Saturday, June 27, 2026

Resensi Kabut | Puisi Diwariskan

Oleh Kabut



Para pengarang tua masih bisa disapa di media sosial. Mereka bukan bersembunyi atau menikmati hari-hari dengan kesepian. Maka, kehadiran mereka di media sosial memungkinkan terjadinya kesinambungan nasib dalam sastra. Dulu, mereka mungkin tenar pada masa 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Jarak waktu yang jauh tetap menjadikan mereka terhormat saat rajin tampil di media sosial. Artinya, mereka masih membuat tulisan dan mengabarkan. Beberapa orang tetap menghadiri acara-acara sastra atau berperan sebagai juri. 


Di media sosial, nama-nama penting dan besar dari masa lalu terhubung dengan pengarang-pengarang muda atau kaum pembaca. Saling sapa dan berdebat di media sosial memastikan sastra tetap ramai. Kita menyatakan ramai setelah masa koran dan majalah makin kehilangan pesona. Yang menyimak media sosial kadang kelelahan dengan ribut sastra, melebihi kabar-kabar publikasi puisi, cerita pendek, atau esai. Ribut yang berkepanjangan kadang menyita perhatian ketimbang bertepuk tangan atas penerbitan buku-buku sastra.


Nama dari masa lalu yang masih rajin bersastra: Handrawan Nadesul. Kita bisa menemuinya di media sosial. Sosok yang terus menulis dan menerbitkan buku-buku. Ia berprofesi sebagai dokter tapi namanya kondang sebagai pengarang. Di media sosial, ia tak cuma akrab dengan teman-teman yang tua. Ia terhubung kaum muda. 


Siapa ingat buku-buku Handrawan Nadesul dari masa lalu? Ia telah memberi persembahan yang penting dalam perkembangan sastra di Indonesia. Yang terbaca untuk mengetahui Handrawan Nadesul adalah buku berjudul Kunang-Kunang, diterbitkan oleh Aries Lima, Jakarta, 1976.


Di halaman awal, tercantum keterangan: “Puisi anak-anak tidak selalu berarti puisi yang ditulis oleh anak-anak. Tetapi, dapat pula lahir dari mereka yang tidak lagi pantas disebut anak-anak.” Yang menulis puisi bernama Handrawan Nadesul, sosok dewasa yang sudah terbukti mahir menggubah sastra. Mengapa ia turut menulis puisi-puisi untuk dibaca anak-anak?


Keterangan yang sedikit menjawab: “Tiada lain, kecuali mencoba menghayati kembali dunia kanak-kanak yang pernah dialami, ditambah pengalaman bergaul dengan anak-anak serta dunianya yang segar dan menyenangkan.” Kita menduga Handrawan Nadesul sudah tidak ingat pernah membuat buku untuk anak-anak. Apakah ia masih menyimpan Kunang-Kunang atau mengumumkan di media sosialnya? Para pengarang tenar biasanya jarang mengumumkan pernah menjadi penulis buku anak-anak, yang cap Inpres. 


Apakah puisi-puisi yang ditulis Handrawan Nadesul mudah dibaca murid-murid di SD? Kita tidak wajib membuktikan. Dulu, yang membaca mungkin menganggap puisi itu apik. Membaca tanpa kepastian mengerti. Yang ditulis Handrawan Nadesul adalah puisi berjudul “Angin, Datanglah ke Kamarku”. Anak-anak membaca sebait saja: angin, kuingin kau tetap mendesis di celah daun/ menari di tangkai bunga/ melambai di pantai samudera/ berapakah sejuk kau kirimkan dalam puputmu?/ menebarkan embun sepanjang malam/ benarkah tak berhingga jauh rumahmu/ kuingin kau singgah ke kamarku/ bila kuingat di mana ibuku. Siapa yang sekali baca lekas mengerti tentang angin, kamar, dan manusia? Ingatlah, puisi ini ditulis oleh orang yang dewasa, bukan anak-anak. Di larik terakhir, pembaca merasakan kesedihan. Angin menjadi penghibur, bukan selesai dimengerti melalui ungkapan “kabar angin”. Di situ, ada sosok yang mengingat ibu. Apa kaitan angin dan ibu?


Pada masa 1970-an, yang menghebohkan adalah puisi. Di Indonesia, kejutan-kejutan diberikan Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Remy Sylado, dan lain-lain. Puisi dalam polemik yang tidak selesai. Mereka yang ikut ribut adalah kaum dewasa. Mereka mungkin tidak membaca puisi yang ditulis oleh Handrawan Nadesul. Artinya, ada usaha menyuguhkan puisi yang “memberat” saat anak-anak membuka dan membacanya sebelum tidur atau di sela-sela belajar di sekolah.


Kita memilih puisi yang berjudul “Baju yang Dulu Kau Sukai Bila Aku Memakainya”. Di bawah puisi, tampak gambar seorang gadir dan bunga-bunga. Dulu, anak-anak yang membaca puisi terbantu adanya gambar. Yang ditulis: baju yang dulu kerap kupakai/ setiap kali hari minggu kau tuntun aku ke kebun bunga/ kini telah koyak-koyak semuanya/ biar mala mini kupasang kancing-kancingnya lagi/ agar bisa kupakai kembali/ pada hari ulangtahunmu nanti. Baju menandai kasih. Baju yang mengikat hubungan terindah. Pada baju, ada upaya merajut kenangan dan persembahan. Anak-anak mampu membacanya. Apakah mereka mungkin bisa menggerakkan imajinasi sampai jauh? Kita mengandaikan puisi itu terbaca oleh murid SMP atau SMA saja.


Kita masih menemukan puisi yang istimewa. Puisi yang mengajak pembacanya merenung tentang kematian. Apakah anak-anak sulit terhibur atau tertawa di hadapan puisi-puisi gubahan Handrawan Nadesul? Buku itu kebanyakan mengumbar sedih. Yang menulis mungkin sedang menghayati duka ketimbang mencipta panen tawa.


Judul puisi yang panjang sudah tergesa memberi pesan: “Seorang Ayah Bermain Gitar di Hadapan Anak-Anaknya Sebelum Esok Paginya Ia Menjalani Hukuman Matinya.” Yakinlah, anak-anak bengong melihat judul puisi yang panjang. Di buku pelajaran atau lomba, mereka terbiasa menemukan judul-judul puisi yang pendek. 


Puisi yang mendingan menjadi bacaan para mahasiswa untuk mendapat apresiasi. Puisi boleh digunakan dalam tugas mata kuliah pengkajian puisi. Namun, Handrawan Nadesul mengarahkan itu bacaan anak. Kita yang dewasa ikut membaca: kupetikkan untukmu sebuah lagu/ tentang bulan dan matahari/ yang bersinar dalam matamu/ dengarkanlah sampai berakhir syair laguku/ sebab sesungguhnya akan berapakah panjang mala mini/ mengukur bening di sinar matamu. Sekali lagi, puisi yang tidak mengajak pembaca tersenyum atau bersukacita. Yang dinikmati adalah imajinasi kematian. 


Keterangan yang tercantum di halaman awal: “Dengan beberapa puisi di sini, mudah-mudahan dapat menarik perhatian adik-adik. Juga bagi mereka yang menyukai puisi dan berminat belajar menulis puisi, barangkali kumpulan ini bisa membantu sekadarnya.” Yang benar-benar belajar dari buku ini mungkin terbujuk menulis puisi-puisi yang sedih, murung, duka, atau suram. Konon, semua itu masih bisa “membenarkan” bahwa puisi itu “indah”.


Buku berjudul Kunang-Kunang masih ada. Dulu, yang menulisnya mungkin kepikiran bakal dibaca anak dan cucu. Jadi, ia sebenarnya sedang membuat warisan. Kita menduga ikhtiar menulis buku dan warisan itu ditentukan waktu. Yang turut berpengaruh adalah situasi sastra dan lakon anak-anak abad XXI. Puisi-puisi dalam buku berjudul Kunang-Kunang itu pengalaman bercap anak-anak yang terjadi saat hidup belum terlalu meriah dengan gawai. Pada masa 1970-an, anak-anak masih mengakrabi alam. Maka, puisi-puisi gubahan Handrawan Nadesul adalah dokumentasi sekaligus pembuatan warisan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!