Monday, July 6, 2026

Karya Siswa | Cerpen Nayla Alhusna | Antara Cinta dan Menunggu

Cerpen Nayla Alhusna



Nayla Alhusna selalu percaya bahwa hidupnya sudah cukup sibuk tanpa perlu memikirkan urusan cinta. Sebagai ketua OSIS, juara olimpiade sains, langganan juara penelitian, pembawa acara dengan suara yang mampu membuat orang-orang terpesona dan murid yang hampir tidak pernah mendapat nilai jelek.


Waktu Nayla biasanya habis untuk rapat, belajar, dan kegiatan sekolah. Bahkan Keysha, sahabatnya sejak kelas sepuluh, sering mengatakan kalau Nayla kemungkinan besar akan menikah dengan buku pelajaran.


"Kalau suatu hari lo pacaran, gue traktir satu kantin." Keysha mengucapkan kalimat tersebut sembari memainkan alisnya. Matanya terlihat menantang Nayla. "Itu ga bakal kejadian." Nayla menghembuskan nafas dengan pelan. Nayla menutup matanya karena merasa ngantuk. 


Keysha memutarkan bola matanya, "Kenapa?" Pertanyaan singkat yang Nayla rasa tak harus ia jawab. "Hey, ketos, gua bertanya loh, jawab dong!" Keysha mengguncangkan bahu Nayla. Nayla membuka matanya, "Gue males." 


"Atau ga ada yang berani?" Keysha tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan kalimat yang terdengar sangat jahil. Nafas Nayla memburu. Sekarang, ia terlihat ingin melahap Keysha dengan ganas, "Pergi sana." Keysha pergi dengan tawa yang sangat menggema. Nayla hanya terdiam melihat punggung Keysha. Saat itu Nayla benar-benar yakin bahwa Keysha salah.


Sampai suatu siang, ketika ia berdiri di depan wastafel dekat aula sekolah sambil mencuci stroberi yang dibawanya dari rumah. Jam istirahat pertama baru saja dimulai. Tempat itu cukup sepi. Nayla mematikan keran lalu berbalik badan.Dan hampir menabrak seseorang. 


Jarak mereka begitu dekat hingga Nayla refleks mundur satu langkah. "Oh, maaf." Suara itu membuat Nayla mendongak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, otak Nayla seperti mengalami error.


Nama yang terletak pada name tag baju seragamnya adalah Panorama Jingga. Satu kata dalam pikiran Nayla, unik. 


Ia langsung ingat tentang rumor atas nama Panorama Jingga. Yang ia ketahui bahwa Panorama Jingga adalah anak basket, anggota paskibra, vokalis band sekolah. Dan pemilik wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Nala baru pertama kali melihat wajah Panorama secara langsung. Panorama terlihat sedikit bersalah. "Maaf, gua kira wastafelnya kosong." Nayla terdiam sebentar. 


"Oh... engga kok." Tangan Nayla terlihat memegang stroberi dengan erat. Kentara sekali, bahwa ia terlihat sangat gugup. Bagus, sangat bagus. Ketua OSIS kebanggaan sekolah. Pembawa acara handal yang jago improvisasi. Pengisi siaran podcast peserta didik berprestasi, baru saja menjawab seperti NPC. Panorama tersenyum kecil. Ia menunduk sedikit, "Gapapa kan?"


"Iya." Nayla mengalihkan pandangan ke arah lain. "Oke. Maaf ya." Lalu ia pergi begitu saja. Sementara Nayla masih berdiri mematung. Ia terdiam cukup lama. 


"NAYLAAA!" Suara Keysha membuat Nayla tersadar. "Kenapa lo?" Nayla menunjuk ke arah Panorama yang berjalan menjauh. "Itu." Kening Keysha mengernyit keheranan, "Panorama?"


"Iya." Nayla mengangguk pelan. "Kenapa dengan dia? " Keysha terlihat bingung. Sangat bingung. Nayla diam beberapa detik, "Ganteng." Satu kata. Singkat, tapi mampu membuat Keysha terdiam. Mencerna ucapan Nayla. Si Ketos cantik, berprestasi, tidak ada riwayat dekat dengan lelaki manapun. Hari ini sedang memuji seorang lelaki. 


"HAH??" Keysha langsung tertawa sampai hampir jatuh. Hari itu seharusnya menjadi akhir dari cerita. Sayangnya, justru menjadi awal.


Seminggu kemudian sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni tahunan. Sebagai ketua OSIS, Nayla jadi orang yang sangat sibuk dan bertugas mengawasi daftar ulang seluruh peserta. Satu per satu siswa datang ke mejanya. Sampai seseorang berhenti tepat di depan kursinya.


"Permisi." Suara itu... Jantung Nayla langsung salah tingkah. Ia kenal. Itu suara Panorama. Datang dengan map berisi formulir peserta. "Oh..." Nayla hanya mengucapkan sepatah kata dengan wajah tersipu malu. 


Panorama terlihat menahan senyum. "Oh doang?" Nayla langsung ingin menghilang. Menghela nafas perlahan. "Maksudnya... silakan."


Panorama menyerahkan formulir. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Nayla refleks menarik tangannya. Panorama mengangkat alis. "Gue nyetrum?"


"Hah?" Nayla memutar otak. Maksud si ganteng ini, apa ya gitu kan. "Refleks banget." Panorama menyilangkan tangan di dada. "Engga kok." Mata sinis nan indah itu, langsung menjawab dengan nada ketus. 


"Syukur." Panorama terlihat acuh tak acuh, namun terdapat senyum tipis di wajahnya. Lalu lagi-lagi senyum itu muncul. Dan ya, lagi-lagi Nayla lupa cara bernapas.


Malam pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah penuh sesak. Sebagian besar murid perempuan tampaknya datang bukan karena acara sekolah, melainkan karena Panorama Jingga.


Saat band Panorama naik ke panggung, teriakan langsung memenuhi ruangan. "PANORAMAAAA!" Teriakkan seorang gadis berambut pendek mampu membuat telinga sakit. 


"I LOVE YOU!" Nah, lagi-lagi ada perempuan berambut panjang, yang teriak disamping Nayla. Tak ayal, ia menutup telinganya. 


"NIKAH SAMA AKU YA!" Nayla langsung menoleh kearah suara dan mengucap sebuah kalimat dalam hatinya, "Aih, nih cewe mimpi banget." Keysha langsung menoleh ke arah Nayla. "Saingan lo banyak."


"Diam." Nayla menyilangkan kedua tangannya di dada, terlihat sinis kepada sang sahabat. Keysha terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. 


Band mereka mulai bermain. Lampu panggung menyorot Panorama yang berdiri di tengah sambil memegang gitar. Suara penonton perlahan mereda. Lagu pertama selesai. Lagu kedua dimulai.


Lagu yang belum pernah didengar Nayla sebelumnya. "Kalau mata bisa bicara, mungkin hati sudah ketahuan..." Suara Panorama memenuhi aula. "Dari ramai dunia, aku cuma mencari satu tujuan..." Awalnya Nayla hanya menikmati lagu. Sampai ia sadar. Panorama sedang melihat ke arahnya. Bukan sekali, bukan juga hanya dua kali. Melainkan hampir sepanjang bagian lagu itu. Jantung Nayla langsung kacau. Ia buru-buru membuang muka.


"Keysha." Nayla memanggil sahabatnya dengan histeris. "Hm?" Keysha tetap fokus menonton penampilan keren dari band kebanggaan sekolah itu. "Gue mau pulang." Nayla mencolek lengan baju Keysha. 


Keysha memutarkan kedua bola matanya, "Heh, inget ya, lo itu ketua OSIS nya, ketua penyelenggara, lagian belum selesai Nay." Keysha terlihat kesal. "Gue malu." Nala menutup wajahnya dengan gusar. "Kenapa?" Keysha menatap Nayla dengan aneh. 


"Dia liatin gue." Nayla menunjuk kearah panggung. Keysha juga langsung menoleh ke panggung. Lalu menoleh lagi ke Nayla. Lalu menoleh lagi ke panggung. "Nay."


"Apa." Nayla menaikkan wajahnya yang semula tertunduk. "Kayaknya bener deh." Keysha mengucapkan kalimat dengan ambigu. "HAH? MAKSUD LO?" Nayla kebingungan, tak mengerti maksud Keysha. Keysha terlihat tak tertarik untuk menjelaskan. 


Sejak malam itu, sesuatu mulai berubah. Bukan hanya pada Nayla. Tapi juga pada Panorama. Karena tanpa sadar, mereka mulai saling mencari.


Awalnya lewat tatapan. Lalu lewat senyuman. Lalu lewat hal-hal kecil yang tidak pernah mereka akui. Sampai akhirnya rasa penasaran mengalahkan gengsi.


Suatu siang Nayla menghampiri Andika, sahabat Panorama. "Dik." Nayla duduk disamping kursi yang sedang diduduki oleh Andika. Tak ada pemiliknya. Tak masalah kan, kalau ia langsung duduk begitu saja. "Hm?" Andika menjawab sambil membaca buku. "Panorama punya pacar ga?"


Berjingkat kaget. Buku yang sedang dibaca, langsung ditutup. Andika tersenyum seperti menemukan gosip nasional. "Nanya buat siapa?" Alisnya di naik turunkan. Sangat menyebalkan di mata Nayla. "Penelitian."


Andika tak mampu menahan tawanya yang meledak, "Lo kira gue orang bodoh?" Andika terkekeh pelan. 


"Nanya doang." Nayla mengalihkan pandangan. Mukanya merah. Seperti tomat. "Gapunya." Andika menaruh bukunya di meja. Tangannya dilipat di atas meja. Jantung Nayla langsung sedikit lega. Namun Andika melanjutkan.


"Tapi katanya masih gagal move on sama mantannya." Bagaikan serangan petir disiang bolong. Perasaan Nayla langsung jatuh.


Di rumah. Setelah kejadian itu. Nayla terdiam. Ia menatap langit-langit kamar. Disela-sela telepon video dengan sang sahabat. Nayla memecah keheningan. "Key."


"Apa?" Keysha membalas panggilan Nayla dengan nada malas. "Gue mau nyerah." Nayla menghembuskan napas. "Kenapa?" Terlihat di sana, Keysha sangat bingung. Alisnya bertaut. 


"Dia masih gagal move on sama mantannya." Keysha menghela napas panjang. "Nay, Panorama yang bilang?"


"Engga." Nayla menggeleng dibalik ponselnya. "Terus?" Keysha menaikan sebelah alisnya. 


"Katanya." Nayla meringis pelan. "KATA SIAPA?" Nada bicara Keysha terlihat geram. "Andika, sahabatnya Panorama." Nayla langsung diam. "Ya Allah." Keysha pun ikut terdiam. 


Ucapan Andika terus menghantui pikirannya. Sejak saat itu, Nayla mulai menjaga jarak. Mulai menghindar. Mulai pura-pura tidak peduli. Sampai suatu malam ia iseng melihat Notes Instagram. Satu persatu. Mulai dari teman kelas, teman organisasi, teman lomba, dan dia. 


Lagu "Dari Mata".


Jantung Nayla langsung berdetak lebih cepat. Tiba-tiba salah tingkah, mendengar liriknya. "Dari mata, buatku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hati." Sekelebat ide cemerlang muncul dalam pikirannya. 


Ting! 


Ia memasang Notes instagram, dengan lagu "Mata ke Hati". Tersenyum bak orang kesurupan. Tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini. Sebenernya, ia sengaja memilih lagu itu. Karena lagu itu seolah-olah membalas Notes instagram Panorama. Ya, meskipun ia yakin, bahwa tidak mungkin Panorama akan sadar, bahwa Notes instagram itu Nayla khususkan untuk dirinya. 


Setelah menggunakan perawatan kecantikan. Nayla bersiap untuk tidur. Bahkan tubuhnya sudah menempel dengan kasur. Saat menaruh handphone di samping tubuhnya. 


Ting! 


Muncul notifikasi. Awalnya tak ingin ia gubris. Namun, kenapa tiba-tiba ada hasrat untuk membuka notifikasi tersebut. Tubuhnya terjungkal. Ia bangun dari posisi tidurnya. Duduk tegap. Menatap layar dan tak bergeming. Bola matanya membesar. Pikirannya penuh tanya. 


"HAH? DEMI APA, HAH?" Nayla mengusap kepalanya, mencubit hidung mancungnya. "Sumpah, ini yang DM gua, Panorama?" Nayla menggulirkan layar ponselnya. Berkali-kali ia memencet profil akun instagram Panorama. "Ah, tapi bener kok, ini akunnya Panorama. Masa dia salah kirim pesan sih?" Nayla membaca pesan yang dikirim oleh Panorama. 


"Kok, sorotannya sekilas mirip ya. Apa kebetulan doang?" Itulah isi pesan yang mampu membuat Nayla menjerit-jerit tak karuan. Melompat-lompat di lantai. Memeluk boneka yang ada di sekitarnya. Lalu, berkaca dan menampar pipinya sendiri. 


"Oh, no! Ini beneran kah cuy?" Nayla tersenyum penuh dengan mata berbinar. Kembali duduk di kasur. Dan membalas pesan dari Panorama. 


"Eh, iya, kayak saling bales gitu ya? Hehe." Setidaknya, begitulah pesan yang dikirim oleh Nayla. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Masih tetap tak ada balasan. "Ah, kayaknya Panorama udah tidur deh. Aduh, aku malu banget." Tak hentinya ia tersenyum. Setelah berpikir bahwa pesannya mungkin akan dibalas besok hari. Nayla bersiap-siap untuk tidur lagi. Matanya sudah ingin tertutup. 


Ting! 


Ia tidak ragu untuk kembali membuka matanya. Dan ya, ternyata Panorama membalas pesannya. Akhirnya, malam itu, pukul sepuluh lewat, mereka melanjutkan obrolan sampai pukul satu dini hari. 


Keesokan harinya. Ia menceritakan  semua kejadian tersebut kepada Keysha. Keysha terlihat tidak percaya, namun setelah melihat chatnya sekilas, ia jadi senyum-senyum sendiri. 


Sejak saat itu perang Notes berlangsung hampir setiap malam. Mereka mulai mengobrol setiap hari. Tentang sekolah, basket, lomba, musik, dan hal-hal receh yang tidak penting. Namun selalu mereka tunggu, sebuah rahasia hati yang tak pernah terungkapkan. 


Sampai suatu malam. Panorama mengirim pesan. "Gue dulu takut sama lo." Nayla tertawa dibalik ponselnya. Lalu mengetikkan sesuatu, "Kenapa?"


"Lo terlalu sempurna." Jawaban Panorama membuat Nayla menautkan alisnya. "Apaan sih." Dengan cepat ia mengirimkan pesan itu kepada Panorama. "Serius." Jawaban singkat yang mampu membuat Nayla keheranan. 


"Terus sekarang?" Lama sekali Panorama mengetik balasan dari Nayla. Sangat lama. Sampai akhirnya muncul balasan. "Sekarang gue suka." Nayla menatap layar selama hampir satu menit. Lalu tersenyum sendiri seperti orang gila. Kemudian, Nayla membalas pesan Panorama dengan sebuah ungkapan juga. 


Dua bulan kemudian. Tepat setelah Nayla purna ketua OSIS, mereka resmi bersama. Dan seluruh sekolah heboh. Story Instagram penuh ucapan duka.


"Turut berduka cita untuk seluruh penggemar Panorama." Perempuan dengan baju motif bunga di profilnya, membuat cerita instagram seperti itu. 


"Aku kalah sama Ketua OSIS." Seorang perempuan dengan baju putih abu-abu, tampak sedang menatap jendela, memposting cerita seperti itu juga. 


"Gapapa, kalahnya sama Nayla." Sebuah komentar singkat dalam postingan perempuan dengan baju putih abu-abu tersebut, membuat Nayla tersenyum. Bukan sombong. Tapi heran saja. 


Bahkan Andika membuat postingan, dengan caption, "Panorama resmi tidak tersedia." Nayla yang melihatnya, tersenyum singkat. Hatinya terasa bahagia. Tak lama, ia membalas pesan dari Panorama. 


Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu malam, Mama Nayla melihat notifikasi. Nama kontak yang tertera adalah kata "Panorama Sayangku" dengan emoji cinta berwarna putih. 


Malam itu juga Nayla dipanggil ke ruang tamu. "Nayla." Mamanya terlihat mengintimidasi Nayla. Nada bicaranya dingin. "Iya Ma." Nayla hanya menunduk saja. 


"Siapa Panorama?" Nayla langsung diam seribu bahasa. Mama menatapnya serius. "Pacar kamu?"


Air mata Nayla mulai menggenang. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Mama ga izinin." Mamanya menyilangkan tangan di depan dada. 


"Tapi Ma..." Nayla menatap mamanya penuh harap. "Kamu masih sekolah." Mamanya melihat Nayla dengan tatapan sinis. Pisau pun sepertinya kalah tajam dengan tatapan Mamanya. 


"Nayla tetap belajar." Nayla berusaha membela dirinya. "Mama tau."


"Terus kenapa?" Nayla menghela napas pelan. Menunggu jawaban Mamanya dengan perasaan cemas. Kedua tangannya ia kepal di depan badan. "Mama ga mau fokus kamu pecah." Nayla mulai menangis.


Namun Mama tetap tegas. "Kalau kamu masih lanjut hubungan ini..." Suara Mama terdengar berat. "Mama cabut semua fasilitas dan kegiatan kamu." Nayla membeku.


"Ponsel, les, kegiatan OSIS, lomba-lomba, dan kalau perlu Mama pindahkan sekolah kamu." Nayla terdiam membeku. Tak lagi mampu untuk membantah. Malam itu Nayla menangis sampai tertidur.


Keesokan harinya ia menemui Panorama di tribun basket. Panorama langsung tahu ada sesuatu yang salah. "Sayang."


Nayla tidak sanggup menjawab. "Sayang, kamu kenapa?" Nayla menghela napas. "Mama tau." Panorama langsung diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, tidak ada candaan. Tidak ada senyum. Hanya kesunyian. "Mama ga bolehin kita pacaran." Suara Nayla bergetar. Matanya menahan tangis. 


"Aku ga mau bikin Mama kecewa." Panorama menunduk. Lama. Sangat lama. Lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat Nayla semakin ingin menangis. "Gapapa." Panorama mengangguk sedikit untuk meyakinkan Nayla. 


"Sayang..." Nayla menatap inti bola mata Panorama. "Gapapa." Mata Panorama mulai memerah. "Kalau sekarang bukan waktunya" Ia menarik napas panjang. "Ya kita ga bisa maksa." Dan hari itu, mereka berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Bukan karena ada orang lain. Melainkan karena keadaan. Beberapa bulan berikutnya mereka kembali menjadi asing.


Masih satu sekolah. Masih satu koridor. Masih satu kantin. Namun tidak lagi saling menyapa. Kadang mata mereka bertemu. Lalu sama-sama membuang muka.


Sampai hari kelulusan tiba. Di tengah keramaian dan suara tawa teman-teman mereka, Panorama menghampiri Nayla untuk terakhir kalinya. "Semoga lo keterima di kampus impian lo." Nayla tersenyum kecil.


"Semoga band lo sukses." Panorama mengangguk. Lalu berbalik pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti. Dan berkata pelan tanpa menoleh. "Kalau nanti kita ketemu lagi..." Nayla terdiam. "Semoga waktunya lebih baik."


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla kembali menangis. Karena ada orang yang tepat. Hanya saja datang di waktu yang belum tepat. Dan mungkin, di suatu tempat, pada suatu waktu yang belum mereka ketahui. Mereka akan kembali, utuh, tanpa berpisah. 


Nayla menatap punggung Panorama yang hilang tertutup oleh tembok sekolah. Nayla tersenyum, "Tunggu aku hadir kembali dalam hidupmu." Nayla berlari menuju gerbang sekolah.


_______


Penulis


Nayla Alhusna adalah siswi berusia 15 tahun yang lahir di Pandeglang pada 22 Juni 2011. Ia memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan menari. Di sela aktivitasnya, Nayla menikmati lagu You're Still the One dari Shania Twain, menyukai warna merah muda, hitam, dan krem, serta menggemari dimsum, pancake, dan susu.

Di bidang akademik dan organisasi, Nayla telah menorehkan berbagai prestasi. Ia berhasil meraih Juara 1 OPSI IPS pada tahun 2024 dan 2025, Juara 2 Vlogger English Festival, serta menjadi Juara 1 seangkatan. Jiwa kepemimpinannya terlihat dari amanah sebagai Sekretaris OSIS SMPN 10 Kota Serang pada masa bakti 2024 dan Ketua OSIS pada masa bakti 2025. Kiprahnya juga mendapat apresiasi sebagai Siswi Inspiratif dalam Podcast Rumah Inspiratif. Dengan semangat untuk terus berkembang, Nayla memegang prinsip hidup, “Dream big, stay humble, and keep shining.”


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Terimakasih telah berkomentar!