Oleh Kabut
Cerita untuk anak, bukan cerita yang semua tokohnya harus anak. Cerita yang tidak melulu berisi masalah-masalah anak. Tulisan disebut cerita anak yang ditulis orang dewasa memunculkan sangkaan-sangkaan yang sering diperdebatkan. Konon, para penikmat bacaan anak di Indonesia mementingkan isi yang berdampak.
Kita jemu perdebatan yang memasalahkan isi cerita anak. Ada yang terlalu memihak bahwa cerita membentuk anak menjadi sopan, baik, beriman, dan pintar. Ada yang tidak menagih apa-apa dari cerita anak. Namun, ada pihak yang bolak-balik memikirkan sastra untuk anak memberi sokongan dalam pemajuan negara atau perayaan modernitas. Yang pernah diperdebatkan boleh dilupakan. Apa kita ingin memulai lagi perdebatan sehingga terkapar gara-gara bosan dan menyerah?
Produksi buku-buku untuk anak dari masa kolonial sampai Orde Baru memiliki beragam corak. Kita belum sempat membuat perbedaan yang menempatkan sastra anak dalam kecamuk ideologi atau bergejolak dalam arus pendidikan. Kita pun belum memiliki daya untuk mengolah resepsi para pembaca agar mengerti alur sastra anak di Indonesia, dari masa ke masa.
Apakah cerita untuk anak mutlak harus menjadi pengajaran? Kita kadang dibingungkan dengan ketetapan pengajaran dan hasrat hiburan. Maka, anak-anak yang membaca cerita dihasilkan orang dewasa boleh menuntut hiburan ketimbang dijadikan “konsumen” nasihat dan mendapat perintah-perintah yang bijak. Anak-anak yang membaca tidak diwajibkan memikirkan hal-hal yang baik saja. Di hadapan cerita, mereka berpikir “serius” mengenai keburukan, yang tidak berarti ditiru dan dibiarkan.
Yang dibuka adalah buku berjudul Mang Luwi yang ditulis oleh Lukman Hakim. Buku tipis dan kecil diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1975. Yang disajikan di sampul depan adalah gambar tiga lelaki dan seekor kerbau. Apa yang terjadi? Pembaca diminta membuka halaman-demi halaman agar mengetahui cerita atau mencari cocok antara cerita dan gambar.
Lukman Hakim mengenalkan para tokohnya: “Uju mengeluarkan rokok yang tinggal beberapa batang. Kemudian ketiganya berjalan ke arah kampung Tegalawi. Jalan ke kampung itu melalui sawah dan tanah kosong, sehingga mereka dengan bebas merokok dan bercakap-cakap tanpa kuatir diketahui penduduk.” Yang membaca berimajinasi bahwa ada beberapa orang yang saat tengah malam melakukan perbuatan yang mencurigakan. Imajinasi yang tidak sulit bagi pembaca. Mereka yang merokok. Mereka yang mendatangi suatu desa. Apa yang diinginkan?
Yang dituju adalah rumah orang yang kaya. Mengapa mereka ke situ? Anak-anak yang membaca dapat menjawab dalam waktu yang singkat. Pengarang mengisahkan: “Pak Sanusi, orang paling kaya di kampung itu. Sawahnya luas sekali. Ia juga mempunyai toko di pasar. Meskipun ia orang yang kaya, rumahnya biasa saja. Tidak ada listrik, tidak ada tanda kemewahan lain. Hanya kendang kerbau di belakang rumah, menandakan ia orang berada. Kerbaunya banyak untuk mengerjakan sawah yang luas.”
Beberapa lelaki mendatangi rumah orang yang dianggap kaya. Mencuri! Pembaca menduga mereka akan mencuri. Cerita untuk anak jangan memberi petunjuk yang sulit. Lukman Hakim sudah mengajukan petunjuk mudah, yang membuat pembaca mengetahui peristiwa pencurian. Yang dicuri adalah kerbau. Para pembaca mulai membayangkan cara dan kekuatan para pencuri. Kerbau itu hewan yang tubuhnya besar.
Tiga orang mewujudkan siasat yang efektif dan efisien. Mereka tidak membawa kerbau dalam pencurian. Yang dilakukan adalah pekerjaan yang “hebat”. Pembaca seolah ikut menyaksikan: “Cekatan sekali tangan mereka menggunakan golok yang tajam. Sesudah menyembelih lalu menguliti kerbau besari itu. Sehingga dalam waktu yang tidak lama benar, hewan tadi tinggal berupa tumpukan daging saja. Hanya bagian-bagian yang mahal harganya yang mereka bawa. Tulang dan bagian tubuh yang tidak berharga, mereka tinggalkan begitu saja.”
Pembaca mengetahui tiga orang itu sakti. Pencurian yang membutuhkan keberanian. Para pencuri berhitung waktu dan perbuatan yang nantinya dianggap menghasilkan untung besar. Pada babak awal pengenalan pencuri, para pembaca mulai berpikir hal-hal yang menyebabkan mereka mencuri daging kerbau. Padahal, mereka dalam kerepotan-kerepotan yang “mengagumkan”.
Pencurian terjadi di desa. Para pencuri yang berhasil mendapatkan daging urusannya belum selesai. Bagaimana cara menjualnya? Mereka membawa daging yang berat ke pinggir jalan, yang biasanya dilalui truk. Para pencuri berharap boleh menumpang. Harapannya, daging sampai di pasar. Mereka ingin menjualnya. Yang diinginkan adalah uang.
Kesedihan menimpa berkaitan pencurian. Luwi (pencuri) memiliki anak yang sakit. Maka, duit yang diperoleh dari mencuri digunakan membeli obat dan makanan. Anak itu tidak sembuh, malah pamitan dari dunia. Sedih yang tidak tertahankan. Apakah pencuri itu mendapat balasan? Kutukan untuk pencuri?
Para pembaca diajak merenung, bukan segera menentukan sikap atas perbuatan tokoh dan akibat-akibatnya. Yang dilakukan pengarang, membujuk pembaca mengetahui sosok Luwi, yang mula-mula diceritakan sebagai pencuri. Luwi, sosok yang bersalah tapi ia patut dimengerti: “Sebenarnya, ia tukang kayu. Tetapi sudah lama alat-alatnya tidak digunakan. Lebih suka ia mendapat uang dengan cara yang lebih mudah. Sekarang, ketika di rumah kekurangan, masih tetap ia belum mau menggunakan perkakas dan kepandaiannya. Ia lebih suka duduk termenung mengenang anaknya.” Sosok di desa, yang biasa mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ia bisa bekerja tapi mencuri itu menjawab kebutuhan terhadap uang. Para pembaca diharapkan sungguh-sungguh memikirkan pekerjaan, tidak terus-terusan memasalahkan pencurian.
Buku cerita tentang pencurian. Anak-anak yang membacanya membandingkan dengan pengalamannya sebagai “pencuri” cilik. Para pembaca pun bisa membandingkan saat sebagai saksi adanya pencurian. Yang belajar di sekolah atau mengaji di masjid cepat mengetahui bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Namun, anak-anak yang membaca cerita tentang pencurian menemukan adanya masalah-masalah yang bisa dipelajari.
Akhirnya, pengarang mengadakan adegan tobat. Luwi tidak selamanya pencuri. Pada suatu malam, ia mau mencuri lagi, yang dimengerti jawaban agar keluarga tidak kelaparan. Yang didatangi adalah rumah orang yang bergelar haji. Pencuri mengamati rumah yang menjadi sasaran. Di situ, ada seorang bergelar haji yang sedang membaca Al-Qur'an: “Suaranya enak didengar, lagunya menarik hati.”
Apa yang terjadi pada pencuri? Pengarang memulai cerita tentang keburukan atau kejahatan. Ada yang selesai: “Luwi tertegun. Ia ingat ketika kecil belajar mengaji kepada Haji Qomar yang telah meninggal dunia. Ia teringat akan kata-kata mutiara yang tersirat dari ayat-ayat Al Quran. Larangan akan kejahatan. Selanjutnya, ampun dan taubat. Akhirnya, pahala bagi keluhuran akhlak. Air matanya menitik. Wajahnya menengadah, lalu diucapkannya kebesaran Allah.” Cerita yang berakhir pertobatan. Anak-anak yang membacanya mengangguk, tidak perlu protes atau menolak akhir cerita.
Yang dipentingkan pengarang: pesan yang gamblang. Artinya, anak-anak yang membacanya sadar bahwa mencuri itu kejahatan. Mereka tidak ingin menjadi pencuri. Buku cerita yang dibaca tidak “menghibur” tapi kesengajaan menampilkan yang buruk atau jahat agar anak-anak mengerti sikap atau perbuatan dalam hidup sesuai ajaran agama. Jadi, cerita untuk anak adalah cerita yang menghendaki anak-anak menjadi beriman dan bertanggung jawab atas hidup.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!