Saturday, July 25, 2026

Resensi Kabut | Angin dan Air

Oleh Kabut




Anak-anak suka angin. Yang dimaksud bukan “masuk angin” atau “buang angin”. Pengalaman menjadi anak-anak terasa seru dan unik bila berurusan angin. Anak-anak yang bermain kitiran menyadari angin yang membuat sesuatu bisa berputar. Angin itu gerak. Maka, anak-anak yang bermain kitiran sambil berlari atau memasangnya di tempat tinggi menganggap angin adalah berkah.

Ada yang mengakui faedah angin saat bermain lempar debu atau daun. Mereka melihat debu dan daun terbang oleh angin. Mata yang melihat menimbulkan gembira. Peristiwa yang sederhana. Pokoknya, angin menjadi alasan bermain. Anak-anak mengerti hari-hari panen angin atau sulit angin. Yang gerah menghidupkan kipas angin. Di depan kipas angin, anak tetap bisa bermain dengan cara aneh-aneh. Artinya, anak dan angin itu cerita yang panjang, memuat gembira, persaingan, bingung, takjub, ketagihan, dan lain-lain.


Pada masa lalu, anak-anak yang merasakan sumuk mencari angin agar keringat menghilang. Yang punya kipas angin cuma sedikit. Benda yang mahal. Bagi yang cerdik, pembuatan kipas menggunakan bambu, kain, dan kertas cukup menghasilkan angin. Namun, hubungan bareng angin itu terlalu cepat berubah. Kini, di rumah-rumah, banyak beragam merek kipas angin yang memerlukan listrik agar orang-orang tidak jengkel gara-gara musim kemarau.


Ada lagi yang mengakrabkan anak dan angin. Kita mengetahuinya dalam novel yang berjudul Si Kajan Bengal (1975) gubahan Mien Resmana. Buku kecil dan tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku yang gambar di sampulnya tidak segera berkaitan angin. Yang tampak adalah gambar anak dan domba. 


Pada mulanya, novel itu mengenai angin. Yang diceritakan pengarang adalah anak-anak yang suka bermain laying-layang. Anak-anak menuju sawah, berharap angin memberikan girang. Pengarang bercerita mengenai Endut yang bermain layang-layang: “Lari-lari anjing ia pergi ke sawah yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Di sanalah, ia akan menerbangkan laying-layangnya. Kebetulan angin bertiup dengan kencang. Endut tengadah ke langit yang bersih biru. Hai, layang-layang siapakah itu? Sebuah layang-layang meliuk-liuk di angkasa. Bagian tengahnya bergambar bintang berwarna merah. Ia tak tahu layang-layang siapa. Ditengoknya ke sana kemari, tak terlihat juga pemiliknya.” Pada setiap siang atau sore, sawah ramai oleh anak-anak yang bermain layang-layang. Mereka tidak takut panas dan pantang lelah.


Pihak pemerintah mungkin tidak melakukan penyensoran naskah buku sebelum terbit. Di situ, pengarang mencantumkan: “bergambar bintang warna merah.” Pada masa Orde Baru, gambar atau logo sering bermasalah. Penguasa tidak suka “kiri”. Maka, segala gambar dan warna yang mengesankan “kiri” mendapat perlakuan yang represif. Bintang merah dalam novel mungkin tidak dianggap berbahaya secara ideologi.


Endut bergembira tapi sejenak. Muncul bocah bernama Kajan yang bikin keributan. Endut terpaksa menyerahkan layang-layang dan benang. Kajan terkenal sebagai anak yang bengal. Endut tidak berani melawan. Semula, angin dan layang-layang yang membuat senang berakhir sedih. Lantas, ia menyadari nasib.


Orang tua meminta Endut melakukan perbuatan yang lebih berfaedah ketimbang bermain layang-layang. Ia diminta di sawah, menjaga padi dari serangan burung dan ayam. Bocah yang tetap ke sawah dengan misi yang berbeda. Ia berupaya agar padi-padi itu selamat dari nafsu binatang yang ingin memakannya. Endut perlahan menikmati hari-hari berada di sawah. Namun, nasibnya tetap tidak beruntung. Kajan mendatanginya dan memberi kesedihan. 


Pada suatu hari, Endut tetap punya cara bergembira. Anak-anak yang membaca nasibnya Endut percaya bahwa kegembiraan tidak lenyap di dunia. Pengarang memang sedang memberi nasib yang sial dan sedih bagi Endut. Pengarang ingin mengajak para pembacanya mengerti ketabahan, sebelum memikirkan keberanian. Endut dijadikan tokoh yang memungkinkan ketabahan menemukan jalan untuk bahagia.


Maka, Endut yang tidak lagi bermain bersama angin mendapat penggantinya. Ia dan teman-teman memilih air. Mereka mencari ikan. Bermain air itu menyenangkan tapi menangkap ikan bukan masalah yang mudah. Yang diceritakan Mien Resmana: “Dalam lubuk terlihat beberapa ekor ikan kecil. Tapi karena masih berair sukar juga untuk menangkapnya…. Tidak banyak yang mereka peroleh. Lagi pula makin ke hilir air sungai makin besar sebab air dari sawah di kiri dan kanan sungai itu turun ke sungai. Sukar juga menangkap ikan dalam air yang agak besar.” Susahnya yang ditanggung bersama tetap memberi kesempatan bahagia. Bersama itu baik. Berusaha itu menemukan hasil.


Anak-anak sekarang yang membaca novel dari masa 1970-an boleh iri. Dulu, anak-anak bermain di sawah dan sungai. Berbeda dengan masa sekarang, yang mengondisikan anak-anak bermain di ruangan atau tempat-tempat yang membuat mereka bergirang dengan gawai. Angin dan air tidak lagi sumber kebahagiaan atau usaha mencipta kebersamaan. Yang terus bermain bareng angin dan air sebenarnya sedang mengerti alam.


Di novel yang tipis, anak-anak juga mengetahui nasib Endut gara-gara mau menjadi gembala domba. Ia mendapat tugas dari ayahnya agar domba-domba itu terpelihara. Endut menyanggupi. Tugas yang dilakukan secara rela dan bersemangat. Dulu, anak-anak di desa yang menggembala domba, kambing, atau kerbau memiliki beragam cara senang saat mereka bertemu dan berkumpul di sawah atau padang. Binatang makan rumput, anak-anak membuat usul-usul untuk mencipta senang. Tugas menggembala yang tidak mudah dan menimbulkan lelah tapi Endut mengetahui faedah-faedah baik. 


Pada abad XXI, novel tipis yang digarap Mien Resmana menjadi rekaman zaman. Anak-anak yang keseringan memegang gawai mungkin tidak gampang bertaut dengan kehidupan masa silam. Jadi, novel lawas bila masih mendapat pembaca sedikit menguak lakon anak-anak di desa saat pelbagai peristiwa mampu menimbulkan beragam rasa. Mereka pun membentuk kepribadian sekaligus sadar bermain peran dalam pergaulan sosial. Kini, novel itu bikin kangen bagi pembaca yang menua. Novel yang mengandung nostalgia.


_______




Penulis


Kabut, penulis lepas.




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 



Terimakasih telah berkomentar!