Resensi Yuditeha
Judul Buku: Kebaya Merah di Tebing Kanal
Penulis: Martin Aleida
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
(BPK)
Cetakan: 2025
Halaman: xxiv + 88 hlm, 13x19 cm
ISBN: 978-623-523-762-6
Martin Aleida termasuk jenis penulis yang menulis tidak untuk menyenangkan,
melainkan untuk mengganggu. Sejak lama, karyanya bukan ruang hiburan, melainkan
ruang sidang: tempat korban dihadirkan, pelaku tidak tampak, dan pembaca
dipaksa menjadi juri tanpa palu. Ia konsisten berpihak pada yang kalah, tahanan
politik, buruh, perempuan yang dilumat sejarah, orang-orang yang hidupnya hanya
menjadi catatan kaki dalam buku negara.
Aleida (saya lebih suka menyebut nama belakangnya), menulis bukan untuk
meromantisasi penderitaan, tetapi untuk membongkar bagaimana penderitaan itu
dibuat, diwariskan, akhirnya dinormalkan. Ia tidak percaya pada sejarah resmi.
Dalam dunia Aleida, sejarah selalu berantakan, berdarah, dan meninggalkan bau busuk
yang tak mudah hilang. Dan Kebaya Merah
di Tebing Kanal adalah salah satu buktinya.
Kumpulan cerpen ini seperti museum luka, tetapi tanpa kaca pengaman.
Pembaca tidak diajak melihat dari jauh, melainkan diseret masuk, dipaksa
menyentuh, dan mencium bau lembap trauma yang belum kering. Yang menarik,
Aleida tidak menjual tragedi sebagai tontonan. Ia justru menulisnya dengan nada
tenang, nyaris datar, seolah berkata: beginilah hidup bekerja, kejam tanpa
perlu teriak.
Cerpen “Kebaya Merah di Tebing Kanal”, yang menjadi judul buku, bisa dibaca
sebagai pintu masuk paling representatif. Di sana, kebaya merah bukan sekadar
busana, tetapi simbol tubuh yang menolak lupa. Rubiah tidak mati karena sedih
semata, tetapi karena ingatan yang tidak diberi tempat dalam sejarah resmi.
Ayahnya dibunuh, ibunya dipenjara, hidupnya terombang-ambing sampai Eropa.
Kanal menjadi semacam metafora sejarah modern: tampak tenang di permukaan, tapi
menyimpan arus kematian di bawahnya.
Aleida seolah ingin mengatakan: migrasi tidak selalu berarti penyelamatan.
Suaka politik bukan jaminan kesembuhan. Trauma tidak mengenal paspor. Ia bisa
menyeberangi benua, menyusup ke rumah-rumah, dan tetap membunuh dari dalam.
Benang merahnya terasa di hampir semua cerita: tokoh-tokohnya hidup, tapi
sekarat. Mereka bernapas, bekerja, menikah, bahkan bercinta, tetapi selalu
membawa sesuatu yang belum selesai. Dalam “Lelakiku”, misalnya, kekerasan tidak
datang dari musuh, melainkan dari rumah sendiri. Bapak yang memukul, suami yang
tampaknya memang baik, negara yang membuang, semuanya seakan bersekongkol
membentuk satu pesan, perempuan tidak pernah punya ruang aman.
Yang menarik, Aleida tidak membuat tokoh suami sebagai penjahat
karikatural. Ia justru digambarkan tulus, halus, dan rasional. Di sinilah ironi
bekerja: kebaikan bisa menjadi bentuk kekerasan baru ketika ia membela sistem
yang membunuh. Kalimat suami dalam cerita itu seperti ringkasan moral buku ini,
kejahatan negara selalu datang dengan dalih hukum, ketertiban, dan logika
waras.
Dalam cerpen-cerpen lain, Aleida memperluas medan luka, dunia kerja yang
dingin (Perkenalkan, Uno), masa pensiun yang hampa (Tukang Urut di Tepi Danau),
hingga kamp tahanan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai barang rampasan (Segulung
Kertas Kecil di Ubi Rebus). Semuanya berbicara dalam satu bahasa, sejarah tidak
pernah netral, ia selalu punya korban yang namanya kadang sengaja
disembunyikan.
Yang membuat buku ini tidak jatuh menjadi arsip penderitaan adalah sikap
Aleida terhadap tokohnya. Ia tidak mengasihani mereka secara murahan. Ia
memberi mereka martabat, kemampuan memilih, menolak, bertahan, bahkan mencintai
di tengah reruntuhan. Tokoh-tokoh Aleida bukan pahlawan, tetapi juga bukan
korban pasif. Mereka adalah manusia yang mencoba hidup di dunia yang secara
sistematis menolak kemanusiaan mereka.
Di titik ini, Kebaya Merah di Tebing
Kanal bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memperlakukan masa
lalu. Di Indonesia, sejarah sering didandani seperti ruang tamu, bersih, rapi,
dan penuh foto resmi. Aleida justru membuka toilet, tempat darah menetes, air
mata mengering, dan bau busuk yang tak bisa disembunyikan.
Yang tajam dari buku ini adalah kesadarannya bahwa tragedi politik bukan
hanya soal tahun dan peristiwa, tetapi soal dampak jangka panjang terhadap
relasi manusia. Kekerasan negara tidak berhenti saat senjata diturunkan. Ia
menjelma menjadi keluarga yang retak, tubuh yang trauma, cinta yang cacat, dan
ingatan yang menolak lenyap.
Dalam cerpen “Tukang Urut di Tepi
Danau”, misalnya, pilihan tokoh Aku untuk membantu penyintas kusta dan
menolak jenderal bukan sekadar moral personal, tetapi pernyataan politik sunyi,
di dunia yang dikuasai kekerasan struktural, kebaikan kecil adalah bentuk
perlawanan paling radikal. Bukan heroisme, melainkan keteguhan sehari-hari
untuk tidak ikut menjadi algojo.
Sementara itu, “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” mungkin adalah cerita
paling telanjang dalam menampilkan tubuh sebagai medan politik. Cinta, seks,
penjara, pengkhianatan, dan harapan bercampur tanpa romantisme. Ubi rebus yang
diselipi surat menjadi simbol yang sangat Aleida, bahwa harapan selalu datang
dalam bentuk paling sederhana, tapi sering disampaikan di tempat paling kejam.
Jika harus ditarik satu simpulan besar, maka buku ini bisa diringkas dalam
satu kalimat: Sejarah tidak membunuh kita
sekali, tetapi berkali-kali, melalui ingatan yang tidak pernah diberi hak untuk
sembuh.
Aleida seolah menertawakan gagasan move
on yang sering kita banggakan. Dalam dunia cerpen-cerpen ini, move on adalah kemewahan kelas menengah.
Bagi korban sejarah, yang ada hanyalah bertahan, menyimpan, dan kadang
menenggelamkan diri, secara harfiah maupun simbolik.
Yang membuat buku ini tetap relevan, meski berbicara tentang masa lalu,
adalah keberaniannya menunjukkan bahwa pola kekuasaan tidak banyak berubah.
Hari ini kita mungkin tidak lagi menyebut PKI, Kamp Gandhi, atau Bukit Duri,
tetapi mekanismenya tetap sama: siapa yang menguasai narasi, dia yang
menentukan siapa korban dan siapa penjahat.
Membaca Kebaya Merah di Tebing Kanal
bukan sekadar membaca kumpulan cerpen, melainkan membaca ulang cara kita
memahami sejarah. Ini bukan buku nostalgia, melainkan buku peringatan. Ia tidak
menawarkan rekonsiliasi manis, apalagi penebusan. Yang ia tawarkan hanyalah
satu hal yang jarang kita sukai, yaitu ingatan yang jujur.
Dan mungkin di situlah posisi paling berbahaya dari buku ini, ia menolak
memberi kenyamanan. Ia membuat pembaca sadar bahwa banyak luka yang belum
sembuh. Seperti Rubiah, Halawiyah, dan tokoh-tokoh lain dalam buku ini, kita
semua hidup di tepi kanal sejarah, mengenakan kebaya masing-masing, mencoba
terlihat baik-baik saja, padahal air di bawah terus mengalir membawa mayat.
______
Penulis
Yuditeha
Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!