Sunday, July 5, 2026

Puisi-Puisi Lukmannul Hakim

Puisi Lukmannul Hakim



Boneka Babi; Bersembunyilah!


Mereka bilang,

kepemimpinan harus diterima.

Kalau tidak,

berbicaralah.

Tetapi mereka memilih

mengirim boneka babi

di tengah malam.

Mereka memilih

membiarkan benda

menggantikan mulutnya.


Aku tidak sedang marah

kepada boneka itu.

Ia hanya kain,

kapas,

dan jahitan.

Yang kutanyakan adalah

siapa tangan

yang selesai meletakkannya

lalu berlari

lebih cepat

daripada nuraninya sendiri.


Katanya,

keputusan ini salah.

Baik.


Kalau salah,

datanglah.

Bawa alasanmu.

Benturkan pikiranmu.

Jangan sembunyikan keberanianmu

di balik pagar,

di balik akun,

di balik bisik-bisik

yang bahkan takut

mendengar suaranya sendiri.

Sebab intimidasi

selalu lahir

dari keberanian

yang kehilangan wajah.

Aku lebih menghormati

lawan

yang berdiri di depan pintu

dan berkata,

"Aku tidak setuju."

Daripada seribu orang

yang melempar simbol,

lalu menghilang

seolah sejarah

tidak punya ingatan.


Boneka babi itu

akan lapuk.

Kapasnya akan mengempis.

Warnanya akan pudar.

Tetapi pengecut

selalu punya cara

mengganti boneka

dengan simbol lain,

mengganti tangan

dengan tangan lain,

mengganti akun

dengan akun lain.

Yang tak pernah mereka ganti

adalah ketakutan.

Dan ketakutan

tidak pernah melahirkan

pemimpin.

Tidak pernah melahirkan

perubahan.

Ia hanya melahirkan

keramaian

yang sibuk bersembunyi.

 

Hari ini

mereka mengirim boneka.

Besok

mereka mungkin mengirim fitnah.

Lusa

mereka mengirim kebencian.


Tetapi selama mereka

tak berani mengirim

nama mereka sendiri,

maka yang sesungguhnya

sedang mereka kubur

bukan kehormatan orang lain

melainkan

harga diri mereka sendiri.


Sudah. 

Tak semestinya ada boneka itu!


Sleman, 20 Mei 2026 



Anak yang Membawa Rumah


Ibu

Kupanggil namamu

Ibu 

Agar tembok-tembok 

Berhenti menjadi suara.


Rumah

Rumah

Rumah-

Ternyata

Bukan dinding.

Ternyata 

Amarah.


Aku lahir 

Di panci yang mendidih,

Di kursi yang patah,

Di mata

Yang lupa memaafkan pagi.


Ayah.

Ayah?

Tak ada.

Yang ada

Hanya bayang

Yang berjalan

Lebih panjang

Daripada tubuhnya sendiri.


Ibu memungut hari.

Hari memungut luka.

Luka memungut ibu.

Lalu

Aku.

Aku di pungut

Oleh harapan.

“Kau saja.”

Kata itu 

Terlalu kecil

Untuk Pundak

Yang belum selesai tumbuh.

Maka aku pergi.


Kota

Membuka mulutnya.

Aku masuk.

Menjadi debu

Di antara ribuan debu.

Keringat.

Keringat.

Keringat.

Upah. 

Upah.

Upah. 

Uang.

Uang bukan uang.

Uang

Adalah beras.

Uang

Adalah obat.

Uang adalah atap

Yang tak lagi bocor.

Tetapi-

Mengapa

Setiap lembar yang kukirim

Selalu Kembali

Menjadi sepi?


Ibu.

Siapa 

Yang mencuri bahagiamu?

Aku mencari

Di dompet.

Tidak ada.

Aku mencari

Di rekening.

Tidak ada.

Aku mencari

Di koper

Yang kubawa pulang.

Tidak ada.

Barangkali

Bahagia

Tak pernah tinggal

Di benda.

Barangkali 

Ia tersesat

Di masa lalu.


Ibu memanggilku.

Bukan namaku.

Harapannya.

Aku menjawab.

Bukan dengan kata.

Dengan kerja.

Kerja.

Kerja.

Kerja.

Hingga telapak tangan

Lebih tua 

Daripada umurku.

Tetapi

Ibu masih berkata,

“Aku ingin Bahagia.”

Aku terdiam

Bahagia.

Bahagia.

Bahagia.

Kata itu

Berputar-putar

Seperti burung

Yang lupa 

Di mana langitnya.


Ibu,

Jika aku menjelma rumah,

Apakah kau akan pulang?

Jika aku menjelma uang,

Apakah luka berhenti berbunga?

Jika aku menjelma ayah

Yang tak pernah kaudapat,

Apakah matamu

Akhirnya tertidur?

Atau-

Aku harus menjelma 

Apa?

Aku?

Atau 

bukan aku?


Ibu.

Aku anakmu.

Bukan masa lalumu.

Namun setiap  kali

Kupeluk namamu,

Rumah ikut menangis.

Dan aku sadar-

Ada tangis 

Yang diwariskan.

Ada sepi

Yang tidak selesai dilahirkan.


Aku merantau

Bukan mencari dunia.

Aku hanya mencari 

Sebuah pagi

Yang Ketika pulang nanti

Tak lagi memanggilku

Dengan nama luka. 


Sleman, 03 Juli 2026 


________


Penulis


Lukmannul Hakim, akrab disapa Lukman atau Luckman. Ia sedang mencintai Fisioterapi persiapan masa depan. Pernah menulis puisi dan dimuat di majalah Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten. ia juga menulis cerpen. Jangan lupa follow Instagram-nya @_Lukmannulhakim16.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!