Sunday, June 21, 2026

Puisi-Puisi Sholihul Mubarok

Puisi Sholihul Mubarok




Memulai Hari

  

Fajar berpijar di sudut trotoar

anak-anak menempuh jarak sekolah

kabar-kabar meluncur bagai keriut pasar

lebih bising dari lengking knalpot liar

 

Kuendapkan segenap kekacauan

berseduh dalam adukan

segelas kopi, pekat yang merawat hari

ketika matahari menawarkan silau

dari mata-mata ranjau

 

Barangkali sejenak hangat

tawa-tawa kecil dilepas ke udara penat

sebelum siang mengasuh belulang

dan hijau musim perlahan hilang

  

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Semangat untuk Ambruk

  

Kau memerah keringat

menempa raga menjadi sekadar alat

bergulat di bawah cambuk perintah

demi sepotong harga diri yang koyak

 

Waktu bergegas memutar kendali

memburu raga, mengasingkan naluri dari nurani

ketika setiap payah dikonversi upah

dan angka-angka menuntunmu menuju renta

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Kedaulatan

  

Kau tulis ulang dirimu

pada selembar entropi

di antara singularitas hujat

ketika dunia terburu waktu

 

Tiada bakal degradasi

oleh kepungan narasi gaduh

sebab telah tegak bagimu

korteks kokoh penjaga patut

agar tak ikut bersungut

dan menjelma pengecut

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Ketika Dulu

  

Senja selalu menatapmu

di balik bayangan bukit

di pantai Kairatu

 

katamu:

"Koma lere mo lome

Uloi elau lere sunu

Ulele o lalei esi bitu

Koma o mita mo ree

Lere sunu esi mutu"

 

Masih terngiang ucapmu dahulu

sebelum kini, kau terdampar ke Jakarta;

melarung kenangan

di sepanjang kebisingan.

 

Barangkali sekadar bias

antara beradaku juga ambisimu

hanya berlalu

tak sampai menjamah bayanganku.

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

 

Empat Puluh

: kepadaku

  

Kini tumbuh empat helai rindu

putih di antara legam jenggotku

setelah bertahun menempuh

almanak mengeja jejak

tak sampai pada pijak

 

Telah kulangitkan doa-doa

mengudara bersama kepasrahan

agar jangan saja tersia

namun disuruh senja

 

Kepada dada

tersimpan berkas kelana

dari sunyi mula asal

menggumpal sebagai bekal

 

Tiada cinta

sekadar laksana fana

hanya remahan damba

kasih atas amanah dari-Nya

 

Entah berapa senja

menyapa mata kebisuan

abai padaku

sedang petang

enggan pelukku pulang

 

Gresik, 31 Mei 2026

 

______


Penulis

 

Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985, serta aktif berkarya sebagai penyair di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, seperti Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, hingga antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku tunggal, ia kerap menghadirkan karya berbentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya yang bertajuk Dalam Semesta Matamu (2026). 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


 

 

 

 


Terimakasih telah berkomentar!