Sunday, July 5, 2026

Puisi-Puisi Ahmad Supena

Puisi Ahmad Supena




Pasar Lama Serang


Lentera kota mulai dinyalakan di simpang jalan

Namun di pasar lama,waktu seolah enggan berjalan

Bau arang membumbung, beradu dengan aroma malam

Para pedagang setia melarung harapan yang dalam

Dulu makodim berdiri kokoh di utara alun-alun, menjadi saksi

Kini berganti megah dinding mal yang menjanjikan ilusi

Serang bergerak maju, atau mungkin tergesa-gesa?

Meninggalkan jejak lama dalam ingatan yang mulai paksa

Anak-anak urban berkumpul di kafe-kafe bercahaya

Sementara di sudut lain angkot timur-barat masih mengejar biaya

Kota ini bertumbuh dalam dua wajah yang berbeda

Antara merawat warisan atau hanyut digilas roda dunia


Banten 2024-2025



Kasemen


Di bawah langit kasemen yang perlahan berawan

Aliran drainase tersumbat, membawa cemas bagi sang Kawan

Beton-beton jalan mulai dituang membelah desa

Berlomba dengan genangan yang kerap menyisakan siksa


Petani di pelamunan menatap sawah yang kian menjauh

Terhimpit bayang pabrik dan truk-truk yang menderu riuh

Bahasa Jawa Banten sayup-sayup terdengar di pos ronda

Menjadi benteng terakhir identitas yang mulai menua


“Aja klalen batur,” bisik angin di reruntuhan Banten Lama

Mengingatkan tanah ini pernah memimpin dunia utama

Kini, kasemen berjuang di antara debu dan Pembangunan

Mencari keseimbangan di tengah arus modernisasi zaman


Banten 2024-2025



Stasiun Serang


Jalur rel itu membenteng sejak tahun seribu Sembilan ratus

Membelah jantung kota, membawa cerita yang tak pernah putus

Stasiun serang berdiri kokoh dengan dinding tuanya

Menyaksikan ribuan pasang kaki datang dan pergi dari sisinya

Peluit lokomotif melengking memecah keheningan pagi

Membawa kaum komuter yang mengadu Nasib ke ibu kota lagi

Di dalam gerbong, wajah-wajah Lelah saling berhadapan

Memendam mimpi tentang hidup yang lebih berkecukupan


Kereta ini Adalah urat nadi yang menghubungkan masa lalu

Dari zaman colonial hingga serang menjadi provinsi yang baru

Ia melaju konstan, melintasi perlintasan sebidang yang riuh

Mengingatkan kita bahwa perubahan takkan bisa diteduh


Banten 2024-2025


_________


Penulis


Ahmad Supena, dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) FKIP Untirta.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!