun, bukankah tiap orang memang tak ada salahnya dikenang?

 

[⁴]Dipinjam dari Alejandro Zambra dalam Bonsai (terjemahan bahasa Indonesia oleh Gita Nanda, diterbitkan Labirin Buku, 2022).

 

Kisah Sepasang Bramacorah dan Prajurit Jepang yang Mengamuk di Gedongan Nyamuk

 

Dua tahun setelah Hitler mengangkangi negeri Kincir Angin dan mengirim malam-malam insomnia kepada Ratu Wilhelmina: di Hindia Belanda Bapuk terbangun, gara-gara dari atas atap rumbia gubuknya terdengar suara mesin-mesin meraung. Membuatnya lekas bangkit bagai zombie. Dengan gontai ia melangkah keluar. Kemudian dilihatnya orang-orang tak beralas kaki ada tertegun di tanah jalan.

 

Perempuan-perempuan berkemban berkebaya menggendong bakul menggendong bocah kerempeng, lelaki-lelaki telanjang dada dengan tulang-tulang rusuk mencuat yang terbungkuk membawa hasil bumi yang bukan kepunyaan mereka, yang memanggul kayu api memanggul pacul, yang menenteng arit menenteng parang berkilauan; selengkapnya tampak mendongak, dengan tangan bertelapak kasar memayungi mata menghalau ganasnya cahaya surya.

 

Suara mesin-mesin yang meraung itu adalah Curtiss P-40 Kittyhawk, Curtiss P-36 Hawk, dan Brewster F2A Buffalo: pesawat-pesawat tempur kepunyaan ML-KNIL.

 

Dan sementara para tentara kolonial saling menatap ngeri, gemetar di siang bolong, sekujur terasa dingin di bawah cuaca gerah, dan muka-muka mereka berubah pucat mayat: Bapuk dan yang lainnya di desanya belum mengerti apa yang sedang terjadi.

 

Setelah menguap panjang dengan mulut menganga sempurna, Bapuk hanya kembali masuk. Meneruskan kewajiban yang tak dapat diganggu gugat.

 

Siang baginya adalah waktu molor dan malam adalah waktu melakoni peruntungan, menghadapi centeng dan peronda dan polisi dalam merampok harta para pejabat jawatan pemerintah, menggondol padi di lumbung bumiputra-bumiputra makmur dan menjagal ternak mereka, mencopet di pasar-pasar dan stasiun-stasiun. Apa pun ia lakukan demi bertahan hidup. Kecuali menjadi jongos orang-orang Belanda dan raja-raja kecil. Ia tak ingin lagi.

 

Tergolek di balai-balai, dan dibuai fantasi liar, demikianlah Bapuk kembali terlelap. Mungkin kau berpikir hanya tank baja yang akan sanggup membangunkannya, tapi tidak.

 

***

 

"Dengar, ada datang serdadu-serdadu, memecundangi Belanda konon tak hanya di sini, tapi juga di daerah-daerah seberang!" Sero membawa berita untuk Bapuk, menyampaikannya dalam keriangan melimpah-limpah, seolah-olah lusa ia dilantik jadi Residen. "Ini kesempatan kita!"

 

Bapuk dongkol lantaran Sero, yang lama raib entah ke mana, tiba-tiba datang mengguncang-guncang tubuhnya. Membetotnya dari mimpi basah yang sinambung.

 

"Kau menemuiku hanya buat kasih cakap angin alih-alih candu barang setahi kuku?" timpal Bapuk sekenanya dengan mulut seharum gorong-gorong Batavia.

 

"Kau mana bisa tahu dengan mengorok di ini kandang!"

 

"Orang-orang yang kauceritakan barang tentu setali tiga uang dengan Belanda. Untung matamu!" Bapuk belum terkumpul sempurna nyawanya. "Bila saja yang menggusah Belanda itu orang-orang kita sendiri, tentulah kesempatan boleh dikata."

 

"Mereka lebih digdaya, dan rakyat bertepuk girang ada menyambut konon Jenderal yang kepalanya macam pentol korek, senyum-senyum laiknya orok mengantuk. Para serdadunya tampak bertampang mes—"

 

"Kesempatan kita yang bagaimana?"

 

***

 

Dalam pertempuran sepekan saja Belanda takluk penuh tanpa syarat, setelah kehilangan Tarakan sebagai mula. Hindia Belanda jatuh ke tangan besi Imamura.

 

Tentara, pejabat, pemilik perusahaan partikelir, orang-orang sipil dan loyalis kolonial, yang sebelumnya begitu tak tahu malu, congkak, bergembira di atas rakyat bumiputra yang ditindas dan dihinakan berabad-abad sejak genosida Banda di bawah kekejaman Jan Pieterszoon Coen yang dipertuan, kini digelandang Tentara ke-16 Jepang. Dijejalkan bagai ternak di kamp-kamp interniran.

 

Malam itu, truk-truk dan pasukan-pasukan tentara Saudara Tua merayap di jalan raya. Berpapasan dengan bramacorah sepasang, yang berkelit di antara bayang-bayang.

 

***

 

Apes, di kediaman van Moek—atau yang Bapuk sembarang sebut Nyamuk, telah terparkir dua truk. Di berandanya beberapa prajurit Jepang tampak sedang bersitegang dengan centeng dan jongos. Di dalam terdengar ricuh.

 

"Nyamuk pasti sudah berkemas," kata Bapuk agak putus harap, "di gedongan itu hanya tahi yang disisakannya."

 

"Berharaplah tahinya intan permata," sahut Sero.

 

Tak lama mereka mendengar teriakan bini Nyamuk. Kemudian melengking tangisannya.

 

Dua prajurit menyeret seorang sinyo—anak tunggal di keluarga Belanda totok itu.

 

Sinyo yang terbungkus piama meringkuk bagai cacing, digasak di pekarangan, mengerang, persis sang jongos yang pernah diperlakukan serupa oleh yang bersangkutan.

 

Sang jongos berusaha tak kelihatan gembira.

 

Si centeng dicegat. Batal berbuat.

 

Orang bilang itu si centeng pernah kena kurung di Nusa Kambangan. Minggat dari sana, kian menjadi-jadi kebolehannya. Sila Menir bawa selawe macan Sumatra, dapat diadu dengan sahaya, konon demikian ia menawar diri kepada Nyamuk dahulu kala, dan kemudian terus dipasang ketika banyak centeng telah tak bertuan.

 

Sang jongos berpikir tentang itu orang: ia tentulah sengaja bergeming dalam gertak ancam para tentara, tahu-menahu bahwasanya kalap berarti celakalah sudah. Pedang panjang boleh sebatang lidi dan pelor boleh getah karet baginya, tapi tidak sekali-kali bagi famili gedongan ini.

 

Tak disangka-sangka Nyamuk memburu keluar, menengkar sedapatnya, tapi terkapar sekali tepuk, salah satu prajurit nyaris menyabetkan samurai ketika komandannya melerai, yang kemudian mencak-mencak, dalam bahasa yang belum diakrabi anjing-anjing liar di Nusantara.

 

Bapuk dan Sero tersentak mendengar letusan.

 

Satu betis dilubangi malam itu.

 

Di tengah jerit lakinya, bini Nyamuk menyongsong tergopoh. Ambruklah ia.

 

Dalam bahasa leluhurnya ia memaki-maki sang Komandan galak beserta kolega, juga memaki-maki lakinya sendiri.

 

Ia telah kasih nasihat bahwa lebih baik lakinya mengalah secara kesatria, ini hanya sementara, katanya, Ratu amat sayang negeri koloni—seperti balita yang direbut mainannya: Yang Mulia pasti ingin merebutnya lagi, merengek-rengek ke paman sekutu.

 

Tapi lakinya berkepala batu Kali Bekasi.

 

Demikianlah anak-beranak itu akhirnya diangkut menggunakan truk, menjalani tamasya singkat, dan berharap itu bukan awal nostalgia akan surga yang jauh dari ujung Terusan Suez.

 

"Dari tanah kembali ke tanah," gumam Bapuk sekenanya, "dari neraka kembali ke neraka."

 

Dan Sero saat itu belum bisa ia yakinkan bahwa makhluk-makhluk yang baru saja mendarat tidak kalah bangsat.[]

 

Pandeglang, 2025

 

______

Penulis

 

Santama, Bisa disapa di @san.ta.ma.

 

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 


Terimakasih telah berkomentar!