Cerpen Rianda Akbari
Hari ini ia amat bersemangat daripada sebelumnya.
Kelas sudah masuk tahun pelajaran baru. Artinya, tiba waktunya bekerja lagi
setelah melewati dua minggu bulukan. Baginya libur panjang adalah puasa tanpa
niat.
Selagi matanya awas dan sesekali mulut tersimpul
senyum. Ia tak segan sekadar melontarkan sapa, meski orang tersebut tidak
dikenalnya. Semisal, “Pagi, Pak!” atau “Berangkat kerja ya, Neng? Hati-hati!”
Perilaku itulah yang membuatnya tidak pudar dalam ingatan siapa pun. Terutama di
lingkungan sekolah—tempatnya bekerja sekaligus tinggal.
Ia adalah Darman, si penjaga sekolah.
Saat kendaraan muncul di kejauhan, lengannya
mengibas memberi sebuah tanda perintah. Sederhana, tongkat diacungkan ke atas
seperti menunjuk langit diikuti kerelaan pengemudi mengendurkan tali gas barang
sebentar. Kalau tidak, para bocah seragam merah-putih yang bergabung dengannya
itu takkan tampak ceria lagi.
Setelah menyeberangkan anak-anak, ia akan beralih
memeriksa jamban. Bau jadah menyengat, tahi mengambang sudah timbul tenggelam
menunggunya. Selain membaca dan melarang bersin sembarangan ke wajah teman
sebangku. Sekolah pun mewanti-wanti agar anak-anak selalu membuang kotoran
tubuhnya di lubang yang tepat. Tentu, ditutup dengan menyiram bekasnya hingga
tak bersisa. Namun, begitulah anak-anak.
Darman harus mati-matian meladeni si kuning dan
bau amonia dengan menyiram segentong dua gentong berulang kali. Jelas bagian
itu kerap membuat pekerjaannya terasa lebih berat. Sebetulnya ia sudah bosan
mengadu ke para guru sampai kepala sekolah agar sepiteng itu buru-buru
diperbaiki. Bagaimanapun menurutnya, mengatasi kotoran yang meluber harus
mendahului dari segala masalah yang lain. Hebatnya, mereka akan mengabulkan
andaikan uang bos sudah cair, katanya.
Sejak tadi guru-guru sudah berdatangan. Bel velg
ban bertalu nyaring. Sembari menenteng sapu lidi, Darman pergi ke arah selasar
kelas. Di sana ia berpapasan dengan dua orang guru. Tanpa sapa, tanpa tolehan.
Mereka tak berhenti. Seolah menganggapnya orang sinting. Tak seperti biasa
guru-guru bersikap cuek bebek. Tiba-tiba kuping terasa rebing. Membuatnya
sensitif menangkap kalimat yang mengekor pelan.
“Siapa lagi kalau bukan dia.”
Saat itu Darman tak pernah menaruh firasat
apa pun. Ia hanya menganggap kedua orang tersebut sedang bergosip belaka. Membincangkan
token listrik yang bersiul sedari subuh atau memamerkan honor yang mungil.
Tentu yang tidak berhubungan dengan dirinya.
“Man, nanti sudah bersih-bersih datang ke ruang
guru ya,” seru Ayep.
“Baik, Pak.“
Darman mengangguk, seketika ia beranjak dari
pekerjaannya. Perlahan pikirannya menghimpun pertanyaan sekaligus agak ragu.
Apakah ia melakukan kesalahan atau ada sesuatu yang penting. Hari ini serba
janggal, para guru bersikap cuek dan sekarang dipanggil sepagi ini ke ruangan
mereka. Apalagi yang menyuruhnya adalah
Ayep. Pengajar paling senior di sekolah ini.
Setibanya di ambang pintu, ia menarik napas. Di
dalam, guru senior itu telah menunggu di meja kerjanya. Darman melangkah masuk.
“Kembalikan tabung gas itu!” sontak Ayep
memberang.
“Punten, tabung gas apa, Pak?”
“Tak usah berlagak bodoh, tabung gas yang kau
jual itu, bawa balik!”
Darman terperanjat, matanya menatap lekat-lekat, “Bapak sudah menuduh saya.”
Dua minggu lalu, sehari sebelum libur panjang, pintu
kayu itu sedikit menganga, seperti sengaja tidak ditutup rapat. Dari celahnya
terlihat sesuatu yang asing.
Ia melongok sebentar ke arah ruangan gudang dekat
jamban. Di dalam, dua tabung gas tergeletak. Satu di antaranya tampak baru.
Catnya belum mengelupas dan segelnya masih utuh. Darman mengerutkan dahi. Ia
ingat betul, gudang ini hanya ada tumpukan meja, kursi bersama papan tulis yang
sudah rusak.
“Siapa yang simpan tabung gas di sini?” gumamnya.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Darman
buru-buru menutup pintu, tapi tidak sampai rapat. Tangannya sempat menyentuh
badan tabung itu, mulus dan sedikit berdebu. Ia menarik kembali tangannya,
takut meninggalkan jejak tak kasatmata.
“Pak Darman!”
Suara itu memantul dari arah kantin. Seorang guru
honorer melambai, meminta tolong membuka gerbang samping. Darman menyahut
cepat, seakan ingin menjauh dari gudang. Sejak itu gerak-geriknya berubah. Ia
beberapa kali menoleh ke belakang saat berjalan.
Menjelang bel istirahat, Ayep sempat lewat di
dekat gudang. Ia berhenti. Menatap pintu yang tidak tertutup sempurna. Darman
yang melihat dari kejauhan, spontan mempercepat langkahnya.
“Biar saya saja, Pak,” katanya, sedikit terengah.
Ayep tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke
tangan Darman, lalu ke arah pintu gudang, kemudian kembali ke wajahnya. Tatapan
itu tidak lama, tapi cukup untuk menaruh pesan.
“Omong kosong! Saya tidak asal menuduh ya! Dengar, takkan ada garong yang mengaku!” bentak Ayep.
Sementara guru-guru yang lainnya terlihat tak
acuh. Seolah sependapat dengan tuduhan Ayep. Satu di antaranya mengangguk
dengan kacamata yang melorot.
Selanjutnya dia melemparkan pertanyaan ke orang-orang di hadapannya.
Lalu mendesak agar mereka bersepakat mengganti penjaga sekolah secepatnya.
Lantaran kejadian ini akan menjadi aib yang kelak merembet ke mana-mana.
Sejurus itu, pandangan mereka terbagi rata menerjang ke arah Darman. Kecurigaan
serasa menyorong ke depan wajahnya.
“Sejak kemarin tabung gas itu hilang. Orang luar
tidak mungkin masuk. Tinggal kau yang pegang kunci.”
“Tapi, Pak ,bisa saja ada orang asing menyelinap
masuk.”
“Sudah sering kejadian begini. Jauh hari, tabung
gas di pojok kantin juga raib.”
“Demi Tuhan! Soal itu tidak ada hubungannya dengan
saya,” sanggah Darman.
“Sudahlah Man, tak perlu bawa-bawa Tuhan,” suara
Ayep merendah, “Kita tidak perlu memperpanjang lagi, biar impas lebih baik kau
keluar.”
“Saya tidak terima, tunggu saja akan saya
buktikan semua!” teriak Darman sembari melengos ke luar. Sedangkan Ayep dan
para guru tampak terheran melihat reaksinya yang amat ngotot.
Sejak keributan di ruang guru, suasana tak lagi
sama. Setiap pekerjaan yang disentuh Darman serba disergap kikuk. Ditambah
picingan mata dan bisik-bisik yang terus menguntitnya. Lama-lama, kecurigaan
mereka ikut menular kepadanya.
Apakah betul aku mencuri tabung gas? Barangkali
saat itu aku tidak sadar melakukannya? Pertanyaan itu silih berputar-putar di
benaknya sepanjang waktu hingga membuatnya terjaga di waktu malam. Semakin lama
ia bertanya, semakin yakin dirinya sebagai pelaku. Pikiran macam apa ini.
Beberapa kali dirinya menyangkal. Mengelak dari pengakuan yang tiba-tiba begitu
saja timbul. Agaknya kegelisahan kini turut menjalar ke tubuhnya seperti
serigala yang mencabik-cabik dari dalam.
Sekarang Darman terpaku di depan cermin.
Memandang nanap benda yang menerakan kemalangannya. Begitu pula
pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan. Bayangan-bayangan muncul semakin
terpancang dalam muara keyakinannya hari ini. Keyakinan untuk memulai satu
pembalasan yang ia yakini sebuah kejantanan. Pembalasan yang akan membuat si
senior itu morat-marit seumur hidupnya.
Ia telah merancang segala sesuatu agar hari ini
berjalan mulus. Mula-mula, ia sumpal rapat celah-celah di sekeliling pintu
dengan jejalan kain lap. Ia tekan sekuat tenaga demi tidak meloloskan seupil
celah udara di kamar sempit ini. Setelah itu, ia raih tabung gas dan
mendekapnya.
Kemudian sebatang paku yang telah dimodifikasi sedemikian
rupa ditancap pada mulut tabung agar menahan katupnya tetap terbuka.
Tampak ia agak membusungkan dadanya. Memberi
jatah ruang bernapas lebih leluasa. Seakan memberi penghormatan terakhir bagi
kemalangan yang ia kutuki itu. Desis gas terdengar nyaring. Seolah saling
terburai dari gerbang yang telah lama menahannya. Sekarang, ia memulai sebuah
pengakhiran dengan berancang menarik napas sedalam-dalamnya. Berulang kali.
Lekat-lekat ia hirup hingga sesak.
Penglihatannya berangsur kabur. Ia yakin pilihannya
ini akan berjalan mudah mengundang maut. Sejauh ini ia tidak pernah merasakan
keyakinan yang begitu besar seperti sekarang. Keyakinan itu dikerek pula oleh
sebuah tulisan “HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN” yang kian samar dipandangnya.
“Aku bakalan mampus,” gumamnya.
Tubuhnya seketika diserang rasa lemas luar biasa.
Tulangnya seolah tak mampu lagi menopang berat badan. Sontak ia terkulai ke
arah samping. Rubuh. Bola matanya mengitari ke penjuru ruang. Seperti
berputar-putar dalam tong setan.
Desisan gas yang mendesak keluar itu perlahan
melemah. Kuping terasa berdenging bukan kepalang. Dinding-dinding bergerak
menyempit. Ia menduga nyawanya sudah meninggalkan organ pendengaran. Giliran
organ-organ lain yang mesti gesit dituntaskan. Meski sekarang lebih bersusah
payah, ia tampak semakin bersikeras menarik napas sedalam mungkin. Berulang
kali. Sebelum si kurang ajar itu sempat memanggilnya, ia harus segera mati.
Paling tidak sekarat. Bayang-bayang gelap nyaris menindih erat. Megap-megap
begitu hebat. Ia mengira tiba saatnya menuju kerongkongan dan kemudian lepas
dari tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, tubuhnya menggeliat.
Kelopak matanya terbuka. Celingak-celinguk menjelajah ke sekeliling. Apakah ia
sudah berada di dunia lain? Pikirnya. Jarinya menggisik-gisik agar kesadarannya
segera pulih. Perhatiannya tertuju pada paku yang tergeletak.
“Bajingan! Untuk mati saja aku tak mampu.”
Terdengar ketukan pintu dari luar. Ia hanya
mendongak. Semakin lama suaranya semakin menggedor “Man, Man, Darman buka!”
Darman masih terdiam. Ia tidak beranjak dari tempatnya berbaring. Teriakan dan
gedoran kembali menyusul.
Gerendel pintu berputar, lalu pintu berderit
terbuka. Seseorang masuk melewati pintu seiring cahaya yang ikut menerobos.
“Man, sudah seminggu kau tak tidur. Dari tiga
hari lalu kau meracau. Sebelum makin parah, kita periksa saja,” ucap Ayep
berusaha merangkul Darman.
Mendengar ajakan itu, Darman memalingkan wajah.
Tampak ia cengar-cengir dan memilit-milit kerah baju. Sesekali ia bergumam
tanpa sebab, “Lucu sekali mereka.”
Di luar, anak-anak bergumul di dekat mobil putih
yang sedang menunggunya. Mereka berdua berjalan ke arah mobil. Lengan Darman
melambai seakan hendak menyapa anak-anak. Setiap kali ia menyapa, mereka
membalas dengan menjaga jarak dan tersenyum kecut. Sementara para guru hanya
berdiri membisu dari kejauhan.
Pintu mobil terbuka, “Masuk Man,” kata Ayep
akhirnya.
Kini, mobil putih itu bertolak dari sekolah
membawanya menuju bangsal. Dari balik kaca, lengan itu masih melambai tak
berhenti.
______
Penulis
Rianda Akbari lahir di Sukabumi. Aktif menulis tentang satwa liar dan lingkungan hidup. Dua karya puisi “Aku Rempang” dan “Bebaskan!” dimuat dalam antologi puisi Bela Rempang (2024). Karya lainnya dapat ditemukan di beberapa situs. Tinggal di Kp. Sukaharja RT/RW 001/007, Des. Sukaharja, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi – Jawa Barat. Akun media sosial: @rianda_akbari (Instagram)
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!