Cerpen Rakhanur
Kampung Sana memilliki hubungan yang erat dengan debus. Pertunjukan debus adalah
hiburan bagi warga Kampung Sana sejak ratusan tahun yang lalu. Mula-mulanya
kampung ini hanya tumbuh sebagai penonton. Keluarga Sukanta-lah yang mengawali
tradisi bermain debus di Kampung Sana. Sukanta adalah generasi keempat di
keluarganya yang menguasai permainan debus.
Sukanta sudah semakin sepuh. Kemampuan bermain debusnya dikalahkan oleh
usia. Muncullah sebuah masa di mana ada kekosongan pemain bahkan pertunjukkan
debus di kampung Sana. Semua warga rindu. Kini Jaya sebagai generasi kelima
dari trah Sukanta akan menjawab kerinduan itu. Namun, Jaya mendapat penolakkan
dari para tetua di desa. Para tetua termasuk Sukanta tidak suka dengan debus
ala Jaya yang melenceng jauh dari nilai-nilai debus yang selama ini dipegang
oleh Sukanta dan para pendahulunya.
“DIA MAH PAMAEN SULAP, LAIN PAMAEN DEBUS, JAYA!1” Suara
Sukanta menggelegar. Dia berteriak tepat di hadapan wajah anaknya. Hadirin yang
bekumpul di balai membeku. Jaya tidak lagi memperpanjang keributan. Dia pergi
meninggalkan bapaknya. Sejak saat itu Jaya tidak pernah terlihat lagi di
kampung Sana. Dia berkelana dengan kelompok debus yang sudah terlanjur
dibentuknya satu tahun yang lalu. Mimpinya untuk beratraksi di kampung
kelahirannya harus dikubur dalam-dalam. Warga kampung Sana harus bersabar
menahan rindu itu lagi.
***
Sayatan-sayatan menggores leher, lidah, telinga, lengan, hingga betis.
Sekeras dan secepat cahaya petir. Dengung musik yang lantang tapi mendayu-dayu
menjadi latar tak padu wajah-wajah kengerian penonton. Erangan-erangan seakan
menahan perih mendramatisasi suasana. Di ujung aksi ini Jaya melempar golok
asuhannya ke udara. Melayang. Lalu terjun menukik dan menancap tepat di kepala
Jaya yang berikat kain putih. Kain ternodai. Merah. Wajah kengerian penonton
berubah pucat. Agaknya Jaya memasang wajah kesakitan. Namun, sejurus kemudian
ia mencabut golok yang menancap dan melepas ikat kepalanya dan terbahak. Tidak
ada goresan sedikit pun. Tidak ada darah mengalir dari kepalanya. Penonton
bersorak.
Sebuah lipatan terpal diletakkan di tengah arena pertunjukan. Dua orang
bocah nanggung membuka lipatan itu. Ketika terpal terhampar lebarnya, penonton
bisa menyaksikan betapa banyak pecahan-pecahan kaca di atas terpal yang sudah
terhampar itu. Penonton menerka-nerka atraksi semacam apa lagi yang akan
dilakukan Jaya.
Tidak sempat penonton memalingkan perhatian dari Jaya. Atraksi-atraksi gila
susul-menyusul dipertontonkan oleh Jaya. Tangan keras nan kasar Jaya maraup
pecahan-pecahan kaca. Segenggam di tangan kanan dan segenggam di tangan kiri.
Genggaman kaca dilepas kembali ketika tepat sejajar dengan wajahnya.
Berjatuhan. Gemercik pecahan-pecahan kaca yang saling terbentur seolah bicara
kepada penonton bahwa ini kaca sungguhan. Wajah Jaya di-setting pada mode tengil.
Membentuk gestur tempokeun aing yeuh!2 Dia raup kembali
pecahan-pecahan kaca itu. Segenggam di tangan kanan dan segenggam di tangan
kiri. Pecahan-pecahan yang ada dalam genggamannya diusap meyakinkan ke wajah.
Ketika kaca-kaca itu bergesekkan dengan kulit wajahnya, Jaya meringis seakan
kesakitan. Setelahnya wajah tengil kembali dipasang. Kali ini membentuk gestur aing
kebal!3
Atraksi dengan kaca-kaca itu belum usai. Kini Jaya melepas bajunya.
Melemparnya sembarang ke arah penonton. Dengan tangan yang terkepal kuat, Jaya
memukul-mukul dadanya yang telanjang. Tangan kanan memukul dada bagian kiri.
Tangan kiri memukul dada bagian kanan. Menyilang. Aksinya didramatisasi oleh
raungan keras bak harimau Prabu Siliwangi. Kemudian Jaya membentangkan
tangannya. Dia melompat dan menjatuhkan tubuhnya ke hamparan terpal yang penuh
pecahan kaca itu sembari berteriak, "Allahu Akbar!". Sebagian
penonton menutup matanya. Tak kuasa melihat aksi dari Jaya.
Jaya berguling-guling di atas pecahan-pecahan kaca itu. Serupa anak kecil
sedang girang mandi bola, Jaya melempar-lempar pecahan kaca sembarang.
Berbaring lagi. Menggerakkan tangannya seperti seekor dara mengepak-kepakkan
sayapnya. Kakinya dibuka dan ditutup membentuk sebuah gerakan menggunting.
Tepuk tangan penonton meledak. Semakin meledak ketika masing-masing mereka
menyadari ini pertunjukkan debus yang pertama kali mereka tonton sejak dua puluh
lima tahun yang lalu.
Di sisi selatan lapangan yang riuh, sebuah rumah tua bergeming. Tuannya
sedari tadi hanya termenung di dalam rumahnya. Pantatnya menempel lekat pada
sebuah kursi yang setua dirinya. Tatapan kosong. Telinganya tidak tuli. Dari
rumahnya yang tepat berada di sisi selatan lapangan yang kini disulap menjadi
teater pertunjukan Jaya, Sukanta bisa mendengar jelas hingar-bingar yang
terjadi di sana. Musik-musik lantang, teriakan-teriakan penonton, dan gaya
angkuh si Jaya bisa didengar Sukanta meski tak ada satu pun lubang rumahnya yang
terbuka. Raga Sukanta tetap diam tak terusik oleh ramainya pertunjukan Jaya.
Namun, isi hatinya bergejolak.
Mimpi buruk Sukanta telah menjadi kenyataan. Usahanya menghalau Jaya dan
kelompoknya menggelar pertunjukan di kampung Sana hanya bertahan delapan tahun.
Pertahanannya jebol seiring kepergian tetua-tetua kampung yang memiliki
keyakinan sama dengannya. Suaranya tidak sebanding lagi dengan permintaan
kebanyakan warga kampung. Warga kampung sudah tidak bisa bersabar lagi menahan
rindu menonton debus. Dan mereka tidak peduli lagi soal nilai-nilai yang
dipegang Sukanta. Bagi mereka nilai-nilai itu hanya omong kosong belaka, yang
mereka tahu debus adalah pertunjukan orang kebal.
Semua orang di lapangan membubarkan diri setelah pertunjukan debus usai. Matahari
ikut pergi. Lapangan kembali sunyi. Sembari berkemas, Jaya memandangi rumah
yang tertutup rapat itu. Ada seporsi senyuman kemenangan merekah di wajahnya.
Belum sempat berganti pakaian setelah mendirikan dua waktu salat di musala,
Sukanta duduk di beranda rumah. Segelas kopi hitam tanpa gula dan kretek
menjadi teman dalam sunyinya malam. Sukanta lamat-lamat menatap lapangan. Ia
coba memvisualisasikan apa yang tadi sore terjadi di lapangan itu dengan
bermodal bunyi-bunyian yang ia dengar sendiri dari dalam rumahnya. Setelah
berhasil, Sukanta menghisap kreteknya begitu panjang. Kepalanya geleng-geleng
kemudian.
Seketika dia teringat masa mudanya. Sukanta muda begitu tertarik dengan
permainan debus. Bapaknya adalah tokoh debus yang sangat dihormati pada
masanya. Sebagai anak, Sukanta ingin sekali menapaki jejak bapaknya—sama
seperti Jaya.
Saat usianya masih belia, Sukanta memutuskan bergabung bersama kelompok
tarekat yang sama dengan bapaknya. Sukanta merelakan seluruh kenikmatan duniawi
dan kebebasan masa muda. Ia menghabiskan masa mudanya untuk mondok. Siang dan
malam bergelut dengan berbagai kitab. Bertahun-tahun bergelut dengan
zikir-zikir yang diajarkan gurunya. Juga mengamalkan tawasul pemberian
gurunya tanpa pernah diberi kesempatan bertanya apa maknanya. Saat itu, dia
hanya hidup untuk memangkas jarak dengan Tuhan menjadi sedekat mungkin.
Puncaknya ketika Sukanta sudah cukup umur dan dinilai sudah pantas, dia
menjalankan ujian untuk memperoleh kekebalan sebagai modal bermain debus. Dia
berpuasa empat puluh hari. Berputar kembali ingatan itu di kepala Sukanta.
Ketika ia menjalankan ujian, dia hanya berzikir, berzikir, dan berzikir sembari
berpuasa. Dia di karantina seorang diri di sebuah kamar di rumah gurunya.
Selama empat puluh hari itu, Sukanta pergi ke sungai sendirian dan mandi tepat
pukul dua belas dini hari.
Puasa yang Sukanta jalani sebagai ujian bukanlah puasa sembarangan. Selama
berpuasa empat puluh hari Sukanta hanya boleh berbuka dengan sekepal nasi putih
dan sedikit terasi udang. Dia dilarang untuk bertatap muka dengan seorang
wanita, bahkan dengan emaknya.
Sukanta kembali mengisap kreteknya panjang-panjang ketika mengingat betapa
beratnya menjalani proses untuk menjadi pemain debus. Jeda.
Tidak terasa air matanya mengalir perlahan menyusuri pipinya yang sudah kendur.
Dia kembali teringat bahwa Jaya tidak pernah melalui proses sepanjang itu untuk
menjadi "pemain debus". Sukanta tahu Jaya hanya bermodalkan peralatan
sulap yang dia beli dari kota. Bermacam trik juga dia pelajari di kota kemudian
dikemasnya menjadi sebuah pertunjukan yang dia sebut-sebut sebagai debus. Itulah
sebabnya delapan tahun yang lalu—ketika Jaya meminta izin menggelar pertunjukan
bersama kelompoknya di kampung Sana—Sukanta meneriaki Jaya sebagai pemain
sulap.
Ada penyesalan dalam diri Sukanta karena dia tidak mewariskan ilmunya
kepada Jaya, padahal dia tahu betul Jaya memiliki keinginan yang sama dengan
Sukanta muda. Bukan tidak mau, tetapi karena memang ilmunya belum cukup. Sayang,
Syekh Gede yang menjadi guru Sukanta di masa lalu sudah tiada dan tarekatnya
resmi bubar satu tahun setelah kepergian beliau. Yang tersisa hanya
pemain-pemain debus segenerasi Sukanta tersebar di beberapa wilayah, tetapi
lambat laun dimakan oleh zaman. Tidak laku. Akhirnya generasi setelah mereka
memilih jalan pintas untuk disebut-sebut sebagai pemain debus. Dalam situasi
ini, tidak banyak yang bisa dilakukan Sukanta dan generasi seusianya.
Lebak, 5 Juni 2026
1 ”Kau itu pemain sulap, bukan pemain debus, Jaya!”
2 Lihatlah aku!
3 Aku kebal!
______
Penulis
Rakhanur, lahir di Lebak pada 2 Mei 2005. Sedari kecil banyak dicekoki bacaan oleh
orang tua. Sekarang, makin jatuh cinta terhadap sastra, terlebih setelah
bergabung sebagai anggota UKM Belistra pada 2023 dan Komunitas untuk Perubahan
Budaya (Kubah Budaya) pada 2025. Menjadi Ketua Umum UKM Belistra (Periode 2025)
dan Pimpinan Redaksi majalah Langgam untuk tugas akhir mata
kuliah Menulis Kreatif di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Cerpennya kerennnnn
ReplyDeletememang pada dasarnya pemikiran kolot, hanya karena beda pengalaman langsung di cap tidak layak. itu yang saya tangkap dari keseluruhan cerita ini. "the world is not just about you"
ReplyDelete