Sunday, June 28, 2026

Cerpen Yulizar Lubay | Kursi Roda

Cerpen Yulizar Lubay

 


A.

Aku suka rumah sakit. Dulu, rasa suka itu muncul karena kusangka rumah sakit adalah tempat penyembuhan. "Ada lambang ularnya," kataku kepada Bapak.

"Itu lambang kesehatan," Bapak menjawab pasti tanpa mau ditanya lagi.

"Bukan. Itu lambang bahwa penggoda Adam-Hawa masih berkeliaran di dunia," Ibu berkata datar dengan amarah terpendam.

Bapak menampar ibu dengan tatapan yang tajam.

Dan seiring waktu berjalan, aku yakin bahwa rumah sakit adalah tempat yang dimaksudkan dan diartikan ibuku.

B.

Bapak punya tiga istri. Ibu adalah istrinya yang pertama dan aku adalah anak perempuan semata wayang mereka.

Aku tidak tahu bagaimana cara Bapak membagi waktu dan kasih sayang. Kadang ia datang ke rumah membawa banyak uang, kadang tidak datang sama sekali selama berbulan-bulan. Tapi setiap kali datang, Bapak selalu tampak kelelahan. Wajahnya berminyak dan napasnya mudah sesak.

C.

Cara Bapak meninggal tidaklah aneh. Suatu pagi, saat aku berumur dua puluh enam tahun, ia meninggal karena darah tinggi dan serangan jantung. Aku tidak bisa mengingat hari itu dengan jelas. Rumah sakit yang dulu kusukai, telah berubah menjadi tempat yang bau dan menjengkelkan.

Aku melihat tubuh Bapak terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Mulut dan matanya terbuka lebar ke arah langit-langit kamar seperti seseorang yang sedang telat sadar. Di sekelilingnya, tiga perempuan berdiri sambil menangis dengan cara yang berbeda. Perempuan pertama, ibuku, menangis tanpa suara. Perempuan kedua, menangis dengan bahu terguncang keras, sedangkan perempuan ketiga menangis merdu seperti pelatih paduan suara. Aku berdiri di antara mereka. Dan saat berdiri itulah, tanpa alasan yang jelas, aku memutuskan untuk membenci rumah sakit dan meninggalkan ibuku, selamanya.

D.

Dua minggu setelah kematian Bapak, aku mulai didatangi mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku selalu berdiri di lorong panjang rumah sakit. Kadang aku melihat diriku sendiri terbaring di ICU. Kadang aku melihat diriku sendiri berubah menjadi sebatang pohon kamboja.

Di siang hari, aku mencoba melupakan mimpi itu saat bekerja di perpustakaan daerah. Tapi di tengah mengetik laporan mingguan, aroma rumah sakit tiba-tiba menguap dari sela-sela jariku. Aku memejam. Punggung tanganku terasa dingin seperti ditempeli pecahan es batu. Tiba-tiba aku teringat bapakku. Aku membuka mata, lalu melihat semua orang di kantor perpustakaan seperti pasien rumah sakit. Di saat itu aku mulai percaya bahwa setiap manusia adalah pasien rawat jalan. Mereka menolak diinfus, menolak didiagnosa, dan berlebihan mengonsumsi obat bermerek Keinginan.

E.

Embusan angin Minggu sore meniupi wajah Julani, kekasihku, yang sudah lama diterima sebagai pegawai negeri di Dinas Kesehatan.

“Dunia adalah rumah sakit,” kataku kepadanya.

Julani menggeleng sambil tertawa. “Sepertinya penyakit gilamu sedang kambuh.”

"Aku memang belum sembuh."

Kami berdua duduk di taman kota Pagar Bulan, di bangku besi putih yang mungkin baru beberapa bulan dicat ulang. Julani, dengan sepasang mata besar dan rambut hitam sedikit ikal, menatapku dengan pancaran yang sulit diterka, antara rasa cinta dan keinginan untuk menghina.

“Coba pikir,” kataku, “Setiap orang mencari kebahagiaan. Tapi apa yang mereka temukan selain was-was, kesepian, hepatitis, diabetes, dan usus buntu? Mereka sibuk menutupi luka, tapi tak pernah bertanya kenapa luka itu bisa ada."

“Kamu sendiri mencari apa?” tanya Julani dengan sepasang alis lebat terangkat.

“Makna ...” aku menjawab ragu. “Aku ingin tahu kenapa kita harus sakit kalau hidup cuma sementara.”

Julani bungkam sambil meremas jari-jari tangan. “Kamu tahu, dulu aku juga suka rumah sakit,” katanya pelan sebelum menghela napas panjang. “Tapi setelah ibuku meninggal di sana, sekarang aku membencinya.”

Aku memandang Julani. Entah kenapa, aku merasa Julani terlambat memahami sesuatu yang sudah lama kumaknai.

Gerimis tipis turun perlahan. Julani menggandengku pulang.

F.

Foto ibu dan bapak sudah lama kubuang. Foto mereka sudah tidak ada lagi di rumahku.

Aku tidak ingin mengingat mereka lagi, meskipun di kamar, dari pantulan cermin yang terpacak di dinding, wajah mereka tercetak jelas di wajahku. Memandangi cermin itu, sepasang mataku jadi mirip dua bohlam lampu kecil tanpa garansi yang mudah sekali mati.

Aku berbalik badan, melangkah, lalu mengambil buku catatan yang tergeletak di ranjang. Sebatang pena biru melamun di dalamnya. Kuambil pena dan mulai menuliskan tiga kalimat sungsang dan membingungkan: Manusia adalah pasien yang menyamar jadi dokter. Cinta adalah kanker yang sulit diobati. Tuhan adalah dokter yang sering membuat bingung pasiennya.

Suatu sore, aku memperlihatkan catatanku itu kepada Julani. Setelah membacanya dengan mata berair, ia mengeluarkan kalimat yang patut kukagumi, “Kamu harus tidur cukup dan segera minum obat cacing.”

"Tapi bagaimana aku bisa tidur kalau setiap kali memejam, aku selalu melihat ranjang-ranjang putih dan kursi roda?" kataku protes. "Tapi baiklah ...." aku berdehem karena tenggorakanku terasa gatal, "Aku akan segera minum obat cacing."

Julani tertawa puas. Ia memelukku, lalu mencium pipiku dengan gemas.

G.

Gelisah dan cemas telah berhasil mendorongku keluar rumah pada suatu malam yang gerah. Aku berjalan sendirian tanpa tujuan dan berakhir di depan rumah sakit Cinta Kasih tempat bapakku dirawat dan akhirnya meninggal. Aku masuk tanpa berpikir. Seorang satpam menatapku tanpa menanyakan apa-apa.

Karena tidak ditanya, aku lantas berjalan menuju lorong rumah sakit dan baru berhenti saat aku berdiri di depan pintu kamar mayat. Di kaca pintunya yang sedikit buram, aku bisa melihat bayanganku sendiri. Bayangan yang mengenakan jas dokter. Aku tersenyum, lalu mengangguk kepada bayangan itu.

Aku membuka pintu kamar mayat yang mungkin lupa dikunci. Maksudku, aku tidak ingat benar apakah pintunya dikunci atau aku sendiri yang telah merusak kuncinya. Yang jelas, ruang kamar mayat itu nyaris kosong kalau saja tidak ada satu meja dan secarik kain mori yang menutupi sesuatu. Aku mendekat untuk menarik kain itu, dan aku menemukan kursi roda.

Kursi roda itu masih baru. Aku sempat mendengar si kursi roda menghela napas dan memanggil namaku.

Aku tidak kaget, dan malah tersenyum senang, menganggap hal itu lelucon yang buruk dari sejumput takdir yang digariskan untukku.

Aku keluar dari kamar mayat dan memutuskan pulang ke rumah dengan membawa kursi roda di kepala.

H.

Hari berikutnya, aku menceritakan kejadian di rumah sakit itu kepada Julani. Ia berkata heran, “Berhentilah hidup dalam mimpi, Sayangku.”

Aku menggeleng lemah. “Tapi kursi roda itu nyata. Dia bisa bernapas dan memanggil namaku dengan jelas.”

Julani menatapku lama sebelum memegang tanganku. “Kamu harus berhenti mengunjungi rumah sakit. Aku takut kamu berubah ...”

“Berubah jadi?”

“Hantu penasaran.”

"Kita semua memang penasaran."

Entah kenapa, kata penasaran, tiba-tiba berhasil mendorongku untuk mencekik leher Julani.

Julani balas mencekik leherku.

I.

Ingatanku semakin buruk. Aku mulai kehilangan batas antara tidur dan jaga. Kadang di kantor perpustakaan daerah tempatku bekerja, aku mendengar bunyi monitor detak jantung. Kadang di rumah, aku merasa tubuhku terikat selang infus.

Sementara itu di dalam mimpiku yang terakhir, aku melihat Bapak duduk di sofa ruang tamu rumahku. Ia tersenyum mengejekku, lalu berkata, “Tak lama lagi, kamu akan menjadi kursi roda.”

Aku terbangun dengan keringat dingin di dahi. Kakiku terasa kaku.  Aku melihat sekeliling dan mendapati Julani sedang duduk di sampingku.

"Syukurlah kamu bangun. Sudah tiga hari kamu dirawat di rumah sakit Cinta Kasih."

"Bukannya kamu sudah mati kucekik?"

"Tidak, Sayangku. Itu tidak pernah terjadi."

Aku kaget, dan jatuh pingsan lagi.

J.

Jam sembilan pagi, dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Kusampaikan kepada Kepala Dinas Perpustakaan bahwa aku ingin mencari makna. Ia menatapku seperti menatap pasien yang baru keluar dari ruang psikiatri.

Sejak berhenti bekerja, terutama hari Minggu, aku selalu menghabiskan waktu membaca atau menulis dengan banyak ditemani Julani. Kami sering duduk di ruang tamu rumahku. Aku makin jarang bicara. Julani yang sekarang lebih banyak bicara tentang buruknya cuaca, tentang makan bergizi gratis, dan tentang cinta abadi.

“Kalau dunia adalah rumah sakit, maka apa arti cinta menurutmu?” kata Julani sebelum tersenyum.

Aku berpikir agak lama. "Cinta menurutku ..." aku mencari kalimat yang pas untuk menjawabnya, "... Adalah kanker stadium akhir,” kataku sebelum hidungku mimisan.

Julani tersenyum getir. “Dan siapa yang kamu cintai dan mencintaimu?”

Aku tidak bisa menjawab. Dalam diam, sambil membiarkan darah mengucur dari lubang hidung, aku merasa kanker di tubuhku semakin mengganas.

K.

Ketika hujan reda, pada suatu malam, Julani datang ke rumahku dengan memakai jeans biru gelap dan kaos putih yang ditutupi jaket hitam. Kami duduk di sofa ruang tamu.

Julani membawakan sop daging sapi panas kesukaanku. Ia bangkit, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk, sendok, dan garpu.

“Nurani .... Sayangku ....” katanya, beberapa menit kemudian sambil membawa sop daging sapi di dalam mangkuk.

Aku ingin menjawab, tapi lidahku sudah tidak tersambung lagi ke otak.

“Kamu di mana?” suara Julani bergetar.

Di mana otakku? Aku menjawab dengan sedikit bergerak.

Mangkuk menjatuhkan diri dari tangan Julani. Sop daging sapi berceceran di lantai. Julani tercengang sebelum menatapku lama, sampai aku tidak tahu lagi siapa yang lebih nyata di antara kami.

“Nurani?” Julani berbisik.

Aku bergerak maju mendekati Julani.

Setelah itu, tidak ada yang pasti mengenai ceritaku ini. Cerita berkembang biak seperti cacing kremi. Ada cerita yang mengatakan bahwa Julani menelepon polisi dan melaporkan bahwa aku hilang diculik orang. Polisi datang dan hanya menemukan kursi roda di ruang tamu rumahku. Ada pula cerita lain yang mengatakan bahwa Julani jatuh sakit setelah aku menghilang. Ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Purnama Dibelah Dua. Di sana, setiap hari, Julani makan dan tidur di kursi roda.

Aku sendiri tidak tahu cerita mana yang benar. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih ada, ataukah aku hanya sebuah kursi roda yang banyak bicara?

Entahlah. Roda berderit. Aku membenci rumah sakit.

Lampung, 2026

________

 Penulis

Yulizar Lubay, fiksionis dan aktor teater di Komunitas Berkat Yakin Lampung.

Instagram: @yulizarlubay


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!