Cerpen Yulizar Lubay
A.
Aku suka rumah sakit. Dulu, rasa suka itu
muncul karena kusangka rumah sakit adalah tempat penyembuhan. "Ada lambang
ularnya," kataku kepada Bapak.
"Itu lambang kesehatan," Bapak
menjawab pasti tanpa mau ditanya lagi.
"Bukan. Itu lambang bahwa penggoda
Adam-Hawa masih berkeliaran di dunia," Ibu berkata datar dengan amarah
terpendam.
Bapak menampar ibu dengan tatapan yang tajam.
Dan seiring waktu berjalan, aku yakin bahwa
rumah sakit adalah tempat yang dimaksudkan dan diartikan ibuku.
B.
Bapak punya tiga istri. Ibu adalah istrinya
yang pertama dan aku adalah anak perempuan semata wayang mereka.
Aku tidak tahu bagaimana cara Bapak membagi
waktu dan kasih sayang. Kadang ia datang ke rumah membawa banyak uang, kadang
tidak datang sama sekali selama berbulan-bulan. Tapi setiap kali datang, Bapak
selalu tampak kelelahan. Wajahnya berminyak dan napasnya mudah sesak.
C.
Cara Bapak meninggal tidaklah aneh. Suatu
pagi, saat aku berumur dua puluh enam tahun, ia meninggal karena darah tinggi
dan serangan jantung. Aku tidak bisa mengingat hari itu dengan jelas. Rumah
sakit yang dulu kusukai, telah berubah menjadi tempat yang bau dan
menjengkelkan.
Aku melihat tubuh Bapak terbaring kaku di
ranjang rumah sakit. Mulut dan matanya terbuka lebar ke arah langit-langit
kamar seperti seseorang yang sedang telat sadar. Di sekelilingnya, tiga
perempuan berdiri sambil menangis dengan cara yang berbeda. Perempuan pertama, ibuku,
menangis tanpa suara. Perempuan kedua, menangis dengan bahu terguncang keras,
sedangkan perempuan ketiga menangis merdu seperti pelatih paduan suara. Aku
berdiri di antara mereka. Dan saat berdiri itulah, tanpa alasan yang jelas, aku
memutuskan untuk membenci rumah sakit dan meninggalkan ibuku, selamanya.
D.
Dua minggu setelah kematian Bapak, aku mulai
didatangi mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku selalu berdiri di lorong panjang
rumah sakit. Kadang aku melihat diriku sendiri terbaring di ICU. Kadang aku
melihat diriku sendiri berubah menjadi sebatang pohon kamboja.
Di siang hari, aku mencoba melupakan mimpi
itu saat bekerja di perpustakaan daerah. Tapi di tengah mengetik laporan
mingguan, aroma rumah sakit tiba-tiba menguap dari sela-sela jariku. Aku
memejam. Punggung tanganku terasa dingin seperti ditempeli pecahan es batu.
Tiba-tiba aku teringat bapakku. Aku membuka mata, lalu melihat semua orang di
kantor perpustakaan seperti pasien rumah sakit. Di saat itu aku mulai percaya
bahwa setiap manusia adalah pasien rawat jalan. Mereka menolak diinfus, menolak
didiagnosa, dan berlebihan mengonsumsi obat bermerek Keinginan.
E.
Embusan angin Minggu sore meniupi wajah
Julani, kekasihku, yang sudah lama diterima sebagai pegawai negeri di Dinas
Kesehatan.
“Dunia adalah rumah sakit,” kataku kepadanya.
Julani menggeleng sambil tertawa. “Sepertinya
penyakit gilamu sedang kambuh.”
"Aku memang belum sembuh."
Kami berdua duduk di taman kota Pagar Bulan,
di bangku besi putih yang mungkin baru beberapa bulan dicat ulang. Julani, dengan
sepasang mata besar dan rambut hitam sedikit ikal, menatapku dengan pancaran
yang sulit diterka, antara rasa cinta dan keinginan untuk menghina.
“Coba pikir,” kataku, “Setiap orang mencari
kebahagiaan. Tapi
apa yang mereka temukan selain was-was, kesepian, hepatitis, diabetes, dan usus
buntu? Mereka sibuk menutupi luka, tapi tak pernah bertanya kenapa luka itu bisa
ada."
“Kamu sendiri mencari apa?” tanya Julani
dengan sepasang alis lebat terangkat.
“Makna ...” aku menjawab ragu. “Aku ingin tahu
kenapa kita harus sakit kalau hidup cuma sementara.”
Julani bungkam sambil meremas jari-jari
tangan. “Kamu tahu, dulu aku juga suka rumah sakit,” katanya pelan sebelum
menghela napas panjang. “Tapi setelah ibuku meninggal di sana, sekarang aku
membencinya.”
Aku memandang Julani. Entah kenapa, aku
merasa Julani terlambat memahami sesuatu yang sudah lama kumaknai.
Gerimis tipis turun perlahan. Julani
menggandengku pulang.
F.
Foto ibu dan bapak sudah lama kubuang. Foto
mereka sudah tidak ada lagi di rumahku.
Aku tidak ingin mengingat mereka lagi,
meskipun di kamar, dari pantulan cermin yang terpacak di dinding, wajah mereka
tercetak jelas di wajahku. Memandangi cermin itu, sepasang mataku jadi mirip
dua bohlam lampu kecil tanpa garansi yang mudah sekali mati.
Aku berbalik badan, melangkah, lalu mengambil buku
catatan yang tergeletak di ranjang. Sebatang pena biru melamun di dalamnya.
Kuambil pena dan mulai menuliskan tiga kalimat sungsang dan membingungkan: Manusia
adalah pasien yang menyamar jadi dokter. Cinta adalah kanker yang sulit
diobati. Tuhan adalah dokter yang sering membuat bingung pasiennya.
Suatu sore, aku memperlihatkan catatanku itu
kepada Julani. Setelah membacanya dengan mata berair, ia mengeluarkan
kalimat yang patut kukagumi, “Kamu harus tidur cukup dan segera minum obat
cacing.”
"Tapi bagaimana aku bisa tidur kalau
setiap kali memejam, aku selalu melihat ranjang-ranjang putih dan kursi
roda?" kataku protes. "Tapi baiklah ...." aku berdehem karena
tenggorakanku terasa gatal, "Aku akan segera minum obat cacing."
Julani tertawa puas. Ia memelukku, lalu mencium pipiku
dengan gemas.
G.
Gelisah dan cemas telah berhasil mendorongku
keluar rumah pada suatu malam yang gerah. Aku berjalan sendirian tanpa tujuan
dan berakhir di depan rumah sakit Cinta Kasih tempat bapakku dirawat dan
akhirnya meninggal. Aku masuk tanpa berpikir. Seorang satpam menatapku tanpa
menanyakan apa-apa.
Karena tidak ditanya, aku lantas berjalan
menuju lorong rumah sakit dan baru berhenti saat aku berdiri di depan pintu
kamar mayat. Di kaca pintunya yang sedikit buram, aku bisa melihat bayanganku
sendiri. Bayangan yang mengenakan jas dokter. Aku tersenyum, lalu mengangguk
kepada bayangan itu.
Aku membuka pintu kamar mayat yang mungkin
lupa dikunci. Maksudku, aku tidak ingat benar apakah pintunya dikunci atau aku
sendiri yang telah merusak kuncinya. Yang jelas, ruang kamar mayat itu nyaris
kosong kalau saja tidak ada satu meja dan secarik kain mori yang menutupi
sesuatu. Aku mendekat untuk menarik kain itu, dan aku menemukan kursi roda.
Kursi roda itu masih baru. Aku sempat
mendengar si kursi roda menghela napas dan memanggil namaku.
Aku tidak kaget, dan malah tersenyum senang,
menganggap hal itu lelucon yang buruk dari sejumput takdir yang digariskan
untukku.
Aku keluar dari kamar mayat dan memutuskan
pulang ke rumah dengan membawa kursi roda di kepala.
H.
Hari berikutnya, aku menceritakan kejadian di
rumah sakit itu kepada Julani. Ia berkata heran, “Berhentilah hidup dalam
mimpi, Sayangku.”
Aku menggeleng lemah. “Tapi kursi roda itu
nyata. Dia bisa bernapas dan memanggil namaku dengan jelas.”
Julani menatapku lama sebelum memegang
tanganku. “Kamu harus berhenti mengunjungi rumah sakit. Aku takut kamu berubah
...”
“Berubah jadi?”
“Hantu penasaran.”
"Kita semua memang penasaran."
Entah kenapa, kata penasaran, tiba-tiba
berhasil mendorongku untuk mencekik leher Julani.
Julani balas mencekik leherku.
I.
Ingatanku semakin buruk. Aku mulai kehilangan
batas antara tidur dan jaga. Kadang di kantor perpustakaan daerah tempatku
bekerja, aku mendengar bunyi monitor detak jantung. Kadang di rumah, aku merasa
tubuhku terikat selang infus.
Sementara itu di dalam mimpiku yang terakhir,
aku melihat Bapak duduk di sofa ruang tamu rumahku. Ia tersenyum mengejekku,
lalu berkata, “Tak lama lagi, kamu akan menjadi kursi roda.”
Aku terbangun dengan keringat dingin di dahi.
Kakiku terasa kaku. Aku melihat
sekeliling dan mendapati Julani sedang duduk di sampingku.
"Syukurlah kamu bangun. Sudah tiga hari
kamu dirawat di rumah sakit Cinta Kasih."
"Bukannya kamu sudah mati kucekik?"
"Tidak, Sayangku. Itu tidak pernah
terjadi."
Aku kaget, dan jatuh pingsan lagi.
J.
Jam sembilan pagi, dua minggu setelah keluar
dari rumah sakit, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Kusampaikan kepada
Kepala Dinas Perpustakaan bahwa aku ingin mencari makna. Ia menatapku seperti
menatap pasien yang baru keluar dari ruang psikiatri.
Sejak berhenti bekerja, terutama hari Minggu,
aku selalu menghabiskan waktu membaca atau menulis dengan banyak ditemani
Julani. Kami sering duduk di ruang tamu rumahku. Aku makin jarang bicara.
Julani yang sekarang lebih banyak bicara tentang buruknya cuaca, tentang makan
bergizi gratis, dan tentang cinta abadi.
“Kalau dunia adalah rumah sakit, maka apa
arti cinta menurutmu?” kata Julani sebelum tersenyum.
Aku berpikir agak lama. "Cinta menurutku
..." aku mencari kalimat yang pas untuk menjawabnya, "... Adalah
kanker stadium akhir,” kataku sebelum hidungku mimisan.
Julani tersenyum getir. “Dan siapa yang kamu
cintai dan mencintaimu?”
Aku tidak bisa menjawab. Dalam diam, sambil
membiarkan darah mengucur dari lubang hidung, aku merasa kanker di tubuhku
semakin mengganas.
K.
Ketika hujan reda, pada suatu malam, Julani
datang ke rumahku dengan memakai jeans biru gelap dan kaos putih yang ditutupi
jaket hitam. Kami duduk di sofa ruang tamu.
Julani membawakan sop daging sapi panas
kesukaanku. Ia bangkit, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk, sendok,
dan garpu.
“Nurani .... Sayangku ....” katanya, beberapa
menit kemudian sambil membawa sop daging sapi di dalam mangkuk.
Aku ingin menjawab, tapi lidahku sudah tidak
tersambung lagi ke otak.
“Kamu di mana?” suara Julani bergetar.
Di mana otakku? Aku menjawab dengan sedikit
bergerak.
Mangkuk menjatuhkan diri dari tangan Julani.
Sop daging sapi berceceran di lantai. Julani tercengang sebelum menatapku lama,
sampai aku tidak tahu lagi siapa yang lebih nyata di antara kami.
“Nurani?” Julani berbisik.
Aku bergerak maju mendekati Julani.
Setelah itu, tidak ada yang pasti mengenai ceritaku ini. Cerita
berkembang biak seperti cacing kremi. Ada cerita yang mengatakan bahwa Julani
menelepon polisi dan melaporkan bahwa aku hilang diculik orang. Polisi datang dan hanya menemukan kursi
roda di ruang tamu rumahku. Ada pula cerita lain yang mengatakan bahwa Julani
jatuh sakit setelah aku menghilang. Ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Purnama Dibelah Dua. Di
sana, setiap hari, Julani makan dan tidur di kursi roda.
Aku sendiri tidak tahu cerita mana yang
benar. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih ada, ataukah aku hanya sebuah
kursi roda yang banyak bicara?
Entahlah. Roda berderit. Aku membenci rumah
sakit.
Lampung, 2026
________
Yulizar Lubay, fiksionis dan
aktor teater di Komunitas Berkat Yakin Lampung.
Instagram: @yulizarlubay
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!