Puisi Sholihul Mubarok
Memulai Hari
Fajar berpijar di sudut trotoar
anak-anak menempuh jarak sekolah
kabar-kabar meluncur bagai keriut
pasar
lebih bising dari lengking knalpot
liar
Kuendapkan segenap kekacauan
berseduh dalam adukan
segelas kopi, pekat yang merawat hari
ketika matahari menawarkan silau
dari mata-mata ranjau
Barangkali sejenak hangat
tawa-tawa kecil dilepas ke udara penat
sebelum siang mengasuh belulang
dan hijau musim perlahan hilang
Gresik, 31 Mei 2026
Semangat untuk Ambruk
Kau memerah keringat
menempa raga menjadi sekadar alat
bergulat di bawah cambuk perintah
demi sepotong harga diri yang koyak
Waktu bergegas memutar kendali
memburu raga, mengasingkan naluri dari
nurani
ketika setiap payah dikonversi upah
dan angka-angka menuntunmu menuju
renta
Gresik, 31 Mei 2026
Kedaulatan
Kau tulis ulang dirimu
pada selembar entropi
di antara singularitas hujat
ketika dunia terburu waktu
Tiada bakal degradasi
oleh kepungan narasi gaduh
sebab telah tegak bagimu
korteks kokoh penjaga patut
agar tak ikut bersungut
dan menjelma pengecut
Gresik, 31 Mei 2026
Ketika Dulu
Senja selalu menatapmu
di balik bayangan bukit
di pantai Kairatu
katamu:
"Koma lere mo lome
Uloi elau lere sunu
Ulele o lalei esi bitu
Koma o mita mo ree
Lere sunu esi mutu"
Masih terngiang ucapmu dahulu
sebelum kini, kau terdampar ke
Jakarta;
melarung kenangan
di sepanjang kebisingan.
Barangkali sekadar bias
antara beradaku juga ambisimu
hanya berlalu
tak sampai menjamah bayanganku.
Gresik, 31 Mei 2026
Empat Puluh
: kepadaku
Kini tumbuh empat helai rindu
putih di antara legam jenggotku
setelah bertahun menempuh
almanak mengeja jejak
tak sampai pada pijak
Telah kulangitkan doa-doa
mengudara bersama kepasrahan
agar jangan saja tersia
namun disuruh senja
Kepada dada
tersimpan berkas kelana
dari sunyi mula asal
menggumpal sebagai bekal
Tiada cinta
sekadar laksana fana
hanya remahan damba
kasih atas amanah dari-Nya
Entah berapa senja
menyapa mata kebisuan
abai padaku
sedang petang
enggan pelukku pulang
Gresik, 31 Mei 2026
______
Penulis
Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur,
pada 24 Februari 1985, serta aktif berkarya sebagai penyair di ruang sastra
digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional
dan internasional, seperti Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia
Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, hingga antologi lintas empat
negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku tunggal, ia kerap
menghadirkan karya berbentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube
@SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi
terbarunya yang bertajuk Dalam Semesta Matamu (2026).
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!