Puisi Lukmannul Hakim
Boneka Babi; Bersembunyilah!
Mereka bilang,
kepemimpinan harus diterima.
Kalau tidak,
berbicaralah.
Tetapi mereka memilih
mengirim boneka babi
di tengah malam.
Mereka memilih
membiarkan benda
menggantikan mulutnya.
Aku tidak sedang marah
kepada boneka itu.
Ia hanya kain,
kapas,
dan jahitan.
Yang kutanyakan adalah
siapa tangan
yang selesai meletakkannya
lalu berlari
lebih cepat
daripada nuraninya sendiri.
Katanya,
keputusan ini salah.
Baik.
Kalau salah,
datanglah.
Bawa alasanmu.
Benturkan pikiranmu.
Jangan sembunyikan keberanianmu
di balik pagar,
di balik akun,
di balik bisik-bisik
yang bahkan takut
mendengar suaranya sendiri.
Sebab intimidasi
selalu lahir
dari keberanian
yang kehilangan wajah.
Aku lebih menghormati
lawan
yang berdiri di depan pintu
dan berkata,
"Aku tidak setuju."
Daripada seribu orang
yang melempar simbol,
lalu menghilang
seolah sejarah
tidak punya ingatan.
Boneka babi itu
akan lapuk.
Kapasnya akan mengempis.
Warnanya akan pudar.
Tetapi pengecut
selalu punya cara
mengganti boneka
dengan simbol lain,
mengganti tangan
dengan tangan lain,
mengganti akun
dengan akun lain.
Yang tak pernah mereka ganti
adalah ketakutan.
Dan ketakutan
tidak pernah melahirkan
pemimpin.
Tidak pernah melahirkan
perubahan.
Ia hanya melahirkan
keramaian
yang sibuk bersembunyi.
Hari ini
mereka mengirim boneka.
Besok
mereka mungkin mengirim fitnah.
Lusa
mereka mengirim kebencian.
Tetapi selama mereka
tak berani mengirim
nama mereka sendiri,
maka yang sesungguhnya
sedang mereka kubur
bukan kehormatan orang lain
melainkan
harga diri mereka sendiri.
Sudah.
Tak semestinya ada boneka itu!
Sleman, 20 Mei 2026
Anak yang Membawa Rumah
Ibu
Kupanggil namamu
Ibu
Agar tembok-tembok
Berhenti menjadi suara.
Rumah
Rumah
Rumah-
Ternyata
Bukan dinding.
Ternyata
Amarah.
Aku lahir
Di panci yang mendidih,
Di kursi yang patah,
Di mata
Yang lupa memaafkan pagi.
Ayah.
Ayah?
Tak ada.
Yang ada
Hanya bayang
Yang berjalan
Lebih panjang
Daripada tubuhnya sendiri.
Ibu memungut hari.
Hari memungut luka.
Luka memungut ibu.
Lalu
Aku.
Aku di pungut
Oleh harapan.
“Kau saja.”
Kata itu
Terlalu kecil
Untuk Pundak
Yang belum selesai tumbuh.
Maka aku pergi.
Kota
Membuka mulutnya.
Aku masuk.
Menjadi debu
Di antara ribuan debu.
Keringat.
Keringat.
Keringat.
Upah.
Upah.
Upah.
Uang.
Uang bukan uang.
Uang
Adalah beras.
Uang
Adalah obat.
Uang adalah atap
Yang tak lagi bocor.
Tetapi-
Mengapa
Setiap lembar yang kukirim
Selalu Kembali
Menjadi sepi?
Ibu.
Siapa
Yang mencuri bahagiamu?
Aku mencari
Di dompet.
Tidak ada.
Aku mencari
Di rekening.
Tidak ada.
Aku mencari
Di koper
Yang kubawa pulang.
Tidak ada.
Barangkali
Bahagia
Tak pernah tinggal
Di benda.
Barangkali
Ia tersesat
Di masa lalu.
Ibu memanggilku.
Bukan namaku.
Harapannya.
Aku menjawab.
Bukan dengan kata.
Dengan kerja.
Kerja.
Kerja.
Kerja.
Hingga telapak tangan
Lebih tua
Daripada umurku.
Tetapi
Ibu masih berkata,
“Aku ingin Bahagia.”
Aku terdiam
Bahagia.
Bahagia.
Bahagia.
Kata itu
Berputar-putar
Seperti burung
Yang lupa
Di mana langitnya.
Ibu,
Jika aku menjelma rumah,
Apakah kau akan pulang?
Jika aku menjelma uang,
Apakah luka berhenti berbunga?
Jika aku menjelma ayah
Yang tak pernah kaudapat,
Apakah matamu
Akhirnya tertidur?
Atau-
Aku harus menjelma
Apa?
Aku?
Atau
bukan aku?
Ibu.
Aku anakmu.
Bukan masa lalumu.
Namun setiap kali
Kupeluk namamu,
Rumah ikut menangis.
Dan aku sadar-
Ada tangis
Yang diwariskan.
Ada sepi
Yang tidak selesai dilahirkan.
Aku merantau
Bukan mencari dunia.
Aku hanya mencari
Sebuah pagi
Yang Ketika pulang nanti
Tak lagi memanggilku
Dengan nama luka.
Sleman, 03 Juli 2026
________
Penulis
Lukmannul Hakim, akrab disapa Lukman atau Luckman. Ia sedang mencintai Fisioterapi persiapan masa depan. Pernah menulis puisi dan dimuat di majalah Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten. ia juga menulis cerpen. Jangan lupa follow Instagram-nya @_Lukmannulhakim16.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!