Sunday, July 19, 2026

Cerpen M Waladul Abror | Kalah

Cerpen M Waladul Abror



Hari-hari melintas dengan mata pisau yang tak terlihat bagi Arga. Pemuda yang tengah meniti ilmu di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia itu berjalan di antara mimpi dan kenyataan yang sering kali saling berseberangan. Seusai meninggalkan bangku SMA di Ponorogo, ia memilih memikul dua beban sekaligus: kuliah dan bekerja. Di rumahnya, ayah mengadu nasib sebagai kuli harian, sementara ibu menakar harapan lewat jajanan yang dijual dari beranda rumah.

Maka, selepas kuliah Arga kerap menitipkan lelah pada pekerjaan apa saja yang datang. Pernah ia mengangkat tumpukan material bangunan hingga telapak tangannya mengeras dan peluh membasahi punggungnya. Namun, ia tak pernah mengeluhkan keadaan. Baginya, setiap rupiah yang terkumpul adalah serpihan harapan yang harus dijaga agar tidak tercerai-berai.

Senja turun perlahan ketika langkahnya hendak menuju rumah Iwan, sahabat yang telah menemaninya sejak masa SMP. Iwan adalah sepotong cahaya di antara hari-hari yang kusam—selalu riang, selalu memiliki cerita yang mampu mengusir penat. Bersamanya, Arga sering menghabiskan sore di warung kopi sederhana, membiarkan waktu larut dalam percakapan tentang hidup yang kadang ramah, kadang pula terasa begitu asing.

Sebelum berangkat, pandangannya tertahan pada sebuah telepon genggam yang terbaring sunyi di dekat kursi ruang tamu. Secangkir kopi hangat masih mengepulkan aroma yang bercampur dengan lengang sore. Di antara uap yang perlahan memudar, Arga memandang benda itu cukup lama, seolah ada kabar yang sedang menunggu untuk mengetuk hidupnya.

Tanpa banyak pertimbangan, Arga meraih telepon genggam yang terbaring sunyi di dekatnya. Jemarinya menyusuri layar, membiarkan deretan status WhatsApp berlalu seperti bayang-bayang yang melintas di tepi jalan. Hingga akhirnya, pandangannya tertambat pada sebuah kabar yang menyala lebih terang daripada yang lain, seseorang berhasil membawa pulang uang dalam jumlah besar hanya dalam hitungan waktu yang singkat.

Kabar itu menjelma benih yang jatuh ke dalam tanah pikirannya. Mula-mula kecil dan nyaris tak berarti, tetapi perlahan tumbuh, menjalar ke segala arah, memenuhi ruang benaknya yang selama ini sesak oleh kebutuhan. Di tengah perjuangan yang tak pernah benar-benar usai, cerita itu terasa seperti setitik cahaya yang muncul di ujung lorong panjang.

Angan-angannya pun mulai berlayar jauh. Ia melihat sebuah laptop baru berdiri di atas meja belajarnya, melihat senyum kedua orang tuanya yang tak lagi dibebani kegelisahan, dan melihat dirinya berjalan tanpa dihantui hitungan biaya yang terus mengejar dari belakang. Bayangan-bayangan itu datang silih berganti, mengisi kepalanya seperti awan yang semakin menebal menjelang hujan.

Tak lama kemudian, langkahnya membawa menuju lemari tua di sudut kamar. Dari sana, ia mengeluarkan tabungan yang selama bertahun-tahun dijaga dengan kesabaran yang tak sedikit. Tangannya bergetar ketika membuka celengan itu. Bunyi kepingan dan lembaran uang yang terkumpul dari peluh serta lelah bertahun-tahun terdengar lirih di telinganya. Sesungguhnya, uang itu adalah jalan menuju motor yang selama ini hanya hidup dalam mimpinya. Namun, harapan yang baru saja tumbuh menjelma ombak yang lebih besar. Ia datang menghantam keraguan, mengikis kewaspadaan sedikit demi sedikit, hingga yang tersisa hanyalah keberanian yang dibalut rasa penasaran.

Dengan tangan sedikit gemetar, Arga memindahkan seluruh uang tabungannya ke dalam saldo permainan itu. Tak ada lagi yang tersisa selain harapan dan keyakinan bahwa keberuntungan akan berpihak kepadanya. Dada Arga yang dipenuhi debar tak menentu saat siap memainkan permainan. Sentuhan pertama,  angka-angka itu bergerak naik. Sentuhan kedua naik begitu dahsyat.Sejenak, dunia terasa lebih ramah kepadanya. Angka-angka yang berlipat ganda itu menjelma harapan yang menari-nari di pelupuk matanya. Ia seperti melihat masa depan yang selama ini berdiri jauh di seberang sana perlahan mendekat. Senyum yang lama tersimpan akhirnya merekah di wajahnya.

Waktu pun berlalu tanpa suara. Sore merayap pelan di balik jendela, sementara Arga masih tenggelam dalam kegembiraan yang memabukkan. Dalam riuh angan yang memenuhi kepalanya, ia nyaris lupa bahwa ada seorang sahabat yang menunggu kedatangannya di ujung senja. Iwan, yang namanya perlahan tenggelam di antara gemerlap harapan yang baru saja menyala.

Karena kegembiraan yang meluap-luap di dadanya, Arga segera melangkahkan kaki menuju rumah Iwan. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan. Sore itu, ia bahkan mengajak sahabatnya menikmati secangkir kopi di warung langganan mereka. Menurutnya, kemenangan yang baru diraih adalah rezeki yang menyambut pada waktu yang tepat, seolah langit berbaik hati setelah sekian lama membiarkannya bertengkar dengan kesulitan. Namun, Arga tidak memikirkan bahwa kemenangannya hanyalah pintu pertama menuju jalan buruk yang kelak menyeret hidupnya ke arah tidak jelas.

Sesampainya di warung, aroma kopi yang mengepul menyambut kedatangan mereka. Iwan yang heran melihat sikap sahabatnya itu lantas tersenyum dan bertanya. “Tumben, Gaa. Kamu yang traktir aku?”

Arga terkekeh pelan sebelum menjawab, “Iya, Wan. Tadi ada sedikit rezeki.”

“Alhamdulillah, Gaa,” sahut Iwan tulus. Mendengar kabar itu, hatinya ikut merasa senang. Baginya, Arga adalah sosok yang pantas memperoleh kebahagiaan. Sejak dulu, ia mengenal Arga sebagai pribadi yang baik hati, ringan tangan membantu sesama, serta tidak pernah menyerah meskipun hidup berkali-kali mengujinya dengan kesulitan.

Malam berlalu, meninggalkan jejak-jejak harapan yang masih menyala dalam benak Arga. Keesokan harinya, godaan itu datang kembali seperti seseorang yang sedang mengejar bayangan cahaya di kejauhan. Arga kembali mencoba peruntungan. Setelah Arga membawa lebih banyak rupiah daripada sebelumnya, kemenangan sebelumnya sudah bertumbuh jadi keyakinan yang perlahan mengaburkan kehati-hatiannya.

Di dalam kepalanya, mimpi-mimpi mulai tumbuh semakin tinggi. Ia membayangkan motor impian yang selama ini hanya mampu dipandangi dari balik kaca dealer. Ia membayangkan kedua orang tuanya tersenyum bangga saat ia mengajak mereka berjalan-jalan. Arga membayangkan di benak pikirannya tiap hari tanpa kecemasan, kekurangan, dan beban biaya kuliah yang terus dipikul. Tanpa disadari, bayang-bayang itu telah mengakar seperti besi yang sudah berkarat. Semakin ia menatap mimpi-mimpi itu, semakin jauh ia tersesat dan kewaspadaan yang selama ia jaga.

 Pertama, keberuntungan datang seperti mendapatkan berlian. Angka-angka di layar bergerak melampaui batas, membawa penuh harapan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dada Arga. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Untuk sesaat, ia merasa langit sedang membuka jalan bagi mimpi-mimpinya. Namun, keberuntungan ternyata hanya singgah sebentar. Perlahan, angka-angka itu berbalik arah. Sedikit demi sedikit, apa yang tadi bertambah mulai menyusut tanpa ampun. Arga menatap layar dengan napas tertahan. Di dalam dirinya, sebuah suara terus berbisik bahwa kehilangan itu hanyalah persinggahan sebelum kemenangan yang lebih besar datang menghampiri. Maka ia kembali melangkah ke jalan yang sama.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Dan setiap langkah membawanya semakin jauh dari apa yang ingin ia pertahankan. Keringat mulai merembes dari telapak tangannya. Di atas meja, secangkir kopi yang tadi menghangatkan sore perlahan kehilangan uapnya. Kehangatan itu menghilang sedikit demi sedikit, sebagaimana harapan yang mulai luruh dari dalam dirinya. Namun Arga tak menyadarinya, pandangannya telah terpenjara oleh cahaya layar yang berkedip-kedip di hadapannya.

Ia terus mengejar apa yang telah pergi. Terus mengulurkan tangan kepada bayang-bayang yang semakin menjauh. Terus berharap pada kemungkinan yang tak pernah benar-benar ada. Angka demi angka lenyap seperti dedaunan kering yang diterbangkan angin. Tak ada yang tersisa untuk digenggam. Tak ada yang kembali meski telah dipanggil berkali-kali.

Di dalam dadanya, kegelisahan tumbuh seperti malam yang perlahan menelan cahaya senja. Napasnya memberat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ada ketakutan yang mulai mengetuk, tetapi ia menolak membuka pintu untuknya. Hingga akhirnya, layar itu menampilkan satu kenyataan yang dingin dan tak terbantahkan Rp0,00.

Seketika dunia di sekelilingnya terasa membisu, waktu seolah berhenti mengalir, udara terasa menggantung. Arga hanya menatap layar itu dengan mata yang kosong. Cahaya dari telepon genggam memantul di wajahnya yang pelan-pelan kehilangan warna. Arga seperti seseorang yang terbangun dari mimpi panjang, lalu mendapati seluruh kenyataan telah berubah menjadi hampa.

Tabungan yang dikumpulkan dari tahun ke tahun sudah lenyap tak tersisa. Peluh yang pernah jatuh di bawah terik matahari.Tenaga yang pernah diperas hingga tubuhnya nyaris tumbang. Harapan-harapan kecil yang selama ini disimpannya untuk masa depan, semuanya tenggelam dalam satu malam yang tak pernah ia bayangkan. Motor impian itu kini hanya tinggal bayangan yang memudar di kejauhan. Keinginan untuk meringankan beban kedua orang tuanya luruh seperti daun tua yang jatuh sebelum sempat menyentuh musim yang dinanti. Perlahan, telepon genggam itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Bunyinya memecah kesunyian, lalu kembali ditelan oleh sepi yang lebih dalam.

Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi.Langit senja di luar jendela telah lama berubah menjadi gelap, tetapi malam yang sesungguhnya justru baru saja tumbuh di dalam dirinya. Pandangannya beralih ke arah lemari tua di sudut kamar. Tempat itu pernah menyimpan mimpi-mimpinya, menyimpan hasil kerja keras yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dengan kesabaran yang panjang. Kini, yang tersisa hanyalah ruang kosong. Dan di dalam ruang kosong itu, penyesalan duduk seorang diri, menemaninya dalam sunyi yang tak lagi memiliki jawaban.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Arga. Dalam diam, ia melihat kembali potongan-potongan hidup yang pernah dilaluinya. Terik matahari yang membakar kulit saat bekerja. Peluh yang jatuh tanpa sempat dihitung. Rasa lelah yang selama ini dipendam rapat-rapat di balik senyum dan keteguhan. Serta harapan yang disusunnya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang sedang menata batu demi batu untuk membangun sebuah jembatan menuju masa depan.Kini, semuanya terasa runtuh dalam satu hari.

"Kenapa ini?" bisiknya lirih.

Pertanyaan itu melayang begitu saja di ruang kamar yang lengang. Tak ada jawaban.Yang terdengar hanyalah suara kipas angin yang berputar pelan, mengaduk kesunyian yang menggantung di udara. Malam terasa begitu panjang. Arga melihat lantai tanpa tujuan, seakan ia mencari sesuatu yang telah hilang dan tak mungkin ditemukannya lagi.

Pengalaman pertama ini,  ia merasa asing seperti di negara orang. Ia malu kepada dirinya yang telah merelakan perjuangan dengan sia-sia, malu kepada kedua orang tuanya yang senantiasa mengajarkan rezeki yang baik lahir dari kesabaran dan kerja keras. Namun penyesalan selalu datang setelah segalanya terjadi. Ia tahu, air mata tidak akan mengembalikan apa yang telah hilang. Ratapan tidak akan memutar waktu ke belakang.

Perlahan, Arga menundukkan kepala. Barulah ia sadar bahwa kemenangan yang semula sempat membuatnya bersorak bahagia, justru umpan yang menyeret menuju jurang yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan langkah yang berat. Arga berusaha menenangkan pikirannya, meski penyesalan masih menetap di dadanya seperti tamu yang enggan pulang. Hingga pada suatu sore, ia memberanikan diri berjalan menuju rumah Iwan. Sesungguhnya, ada kegelisahan yang terus mengiringi langkahnya. Ia ingin meminta bantuan.Namun lidahnya terasa kelu hanya untuk membayangkannya.Tahun lalu, hubungan mereka sempat terusik oleh persoalan uang dalam sebuah acara tujuh belasan. Meski masalah itu telah lama selesai, kenangannya masih tertinggal di sudut hati Arga seperti noda yang sulit dihapus.

Ketika sampai di depan rumah sahabatnya itu, Arga menarik napas panjang."Alhamdulillah, Iwan ada di rumah," gumamnya dalam hati.

Di emperan rumah yang sederhana, Iwan tampak duduk santai. Asap rokok melayang tipis di udara senja, bercampur dengan aroma kopi yang mengepul dari cangkir di tangannya.Melihat kedatangan Arga, wajahnya langsung berbinar."Sini, Gaa. Duduk. Kita ngobrol dulu. Nanti aku buatkan kopi. "Keramahan itu masih sama seperti dulu. Sehangat senja yang perlahan turun di halaman rumah.

"Iya, Wan," jawab Arga pelan.Ia duduk, meski kegelisahan di dadanya belum juga reda. Keinginan untuk meminjam uang masih tertahan di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang mengikat kata-kata itu agar tidak keluar.

Tak lama kemudian, Iwan kembali dengan secangkir kopi hangat."Nih, Gaa. Kopimu."Cangkir itu diletakkan perlahan di atas meja.

"Makasih, Wan," jawab Arga.Uap kopi naik perlahan ke udara, membawa aroma yang biasanya mampu menenangkan pikirannya. Namun sore itu, kegelisahan di dalam dadanya jauh lebih pekat daripada aroma kopi yang memenuhi teras rumah.

Di tengah percakapan yang belum sempat mengalir jauh, pandangan Arga tertuju pada seorang lelaki yang berjalan cepat dari arah barat.Itu ayah Iwan. Langkahnya panjang dan tergesa. Wajahnya memerah seperti langit senja yang terbakar matahari. Kerutan di dahinya menumpuk rapat, sementara sorot matanya menyala oleh amarah yang sulit disembunyikan.Iwan segera berdiri.

"Pak, kenapa?" tanyanya.

Namun lelaki itu terus berjalan tanpa menjawab. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.Ia hanya melintas seperti badai yang sedang menahan dirinya agar tidak pecah sebelum sampai ke tujuan.

Beberapa saat kemudian, dari arah belakang rumah terdengar suara bentakan yang memecah kesunyian sore. Nada suaranya keras, penuh kemarahan, penuh kekecewaan. Arga menangkap beberapa potong kalimat yang menyebut tentang utang dan kesulitan hidup. Ia terdiam. Tangannya yang memegang cangkir perlahan melemah. Dadanya terasa semakin sesak. Suara itu seperti cermin yang memantulkan keadaan dirinya sendiri. Meski belum mengucapkan apa pun kepada Iwan, ia merasa seakan sedang melihat bayangan masa depannya berdiri di hadapan mata.

Sore perlahan berubah menjadi senja. Dan di balik aroma kopi yang mulai mendingin, Arga hanya mampu menunduk, membiarkan kegelisahan tumbuh semakin dalam di dalam dadanya.

Arga berusaha mengusir kegelisahan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya. Ia mulai melempar beberapa candaan ringan kepada Iwan, mencoba mencairkan suasana yang sempat terasa kaku. Di balik senyum yang dipaksakannya itu, ia diam-diam menyusun keberanian yang sejak tadi tercekat di tenggorokan.Percakapan mengalir perlahan seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Tawa sesekali terdengar di antara mereka, meski di dalam hati Arga, kegelisahan masih duduk dengan tenang dan enggan pergi.Ketika dirasa waktunya telah tiba, Arga menarik napas panjang.

"Wan, aku boleh pinjam uangmu dua ratus ribu rupiah?" tanyanya pelan.

Iwan menatap sahabatnya itu sejenak, lalu menjawab tanpa banyak pertimbangan."Boleh, Gaa. Tapi buat apa memangnya?"

Mendengar jawaban itu, beban yang sejak tadi menekan dadanya terasa sedikit terangkat. Namun pada saat yang sama, sebuah kebohongan perlahan lahir dari rasa takut yang belum sanggup ia kalahkan."Buat beli kipas angin, Wan. Kipas di kamar rusak kemarin."

"Oh, begitu." Iwan mengangguk pelan."Ya sudah, tidak apa-apa."

Seketika Arga mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tampak lebih ringan daripada sebelumnya."Terima kasih, Wan."

Sebetulnyadari hatiada sesuatu yang terasa menusuk, Arga menyadari perkataan yang baru saja keluar bukanlah kebenaran tetapi kebohongan, namun ia terpaksa ada rasa takut dibenaknya jika diceritakan kisah yang sebenarnya, sahabatnya itu akan memandangnya berbeda. Ia takut dinilai ceroboh, takut kehilangan kepercayaan yang selama ini dijaga dengan baik.

Senja terus merambat menuju malam. Kopi di dalam cangkir tinggal menyisakan ampas dan aroma yang mulai memudar. Arga menghabiskannya dalam beberapa tegukan terakhir, seakan ingin menelan sekaligus kegelisahan yang sejak tadi mengendap di dalam dada.

Tak lama kemudian, ia berdiri dan berpamitan. Iwan mengantarnya hingga ke depan halaman, sebagaimana kebiasaannya setiap kali ada tamu yang pulang. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, langkah Arga terasa lebih berat daripada biasanya. Langit di atas kepalanya perlahan menggelap. Angin sore berembus pelan, membawa kesunyian yang membuatnya semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri.Ia mengingat kembali semua yang telah terjadi.

Harapan yang sempat membuat terlena, kemenangan yang ternyata hanya fatamorgana,  simpanan yang lenyap menjadi cacing bersama mimpi yang indah. Dan sekarang sudah berbohong kepada sahabat yang selama ini selalu memperlakukannya dengan tulus.

Penyesalan kembali mengetuk pintu hatinya. Namun kali ini, di balik penyesalan itu tumbuh sebuah kesadaran yang perlahan menjadi terang. Arga mulai sadar tidak ada jalan pintas yang mampu menggantikan nilai perjuangan, uang yang datang terlalu mudah sering pergi dengan cara yang lebih mengecewakan. Sedangkan rezeki didapat dari kerja keras, meski lambat dan menguras tenaga tubuh, selalu membawa ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Sejak itu,  Arga berjanji tidak akan lagi mengejar bayang-bayang keberuntungan yang menyesatkan. Ia tidak akan mudah menyerahkan masa depannya kepada harapan-harapan semu yang menawarkan mimpi sesaat. Arga memilih kembali jalan yang pernah menguatkannya, yang penuh peluh, jalan yang penuh lelah. Namun, juga jalan yang mengajarkannya kesabaran, kejujuran, dan harga sebuah perjuangan. Di bawah langit yang mulai tenggelam ke dalam malam, Arga terus melangkah pulang. Dan untuk kali ini setelah sekian lama penuh masalah, ia berjalan menuju dirinya yang sebenarnya dan bertaubat.

_______

Penulis

M Waladul Abror, lahir di ponorogo, 11 desember 2003. Hobi menggambar & menulis. mahasiswa semester 4 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kuliah di STKIP PGRI Ponorogo.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!