Saturday, June 20, 2026

Resensi Yuditeha | Sejarah yang Membunuh Berkali-kali

Resensi Yuditeha




Judul Buku: Kebaya Merah di Tebing Kanal

Penulis: Martin Aleida

Penerbit: Penerbit Buku Kompas (BPK)

Cetakan: 2025

Halaman: xxiv + 88 hlm, 13x19 cm

ISBN: 978-623-523-762-6

 

Martin Aleida termasuk jenis penulis yang menulis tidak untuk menyenangkan, melainkan untuk mengganggu. Sejak lama, karyanya bukan ruang hiburan, melainkan ruang sidang: tempat korban dihadirkan, pelaku tidak tampak, dan pembaca dipaksa menjadi juri tanpa palu. Ia konsisten berpihak pada yang kalah, tahanan politik, buruh, perempuan yang dilumat sejarah, orang-orang yang hidupnya hanya menjadi catatan kaki dalam buku negara.

 

Aleida (saya lebih suka menyebut nama belakangnya), menulis bukan untuk meromantisasi penderitaan, tetapi untuk membongkar bagaimana penderitaan itu dibuat, diwariskan, akhirnya dinormalkan. Ia tidak percaya pada sejarah resmi. Dalam dunia Aleida, sejarah selalu berantakan, berdarah, dan meninggalkan bau busuk yang tak mudah hilang. Dan Kebaya Merah di Tebing Kanal adalah salah satu buktinya.

 

Kumpulan cerpen ini seperti museum luka, tetapi tanpa kaca pengaman. Pembaca tidak diajak melihat dari jauh, melainkan diseret masuk, dipaksa menyentuh, dan mencium bau lembap trauma yang belum kering. Yang menarik, Aleida tidak menjual tragedi sebagai tontonan. Ia justru menulisnya dengan nada tenang, nyaris datar, seolah berkata: beginilah hidup bekerja, kejam tanpa perlu teriak.

 

Cerpen “Kebaya Merah di Tebing Kanal”, yang menjadi judul buku, bisa dibaca sebagai pintu masuk paling representatif. Di sana, kebaya merah bukan sekadar busana, tetapi simbol tubuh yang menolak lupa. Rubiah tidak mati karena sedih semata, tetapi karena ingatan yang tidak diberi tempat dalam sejarah resmi. Ayahnya dibunuh, ibunya dipenjara, hidupnya terombang-ambing sampai Eropa. Kanal menjadi semacam metafora sejarah modern: tampak tenang di permukaan, tapi menyimpan arus kematian di bawahnya.

 

Aleida seolah ingin mengatakan: migrasi tidak selalu berarti penyelamatan. Suaka politik bukan jaminan kesembuhan. Trauma tidak mengenal paspor. Ia bisa menyeberangi benua, menyusup ke rumah-rumah, dan tetap membunuh dari dalam.

 

Benang merahnya terasa di hampir semua cerita: tokoh-tokohnya hidup, tapi sekarat. Mereka bernapas, bekerja, menikah, bahkan bercinta, tetapi selalu membawa sesuatu yang belum selesai. Dalam “Lelakiku”, misalnya, kekerasan tidak datang dari musuh, melainkan dari rumah sendiri. Bapak yang memukul, suami yang tampaknya memang baik, negara yang membuang, semuanya seakan bersekongkol membentuk satu pesan, perempuan tidak pernah punya ruang aman.

 

Yang menarik, Aleida tidak membuat tokoh suami sebagai penjahat karikatural. Ia justru digambarkan tulus, halus, dan rasional. Di sinilah ironi bekerja: kebaikan bisa menjadi bentuk kekerasan baru ketika ia membela sistem yang membunuh. Kalimat suami dalam cerita itu seperti ringkasan moral buku ini, kejahatan negara selalu datang dengan dalih hukum, ketertiban, dan logika waras.

 

Dalam cerpen-cerpen lain, Aleida memperluas medan luka, dunia kerja yang dingin (Perkenalkan, Uno), masa pensiun yang hampa (Tukang Urut di Tepi Danau), hingga kamp tahanan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai barang rampasan (Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus). Semuanya berbicara dalam satu bahasa, sejarah tidak pernah netral, ia selalu punya korban yang namanya kadang sengaja disembunyikan.

 

Yang membuat buku ini tidak jatuh menjadi arsip penderitaan adalah sikap Aleida terhadap tokohnya. Ia tidak mengasihani mereka secara murahan. Ia memberi mereka martabat, kemampuan memilih, menolak, bertahan, bahkan mencintai di tengah reruntuhan. Tokoh-tokoh Aleida bukan pahlawan, tetapi juga bukan korban pasif. Mereka adalah manusia yang mencoba hidup di dunia yang secara sistematis menolak kemanusiaan mereka.

 

Di titik ini, Kebaya Merah di Tebing Kanal bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memperlakukan masa lalu. Di Indonesia, sejarah sering didandani seperti ruang tamu, bersih, rapi, dan penuh foto resmi. Aleida justru membuka toilet, tempat darah menetes, air mata mengering, dan bau busuk yang tak bisa disembunyikan.

 

Yang tajam dari buku ini adalah kesadarannya bahwa tragedi politik bukan hanya soal tahun dan peristiwa, tetapi soal dampak jangka panjang terhadap relasi manusia. Kekerasan negara tidak berhenti saat senjata diturunkan. Ia menjelma menjadi keluarga yang retak, tubuh yang trauma, cinta yang cacat, dan ingatan yang menolak lenyap.

 

Dalam cerpen “Tukang Urut di Tepi Danau”, misalnya, pilihan tokoh Aku untuk membantu penyintas kusta dan menolak jenderal bukan sekadar moral personal, tetapi pernyataan politik sunyi, di dunia yang dikuasai kekerasan struktural, kebaikan kecil adalah bentuk perlawanan paling radikal. Bukan heroisme, melainkan keteguhan sehari-hari untuk tidak ikut menjadi algojo.

 

Sementara itu, “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” mungkin adalah cerita paling telanjang dalam menampilkan tubuh sebagai medan politik. Cinta, seks, penjara, pengkhianatan, dan harapan bercampur tanpa romantisme. Ubi rebus yang diselipi surat menjadi simbol yang sangat Aleida, bahwa harapan selalu datang dalam bentuk paling sederhana, tapi sering disampaikan di tempat paling kejam.

 

Jika harus ditarik satu simpulan besar, maka buku ini bisa diringkas dalam satu kalimat: Sejarah tidak membunuh kita sekali, tetapi berkali-kali, melalui ingatan yang tidak pernah diberi hak untuk sembuh.

 

Aleida seolah menertawakan gagasan move on yang sering kita banggakan. Dalam dunia cerpen-cerpen ini, move on adalah kemewahan kelas menengah. Bagi korban sejarah, yang ada hanyalah bertahan, menyimpan, dan kadang menenggelamkan diri, secara harfiah maupun simbolik.

 

Yang membuat buku ini tetap relevan, meski berbicara tentang masa lalu, adalah keberaniannya menunjukkan bahwa pola kekuasaan tidak banyak berubah. Hari ini kita mungkin tidak lagi menyebut PKI, Kamp Gandhi, atau Bukit Duri, tetapi mekanismenya tetap sama: siapa yang menguasai narasi, dia yang menentukan siapa korban dan siapa penjahat.

 

Membaca Kebaya Merah di Tebing Kanal bukan sekadar membaca kumpulan cerpen, melainkan membaca ulang cara kita memahami sejarah. Ini bukan buku nostalgia, melainkan buku peringatan. Ia tidak menawarkan rekonsiliasi manis, apalagi penebusan. Yang ia tawarkan hanyalah satu hal yang jarang kita sukai, yaitu ingatan yang jujur.

 

Dan mungkin di situlah posisi paling berbahaya dari buku ini, ia menolak memberi kenyamanan. Ia membuat pembaca sadar bahwa banyak luka yang belum sembuh. Seperti Rubiah, Halawiyah, dan tokoh-tokoh lain dalam buku ini, kita semua hidup di tepi kanal sejarah, mengenakan kebaya masing-masing, mencoba terlihat baik-baik saja, padahal air di bawah terus mengalir membawa mayat.

 

______

 

Penulis

 

Yuditeha

Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!