Puisi Selendang Sulaiman
pemulih
lelah.
jika kau tanya seberapa gigih aku mencintaimu,
waktu telah kita penuhi riwayat saling meneguhkan.
telapak tanganku bisa kau bakar dengan api lilin,
biar segala pertanyaan mengabu oleh nyeriku.
engkau saksiku menempuh nasib terjal,
teman segala musim, pemulih lelah-letihku.
di rumah yang dijaga sepasang mata kucing piaraan,
aku berteduh selamanya, minum kopi buatanmu.
nyanyikanlah dalam hati lagu setahun kita bersama,
biar bunga-bunga di halaman tahu kapan menguntum,
yang kita rawat sambil bertahan dalam kewarasan.
lihat, garis nasib telah hancur di telapak tanganku.
kau tak perlu meramal masa kita dengan tarotmu,
toh kita telah jadi sekepal kemurnian di tepi dunia.
jamu
penerimaan.
aku bukan petani dengan selumbung benih murni,
maka kubajak hari-hari keras di sekujur jakarta.
menggali umbi-umbi kemungkinan cuan di café-café
dengan cangkul panca indera yang jarang diasah.
sembari memanggang akal sehat di bawah matahari,
jantungku mengolah angin musim dan debu cuaca.
malamnya, kupaksa diri minum jamu penerimaan
pada nasib yang mengkarat di telapak touchscreen.
mataku, ya mataku, saksi tunggal tanpa kata-kata,
yang membingkai kebusukan jadi kaca benggala.
tunggulah masa yang dijanjikan lidah harapan.
barangkali, siklus kebenaran tak lagi beroperasi,
baik-buruk laku manusia telah menjelma abu,
yang berhamburan menutup cermin peradaban.
penakluk
dendam.
mendekatlah wahai kelembutan tunggal duniaku,
baluti jiwaku yang dipenuhi paku dan duri amarah.
lewat bahasa jalanan tanpa mawar kupanggil kau,
penakluk dendam bermata terang bintang kejora.
lembut tabiatmu perlahan menetralkan udara,
larut ke dalam jantung: segarlah alir darahku.
kini, di bising jakarta ketenangan berdentum,
mengangkis jiwaku dari selokan yang kotor.
kepadamu, sandaran bagi seluruh angkuhku:
keras batu di dasar hati yang menindih bahasa,
mencair oleh sentuhmu tanpa harus mandi api.
tenggelamlah aku ke dalam teduh pelukmu,
sebelum seluruh riwayatku lenyap tanpa catatan.
sebab hanya padamu kupadamkan api dendam.
kelahiran
kedua.
puisimu menjelma rahim tabung puisiku,
setiap kata kau kawin-silangkan tanpa jarum.
bergerak tanpa mata menuju penyatuan bahasa,
lalu setetes darahku jadi daging yang bernapas.
kini lahirlah aku untuk yang kedua sebagai puisi,
dengan mata yang ditumbuhi bayangan masa lalu.
kubaca puisimu berulang kali dengan dada berdebar,
sampai kutemukan retakanku utuh dalam wujudmu.
tiada amsal bagi bentuk keduaku yang prematur,
kumau kita tumbuh—berjalan di punggung jakarta,
tanpa menoleh ke belakang yang babak belur.
dengan soneta ini, kuyakinkan kita sekali lagi:
bahwa tubuh kurus ini masih mengandung nyawa,
pembuka jalan baru bagi kita yang menolak mati.
kumiliki
kamu.
kumiliki kamu sejak iblis menyumpal mulut malaikat
dentumnya menyumbat telinga kita dari semua nasihat.
seringaimu di awal perjumpaan kita tanpa ekspektasi,
meruntuhkan senyum cleopatra di mata caesar.
kutundukkan wajah angkuh sepanjang jalan jakarta,
setelah menuruni gunung geulis—bukit meditasiku.
kini tiap kali wajah mendongak ke langit biru,
senyummu tinggal di sana memantul dari mataku.
kumiliki kamu, penangkis lesat anak panah nasib,
yang terus memburuku bertubi-tubi selama ini.
dan di balik kemilau lelampu jakarta kita menyatu.
hari-hari kemudian sesekali kita melebur jadi puisi,
walau tetap tak senikmat telor ceplok sarapan pagi.
yang pasti, aku dan kamu telah saling memiliki.
candu
sengsara.
telah kuteguk habis ludah sendiri,
saat bibirku basah oleh air mata
di kedua kelopak mata lelahmu,
dan lehermu lembap oleh peluhku.
malam di jogja selalu melankolis
bagi pelancong pemburu kenangan.
tetapi tidak bagiku yang pernah runtuh,
sebab canduku padamu lebih sengsara.
kau hadir tanpa belenggu jakarta,
dan aku tak mencari kuil nurani—
untuk lari dari dera nasib sialan.
di pelukmu aku tinggal, berumah,
tanpa menagih janji langit yang tertulis:
tanpa pengiyaan, matamu tersenyum.
Jakarta, 2026
Penulis
Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya
tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti
Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, republika.id, dll, serta di
sejumlah antologi puisi bersama. Antologi puisi tunggalnya: Omerta (Halaman
Indonesia, 2018) dan Peta Biru Dunia Ketiga (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya segera terbit di akhir tahun 2026.
Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel
@selendangsulaimanofficial.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!