Esai Mela Sri Ayuni
Generasi Z saat ini sedang merajai pasar kerja. Hampir di semua sektor kerja Gen Z berkontribusi di dalamnya. Mulai dari sektor hiburan, perdagangan, instansi pemerintahan, sampai ada yang jadi anggota DPR, contohnya Annisa Mahesa.
Anak kepala dua ini sedang eksis di dunia kerja. Laman cerita WhatsApp saya pun banjir dengan pemandangan di tempat kerja masing-masing. Yang paling nyentrik status video di depan komputer sembari ditemani minuman dan camilan kesukaan dengan backsound, “Akh, hari yang mantap”. Ada juga yang pakai tulisan “Hasil berangkat jam 7 pulang jam 9 malam”. Namun, ada satu postingan yang membuat saya tertarik untuk menuliskan topik ini, yaitu dengan caption “Udah kerja kerjaannya cari kerja”.
Sebenarnya apa pun yang kamu unggah ke media sosial ini merupakan sepotong dari ceritamu yang kamu izinkan untuk diketahui orang lain. Artinya, sudah hasil sortir sendiri. Tapi tidak bisa berbohong juga, tulisan-tulisan seperti itu menggambarkan kalau dunia kerja sudah menyita waktu Gen Z untuk terus bekerja.
Fenomena Gen Z kerja sambil cari kerja ternyata bukan hal yang baru. Ternyata ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi di HP-nya memiliki aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn, Glints, Jobstreet, dan lainnya. Tidak berhenti sampai di situ, sosial media yang Gen Z miliki tetap follow akun informasi lowongan kerja. Agar tidak tertinggal unggahan terbaru pekerjaan yang sedang dibuka. Tetap apply secara online.
Sesuai pengalaman saya pada tahun lalu, saya sudah memiliki pekerjaan. Namun di belakang itu saya terus saja lamar di beberapa tempat kerja lain. Sering ada panggilan wawancara langsung. Pada satu waktu di daerah Tangerang, saya mendapatkan panggilan kerja. Dikarenakan saya datang sendiri, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan pelamar lain, sesama Gen Z. Sambil menunggu panggilan masuk ruangan tes, kami sedikit mengobrol lebih jauh. Dua orang tersebut perempuan dari daerah berbeda. Setelah diketahui, ternyata mereka berstatus karyawan di tempat lain.
(1) Perempuan bekerja di pabrik makanan.
(2) Sedang bekerja di minimarket.
Pada saat itu, saya tidak memberi tahu latar belakang saya. Saya cukup menyimak sedikit dari mereka, sesekali saya melemparkan pertanyaan di sela obrolan, “Kamu udah kerja. Kenapa cari kerja?” Dia menjawab,
(1) “Pekerjaanku yang sekarang capek. Berangkat pagi buta pulang malam.”
“Oh, iya ya. Gak bisa lihat matahari terbit atau tenggelam.”
“Kalo kamu?”
(2) “Gue mau dipindahin ke cabang baru di Bali. Gue gak mau jauh sama ibu.”
Tidak sedikit manusia seperti perempuan-perempuan di atas. Terkadang kebutuhan menjadi alasan terbesar untuk bertahan. Walau sambil berbohong izin tidak masuk kerja karena sakit atau ada keperluan keluarga. Padahal mau interviu kerja di belakang. Karena Gen Z cukup percaya diri dengan kemampuannya. Dan berpikir kalau Gen Z bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini. Keluar dari kebijakan perusahaan yang tidak masuk akal, atasan yang tidak manusiawi yang bikin gak betah berlama-lama. Lalu mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Ini hanya sampel, saya yakin masih banyak karyawan-karyawan lainnya di luar sana yang merasakan seperti kejadian tersebut. Gen Z mah simpel, kalau tidak bisa mengubah dari dalam, maka kita yang keluar “Jalan-jalan”. Hidup Gen Z!
Budaya kerja menentukan sejauh mana karyawan bertahan dalam pekerjaan. Maka dari itu, banyak dari Gen Z mencari side job. Mereka bekerja paruh waktu. Dari pagi sampai sore di pekerjaan utama, sore sampai malam menjadi pekerja part time. Ini antisipasi untuk pekerjaan utama. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemutusan hubungan kerja, PHK secara sepihak. Dari situ, Gen Z butuh cadangan pekerjaan untuk tetap stabil dalam mengurus keuangan.
Kalau berbicara tentang mencari kerja walau sudah memiliki pekerjaan, saya jadi teringat kalam dari Gus Baha, seorang ulama dari kalangan Islam tradisional. Beliau berkata, “Sebanyak apa pun gaji yang kalian miliki, tak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena yang akan mencukupi kebutuhanmu itu hanya rahmat Allah.” Tentu, saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Sebanting tulang apa pun kita mencari uang, tetap yang akan mencukupi kebutuhan kita itu rahmat Allah. Misalnya saya, seorang fasilitator anak. Kata teman saya gaji saya tidak cukup untuk mencukupi hidup sebulan. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia pun sering meminjam uang kepada saya. Dalam hati saya bergumam, “Katanya gaji gue kecil, gak cukup buat hidup sebulan. Tapi lu tetap minjem duit ke gue.” Justru di sini ada peran Allah di dalamnya. Yang membuat tidak mungkin di mata manusia, sehingga mungkin di mata Allah.
Dari kejadian di atas, hal yang bisa kita pelajari yaitu: Gen Z selain mengejar uang, ia juga fokus kepada kenyamanan lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Sesuai dengan slogan kerja Gen Z yang berbunyi “Work life balance”. Di samping membutuhkan uang buat ngopi, Gen Z juga butuh menjaga kesehatan mental agar tetap waras. Datang di tempat kerja sebelum waktunya dan pulang tepat waktu. Tenggo: jarum panjang ke angka dua belas pas, teng langsung go, pulang.
Buat orang-orang yang gak pulang tenggo jangan tanya “Kenapa pulang awal?” Ya jelas. Gen Z capek. Mau pulang. Istirahat. Lagian kerjaan Gen Z sudah selesai. Gak kayak Anda, jam kerja malah dipake makan. Jam kerja malah dipake ngobrol. Giliran jam pulang dipake kerja. Biar apa? Biar keliatan kerja, hah? Dasar Anda kolot!
________
Penulis
Mela Sri Ayuni, penulis lepas.
redaksingewiyak@gmail.com

Tulisannya menarik karena memakai sudut pandang gen z dalam melihat kasus sulit mencari lapangan di zaman sekarang. Saya merasa terinspirasi, tapi saya kesulitan dalam membuat esai karena belum begitu memahami bagaimana cara membuatnya, huhuhu 🥲
ReplyDelete